
Menjelang tengah malam, kami tiba di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, aku dan Zein langsung menuju ruang tunggu ICU untuk menemani Fatwa. Ya, meskipun hanya dari luar kamar rawatnya saja.
Tiba di ruang tunggu, kami segera mendaratkan bokong di kursi, bersandar seraya memejamkan mata. Jauhnya perjalanan yang kami tempuh, membuat tubuh benar-benar terasa lelah. Tak membutuhkan waktu lama, rasa kantuk pun mulai menyerang kami.
.
.
Keesokan harinya, aku terjaga karena mendengar keributan dari kamar sebelah. Seorang perawat perempuan berlari memasuki ruangan Anneu. Aku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Penunjuk waktu berhenti tepat di angka 5. Hmm, rupanya sudah subuh juga. Aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan keluar ruangan. Apa pun yang terjadi di kamar Anneu, sudah tidak ingin aku hiraukan lagi.
Seperti biasa, selepas shalat subuh, aku menuju kantin untuk membeli sarapan. Tiba di kantin, aku melihat pak Rahadi yang sedang duduk terkantuk-kantuk di meja dekat kedai nasi uduk yang kemarin aku beli. Aku pun segera menghampirinya. Namun, sebelumnya aku membeli dua cup kopi hitam sebagai penyemangat di pagi ini.
"Kopinya, Pak," tawarku kepada Pak Rahadi.
Pria tua itu terlihat terhenyak mendengar suaraku. "Eh, Nak Resti," ucap Pak Rahadi. "Terima kasih, Nak," lanjutnya seraya mengambil cup kopi yang aku tawarkan.
"Apa saya boleh duduk di sini?" tanyaku.
"Ah, tentu saja boleh. Bukankah ini tempat umum?" jawab Pak Rahadi.
Aku tersenyum, sejurus kemudian mendaratkan bokong di kursi yang berhadapan dengan Pak Rahadi.
"Oh iya, tadi sebelum saya pergi ke masjid, saya lihat seorang perawat lari tergopoh-gopoh menuju kamar putri Bapak. Apa sesuatu terjadi dengan Anneu?" tanyaku.
Pak Rahadi terlihat menyesap kopi hitamnya. Setelah itu, dia meletakkan cup kopi tersebut di atas meja. Helaan napasnya terdengar sangat berat.
"Tadi Anneu mengalami sesak napas, tapi sudah ditangani oleh perawat. Dan syukur alhamdulillah, sekarang napasnya sudah kembali normal," jawab Pak Rahadi.
"Alhamdulillah," timpalku ikut merasa senang setelah mendengar kabar Anneu baik-baik saja. Ya, meskipun masih tak sadarkan diri.
"Bagaimana dengan keadaan nak Fatwa?" tanya Pak Rahadi.
"Belum ada perkembangan yang signifikan, semuanya masih tetap sama seperti kemarin-kemarin," jawabku.
"Demikian pula dengan Anneu. Belum ada perubahan sama sekali. Rencananya, Bapak akan memindahkan Anneu ke Sumatera. Di sana, peralatan medisnya jauh lebih lengkap daripada di sini," ucap Pak Rahadi.
"Lalu Maira?" tanyaku yang langsung teringat akan nasib gadis kecil itu.
Pak Rahadi menghela napasnya. "Ida yang akan mengurus Maira," jawab Pak Rahadi seolah tanpa beban.
__ADS_1
"Bagaimana jika Ida keberatan mengurus Maira?" celetuk aku.
Pak Rahadi terlihat cukup terkejut mendengar celetukanku. Dia menatapku dengan tatapan penuh selidik. "Apa maksud kamu, Nak?" tanya Pak Rahadi yang suaranya tiba-tiba berubah datar.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud lancang. Tapi, kemarin tanpa sengaja saya mendengar perkataan Bapak tentang panti asuhan. Saya mendatangi Ida dan Ida mengatakan jika dia hendak pulang kampung. Lalu Maira? Ida bercerita bahwa dengan terpaksa ia akan menitipkan Maira ke pamti asuhan atas perintah Bapak. Benar seperti itu?" tuturku.
Terlihat raut wajah tidak suka dari Pak Rahadi. Namun, aku sudah tidak peduli lagi dengan tanggapan Pak Rahadi.
"Begini Nak Resti, Bapak harap Nak Resti tidak salah paham dengan apa yang Nak Resti dengar. Bukannya Bapak tidak ingin mengasuh cucu Bapak sendiri, tapi Nak Resti sendiri tahu keadaan Bapak yang harus fokus merawat Anneu. Dan Bapak pikir, Rizal pasti pernah bercerita tentang kebencian Anneu terhadap putri kandungnya sendiri. Bapak melakukan ini justru karena Bapak menyayangi Maira. Bapak merasa kasihan jika Maira harus tumbuh dan melihat kebencian mamanya terhadap dirinya. Karena itu, Bapak menyarankan Ida untuk menitipkan Maira di panti asuhan. Nanti, setelah Anneu bisa menerima Maira, Bapak pasti akan mengambil Maira kembali," papar Pak Rahadi.
Jujur saja, aku tidak pernah ingin mendengar alasan apa pun. Aku memang bukan seorang ibu, tapi aku tidak setuju dengan tindakan Pak Rahadi. Apa pun alasannya, seyogianya sebuah keluarga akan menjadi tempat berlindung bagi anak.
"Begini, Pak Rahadi. Mungkin saya baru mengenal Maira, tapi jujur saja ... anak itu sudah mencuri hati saya. Jika memang Pak Rahadi tidak keberatan, biar saya yang merawat Maira. Saya akan membawa Maira untuk tinggal bersama saya. Karena, saya juga pernah berjanji kepada almarhum bang Rizal akan menjaga Maira sebaik mungkin. Itu pun jika memang Bapak mengizinkan saya untuk mengasuh Maira." Aku jadikan pertemuan ini sebagai sebuah kesempatan untuk mengungkapkan niatku.
"Biar nanti Bapak bicarakan dulu dengan bundanya Anneu," jawab Pak Rahadi seraya beranjak dari kursinya. "Terima kasih atas kopinya, saya permisi dulu," lanjut Pak Rahadi.
Aku hanya menganggguk menanggapi ucapan Pak Rahadi.
Setelah Pak Rahadi pergi, Zein tiba-tiba sudah duduk di hadapan aku.
"Sudah selesai ngobrolnya?" tanya Zein.
"Ya abisnya, Kakak shalat subuh lama banget. Zein, 'kan jadi khawatir," tukas Zein.
"Iya, maaf," jawabku.
"Apa Kakak sedang ngomongin niat Kakak untuk mengambil hak asuh Maira?" tanya Zein.
"Iya, Zein," jawabku.
"Apa jawaban kakeknya Maira?" tanya Zein lagi.
"Katanya, dia ingin membicarakannya dulu dengan bu Wati," jawabku.
"Kakak, apa Kakak sudah memikirkan niat Kakak itu dengan matang. Apa mama dan Rayya sudah tahu tentang niat Kakak untuk mengasuh Maira?" tanya Zein.
"Belum. Kakak sama sekali belum memberi tahu mereka, Zein," jawabku.
"Tapi, kenapa Kak? Bukannya mereka juga berhak tahu tentang rencana Kakak. Bukannya Zein mau menasihati Kakak, tapi sebaiknya Kakak berdiskusi dulu dengan Rayya dan mama. Karena, siapa tahu mereka tidak setuju dengan rencana Kakak," tukas Zein.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala. "Enggak Zein, Kakak yakin mereka pasti setuju," jawabku.
"Ish, Kakak ini!" gerutu Zein.
"Udah ah, lapar nih ... kita sarapan dulu, yuk!" Aku mengajak Zein untuk pergi ke tempat warung nasi yang menyediakan masakan ciri khas Sunda. Entah kenapa, aku sangat merindukan masakan mama yang jago membuat masakan khas Sunda.
.
.
Menjelang siang, Pak Rahadi dan Bu Wati mendekati kursi kami.
"Mohon maaf, apa kita bisa bicara sebentar, Nak," ucap Pak Rahadi.
"Iya, bisa Pak. Kita bicara di kantin?" tanyaku.
"Tidak apa-apa, di sini saja," jawab Pak Rahadi.
"Oh iya, silakan duduk Pak, Bu," jawabku seraya bergeser dari tempat dudukku.
"Terima kasih, Nak." Pak Rahadi dan Bu Wati kemudian duduk berdampingan di samping kami. "Begini Nak Resti. Setelah saya diskusikan dengan istri saya, kami sepakat untuk melepaskan hak asuh Maira dan menyerahkannya kepada Nak Resti. Namun, kami mohon kepada Nak Resti, agar selalu menjaga Maira sebagai putri kandung Nak Resti sendiri. Tolong rahasiakan semua ini dari Maira. Saya tidak ingin Maira kecewa jika kelak dia mengetahui kalau dia hanyalah anak asuh Nak Resti," ucap Pak Rahadi.
"Maksud Bapak?" tanyaku yang belum mampu mencerna maksud pembicaraan Pak Rahadi.
"Maksud saya, Maira cukup tahu jika dia adalah anak Nak Resti, bukan anak angkat," tegas Pak Rahadi.
"Apa itu artinya, saya harus mengakui Maira sebagai putri kandung saya?" tanyaku, mencoba memastikan.
"Apa Nak Resti keberatan?" Pak Rahadi balik bertanya.
"Tentu saja saya tidak keberatan untuk mengakui Maira sebagai putri kandung saya. Dan kelak, jika Maira sudah besar, saya akan tetap mengatakan padanya jika dia putri saya. Tapi dengan satu syarat," ucapku yang merasa gemas dengan kelakuan kedua orang tua itu.
"Apa syaratnya, Nak?" Kali ini, Bu Wati yang ikut bicara.
"Jangan pernah menampakkan wajah kalian di hadapan Maira lagi! Karena saya tidak akan membiarkan dia kebingungan dengan statusnya sebagai anak kandung saya. Jelas!" ucapku geram.
Kedua orang tua itu hanya menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, keheningan tercipta di antara kami. Sampai akhirnya, Pak Rahadi pun berkata.
"Baiklah, kami akan memenuhi persyaratan kamu."
__ADS_1
Bersambung