
Aku memekik seraya membekap mulutku sendiri saat melihat apa yang terjadi di halaman samping.
“Karman, cepat panggil ambulan!” teriak Mas Yudhis memerintahkan seseorang yang tidak aku kenal.
“Baik, Pak!” jawab orang itu seraya berlalu pergi dari hadapan kami semua.
“Minggir semuanya, minggir!” teriak Mbak Sekar pada orang-orang yang sedang mengerumuni Citra.
Mbak sekar menerobos kerumunan itu. Aku lihat dia menjatuhkan tubuhnya di samping Citra yang masih tergeletak di lantai.
“Jangan sentuh dia!” cegah Mas Andre yang melihat istrinya ingin memeluk Citra.
“Kenapa, Mas? Dia adikku,” tanya Mbak Sekar.
“Bersabarlah dulu sebentar, Sekar. Tunggu sampai tim medis tiba. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Citra saat ini. Jangan hanya karena kita ceroboh, hingga berakibat fatal pada diri Citra.” Mas Yudhis berusaha untuk menjelaskan prosedur penanganan kecelakaan.
Mbak sekar hanya mampu menangis pilu di samping tubuh Citra yang masih tergeletak. Darah yang berada di sekitar kepalanya, semakin menggenang lebih banyak.
Tak lama kemudian, sirene ambulan terdengar jelas memasuki pekarangan rumah. Empat orang tim medis datang menghampiri dengan membawa sebuah brankar. Dengan sigap, mereka melakukan evakuasi terhadap tubuh Citra yang semakin tidak berdaya. Sejurus kemudian, mobil ambulan itu melarikan Citra ke rumah sakit untuk segera ditangani.
“Apa dia akan selamat?” tanya salah seorang pekerja catering yang tadi sibuk membereskan makanan di halaman samping.
“Entahlah, tapi tadi tim medis bilang, dia masih hidup,” jawab temannya.
Tak sanggup mendengar desas-desus tentang Citra lagi, akhirnya aku memutuskan untuk memesan ojeg online dan segera pulang. Sungguh, bayangan Citra yang bersimbah darah, masih tergambar jelas di pelupuk mataku.
.
.
“Kok sudah pulang, Kak?” tanya mama yang merasa heran dengan kepulanganku dari pesta di jam sebelum dzuhur.
Aku tidak mampu menjawab pertanyaan mama. Sedetik kemudian, aku hanya bisa memeluk mama dan menangis.
“Hey, kamu kenapa Sayang? Ssst, sudahlah … tidak perlu kamu tangisi lagi. Mungkin, memang nak Yudhis bukan jodoh terbaik kamu. Percayalah, rencana Tuhan itu selalu lebih indah,” hibur mama.
Aku semakin tak kuasa menahan kepiluanku. Bukan karena mas Yudhis aku menangis, tapi karena ada banyak kejadian yang sungguh di luar dugaanku.
Setelah mampu menguasai emosi, akhirnya aku meleppaskan pelukanku. Aku tatap wajah teduh yang selalu menghangatkan jiwaku.
“Kakak nangis bukan karena meratapi nasib Kakak, Ma. Kakak sudah ikhlas, mas Yudhis memang bukan yang terbaik untuk Kakak. Tapi …” Sepertinya aku tidak sanggup untuk melanjutkan kata-kataku.
“Tapi apa, Nak?” desak mama.
“Tapi ini tentang Citra, Ma,” jawabku.
“Citra?” gumam Mama, “Ada apa dengan Citra?” tanyanya.
__ADS_1
“Ci-Citra … di–“
Drrt… Drrt…
Getaran ponsel dari dalam tas tangan yang masih aku pegang, seketika menghentikan ucapanku. Aku pun membuka resleting tas dan mengambil benda pipih itu. “Zein?” gumamku. Segera aku geser tombol yang berwarna hijau.
“Assalamualaiku, Zein!” salamku kepada orang di ujung telepon.
“Wa’alaikumsalam. Kakak, apa Kakak sudah mendengar kabar tentang Citra?” tanya Zein di seberang telepon.
“I-iya Zein. Kebetulan saat kejadian, Kakak masih berada di lokasi,” jawabku.
“Jadi, Kakak tahu jika Citra sudah meninggal?” tanya Zein lagi. Suaranya terdengar serak.
“Apa?! Me-meninggal?” Aku memekik keras. Sungguh kabar ini membuat aku sangat terkejut.
“Iya, Kakak. Barusan pak Karman memberi tahu Zein saat Zein hendak menghadiri undangan pernikahan Citra,” kata Zein.
“Ba-bagaiman bisa, Zein. Citra baru saja dilarikan ke rumah sakit. Sebenarnya, Kakak ingin ikut ke rumah sakit, tapi tubuh Kakak terasa lemas. Akan tidak baik kalau dipaksakan, akhirnya Kakak memutuskan untuk pulang," jawabku.
“Iya, tidak apa-apa, Kak. Ini Zein sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk memastikan kabar dari pak Karman,” sahut Zein.
“Baiklah, kabari Kakak jika ada perkembangan terbaru. Semoga saja apa yang disampaikan pak Karman itu cuma berita yang salah,” harapku.
“Ya, semoga saja. Ya sudah, Kak. Zein tutup dulu teleponnya, ya,” pamit Zein di ujung telepon.
“Iya, Zein. Assalamu’alaikum!” ucapku.
Sambungan telepon pun terputus. Kembali aku tatap wajah mama yang menggambarkan begitu banyak pertanyaan.
“Ada apa, Kak? Siapa yang meninggal?” tanya mama yang sepertinya menguping pembicaraan aku dan Zein.
“Se-sepertinya, Citra mencoba bunuh diri, Ma,” ucapku.
“Apa? Tapi kenapa?” Mama memekik keras dan mempertanyakan kenapa hal itu bisa trjadi.
“Sebenarnya ini hanya dugaan Kakak saja,” jawabku.
“Iya, memangnya kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi sampai Kakak menduga jika Citra ingin mengakhiri hidupnya?” tanya mama lagi.
“Mas Yudhis lari di hari pernikahannya, Ma.” jawabku.
“Apa? Jadi pernikahan mereka batal?" Mama kembali bertanya.
Aku mengangguk. “Mungkin saja itu yang membuat Citra nekat mengakhiri hidup,” sahutku.
Akhirnya, secara gamblang, aku ceritakan semua kejadian yang aku lihat hari ini kepada mama. Terlihat raut wajah mama begitu sedih. Tak lama kemudian, ponselku kembali berdering.
__ADS_1
Kembali kuraih benda itu dan menatap si pemanggil. Hmm, rupanya ini panggilan dari Zein.
“Ya Zein, bagaimana? Apa sudah ada perkembangan tentang kabar terbaru dari Citra?" tanyaku yang tidak sabar mendengar kondisi Citra.
“I-iya, kak. Apa yang dikatakan pak Karman memang benar. Citra telah meninggal dunia,” ucap Zein terdengar serak.
Kembali lututku terasa lemas dan bergetar hebat saat mendengar kabar meninggalnya Citra. Aku menatap mama. Aku lihat wajah kebingungan tergambar jelas di raut wajah mama.
“Ya sudah, Zein. Terima kasih atas infonya. Kabari Kakak jika jenazah Citra sudah dibawa pulang,” ucapku mengakhiri sambungan telepon.
Setelah mendengar jawaban dari Zein, aku segera memutuskan sambungan teleponku.
Bagaimana, Kak?” tanya mama.
“Citra sudah pergi, ma. Dia meninggalkan Kakak untuk selama-lamanya,” sahutku pilu.
“Innaillahi wa inna ilaihi rajiun,” ucap mama.
Seketika kami saling berpelukan untuk memberikan kekuatan pada diri kami masing-masing.
Setelah bada dzuhur, Zein kembali menelepon aku dan mengatakan jika jenazah Citra sudah berada di rumah dan akan segera dimakam kan. Bergegas aku memberi tahu mama.
“Kita melayat ke sana, Kak. Tapi, mama mau shalat dzuhur dulu," ucap Mama.
“Iya, Ma. Kakak juga belum shalat, kok. Ya sudah, kita shalat dzuhur aja dulu, sekalian nunggu Rayya pulang. Ya mudah-mudahan jenazahnya belum dikebumikan,” jawabku.
Mama mengangguk. Sejurus kemudian, kami pun pergi ke kamar masing-masing untuk menunaikan kewajiban.
.
.
Tepat pukul satu siang, aku, mama dan Rayya tiba di rumah duka. Terlihat begitu banyak orang yang datang melayat untuk memberikan penghormatan terakhit kepada Citra. Semua dosen dan teman-teman kampus pun sudah tiba lebih dulu dan duduk berjajar menempati kursi yang telah disediakan. Zein menghampri aku.
“Ayo, Kak. Aku antarkan untuk menemui Citra untuk yang terakhir kalinya,” ucap Zein dengan suaranya yang masik serak. Matanya terlihat sembab karena mungkin dia habis menangis.
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, aku beserta ibu dan adikku masuk ke dalam untuk memberikan penghormatan yang terakhir kepada Citra.
Kedua lututku kembali bergetar hebat saat melihat sosok Citra yang telah terbujur kaku dibalut kain kafan. Seketika aku luruh dan menangis di hadapannya. Wajah yang terlihat pucat itu perlahan aku usap.
“Selamat jalan, Cit. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa kamu dan menempatkan kamu di sisi-Nya," bisikku lirih.
Mbak Sekar yang sedang duduk di sampingku seketika memeluk aku. “Maafkan adik, Mbak ya Res. Di sengalan napas terakhirnya, dia hanya menyebut nama kamu dan meminta maaf,” ucap Mbak Sekar pilu.
“Iya, Mbak. Res sudah memaafkan Citra dari sebelum dia meminta maaf,” jawabku.
Saat kami sedang membaca ayat-ayat suci Al-Quran untuk mengantarkan kepergian Citra, tiba-tiba terdengar keributan dari luar.
__ADS_1
“Enyah kau dari sini!”
Bersambung