My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Sekadar Sahabat


__ADS_3

Aku terhenyak mendengar pengakuan Bang Rizal. “Ka-kapan Bang Rizal ketemu, Chi?” tanyaku terbata.


“Di rumah duka salah satu karyawan Abang," jawab Bang Rizal.


“Rumah duka karyawan Abang? Siapa?” tanyaku mengulang kalimat Bang Rizal.


“Andre. Abang lihat kamu di rumah Andre. Saat itu, Abang sedang melayat adik iparnya Andre yang meninggal karena kecelakaan,” jawab Bang Rizal.


Astagfirullah … dunia ini ternyata sempit sekali.


“Lalu Anneu? Bagaimana dengan Anneu? Abang bilang setelah empat tahun menikah, kalian mulai mencari kebahagiaan masing-masing. Tapi, kenapa tempo hari Anneu bilang, dia adalah istrinya Abang?” tanyaku yang semakin penasaran dengan hubungan Bang Rizal dan Anneu.


“Karena kami belum resmi bercerai,” jawab Bang Rizal.


Ish, apa-apaan ini? Bisa-bisanya dia bilang mencintai aku di saat statusnya masih menjadi suami orang. Gila … bener-bener gila!


“Kenapa? Bukankah kalian tidak saling mencintai? Jadi, untuk apa kalian mempertahankan pernikahan kalian?” tanyaku yang tak habis pikir dengan tingkah laku kedua orang yang sepertinya agak sedikit tidak waras.


Bang Rizal merogoh saku celananya. Dia lalu mengeluarkan selembar Foto berukuran 2R dari dompetnya dan menyerahkan kepadaku.


Aku terhenyak melihat gadis mungil berusia mungkin sekitar tiga atau empat tahunan. “Apa dia anak kalian?” tanyaku menatap Bang Rizal.


“Ya, anak yang terlahir tanpa cinta,” kata Bang Rizal.


Haish, tanpa cinta kok bisa jadi anak, dengusku dalam hati.


“Lalu, di mana anak kalian sekarang?” tanyaku pada Bang Rizal.


“Dia tinggal bersama kedua orang tuanya Anneu,” jawab Bang Rizal.


“Lalu, kenapa kalian tidak mencoba memperbaiki pernikahan kalian? Setidaknya, demi anak kalian.” Aku bertanya pada Bang Rizal.


“Abang sudah mencobanya, tapi Anneu tidak ingin berusaha. Percuma Abang berjuang seorang diri, Chi. Karena itu, Abang hanya bisa pasrah saja,” jawab Bang Rizal lirih.


Ada kesedihan yang aku lihat di mata Bang Rizal.


“Lalu, bagaimana bisa Abang mencintai Chi di saat Abang sudah memiliki keluarga,” gumamku yang masih bisa didengar oleh Bang Rizal.

__ADS_1


“Abang tahu ini memang salah, Chi. Tapi Demi Tuhan, Abang sendiri tidak bisa mengendalikan perasaan Abang. Sejak dulu, Abang selalu memiliki rasa untuk kamu. Abang suka sama kamu. Tapi, Abang juga benci sama kamu. Karena hanya demi kamu, Andra sampai tega mendzolimi dirinya sendiri. Namun, rupanya batas antara cinta dan benci itu sangatlah tipis, Chi. Hingga selama 7 tahun ini, Abang hanya memikirkan satu wanita dalam hati Abang, yaitu kamu,” jawab Bang Rizal penuh keyakinan.


“Bagaimana jika Chi tidak pernah mencintai Abang?” tanyaku.


“Tidak apa, tidak jadi masalah untuk Abang. Cukup Abang saja yang mencintai kamu, selebihnya, biar Tuhan yang menggerakkan hati kamu untuk Abang,” jawabnya, tegas.


Huff!


Aku hanya bisa membuang napas dengan kasar. Bicara dengan orang yang bucinnya melebihi kapasitas, memanglah sulit.


“Ya sudah, katanya tadi nyuruh makan sup. Ayo, kita makan!” pungkasku mengakhiri sesi curhatan Bang Rizal.


“Yuk!” Bang Rizal mengangguk.


Sejurus kemudian, aku dan Bang Rizal berjalan menuju bar kitchen untuk menyantap hasil kreasi Bang Rizal hari ini.


“Gimana?” tanya Bang Rizal.


“Lumayan,” jawabku yang memang benar, masakan Bang Rizal cukup memanjakan lidah. “Abang biasa masak?” tanyaku.


“Oh,” jawabku seraya menatap laki-laki yang tengah menyantap makanannya dengan lahap.


Jika diperhatikan dengan seksama, wajah Bang Rizal cukup tampan dan berkharisma. Aku sendiri tidak mengerti kenapa Anneu bisa tidak jatuh cinta pada bang Rizal. Padahal, dilihat dari tutur katanya, Bang Rizal tipe orang yang memiliki kepribadian cukup baik.


Jika dilihat dari kesibukannya yang hanya bisa mengunjungi aku seminggu sekali, aku rasa dia juga seorang pekerja keras. Dan tentunya dia orang yang cukup lembut jika dilihat dari kelihaiannya dalam memasak. Ah, entahlah … mungkin memang benar apa yang dikatakan Bang Rizal. Bahwa, cinta memang tidak bisa dipaksakan.


Tiba-tiba, aku teringat akan ucapan Bang Rizal tentang Anneu yang sedang mencari cinta sejatinya. Entahlah, rasanya sesuatu menggelitik hatiku untuk mengetahui sejauh mana usaha Anneu menemukan kekasihnya. Apakah kekasihnya masih pria yang sama seperti apa yang pernah diceritakan Fatwa kepadaku?


“Bang, boleh Chi tanya seuatu lagi?” tanyaku kepada Bang Rizal,


Bang Rizal hanya mengangguk seraya menyeruput kuah sup, menanggapi pertanyaanku.


“Bagaimana dengan Anneu? Apa dia sudah menemukan cinta sejatinya?” tanyaku.


Sesaat Bang Rizal menatapku. Dia kemudian meletakkan sendok di atas mangkuk dan mulai meraih lap untuk menyeka sisa kuah di bibirnya.


“Yang aku tahu, beberapa bulan yang lalu Anneu sempat pergi ke Makasar untuk mencari Fatwa. Tapi, entah kenapa dia kembali lagi ke kota ini. Hmm mungkin dia kembali ditolak oleh laki-laki itu,” jawab Bang Rizal.

__ADS_1


Fatwa?! Jadi Anneu masih terobsesi pada laki-laki yang sama. Ah, entah kenapa hatiku terasa sakit mendengar Anneu masih mengharapkan Fatwa. Apa mungkin aku masih memiliki rasa untuk laki-laki itu?


“Chi, kok diam?” ujar Bang Rizal, membuyarkan lamunan aku tentang Fatwa.


“Enggak … nggak apa-apa, Bang. Hanya saja, Chi nggak nyangka jika perasaan Anneu sekuat itu,” jawabku.


“Anneu itu orang yang sangat ambisius, Chi. Dia tidak akan menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Dia bahkan sanggup menempuh cara apa pun demi mencapai keinginan itu, termasuk cara yang haram sekali pun,” tutur Bang Rizal.


“Dan, termasuk menyingkirkan saudara kembarnya sendiri,” gumamku.


Seketika, aku melihat Bang Rizal cukup terkejut mendengar ucapanku.


“Da-dari mana kamu tahu tentang itu, Chi?” tanya Bang Rizal, terbata.


“Fatwa pernah menceritakan hal itu pada Chi. Bahkan, dia juga sempat menceritakan penculikan yang Abang lakukan pada kakaknya dulu, hanya demi meminta dia menjauhi Chi,” jawabku membuka lingkaran masa lalu di antara ketiga orang itu, yang diam-diam melibatkan aku menjadi korban.


Bang Rizal menarik napasnya panjang. Sejurus kemudian, dia mengembuskannya dengan perlahan.


“Maafkan Abang, Chi. Keegoisan menguasai hati Abang saat itu. ditambah lagi, kematian Andra benar-benar mempengaruhi kehidupan Abang. Hanya dia satu-satunya teman yang Abang miliki. Sejak kecil, Abang tidak pandai bergaul. Kehilangan Andra seolah seperti mengambil separuh jiwa Abang. Dan sialnya, Anneu memanfaatkan kelabilan Abang saat itu. hingga Abang mau diperbudak dia dan menuruti perintah dia untuk menculik Nilam,” tutur Bang Rizal.


“Sudahlah, Bang. Semuanya sudah berlalu. Chi sudah mencoba berdamai dengan keadaan. Meskipun pada awalnya hati Chi sakit oleh sikap Fatwa, tapi akhirnya Chi tahu alasan dibalik dia mempermalukan Chi saat itu. Chi sudah melupakan semuanya, dan mencoba mengawali persahabatan kami kembali,” jawabku.


“Apa kalian hanya bersahabat saja?” tanya Bang Rizal.


Hening.


“Chi?” tanya Bang Rizal lagi.


Bang Rizal sepertinya ingin mengorek sejauh mana hubungan aku dan Fatwa.


“Iya, Bang. Kami hanya sekadar bersahabat,” jawabku lirih.


Ah, kenapa rasanya dadaku sesak sekali setelah mengucapkan kalimat itu. Sesaat kemudian, aku menyudahi suapanku.


“Chi sudah kenyang, Bang. Chi mau istirahat.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2