
Sudah hampir satu minggu aku berada di tempat ini. Aku bahkan tidak tahu seperti apa rupa dunia luar saat ini. Selama hampir sepekan aku terkurung, dosen gila itu pun tidak aku ketahui batang hidungnya.
Semua kebutuhan, sandang panganku telah tersedia di rumah ini. Bahkan seorang pembantu paruh baya diutus dosen killer itu untuk menemani dan melayani aku. Sayangnya, asisten rumah tangga yang dia kirim mengalami gangguan dalam berbicara. Sehingga aku tidak bisa berkomunikasi secara lancar dengannya.
Kastil, aku menyebutnya rumah kuno ini sebagai sebuah kastil tempat seorang putri dikurung. Seperti cerita dalam dongeng pengantar tidur sewaktu aku masih kecil. Sesekali kepalaku berdenyut memikirkan orang-orang di sekitarku yang pasti panik mencari aku. Namun, tak ada satu pun hal yang bisa aku lakukan. Baterai ponselku habis sejak Fatwa membawaku kemari, dan dia tidak memberikan aku kesempatan untuk memberi kabar terhadap siapa pun.
Terkadang aku merutuki sikap laki-laki itu. Namun, meski dia menyekap aku di kamar sebesar ini, aku masih tidak bisa membenci pria itu. Mungkin saja, ada banyak luka yang telah dia lalui, sehingga dia bisa berubah 180 derajat.
"Apa tuanmu belum datang juga?" tanyaku pada wanita paruh baya yang diutus Fatwa untuk mejagaku.
"Mbe.. Mbe-hum, Hon-na," jawab wanita itu sengau.
"Huff!"
Aku membuang napasku kasar, sudah hampir sepekan, dan dia tidak pernah memberikan aku kabar. Gila! Dasar pria gila, rutukku dalam hati. Aku kembali menatap wanita paruh baya yang sedang menata makanan di sebuah meja kecil.
"Hon-na, ma-mahanngan hu-hudah hi-hiap," ucapnya gagap. Selain suaranya sengau, bicaranya pun tidak lancar.
"Beri tahukan pada tuanmu, jika dalam 1 x 24 jam dia tidak datang, maka aku tidak akan menyentuh makanan apa pun!" ancamku.
"Hba-bahik, Hon-na ... ta-tapi hse-hse-kahang kau ha-harush hma-makan," katanya.
Ish, aku semakin bingung dengan perkataannya, tapi saat tangannya menunjuk makanan, aku paham. Mungkin dia sedang menyuruhku makan saat ini.
"Aku tidak lapar. Tinggalkan saja di sana, nanti aku makan," jawabku ketus.
"Hba-bahik, Hon-na," ucapnya sambil keluar dari kamar.
"Bisakah kau tidak mengunciku dari luar?" pintaku sesaat setelah wanita itu menutup pintunya.
"Hma-maaf Hon-na, hi-hini pehintah tu-tuan," jawab wanita itu.
Kembali aku hanya bisa mendengus kesal merutuki pria itu.
.
__ADS_1
.
Waktu terus berlalu. Menjelang siang, wanita itu kembali datang ke kamarku. Seperti biasa, dia membawa nampan yang berisi makan siangku beserta buah. Sejenak wanita itu tertegun saat dia melihat sarapanku masih utuh.
"Hkau ti-tidak hma-kan, Hon-na?" tanya wanita itu menatap iba padaku.
"Aku tidak lapar," jawabku judes.
"Hnta-tapi hkau ... bi-bisa ha-kit," ucapnya lagi.
"Aku tidak peduli! Pokoknya aku tidak akan menyentuh makanan apa pun sebelum tuan kamu datang. Titik!" Aku menarik selimut hingga menutupi wajahku. Beberapa menit kemudian, terdengar pintu yang kembali dikunci dari luar.
Kenapa, Fat ... Kenapa kau lakukan ini padaku? Kau bilang kau mencintaiku, tapi kenapa kau malah mengurung dan meninggalkan aku di kamar sebesar ini. Aku mulai meratapi keadaanku. Tanpa sadar, air mata mulai meleleh di kedua pipiku.
.
.
Menjelang tengah malam, aku terjaga karena perutku terasa lapar. Sejenak aku melirik meja kecil tempat wanita itu menyimpan makanan. Aku mengerutkan kening saat melihat tudung saji di atas meja itu. Karena penasaran, aku bangun dan melangkahkan kaki mendekati meja tersebut.
Aku membuka tudung saji berwarna biru itu. Tampak beraneka makanan yang tadi malam disiapkan oleh wanita itu. Aku menelan ludah melihat ragam makanan yang terlihat enak. Namun, karena rasa gengsi yang terlalu tinggi, akhirnya aku menutup kembali makanan itu dengan menggunakan tudung saji. Aku mendengus kesal dan kembali ke ranjangku.
Aku kembali menarik selimut hingga ke dada. Udara malam ini cukup dingin, ditambah lagi rintik air hujan masih terdengar di luar sana. Aku kembali memejamkan mata tanpa menghiraukan perut yang masih keroncongan.
.
.
Sayup-sayup aku mendengar kicauan burung gereja yang saling bersahutan. Aku mulai mengerjapkan mata. "Ish, kenapa sakit sekali," gumanku saat hendak mengangkat tangan kanan yang terasa kebas. Aku melirik dan begitu terkejut saat mendapati selang infusan di sekitar tanganku.
Aku mulai mengedarkan pandangan. Tampak dinding ruangan berwarna putih di sekeliling kamar itu. Aku mengernyit, "Sepertinya ini bukan kamar tempat aku di sekap kemarin. Ish di mana aku?" gumanku pelan.
Tanpa aku sadari, seorang perawat tengah memasuki kamarku.
"Alhamdulillah, syukurlah Anda sudah sadar," ucap perawat itu sambil memeriksa cairan infus di dalam kantongnya.
__ADS_1
"Di mana saya?" tanyaku pada perawat itu.
"Anda sedang berada di rumah sakit. Sepertinya Anda mengalami dehidrasi hingga tak sadarkan diri. Untung saja suami Anda segera membawa Anda kemari," ucap perawat itu panjang lebar.
Aku mengerutkan kening. "Suami?" gumanku.
"Assalamu'alaikum!" Tiba-tiba seorang pria bertubuh tegap masuk ke kamarku.
"Wa'alaikumsalam!" Perawat itu menjawab salam. Sejurus kemudian, senyumnya mengembang saat melihat pria tersebut.
"Alhamdulillah, istri Anda sudah sadar," jawab perawat itu.
"Hhh, syukurlah kalau begitu. Semalam, aku benar-benar cemas," ucap Fatwa.
"Tidak usah khawatir. Istri Anda hanya mengalami dehidrasi yang membuat tubuhnya melemah," kata perawat.
"Oh, begitu ya sus?" ucap Fatwa.
Perawat itu mengangguk. "Baiklah, Pak. Saya tinggal dulu. Silakan temani istri Anda," ucap perawat itu.
Fatwa tersenyum dan mengangguk. Setelah perawat itu pergi, dia menghampiri aku.
"Kenapa kamu lakukan itu, Res?" tanya Fatwa duduk di kursi tunggu.
Aku hanya diam. Aku benar-benar marah padanya. Terlihat Fatwa menghela napasnya seraya mengusap rambutku penuh kasih sayang.
"Bibik bilang, kamu tidak menyentuh makananmu sejak pagi. Kenapa? Apa makanannya tidak enak?" Fatwa kembali bertanya dengan nada dan tutur kata yang sangat halus.
Aku menatapnya tajam. "Kenapa kau meninggalkan aku di tempat itu sendirian? Apa kau tahu jika aku sudah seperti tawananmu saja, hah? Kenapa kau selalu melukai perasaanku?" Aku mulai emosi. Aku sudah tidak tahan dengan semua sikap dan keegoisan pria itu. Tak sanggup membendung perasaan, akhirnya aku hanya bisa tersedu.
Fatwa mendekati aku, dia mulai menyeka air mataku. "Maafkan aku, kemarin aku harus pergi ke Bandung selama lima hari untuk mengikuti seminar. Jadwalku sangat padat selama seminar di sana, sampai aku lupa untuk mengabari kamu. Maafkan aku," ucap Fatwa.
Aku tak menghiraukan permintaan maaf darinya. Tubuhku semakin berguncang hebat, air mataku terus berderai. Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini.
"Ssst, tenanglah, Res ... aku mohon tenanglah. Sekarang aku sudah pulang, aku janji aku tidak akan meninggalkan kamu lagi," ucap Fatwa seraya terus menyeka air mataku.
__ADS_1
"A-aku ingin pulang, Fat. Aku merindukan ibuku, aku ingin pulang...."
Bersambung