
Sejenak, Fatwa diam mendengar keinginanku. Tapi, melihat aku tak bisa menghentikan air mata, akhirnya dia mengalah.
"Baiklah, kita akan segera pulang setelah kau sehat," ucap Fatwa seraya mengelus lembut pipiku.
Aku menatapnya, "Janji?" tanyaku.
Fatwa mengulurkan jari kelingkingnya. "Janji!" jawab Fatwa.
Tak lama berselang, seorang perawat memasuki kamar dengan membawa nampan. "Permisi, Pak! Ini sarapan untuk Ibu," ucap perawat itu menyerahkan kotak makanan kepada Fatwa.
"Terima kasih," jawab Fatwa singkat, tangannya terulur untuk mengambil kotak makanan tersebut.
"Sama-sama, kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Mari!" Perawat itu pamit kepada Fatwa.
Fatwa hanya mengangguk menanggapi ucapan perawat itu. Dia kembali mengalihkan pandangannya kepadaku.
"Makan sekarang ya, Res!" ucap Fatwa seraya membuka penutup kotak makan itu.
Aku menggelengkan kepala, lemah. Kerinduanku kepada ibu dan penyakit maag yang sedang menderaku, membuat aku sama sekali tidak memiliki selera untuk makan.
"Katanya mau pulang?" tanya Fatwa sedikit menggoda.
"Apa hubungannya?" Aku malah balik bertanya seraya mengerucutkan bibir.
"Ya ada, lah..." jawab Fatwa seraya mengaduk sayur bening supaya lekas dingin.
"Apa?" tanyaku mulai terpancing omongan pria dingin itu.
"Pulang, 'kan butuh tenaga juga," jawab Fatwa dengan santainya.
Hmm, masuk akal juga, sih. Aku mulai bangun dan duduk bersandar pada sandaran ranjang. Sejurus kemudian, aku mengulurkan tangan kanan.
"Ngapain?" tanya Fatwa yang sedikit mengerutkan keningnya saat melihat aku mengulurkan tangan di hadapannya.
"Katanya suruh makan, ya Res mau makan, lah," ucapku sedikit jengkel dengan sikap Fatwa.
"Sudah, biar aku suapi," ucap Fatwa, masih memegangi kotak makannya.
"Res bisa sendiri!" jawabku ketus.
"Cukup ya, Res ... aku tidak ingin berdebat lagi. Turuti aku, atau kita tidak akan pulang sama sekali!" ucap Fatwa, tegas.
Kembali nyaliku ciut melihat tatapan matanya yang seolah ingin menerkam. Akhirnya, aku turuti semua perintah Fatwa. Dengan telaten, pria itu menyuapi aku. Rasanya, seperti kembali ke masa lalu, tanpa sadar air mataku berlinang melihat pria itu penuh haru.
'Kapan aku bisa pulang, Fat?" Aku memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
pria dingin itu masih tampak sibuk mengipasi sayur agar segera dingin.
"Fat...." Aku merengek, memanggilnya.
__ADS_1
Sontak Fatwa mendongak begitu mendengar rengekanku. "Iya, kenapa Res?" tanyanya.
"tuh, 'kan ... kamu nggak fokus!" tuduhku yang merasa kesal karena Fatwa bersikap acuh tak acuh.
"Iya, maaf... aku, 'kan sedang berusaha mendinginkan makanan kamu. Ya, maaf kalau kurang fokus sama kamu," ucap Fatwa.
Aku hanya diam sebagai bentuk protesku.
Melihat kediaman aku, Fatwa akhirnya menghentikan kegiatannya. "Baiklah, sekarang aku akan fokus mendengarkan kamu. Apa yang ingin kamu tanyakan?" ucap Fatwa menatapku.
"Kapan aku bisa pulang?" Kembali aku menanyakan hal yang sama.
"Nanti, tunggu visit dokter dulu," jawab Fatwa.
Aku mengangguk. Sedetik kemudian dia kembali menyuapi aku. Selang beberapa menit, makanan itu akhirnya habis. Fatwa menyimpan kotak makanan itu dan menuangkan air ke dalam gelas. Dia lalu menyerahkan gelas itu kepadaku.
Aku menerimanya dan mulai mereguk air putih tersebut. Selesai makan, aku menengadahkan wajah dan mulai membayangkan wajah teduh ibuku. "Ma, Kakak kangen sama mama," gumamku dalam hati.
Pukul 10 pagi, visit dokter pun dimulai. Aku tak sabar menunggu giliran karena ingin segera pulang.
"Selamat pagi, Pak, Bu!" sapa dokter muda yang sangat cantik.
"Selamat pagi, Dok! Fatwa menjawab sapaan dokter itu dengan sangat dingin.
Awalnya, dokter muda itu tersenyum begitu melihat Fatwa. Namun, sepersekian detik kemudian, senyum itu hilang saat melihat aku yang tengah terbaring di ranjang.
Terlihat dokter itu sangat terkejut mendengar pertanyaan Fatwa. Untuk sejenak, dia menatapku.
Aku yang mendapat tatapan seperti itu, merasa terganggu dengan tatapannya, aku hanya bisa balik menatap Fatwa.
"Bagaimana?" Fatwa kembali bertanya.
"Eh, se-sebentar ... sa-saya periksa dulu!"
Dokter muda itu terlihat gugup saat memeriksaku. Tak lama kemudian, dia melepaskan stetoskopnya.
"Alhamdulillah, kondisi Ibu sudah membaik. Hari ini sudah bisa pulang," ucap dokter muda tersebut.
Aku tersenyum, senang tak terkira saat mendengar kabar itu. Berbanding terbalik dengan sikap Fatwa yang masih terkesan dingin.
"Syukurlah," ucapku.
Dokter itu tersenyum ramah. "Selamat atas pernikahannya. Aku selalu menunggu undangan darinya. Tapi rupanya, dia menikah diam-diam," ucap dokter muda itu sambil mengulurkan tangannya.
Aku hanya bisa bengong mendengar ucapan dokter muda itu. Tapi, aku menerima uluran tangannya meski tak mengerti arah pembicaraan dokter muda itu. Setelah berjabat tangan, dokter itu pun keluar dari kamarku.
Setelah dia keluar, aku menatap tajam ke arahnya. "Bisakah kau jelaskan apa artinya semua ini?" tanyaku pada pria dingin itu.
Fatwa mendekat dan duduk di kursi samping ranjang. Kedua tangannya dia lipat di depan dada. "Namanya Nisha, anak fakultas kedokteran. Dia salah satu mahasiswiku saat aku mengajar di salah satu kampus di kota ini," ucap Fatwa.
__ADS_1
Aku langsung mengerti ucapannya. "Apa dia kekasihmu?" tanyaku penasaran.
"Hampir," jawab Fatwa singkat.
"Uuh, dasar cowok. Katanya cinta, tapi lengah sedikit langsung berpaling," gumamku pelan. Entahlah, mendengar kalau dokter muda itu memiliki masa lalu bersama Fatwa, membuat hatiku merasa tidak nyaman.
"Apa kau sedang cemburu?" Fatwa yang mendengar gumamanku terlihat sedang menggodaku.
"Ish, jan ge'er kamu!" pungkasku cepat.
Pria dingin itu hanya menggelengkan kepalanya melihat sikapku.
Tak berapa lama setelah dokter muda itu pergi, datang seorang perawat yang bertugas untuk melepaskan infusanku.
"Tunggulah di sini sebentar, aku akan pergi ke ruang administrasi dulu," ucap Fatwa.
Aku pun mengangguk.
"Suami ibu baik, ya? Sudah baik, tampan lagi," ucap perawat itu.
Aku hanya tersenyum mesem menanggapi ucapan perawat yang sedang membuka jarum infus di tanganku.
Setelah beberapa menit, Fatwa kembali lagi. "Sudah siap?" tanyanya.
Aku mengangguk. Dia kemudian merangkul pundakku dan memapahku keluar.
.
.
Menjelang asar, mobil yang kami tumpangi tiba di depan rumahku. Mama segera keluar untuk menyambut kedatangan kami.
"Alhamdulillah, Kak ... akhirnya kamu pulang juga," ucap mama seraya memelukku.
"Iya, Ma. Maafkan Kakak karena tidak mengabari Mama," ucapku, merasa berdosa.
"Tidak apa-apa. Menjadi seorang asisten dosen memang seperti itu resikonya, Kak. Harus selalu siaga setiap kali atasan memerintah. Untung saja Nak Fatwa begitu baik mau menyampaikan pesan kamu sama Mama," ucap mama.
Aku hanya menatap mama bengong. Ish, entah kalimat apa yang dikarang si dosen gila itu sehingga mama berkata demikian.
"Ya sudah, mari masuk, Nak!" ajak mama kepada kami.
Sepanjang memasuki rumah, aku menatap tajam ke arah Fatwa yang hanya bisa cengengesan mendengar ucapan mama.
"Oh, iya, Kak. Kenapa bukan nak Yudhis yang mengantarkan kamu pulang?" tanya mama.
Aku dan Fatwa hanya bisa saling pandang mendengar ucapan mama.
Bersambung
__ADS_1