
Dua buah permen kapas dengan ukuran yang cukup besar dan berbentuk tokoh kartun favoritku, kini tengah terpampang jelas di depan wajah. Aku cukup terkejut dengan kehadiran makanan favorit yang dikemas sedemikian rupa sehingga semakin menarik. Senyumku seketika mengembang melihat permen-permen kapas yang unik itu. Namun, saat aku mengingat lagi bagaimana sikap dia yang menghilang tiba-tiba hingga membuat aku malu, aku pun kembali memasang muka cemberut.
"Apa ini temannya, Mbak?" tanya si penjaga pintu bianglala.
"Eh, i-iya, Mas!" jawabku, terkejut.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu, silakan naik!" ucap penjaga itu dengan ramahnya.
Tak ingin membuat yang lain mengantre lebih lama lagi, aku dan Fatwa mulai menaiki kursi bianglala tersebut. Setelah semua para penumpang naik, si penjaga itu mulai menyalakan mesin penggerak bianglala. Dan akhirnya, benda bulat berbentuk lingkaran besar yang di setiap titik tertentu tergantung sebuah benda seperti sangkar raksasa itu pun bergerak.
Beberapa wilayah di kotaku nampak jelas saat giliran sangkar kami berada di ketinggian. Suasana senja pun membuat pemandangan kota ini semakin terasa indah. Aku mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar mega yang berubah menjadi jingga di ufuk barat. Sesekali, aku mencuil permen kapas itu dan memakannya bersama Fatwa. Sejenak, aku lupa jika dia adalah musuh yang telah menggagalkan usahaku untuk mendapatkan nilai sempurna. Bahkan, aku pun bisa melupakan kesedihanku tentang perubahan sikap mas Yudhis. Ah, sungguh kejanggalan yang luar biasa. Ada apa dengan diriku?
Setengah jam berlalu, kami mulai turun dari arena permainan bianglala. "Apa kamu mau mencoba permainan yang lain?" tawar Fatwa padaku.
Aku menggelengkan kepala. "Res lapar, Fat. Dari tadi siang aku belum makan. Aku menunggu mas Yudhis untuk makan bersama. Tapi, nyatanya dia tidak datang. Huh, menyebalkan!" keluhku kepada Fatwa.
Ya Tuhan ... entah kenapa sekarang aku mudah sekali berkeluh kesah pada pria dingin itu.
Aku melihat reaksi Fatwa memang seperti kurang senang saat aku mengucap kembali nama mas Yudhis. Tapi, aku juga melihat kecemasan di kedua mata elang miliknya.
"Apa kamu mau bakso?" tanya Fatwa sambil melirik kedai bakso yang sedang kami lewati.
"Huh, apa kamu pikir bakso saja bisa mengenyangkan?" Aku mendengus kesal dengan tawaran Fatwa.
Fatwa berhenti. "Trus kamu maunya apa?" tanyanya lagi.
Aku ikut berhenti. "Res mau nasi padang, burger, pizza, sate sama soto ayam," ucapku sambil menghitung makanan itu dengan jari.
"Ish, maruk amat sih, Neng! Laper apa doyan, tuh?" canda Fatwa.
"Bodo, wew!" jawabku, menjulurkan lidah.
"Ya sudah, ayo kita cari makanan itu di sini. Tapi, tanggung jawab, ya. Kamu harus menghabiskan semua makanan yang aku pesan. Kalau nggak ... aku bakalan hukum kamu. Deal!" kata Fatwa menjulurkan tangannya.
"Oke, siapa takut ... deal!" jawabku menerima uluran tangan pria dingin yang sudah tidak beku lagi.
Kami kembali melangkahkan kaki untuk menyusuri pasar malam.
"Awas jan meleng, ntar kedainya kelewat!" Fatwa mengingatkan aku yang memang tidak terlalu fokus mencari kedai-kedai yang aku sebutkan tadi. Tiba-tiba, mataku menangkap roda yang bertuliskan Hokyen Mang Dadang. Aku terkejut sekaligus senang. Entahlah, tapi otakku memberikan perintah kepada kaki untuk melangkah ke sana.
__ADS_1
"Eh, mau ke mana?" tanya Fatwa yang merasa bingung saat aku membelokkan langkah menuju roda itu.
Aku tak menjawab pertanyaannya, terlalu sibuk mengatur hasrat untuk merasakan kembali nikmatnya hokyen Mang Dadang. Aku menghentikan langkah begitu tiba di depan roda hokyen. Sejenak aku melihat pedagang hokyen itu. Wajahnya memang mirip Mang Dadang, tapi usianya masih sangat muda. Hmm, mungkin anaknya, pikirku.
Fatwa menghentikan langkahnya di sampingku. "Hokyen?" gumamnya.
Aku mengangguk.
"Ish, tapi, 'kan ini tidak ada di list yang kamu ajukan tadi. Mana boleh, lah. Lagian, mana kenyang kita makan hokyen," gerutu Fatwa.
Aku mengelus dada menanggapi sikap protes pria itu. Huh, entah sejak kapan pria dingin itu berubah menjadi seorang pria yang begitu cerewet.
Fatwa mencekal pergelangan tanganku dan mengajak aku pergi dari sini.
"Ish, nggak! Res mo makan hokyen!" rengekku seraya menepis tangan Fatwa.
Fatwa menghela napasnya. Akhirnya dia menyerah dan mengikuti aku memasuki kedai hokyen itu.
Tiba di sana, kami segera memesan dua porsi hokyen dan mencari tempat duduk yang dirasa nyaman.
"Tuh, di pojok saja!" usul Fatwa, menunjuk bangku kosong di pojokan kedai.
"Terlalu pojok itu, ntar disangkain kita mo mojok lagi." Aku menolak usulan Fatwa.
Aku mengedarkan pandangan, hmm ... memang benar juga sih, apa yang dikatakan Fatwa. Selain di pojok kedai, tak ada satu pun bangku kosong yang tersisa.
"Ya sudah, yuk!" ajakku menarik tangan Fatwa menuju bangku kosong yang ada di pojok.
Kami segera duduk begitu tiba di sana. Terlihat raut muka Fatwa yang sedikit kesal.
"Kamu kenapa, sih?" tanyaku.
"Lagian kamu ... ngapain sih, kita makan di sini? Kek nggak ada tempat lain yang lebih sepi pengunjungnya," gerutu Fatwa yang memang kurang menyukai keramaian untuk urusan perut.
"Emang kamu nggak inget hokyen ini, Fat?" tanyaku.
Sekilas Fatwa menatapku seraya mengerutkan keningnya.
"Ish, ini tuh hokyen mang Dadang, yang dulu suka jualan di sekolah kita," jawabku.
__ADS_1
Fatwa hanya mengedikkan kedua bahunya.
"Ya sudah, pokoknya nikmati saja, pasti ketagihan deh!" ucapku yang langsung menyantap hokyen itu begitu seporsi hokyen tiba di hadapanku.
Fatwa tampak asyik memperhatikan cara makanku. Sesekali aku melihat dia tersenyum saat melihat bumbu kacang belepotan di sekitar mulutku.
"Oh ya, Res. Aku boleh nanya sesuatu nggak?" Fatwa memulai pembicaraan.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Fatwa.
"Apa kamu mencintai bang Yudhis?" tanya Fatwa lagi.
Aku terkejut dan menghentikan suapan. Aku meraih air mineral dan mereguknya. Setelah itu, aku menatap lekat pria yang pernah memasuki relung hatiku itu.
"Kalau Res tidak mencintainya, nggak mungkin Res mau menjadi tunangannya," jawabku.
Fatwa menghela napasnya. "Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya Fatwa.
"Secepatnya setelah Res lulus kuliah," jawabku sambil kembali menikmati hokyen.
"Memangnya kamu yakin bisa lulus tahun ini?" Fatwa kembali bertanya.
Aku langsung menghentikan suapanku begitu mendengar ucapan Fatwa. Apa maksudnya ini, batinku.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu memang tidak menginginkan Res lulus tahun ini?" tudingku.
"Ish, jangan salah paham dulu! Aku ingin, kok, kamu bisa lulus tahun ini. Tapi, apa bisa? Bukankah tiga nilai mata kuliahku saja belum kamu perbaiki?" ucap Fatwa dengan entengnya.
Aku mulai geram ketika diingatkan kembali pada nilai jelek itu.
"Kalau begitu, bantu Resti untuk bisa memperbaiki nilai itu!" ucapku, kesal.
"Ish, Res. Bukankah aku sudah ajukan penawaran supaya kamu bisa memperbaiki nilai kamu itu, bahkan aku sudah memberikan kamu kodenya." Kembali Fatwa menjawab begitu santai, tanpa beban sedikit pun.
Seketika ingatanku kembali pada masa aku dipanggil olehnya ke ruang dosen.
Brak!
Aku menggebrak meja karena merasa emosi. "Dasar dosen gila! Apa kamu pikir itu penawaran yang bijak, hah! Itu penawaran konyol, dan aku tidak akan pernah menyanggupi!"
__ADS_1
Selera makanku langsung hilang karena ulah dosen mesum itu. Akhirnya, tanpa berbasa-basi lagi, aku meninggalkan kedai hokyen dan membiarkan dia mengurusi pembayaran. Emosiku sudah memuncak. Dan aku ingin segera pergi dari hadapannya.
Bersambung