My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Musibah


__ADS_3

Sejak berkenalan dengan gadis tersebut, hidup Fatwa terasa sangat berwarna. Setiap hari, saat ketiga sahabat itu tengah berkumpul, Anna Khoerunnisa selalu menjadi topik perbincangan mereka. Fatwa sepertinya benar-benar mencintai gadis itu. Tapi dia sadar, sebagai wakil ketua IREMA, dia tidak mungkin memberikan contoh yang tidak baik kepada para anggotanya.


Setelah mendengarkan pendapat Gaos dan Aji, akhirnya Fatwa memutuskan untuk berta'aruf dengan gadis imut itu. Terlebih lagi, Fatwa mengetahui jika sebenarnya, sifat Anna begitu tertutup terhadap laki-laki. Ya, dia mungkin terkesan supel, humoris dan sangat akrab dengan perempuan. Namun, untuk urusan laki-laki, Anna sangat menjauhi lawan jenisnya. Dia tidak mau mengecewakan amanat ayahnya yang tidak menginginkan dia berpacaran.


Memiliki visi yang sama, akhirnya Anna memutuskan untuk menerima ajakan ta'aruf dari Fatwa. Anna merasa jika Fatwa berbeda dengan laki-laki teman sekelasnya. Dia mulai memiliki rasa kagum saat melihat Fatwa di sebuah acara festival keagamaan yang diselenggarakan antar sekolah. Setelah beberapa bulan mengenalnya, akhirnya Anna membulatkan hati untuk berta'aruf dengan laki-laki itu.


Tak ingin mengecewakan orang tuanya, Anna pernah meminta izin orang tuanya untuk membawa Fatwa ke rumah. Dan, sepertinya kedua orang tua Anna cukup terkesan dengan pembawaan Fatwa yang terkesan sopan, kalem, berbudi pekerti yang luhur dan memiliki wawasan yang luas tentang keagamaan. Dan, yang membuat ayah Anna terkesan lagi adalah, ajakan Fatwa untuk berta'aruf pada diri putrinya.


Setelah mendapatkan restu orang tua. Hubungan Fatwa mulai dijalani dengan cukup serius. Baik Anna maupun Fatwa, mereka saling menjaga hati dan pandangan mereka agar terhindar dari segala sesuatu yang bersifat merugikan mereka, baik secara lahir maupun secara batin.


Hingga pada suatu hari.


Fatwa terlihat begitu terburu-buru membereskan mimbar, setelah selesai acara kajian hari Minggu siang.


"Mau kemana, Fat?" tanya Aji begitu heran melihat sikap Fatwa yang lain dari biasanya.


"Hari ini gua ada janji sama Anna, Ji," jawab Fatwa. Senyum sumringah terukir dari bibirnya.


"Deuh yang lagi jatuh cinta," goda Gaos.


"Hahaha, biar semangat menjalani aktivitas, Bang," balas Fatwa.


"Bener juga. Mood booster itu," timpal Aji.


Gaos hanya menggelengkan kepala melihat obrolan kawan-kawannya yang saling sahut-menyahut.


"Hati-hati, Fat. Jangan sampai kebablasan," peringat Gaos kepada temannya.


"Nggak mungkin Bang, Gua sama Anna sudah berjanji untuk saling menjaga kepercayaan satu sama lain," jawab Fatwa.


"Memangnya kalian mau pergi ke mana?" Aji turut bertanya.


"Gua mo antar Anna ke mal. Alhamdulillah, hari ini dia memutuskan untuk hijrah, dan dia minta gua, buat temenin dia beli baju-baju muslim," jawab Fatwa dengan rona wajan berseri-seri.


"Alhamdulillah..." Aji dan Gaos membaca hamdalah secara bersama.


"Gua bangga ma lo, Fat. Akhirnya, lo bisa mengajak Anna untuk hijrah," ucap Aji.


"Semangat berjuang, Fat!" timpal Gaos, menyemangati sahabatnya.


"Thanks ya, man! Kalian dah jadi teman terbaik gua," ucap Fatwa.


"Apaan sih? Nggak usah melow-melow gitu deh. Ya Sudah, sebaiknya lo berangkat sekarang. Takut Anna kelamaan nunggu," ucap Aji.


Fatwa mengangguk, sejurus kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan Aji dan Gaos yang masih sibuk bebenah di masjid sekolah.

__ADS_1


.


.


Fatwa tiba di rumah Anna bertepatan dengan bunyi kumandang azan dzuhur. Gadis cantik yang tengah belajar mengenakan hijab itu terlihat sedang terpaku menunggu kedatangan sang kekasih. Seketika, senyumnya mengembang melihat pria tinggi tegap nan tampan berjalan memasuki pekarangan rumahnya.


"Kita pergi sekarang, yuk!" ajak Anna menghampiri Fatwa yang baru saja menapakkan kakinya di teras rumah.


"Kita nggak salat dulu, An?" tanya Fatwa.


"Entar aja deh, di jalan kalau ketemu masjid, kita berhenti untuk salat," jawab Anna meraih tangan Fatwa dan segera mengajaknya pergi.


"Tapi, An?"


"Aduh ... udah deh, Fat. Aku nggak punya banyak waktu. Sebaiknya sekarang kita pergi, biar nanti aku bisa segera pulang. Aku udah nggak sabar pen pulang dalam keadaan cantik mengenakan syar'i. Ayah dan ibu pasti akan sangat terkejut dan mengenangku saat aku pulang. Yuk, ah! Jan protes!"


Anna terus nyerocos bagai petasan, membungkam mulut Fatwa yang sudah bersiap untuk menolak ajakannya. Entahlah, mungkin karena terbiasa berangkat sebelum atau setelah waktu salat, Fatwa menjadi ragu dengan keputusan Anna yang pergi bertepatan di waktu salat.


Entah itu mungkin mitos atau kebetulan, tapi pada kenyataannya, musibah sering terjadi jika kita bepergian tepat di waktu salat. Seperti kecelakaan yang menimpa ayah dan kakaknya.


"Kok, malah bengong. Ayo dong, Fat!" Anna mulai merengek.


Tak ingin membuat kekasih hatinya kecewa, akhirnya Fatwa mengikuti keinginan Anna. Mereka pun berjalan beriringan keluar dari pekarangan rumah untuk menaiki motor Fatwa.


"Pakein!" Anna kembali merengek manja sambil menyerahkan helm berwarna pink kepada Fatwa. Hmm, rupanya dia ingin kekasihnya yang memakaikan helm.


"Biarin, kapan lagi bisa manja-manja sama kamu, wew!" ledek Anna sambil bersiap untuk menaiki motor Fatwa.


Fatwa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Anna yang sedikit aneh menurutnya. Mereka akhirnya pergi menuju salah satu pusat perbelanjaan di kotanya.


"An, kita salat dulu, yuk!" ajak Fatwa ketika melihat masjid di tepi jalan.


"Nanti saja, Fat. Tanggung, 10 menit lagi nyampe," jawab Anna.


Fatwa menurut, dia lalu menambah kecepatan laju motornya. Tiba di mal, Fatwa segera memarkirkan motornya. Bagaikan anak kecil yang diajak ke toko mainan, wajah Anna terlihat sumringah begitu memasuki butik busana muslim.


Anna mulai mengelilingi pakaian-pakaian yang tergantung di hanger. Dia memilih dan memilah beberapa baju syar'i yang dianggap cocok untuknya. Tiba-tiba, pandangan Anna terfokus pada pakaian syar'i berwarna putih yang memiliki hiasan renda di bawahnya.


"Fat, cantik nggak?" Anna bertanya seraya menunjukkan pakaian itu.


"Cantik, An," jawab Fatwa.


Anna kemudian membawa pakaian tersebut ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan menunjukkan pakaian syar'i yang dia pakai.


Fatwa begitu terpana melihat Anna yang tengah mengenakan syar'i berwarna putih itu.

__ADS_1


"Hei! Kok malah bengong," ucap Anna menjentikkan jarinya di depan wajah Fatwa.


"Kamu cantik sekali, An," ucap Fatwa.


"Makasih. Ya udah, bayar dulu, yuk ke kasir!" ajak Anna.


"Bajunya nggak dicopot, An?" tanya Fatwa.


"Nggak ah, aku mau langsung pakai saja. Biar lebih afdol menghadap Tuhan," jawab Anna.


"Maksud kamu?" Fatwa bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Kita, 'kan belum solat, Fat. Lupa ya?" goda Anna.


"Astaghfirullahaladzim ... Yuk!" Fatwa menggandeng tangan Anna dan mengajaknya ke kasir. Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka pergi ke masjid yang berada di belakang mal untuk melaksanakan salat dzuhur.


.


.


"Mau makan dulu?" tanya Fatwa begitu mereka selesai melaksanakan salat dzuhur.


"Kita makan di rumah saja, ya Fat? Kebetulan, tadi aku sama mama masak banyak buat makan siang kita bareng-bareng," jawab Anna.


Fatwa tersenyum. "Ya sudah, yuk, kita pulang!" ajak Fatwa.


Anna mengangguk. Mereka kembali saling bergandengan tangan menuju pelataran parkir. Tiba di sana, Fatwa segera mengambil motornya dan menyuruh Anna untuk naik. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan mal.


"Bagaimana? Apa kamu senang hari ini, An?" tanya Fatwa saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Tentu saja aku senang untuk hari ini. Bagaimanapun juga, aku harus merasa senang karena calon suami aku sempat meluangkan waktunya untuk menemani berbelanja," tutur Anna.


"Calon suami?" Fatwa mengulang pertanyaan Anna penuh penekanan.


"Iya, bukankah kelak kamu akan menjadi suami dunia akhiratku?" kata Anna.


Fatwa begitu tersanjung mendengar perkataan Anna. Dia melirik ke arah kaca spion depan untuk menatap wanita pujaannya. Tatapan mata mereka bertemu, cukup lama dan seolah tak ingin memutus satu sama lain.


"Fatwa, awas!"


"Eh."


Brakkk!


Dan, musibah tabrakan pun tak mampu mereka hindari.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2