
Ting!
Bunyi notifikasi whatsapp, masuk di ponselnya Zein. Pemuda itu langsung mengusap layar ponsel. Sedetik kemudian, tampak peta lokasi yang dikirimkan oleh Pak Radit.
Zein mulai berbalik arah dan mengikuti peta lokasi tersebut. Akhirnya, setelah melewati jalan bebatuan yang cukup terjal, kami tiba di tempat lokasi.
“Apa benar ini villanya, Kak?” tanya Zein.
Aku mengangguk. “Iya, Zein. Kakak ingat betul dengan pintu pagar yang menjulang tinggi itu.” Tunjuk aku pada pintu gerbang di kediaman almarhum bang Rizal.
Zein kembali melajukan mobilnya memasuki pintu gerbang yang sedang terbuka lebar. Tiba di sana, ada beberapa mobil polisi dan sebuah mobil ambulan terparkir di halaman rumah. Setelah Zein memarkirkan mobilnya, aku segera turun untuk menemui pak Radit di dalam.
“Nona Chi!” tiba-tiba aku mendengar suara Ida memanggil dari arah taman samping.
“Ida!” gumamku.
Aku melangkahkan kaki menuju taman samping untuk menemui Ida. Aku memeluk Ida yang tampak menangis. Mungkin Ida sangat sedih dengan apa yang menimpa majikannya. Bagaimanapun juga, bagi Ida, bang Rizal adalah pahlawan dalam hidupnya. Bang Rizal-lah yang telah menolong Ida dan ayahnya dari rentenir yang ingin menjadikan Ida sebagai istri kelimanya.
“Kamu yang sabar ya, Da. Bang Rizal sudah tenang di sisi Tuhan,” ucapku mencoba menghibur Ida.
“Iya, Nona. Ida … Ida hanya tak sanggup saja melihat si kecil Maira. Kasihan dia, Non. Masih kecil tapi sudah menjadi yatim,” ucap Ida, pilu.
Aku pun merasa sesak saat mengingat Maira. Aku tahu jika dia sangat dekat dengan ayahnya. Dan setelah ayahnya tiada, aku tidak tahu siapa yang akan mengasuh Maira nanti.
“Di mana Maira sekarang, Da?” tanyaku yang tidak melihat Maira di sekitar Ida. Biasanya, jika sang ayah tidak ada, Maira akan selalu menempel padaku dan Ida.
“Maira ada di dalam bersama kakek dan neneknya,” jawab Ida.
“Oh, jadi orang tua Anneu sudah datang?” tanyaku pada Ida.
“Iya, Non. Tadi jam 3 dini hari mereka datang. Untungnya mereka belum pergi ke Sumatera, karena itu mereka langsung datang kemari begitu pihak kepolisian menyampaikan tragedi yang terjadi pada tuan Rizal dan nyonya Anneu,” tutur Ida.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku ke dalam dulu, Da. Aku ingin menyapa mereka,” kataku.
Ida tampak mengangguk. Setelah berpamitan pada Ida, aku dan Zein kembali melangkahkan kaki memasuki Villa bang Rizal.
“Assalamu’alaikum!” sapaku kepada orang-orang yang tengah berkumpul di ruang tamu.
“Wa’alaikumsalam!” jawab mereka serempak.
Aku masuk, sejenak terpaku saat melihat jenazah bang Rizal yang sudah terbungkus kain kafan. Aku melirik Maira yang sedang duduk di atas pangkuan seorang wanita tua. Mungkin dia adalah ibu dari Anneu. Gadis kecil itu tampak anteng memainkan boneka barbienya. Air mata pun luruh saat dia mendongak dan menghambur ke arahku.
“Buna!” teriak Maira seraya berlari begitu meliha aku.
Sejurus kemudian, aku berjongkok, menyambut pelukan hangat dari gadis kecil itu.
“Buna, maila tangen,” ucapnya cadel.
“Iya, Sayang … Buna juga kangen sama Maira,” jawabku seraya memeluk erat tubuh kurusnya. Entah kenapa, hatiku terasa sangat perih ketika memeluk Maira.
Perkataan Pak Radit seketika melepaskan pelukan kami. aku segera menggendong Maira dan berjalan ke arah orang-orang yang tengah mengelilingi jasad bang Rizal. Sesaat kemudian, seorang ustadz datang dan berbisik kepada Pak Radit.
“Baiklah, lakukan apa pun yang menurut Anda baik, Ustadz,” kata Pak Radit.
Orang berjubah itu mengangguk. Setelah itu, dia memerintahkan kepada beberapa orang pemuda bersarung untuk memindahkan jenazah bang Rizal ke dalam keranda yang telah tersimpan di depan ruangan. Sepertinya, jenazah bang Rizal hendak dikebumikan saat ini juga.
Seorang pria yang sudah tua menghampiri aku. dia memperkenalkan dirinya sebagai Pak Rahadi, kakek dari Maira yang tak lain adalah ayahnya Anneu.
“Bapak sudah tahu semua ceritanya dari komandan Adwira. Atas nama putri Bapak, Anneu … Ba-bapak minta maaf, Nak. Bapak sudah gagal mendidik Anneu, sehingga dia tumbuh menjadi seorang wanita tanpa rasa sayang,” ucap Pak Rahadi terdengar sangat menyayat hati.
“Semua ini bukan kesalahan Bapak. Saya juga minta maaf jika tanpa sadar, saya telah melukai perasaan putri Bapak. Apa yang sudah terjadi, biarkanlah terjadi, Pak. Saya sendiri sudah memaafkan sikap putri Bapak. Kita berdo’a saja, semoga Anneu bisa mengambil hikmah dari semua perkara yang sudah terjadi. Oh, iya Pak … ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Anneu? Maaf, saya belum sempat menjenguknya,” kataku.
Sejenak, Pak Rahadi terlihat menarik napasnya panjang. Dia kemudian membuang napas dengan perlahan. “Anneu masih belum sadar. Dia masih berada di ruang ICU. Kondisinya sudah sangat kritis. Bahkan, dokter pun tidak berani memberikan harapan kepada kami,” tutur Pak Rahadi.
__ADS_1
Aku begitu terkejut mendengar ucapan Pak Rahadi. Ya, memang wajar jika keadaan Anneu cukup parah, mengingat dalamnya jurang itu. Namun, aku masih berharap. Semoga saja masih ada keajaiban untuk Anneu, sehingga dia bisa sembuh dan memperbaiki sikapnya.
Selang beberapa menit, prosesi pemakaman bang Rizal di halaman belakang pun dimulai. Sejak kecil, bang Rizal sudah yatim piatu. Dia pun hidup sebatang kara. Karena itu, tidak banyak orang yang menghadiri pemakaman bang Rizal. Ditambah lagi, sampai detik ini, tak ada yang tahu profesi bang Rizal itu sebagai apa.
Setelah acara pemakaman selesai. Kami semua berkumpul di ruang tamu. Pak Radit mengintogerasi satu per satu para pekerja yang ada di villa bang Rizal terkait pekerjaan bang Rizal. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui siapa bang Rizal. Termasuk para bodyguard yang disewa bang Rizal untuk menjaga villa ini.
Pun dengan Pak Ujang dan Ida. Mereka hanya bilang, jika bang Rizal adalah orang baik yang telah menyelamatkan Ida dan ayahnya dari kawin paksa yang hendak dilakukan oleh seorang rentenir di kampungnya.
Saat tak mendapatkan satu pun tentang siapa dan apa pekerjaan almarhum bang Rizal, Pak Radit mengalihkan topik pertanyaan. Kini dia mengintogerasi Ida terkait sikap Anneu yang telah membawa aku pergi secara paksa siang itu.
Dengan gamblang, Ida menceritakan kejadian siang itu sama persis dengan apa yang aku ceritakan kepada Pak Adwira. Terlihat Pak Radit manggut-manggut mendengar kesaksian Ida. Selain bertanya kepada Ida, Pak Radit juga bertanya kepada Pak Ujang tentang hal yang sama. Jawaban Pak Ujang pun serupa dengan Ida, bahwa Anneu memang datang dalam kondisi marah dan langsung menampar aku.
Sejenak, aku mendengar Ibu Wati, yang tak lain ibunya Anneu terisak dalam pelukan suaminya.
“Ya Tuhan, Yah … Bunda tidak pernah menyangka jika Anneu bisa sekejam itu,” ucap Bu Wati.
“Ssst, sudah Bu. Bagaimanapun juga, Anneu putri kita. Sudah sepatutnya kita mendo’akan yang terbaik untuk Anneu. Semoga dengan kejadian ini, jika memang Anneu diberikan kesempatan untuk melanjutkan hidup, mudah-mudahan Anneu bisa bertobat,” ujar Pak Rahadi.
“Aamiin,” jawab semua yang ada di ruangan ini.
“Baiklah, Mbak Res. Saya rasa, kesaksian untuk hari ini dicukupkan sekian. Jika Mbak Res memang ingin beristirahat, saya tidak akan menghalangi Mbak Res,” ucap Pak Radit.
“Terima kasih, Pak. Kebetulan masih banyak yang harus saya urus terkait dengan kesehatan teman saya. Jika kehadiran saya sudah tidak diperlukan lagi, saya hendak pamit undur diri,” jawabku.
“Iya, silakan!” kata Pak Radit.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Anneu, akhirnya aku dan Zein pulang.
“Bunaaa! Maila ikuuut!”
Bersambung
__ADS_1