My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Anneu Jannatunnisa


__ADS_3

Anneu kembali melemparkan semua barang yang mampu dia jangkau. Bantal, telepon dan vas bunga yang berada di atas nakas samping ranjangnya, tak luput dari amukan Anneu. Semua barang itu beterbangan layaknya UFO yang mendarat tanpa ancang-ancang.


Prang!


Pyar!


Kembali pecahan kaca berserakan di sekitar pintu kamar mandi. Dia meraih bantal dan melemparkannya ke deretan buku yang berjajar rapi di rak susun.


Gubrakk!


Kuatnya lemparan Anneu, membuat rak buku itu jatuh seketika. Puas membuat kamarnya seperti kapal pecah, Anneu menengadahkan wajahnya seraya memejamkan mata. Sekelumit kenangan terindah hingga terpahit datang menghampiri matanya yang terpejam.


**********


"Apa kamu tahu, Neu! Gadis itu telah menerima cinta Kakak!" teriak seorang laki-laki berumur 18 tahun dengan riangnya.


"Ish, apa Kak Andra nggak salah pilih pacar. Dia tuh masih kelas 3 SMP, jauh banget ma umur Kakak yang dah SMA. Pa nggak sebaiknya kakak cari pacar yang seumuran?" tanya Anneu meledek kakaknya yang sedang jatuh cinta.


"Cinta nggak pandang usia, Dek! Yang penting bahagia, wew! Siap-siap aja kamu punya kakak ipar seusia kamu, hahaha," gelak laki-laki yang bernama Andra yang tak lain putra pertama dari Bu Wati dan Pak Rahadi.


"Huh, kek mo yang sampe ke pelaminan aja!" ledek Anneu.


"Harus dong, Dek! Kakak nggak mau main-main. Pokoknya, gimana pun caranya, Octora Resttyani harus menjadi ibu dari anak-anak kakak kelak," ucap Andra. "Ya sudah, Kakak mau bersih-bersih dulu, lengket," lanjutnya.


"Hati-hati loh, Kak! Pacaran ama anak kecil ntar minta mainnya ke play ground, hahaha...." Anneu kembali meledek kakaknya. Namun, Andra hanya mengibaskan tangan kirinya.


Selang beberapa bulan, Anneu melihat kebahagiaan terpancar di wajah Andra. Hingga malam itu...


Brugh!


Sayup-sayup Anneu mendengar suara seseorang terjatuh di ruang tamu. Anneu begitu terkejut. Dia mulai ketakutan karena tak ada orang di rumah selain dia dan pembantunya. Kedua orang tua beserta adiknya sedang berkunjung ke rumah bibinya yang berada di kota Bandung.


"Aargh!"


"Suara Kak Andra," desis Anneu. Dia segera menyingkirkan selimutnya dan turun dari ranjang.

__ADS_1


Dengan terburu-buru, Anneu menuruni anak tangga satu per satu.


"Dasar perempuan sialan! Berani-beraninya dia memutuskan aku! Aargh!"


Prang!


Andra terus berteriak mengumpat dan menghancurkan guci-guci yang terpajang di ruang tamu.


"Kakak! Kamu kenapa, Kak?" Anneu menghambur ke arah kakaknya. "Ish!" Seketika dia menutup hidungnya saat mencium bau alkohol dari mulut kakaknya yang terus saja memaki seorang perempuan.


Brugh!


Belum sempat Andra menjawab, dia sudah jatuh tak sadarkan diri karena kepalanya terasa pusing akibat mabuk berat.


Sejak saat itu, Andra selalu keluyuran dan pulang dalam keadaan mabuk. Hingga suatu malam, Andra ditemukan meninggal di rumah temannya karena over dosis. Dan hanya Anneu yang tahu kenapa Andra sampai terjerumus ke dunia malam dan obat-obatan terlarang. Semua itu hanya karena satu nama. Octora Resttyani.


*******


"Permisi, Neng! Si Mbok diperintahkan ibu untuk membersihkan kamar Neng." Tiba-tiba, ucapan Mbok Jum di ambang pintu membuyarkan lamunan Anneu.


Klek!


Anneu membuka pintu kamar. Bau aroma lavender, menyeruak melalui kedua lobang hidungnya. Dia melangkah memasuki kamar itu dan menyibakkan tirai jendela. Pantulan sinar matahari terlihat jelas di sebuah bingkai kaca yang memajang foto yang mirip tanpa cela dengan dirinya.


Anneu melangkahkan kakinya mendekati foto itu. Tangannya terulur untuk mengusap debu yang menempel dalam bingkai kaca.


"Misteri apalagi semua ini, An? Kenapa Tuhan tidak bisa membiarkan aku hidup tenang. Aku pikir, setelah kepergianmu, aku bisa meraih kebahagiaanku sendiri. Tapi nyatanya? Huh, kebahagiaan itu masih tetap belum bisa aku gapai. Apa kamu senang saat ini, An? Apa kamu sedang mentertawakan aku sekarang?" ucap Anneu menatap tajam foto itu.


"Ish, An ... entah kenapa senyummu itu seolah seperti sedang mengejekku saja." gerutu Anneu seraya menggaruk kepalanya. "Tapi, kamu tidak usah khawatir, An. Aku pasti bisa membereskan semuanya. Terlebih lagi, aku tahu jika perempuan yang sedang berusaha merebut Fatwaku adalah orang yang sama yang telah menyebabkan kakak kita meninggal. Kau tau, 'kan, An ... dia itu seorang pembunuh, sama seperti Fatwamu itu! Tapi ... kamu tidak usah khawatir, An. Akan aku balas semua perbuatan mereka kepada kalian," lanjut Anneu.


Anneu menempelkan telinganya pada bingkai foto itu. "Kamu bilang apa, An?" tanya Anneu menarik dirinya dan kembali menatap tajam gadis yang berada dalam foto tersebut. "Tidak An, maafkan aku ... tapi aku tidak bisa menghentikan kegilaanku. Aku tidak mau kehilangan Fatwa lagi. Oh, An ... bagaimana aku bisa bertahan melawan takdir tanpa dia di hidupku. Kamu mengerti itu, 'kan, An?" ucap Anneu seraya mengangguk-anggukan kepalanya dan memperlihatkan wajah memelas di hadapan foto yang seolah sedang menatap dan tersenyum padanya.


"Aku mencintai Fatwa, An ... aku sangat mencintainya. Dan kamu tahu jika aku sanggup melakukan apa pun untuk bisa memiliki laki-laki itu. Ayolah, An ... aku tidak mau ada korban yang berjatuhan lagi karena rasa cintaku ini, tapi aku tidak bisa menahan diriku, An. Terlebih lagi saat aku mengetahui jika perempuan itu adalah orang yang telah menyebabkan Kak Andra meninggal. Aku rasa, akan sangat menyenangkan jika aku bisa bermain-main dengan mereka sebelum aku melenyapkan perempuan itu. Dengan begitu, kematian kamu dan kak Andra tidak akan pernah sia-sia. Bagaimana menurutmu, bukankah ideku sangat cemerlang? Hahaha...?" Anneu tertawa sambil berlalu pergi dari kamar saudara kembarnya.


.

__ADS_1


.


Tap-tap-tap!


Setengah berlari, Anneu menuruni anak tangga satu per satu.


"Bun...! Bunda...!" teriak Anneu memanggil ibunya.


"Iya, Nak. Ada apa?" Bu Wati berteriak dari arah dapur.


Anneu berlari menuju dapur. Dia melihat ibunya sedang membantu Bik Mamah yang sedang meracik makanan untuk makan malam.


Bu Wati menoleh mendengar suara kursi yang ditarik seseorang.


"Eh, sudah baikan, Nak?" Begitu melihat Anneu yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Alhamdulillah, Bun," jawab Anneu.


"Ada perlu apa kamu panggil-panggil Bunda?" tanya Bu Wati sambil terus mengiris sayuran.


"Apa ibu bisa mempercepat pertunangan Anneu dengan fatwa?" tanya Anneu tiba-tiba.


"Aww!"


Terkejut karena mendengar ucapan putri semata wayangnya, tanpa sengaja jari Bu Wati teriris pisau yang sedang dia gunakan. Darah segar mulai mengucur. Bu Wati segera membasuh jari telunjuknya yang terluka di wastafel. Setelah itu, dia mengeringkannya dengan menggunakan lap tangan. Dia kemudian menghampiri anak gadisnya.


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan Anneu Jannatunnisa?" tanya Bu Wati, geram. Kali ini kesabarannya sudah mulai habis.


"Iya, Bunda. Aku sadar dengan apa yang aku ucapkan," jawab Anneu datar seraya meraih roti yang berada di atas meja makan.


"Kau benar-benar tidak waras, Anneu!" Bu Wati mulai sedikit emosi melihat putrinya yang memasang ekspresi wajah tanpa dosa.


"Jangan mulai lagi, Bunda. Aku masih waras!" bentak Anneu.


"Maka bersikaplah seperti orang waras!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2