My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Bertemu Keluarga


__ADS_3

“Silakan beristirahat di ruangan ini, Bu,” ucap polisi wanita itu seraya membuka pintu sebuah ruangan.


Aku memasuki ruangan yang jika aku lihat, memang cukup nyaman. Ada satu set sofa yang di peruntukkan para tamu menunggu. Di dinding ruangan juga terpasang sebuah TV LED dengan ukuran yang lumayan besar.


Polisi wanita itu mulai menyalakan AC, agar aku tidak kepanasan. Sejurus kemudian, polisi wanita itu membuka lemari pendingin berukuran satu pintu dan mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari itu.


“Ini minumannya, Bu,” ucap polisi wanita itu seraya menaruh botol mineral di atas meja.


“Terima kasih,” ucapku.


“Sama-sama. Kalau begitu, saya tinggal dulu ya, Bu,” pamit polisi wanita yang tadi jika aku tidak salah dengar dipanggil Quina.


Aku mengangguk menanggapi ucapan Quina. Setelah itu, Quina pergi ke luar ruangan.


Aku mendaratkan punggungku di atas sofa. Tenggorokanku terasa kering. Aku raih botol air mineral itu dan membukanya. Lepas itu, aku mulai menenggak isinya hingga hanya tersisa setengah saja. Setelah aku meletakkan kembali botol mineral tersebut, aku mulai menyandarkan punggungku pada sandaran sofa.


Aku menengadah dan mulai memejamkan mata. Bayangan Ida dan Maira, kembali melintas dalam benakku. Ah, Ida pasti mengkhawatirkan keadaanku. Ingin rasanya aku memberikan kabar padanya, tapi aku sama sekali tidak mengetahui nomor telepon rumah bang Rizal. Aku hanya bisa pasrah, menunggu kabar dari pihak kepolisian.


Malam mulai merangkak. Kebetulan aku sedang datang bulan, karena itu aku tidak menunaikan kewajiban aku. Tapi, jauh di lubuk hati, aku sangat merindukan untuk bersujud. Apalagi di saat-saat seperti ini. Ah, aku hanya bisa berdo’a dalam hati. Semoga semuanya baik-baik saja. Mataku mulai terasa berat, lambat laun tertutup rapat hingga aku tak mampu mengingat apa-apa lagi.


**********


Seseorang tiba-tiba memeluk aku dari belakang.


“Apa kabar, Res? Apa kamu merindukan aku?” bisik suara yang tidak pernah asing di telingaku.


Aku mendongak sambil membuka mata. Senyum khas pria itu terpampamng jelas di mataku.


“Ka-kamu sudah bangun, Fat?” tanyaku mulai menelisik wajah yang terlihat pucat.


Fatwa melepaskan pelukannya. Dia kemudian duduk di hadapanku.


“Bukankah taman itu terlihat indah?” tanya Fatwa. Telunjuknya menunjuk pada sebuah taman bunga yang dipenuhi oleh bunga berwarna-warni.


Kedua mataku mulai mengikuti arah telunjuk Fatwa. Memang benar apa yang dia katakan. Taman itu terlihat begitu indah dengan aliran sungai berair jernih yang membelah taman menjadi dua bagian.


“Memang sangat indah, Fat,” gumamku.


“Seandainya aku bisa mengajak kamu ke sana, Res,” ucap Fatwa masih memandang taman itu dengan senyum yang mengembang.


“Apa maksud kamu, Fat? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku akan selalu mau ke mana pun kamu ingin membawaku pergi,” jawabku kepada Fatwa.

__ADS_1


Fatwa mengalihkan pandangannya dan menatapku, masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Sayangnya, kamu belum diizinkan untuk memasuki taman itu, Res,” ucapnya.


“Maksud kamu?” tanyaku semakin tak mengerti.


“Sudahlah, lupakan saja! Aku pergi dulu ya, Res. Jaga diri kamu baik-baik,” ucap Fatwa.


Laki-laki berjubah putih itu mulai berdiri. Senyumnya masih terukir manis di kedua sudut bibirnya. Wajah Fatwa terlihat bersinar. Aku sendiri merasa aneh melihat penampilan Fatwa. Tiba-tiba … jubah putih? Ya Tuhan, jangan-jangan….


Aku menggelengkan kepala dengan kuat. Mencoba bangkit dan meraih tangan laki-laki itu. Namun, tubuhku seolah tertancap di atas kursi.


“Tidak! Jangan pergi! Res mohon, jangan pergi!"


*********


"JANGAN!!"


“Kakak, bangun Kak!”


Suara yang begitu aku rindukan terdengar halus di telingaku. Tepukan pelan di pundak, sontak membuat aku membuka mata.


Tak sanggup membendung kerinduan yang membuncah di dalam dada, akhirnya kupeluk wanita itu sedemikian rupa. Begitu juga dengan mama. Beliau memeluk aku dengan erat. Pada akhirnya, tangis dan air mata mulai mengiringi pertemuan kami setelah tiga bulan lebih terpisah.


“Ma-maafkan Kakak, Ma. Maafkan Kakak yang menghilang tanpa kabar. Ka-kak memang bu-bukan anak yang baik,” ucapku terbata.


“Sst … sudahlah, Sayang. Semua itu bukan salah kamu,” ucap mama seraya mengelus-elus punggung aku.


“Ta-tapi, Ma….”


“Sudah Kak, yang penting Kakak sudah ditemukan dalam keadaan sehat wal’afiat,” ucap Rayya seraya mendekati aku.


Aku mengurai pelukan dan menatap Rayya. Sejurus kemudian, kami berpelukan untuk saling melepaskan kerinduan.


“Maafkan Kakak, Dek. Kamu pasti kebingungan mencari Kakak,” ucapku.


“Maafkan Ray juga, Kak. Mungkin usaha Ray dan bang Zein tidak begitu maksimal, sehingga baru bisa menemukan Kakak sekarang,” balas Rayya.


“Tidak apa-apa, Dek. Manusia memang hanya memiliki ikhtiar, Tuhan-lah yang menentukan akhir dari ikhtiar kita,” timpalku.


Sejenak, kami bertiga larut dalam keharuan karena bisa kembali berkumpul. Beberapa menit kemudian, Pak Adwira masuk bersama Zein.

__ADS_1


“Selamat Nona Res, akhirnya Anda bisa berkumpul kembali dengan keluarga Anda,” ucap Pak Adwira.


“Terima kasih, Pak,” jawabku.


“Kak Chi, aku senang Kakak bisa kembali,” ucap Zein menimpali.


“Iya, Zein. Terima kasih, selama ini kamu sudah menemani Rayya mencari Kakak,” jawabku.


“Sama-sama, Kak. Itu sudah menjadi kewajiban Zein, Kak,” jawabnya.


Meskipun aku tidak mengerti dengan ucapan Zein, aku hanya mengangguk saja menanggapi perkataannya.


“Oh iya, Nona Res. Karena Anda sudah bertemu dengan keluarga Anda, jadi saat ini juga pihak kepolisian sudah mengizinkan Anda untuk pulang. Tapi, kami mohon kesediaan Anda jika sewaktu-waktu kami membutuhkan keterangan Anda atas penculikan dan kasus kriminal yang melibatkan pasangan Rizal dan Anneu,” ucap Pak Adwira.


Aku mengangguk. “Terima kasih, Pak. Insya Allah, saya siap datang jika memang keterangan saya diperlukan dalam penyelidikan,” jawabku.


“Baiklah. Terima kasih atas kerja samanya. Sekali lagi, selamat berkumpul kembali dengan keluarga tercinta,” kata Pak Adwira.


Aku kembali mengangguk. Tiba-tiba aku teringat akan keadaan Fatwa. Selama dibawa ke rumah sakit, aku belum medengar kabarnya.


“Ngomong-ngomong, apa Bapak tahu perkembangan Fatwa saat ini? Di rumah sakit mana dia dirawat, Pak?” tanyaku.


Sejenak, Pak Adwira terlihat menghela napasnya. “Pak Fatwa dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Healthy Centre. Sampai detik ini, beliau masih menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di dada sebelah kirinya,” jawab Pak Adwira, lirih.


Seketika tubuhku limbung mendengar jawaban Pak Adwira. Mama dan Rayya menangkap tubuhku sebelum ambruk ke lantai. Sejenak, mereka memapahku untuk duduk di kursi. Namun, aku menolaknya.


“Ma, Kakak mau ke rumah sakit,” pintaku sambil menatap mama.


Mama mengangguk. “Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang, tapi Kakak harus tenang dulu, ya,” jawab Mama.


Aku mengangguk. Setelah berpamitan kepada Pak Adwira, akhirnya Mama, Rayya dan Zein mengantarkan aku ke rumah sakit Bhayangkara Healthy Centre untuk menjenguk Fatwa.


.


.


Selama dalam perjalanan, aku hanya bisa diam memikirkan kaeadaan Fatwa yang pastinya saat ini sedang berjuang di meja operasi. Untaian do’a terus aku panjatkan untuk keselamatannya.


Aku mohon, selamatkan malaikat pelindungku, Tuhan….


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2