My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Jemputan


__ADS_3

Aku cukup terkejut mendapati telepon yang dimatikan secara tiba-tiba. Begitu aku lihat nama yang terpampang di layar, ternyata itu panggilan dari dosenku. "Huh, pantas saja langsung dimatikan," gerutuku kesal.


Aku yakin, saat ini dia pasti sedang marah-marah karena mendengar aku memanggil nama mas Yudhis. Tapi, bodo amat lah ... emangnya gua pikiran, batinku.


Ting!


Notifikasi pesan whatsapp masuk di ponsel. Aku membalikkan ponsel yang masih aku genggam. Nama dosen killer terpampang jelas di layar. Hmm, rupanya dia yang telah mengirimkan pesan. Kuusap layar ponsel untuk membaca pesannya. Dan benar saja, luapan kemarahan dia curahkan lewat huruf kapital yang tertera dalam pesannya.


SUDAH KUBILANG JANGAN SEBUT NAMA ITU LAGI!!


"Huff!" Aku membuang napas kasar. Ya mana aku tahu kalo panggilan itu dari dosen gila. Toh yang sedang ada di pikiranku, 'kan, mas Yudhis. Apa salah, aku menyangka panggilan itu dari tunanganku, huh.


Lagi-lagi aku mendengus kesal saat mengingat harus selalu berurusan dengan pria dingin itu.


.


.


Keesokan harinya, aku terbangun saat matahari telah terbit di ufuk timur. "Ish, alamat kesiangan masuk sekolah, ini..." ucapku seraya tergesa-gesa pergi ke kamar mandi.


Dengan gaya bebek mandi, akhirnya tak butuh waktu lama, aku keluar dari kamar mandi. "Tak apalah tak pake sabun, yang penting bau iler ilang," gumamku sambil memakai seragam dan menyemprotkan hampir setengah botol parfum pada pakaian seragamku.


Secepat kilat aku berlari menuruni tangga. "Pagi, Ma!" sapaku begitu tiba di dapur.


"Pagi, Sayang. Ayo, sarapan dulu!" ajak mama yang sedang mengolesi roti dengan selai kacang kesukaanku.


"Bungkus aja, Ma! Kakak dah telat, nih!" kataku sambil mengambil air minum. Tak lama kemudian aku berlari menuju rak sepatu.


Pilihanku jatuh kepada sepatu pantofel berwarna hitam yang memiliki tinggi hak sepatu sekitar 3 cm. Lepas itu, aku segera menyambar tas laptop dan mulai berlari ke depan.


"Kak, tunggu! Bekalnya ini!" teriak mama saat aku sudah mencapai gerbang halaman rumah.


Aku menghentikan langkah dan menunggu mama tiba di tempat. Setelah mama tiba, mama segera memasukkan bekalku ke dalam tas ransel. Tak lama kemudian, ojek online yang kupesan akhirnya tiba.


"Dengan Kak Resti?" tanya tukang ojek itu.


Aku mengangguk dan segera menghampirinya. Tukang ojek itu menyerahkan sebuah helm berwarna hijau dengan inisial huruf G di samping kanannya. Setelah memakai helm dengan sempurna, aku segera menaiki motor itu dan memintanya untuk melajukan kendaraan secepat mungkin.


Tidak sampai 15 menit, aku tiba di tempat kerja. Aku segera membayar ongkos ojek dan berlari ke kelas. Belum sampai aku di kelas, tiba-tiba kepala sekolah sudah memanggil terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bu Resti, tolong ikut saya ke ruangan!" ucap Pak Diman dengan nada yang tak biasa. Setelah memberikan perintah, Pak Diman menghilang di balik pintu kantor.


"Huff!" Kembali aku membuang napas kasar. Setelah berhasil mengatur napasku yang tadi tersengal, aku memasuki kelasku.


"Assalamu'alaikum!" ucapku dengan lantangnya menyapa anak didikku.


"Wa'alaikumsalam!" jawab serempak anak didikku.


"Mohon maaf Ibu terlambat...." Aku melirik jam tanganku, "sekitar 5 menit. Apa kalian sudah berdo'a?" lanjutku.


"Sudah, Bu!" Jawab anak-anak. Aku tersenyum puas. Ternyata mereka mampu menghargai waktu dan berdisiplin meskipun aku tidak ada di dalam kelas


"Baiklah anak-anak! Sekarang, silakan kalian buka buku Tema 7 sub tema 3 pembelajaran 1. Silakan kalian amati dulu gambarnya, setelah itu baca teksnya. Mohon maaf, Ibu ada keperluan sebentar di ruang bapak kepala sekolah. Mohon kerjakan tugasnya dan tidak boleh membuat keributan. Apa kalian mengerti?" tanyaku.


"Siap, Bu!" Anak-anak itu kembali menjawab kompak perintahku. Akhirnya, setelah memberikan tugas, aku pun pergi ke ruangan Pak Diman.


Tiba di sana, aku mulai mengetuk pintu ruangan Pak Diman.


"Masuk!" perintah Pak Diman dari dalam ruangannya.


Aku membuka pintu dan memasuki ruangannya.


Aku mengangguk, sejurus kemudian aku duduk mengikuti perintah Pak Diman. Sejenak, aku melihat Pak Diman menghela napasnya.


"Begini, Bu Res. Saya sangat mengerti kesibukan Bu Res di kampus. Tapi, ketika ada kegiatan di kampus, sebaiknya Bu Res mengabari kami terlebih dahulu. Bu Res tau, 'kan, peraturan seorang pegawai negeri. Saya tidak mau Bu Res kena masalah suatu hari nanti," tegur Pak Diman.


Sungguh, tingkat kekesalanku mulai memasuki level dewa. Ish, bertemu lagi dengan pria itu, ternyata bukan perkara yang mudah. Karena setelah ini, pasti selalu ada peristiwa yang menyulitkan aku. Aku hanya bisa merutuki masa lalu yang pernah jatuh cinta padanya.


"Tapi Bu Res sangat beruntung, karena memiliki atasan yang sangat baik. Dia bahkan sampai rela meluangkan waktunya hanya untuk meminta surat perjalanan Bu Res selama mengikuti kegiatan kampus," lanjut Pak Diman.


Aku mengerutkan kening. Deuh, apalagi maksudnya ini?


"Maaf, Pak!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Pak Fatwa sudah menjelaskan kesibukan para mahasiswa di dua semester terakhir. Saya bisa mengerti posisi Bu Res, terlebih lagi ... bukan hal yang mudah untuk seorang pegawai seperti Bu Res, harus mengenyam pendidikan lagi. Tentunya, Bu Res harus pandai membagi waktu," tutur pak diman.


"Iya, Bapak benar. Sekali lagi, saya mohon maaf. Terima kasih atas pengertian Bapak," ucapku.


"Iya sama-sama. Tapi, sebaiknya Ibu berterima kasih kepada pak Fatwa. Karena beliau, SP Ibu tidak keluar," saran Pak Diman.

__ADS_1


"Ba-baiklah, Pak," jawabku terbata.


"Ya sudah kalau begitu, Bu Res bisa kembali lagi ke kelas," perintah Pak Diman.


"Iya, Terima kasih." Aku segera pamit dan keluar dari ruangan bapak kepala sekolah.


Sesaat aku memikirkan ucapan Pak Diman. 'Berterima kasihlah kepada pak Fatwa?' Huh, enak saja! Justru karena dialah aku bolos kerja selama seminggu, gerutuku dalam hati


.


.


Jarum jam berhenti di angka 15.30. Aku kembali melihat ke halaman sekolah. Mobil mas Yudhis masih belum kelihatan juga. Padahal, aku sudah mengabari mas Yudhis untuk menjemput. Rencananya, hari ini aku ingin berterus terang tentang Fatwa kepada mas Yudhis.


"Belum pulang, Bu?" tanya Karim, penjaga sekolah.


"Belum, Rim," jawabku. Ya, mungkin Karim merasa heran melihat aku masih berada di sekolah. Padahal jam pulang sudah lebih dari dua jam yang lalu.


"Nunggu jemputan ya, Bu?" tanya Karim lagi.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Pacarnya, Bu?" Karim terlihat semakin kepo.


"Bukan, calon suami," jawabku.


"Alhamdulillah ... akhirnya Bu Res akan segera menikah juga, ucap karim mengangkat kedua tangannya


Ish, apa maksudnya nih? batinku mendelik ke arah Karim.


Pemuda berusia sekitar 20 tahunan itu hanya tersenyum kikuk melihatku. "Permisi, Bu!" pamit Karim meninggalkan ruang kantor.


Tak lama berselang, Karim menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Bu, calon suami Ibu sudah datang," ucapnya setengah berbisik.


Aku tersenyum dan segera merapikan pakaianku. Sejurus kemudian, aku keluar untuk menghampiri mas Yudhis.


"Akhirnya, Mas datang ju–"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2