My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Will You Marry Me?


__ADS_3

"Tentu saja, Maira. Bunda kamu pasti akan menjadikan papa Fatwa sebagai papanya Maira. Benar, 'kan bunda?" Tiba-tiba Mama sudah berdiri di belakang kami.


Aku menoleh seraya memasang muka masam kepada Mama. Ish bisa-bisanya Mama menjanjikan sesuatu yang tidak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya. Pada anak kecil lagi?


"Ida!" panggilku saat melihat Ida sedang membereskan mainan Maira.


"Iya, sebentar Nona," jawab Ida. Tak lama kemudian, Ida berlari menghampiri kami. "Ada yang bisa Ida bantu, Non?" tanyanya.


"Ini sudah sangat sore. Tolong bawa Maira masuk ke rumah. Angin sore sudah tidak baik untuk kesehatannya," pintaku kepada Ida.


"Baik, Nona."


Ida menghampiri gadis kecil itu. Dia kemudian meraih Maira untuk menggendongnya.


"Maira ikut sama Bik Ida, ya. Kita cuci tangan, cuci kaki terus ganti bajunya pakai piyama. Abis itu, Maira makan buah sama Bik Ida, oke?" kata Ida kepada gadis kecil itu.


"Bibik, Maila mau makan buah cama papa Fatwa, boleh, 'kan?" pintanya dengan wajah memelas.


Ida menatapku. Dia seolah sedang meminta persetujuan dariku. Sejurus kemudian aku mengangguk.


"Baiklah, karena Bunda sudah mengizinkan, Maira nanti makan buahnya disuapin sama papa Fatwa ya. Setuju?" ucap Ida sambil mengangkat tangannya untuk toss.


"Yeayyy!"


Gadis kecil itu berteriak begitu gembira saat mendengar jawaban Ida. Dia pun menempelkan tangan mungilnya di telapak tangan Ida. Lepas itu, Ida menggendong Maira dan membawanya masuk ke rumah.


"Duduklah, Ma," pintaku kepada Mama.


Sejurus kemudian, Mama duduk di sampingku. "Kenapa, Kak?" tanya beliau.


Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara kepada Mama.


"Kenapa Mama menjanjikan hal yang mustahil kepada Maira?" tanyaku sesak.

__ADS_1


"Kenapa mustahil, Kak. Bukankah selama ini kamu memendam perasaan terhadap pria itu," jawab Mama.


Aku benar-benar terperanjat mendengar perkataan Mama. Ish, kenapa Mama bisa berbicara seperti itu? Atas dasar apa dia menganggap aku memiliki perasaan kepada Fatwa. Meskipun jauh di lubuk hatiku, aku mengakui kebenaran dari semua ucapan Mama barusan.


"Ke-kenapa Ma-ma bisa bicara seperti i-tu?" tanyaku, terbata.


Kini, giliran Mama yang menghela napasnya. "Maafkan Mama, Kak. Kemarin saat kamu menghilang, Mama sudah sangat lancang menggeledah kamar kamu. Saat itu, Mama menemukan beberapa buku harian kamu. Kisah-kisah yang kamu tulis mulai dari sekolah hingga kamu bertemu lagi dengan pria itu. Pria yang membuat kamu terpuruk pada zaman SMA dulu. Dan ... saat Mama bertemu nak Fatwa, Mama juga sudah sangat lancang menanyakan semua kebenaran ini kepadanya. Hingga pada akhirnya, nak Fatwa sendiri menceritakan kisah kalian," tutur Mama panjang lebar.


Lagi-lagi aku menghela napas. Sungguh aku tidak pernah menyangka jika begitu banyak hal yang terjadi selama aku disekap oleh almarhum bang Rizal.


Mama menyentuh bahuku seraya berkata, "Mungkin sudah saatnya kalian saling terbuka satu sama lain. Mama tahu jika nak Fatwa begitu tulus mencinta kamu, Kak. Dan Mama juga bisa merasakan jika kamu masih memiliki rasa itu untuk nak Fatwa," lanjut Mama.


"Entahlah, Ma. Kakak tidak yakin. Jujur saja, Kakak merasa malu terhadap Fatwa. Sudah begitu banyak Kakak menuduh Fatwa yang bukan-bukan. Bahkan, Kakak menganggap jika Fatwa adalah penghalang hubungan Kakak sama mas Yudhis. Padahal yang sebenarnya, justru Fatwa-lah yang telah mengungkapkan semua kebenaran. Dia tidak mau Kakak sakit hati lagi. Bahkan, dia yg selalu menyelamatkan hidup Kakak. Tapi Kakak begitu bodoh, Ma. Kakak selalu menyakiti perasaan Fatwa. Kakak malu, Ma. Kakak merasa jika Kakak bukanlah pasangan hidup yang baik untuk pria se-sempurna Fatwa," jawabku yang mulai terisak.


Mama meraih pundakku dan menyandarkannya pada bahu beliau. "Bersabarlah, Kak. Jika nak Fatwa adalah jodohmu. Insya Allah, semuanya akan dipermudahkan," ucap Mama.


Aku tidak menyadari jika pria yang sedang kami bicarakan, tengah berdiri di balik jendela kamarnya.


"Sudah sore, sebaiknya kita masuk," kata Mama.


.


.


Selepas makan malam, aku memasuki kamar terlebih dahulu. Sedangkan Fatwa, pria itu tampak berbincang-bincang dengan Rayya dan Mama di ruang keluarga. Sejenak, aku membaringkan tubuhku. Tidak aku pungkiri, bukan hanya Maira yang gelisah saat mengetahui esok hari Fatwa pulang. Aku pun sama, merasa gelisah. Rasanya, aku tidak siap untuk menjalani waktu tanpa pria itu. Jujur saja, aku mulai terbiasa dengan kehadiran dia di rumh ini.


Aku terus membolak-balikan tubuh untuk meredam semua kecemasan di hati. Namun, rasanya percuma saja. Semakin aku melihat waktu, semakin hatiku merasa resah.


Tanpa terasa, jarum jam berhenti di angka 11. Karena tak jua bisa memejamkan mata, akhirnya aku memutuskan untuk menghirup udara malam di taman belakang.


Tak membutuhkan waktu lama, aku tiba di gazebo tempat aku dan Fatwa menghabiskan senja. Aku pun berjalan menuju gazebo dan mendaratkan bokong pada sebuah bantal empuk sebagai alas duduk.


Aku menyandarkan punggungku. Sejenak, memejamkan mata. Mencoba mengingat kembali kenangan awal aku bertemu pria dingin bermata elang itu. Senyum tipis tersungging dari bibirku hingga tanpa sadar aku mulai mengagumamkan sebuah nama. "Fatwa."

__ADS_1


Entah berapa lama mataku terpejam. Entah berapa episode, kenangan SMA itu melintas. Hingga samar-samar aku mendengar suara lirih di telingaku.


"Wiil you marry me?"


Aku terhenyak. Sontak kubuka mataku. Dan ....


Pyaarr!


Pembuluh darahku seakan pecah melihat wajah dingin nan tegas, terpampang jelas beberapa senti dari wajahku. Senyum indah terukir di bibirnya yang sedikit tebal. Sedetik kemudian, bibir itu mulai menyentuh bibirku. Entahlah, aku hanya bisa mematung mendapatkan perlakuan seperti itu.


Aku memejamkan mata saat merasakan bibir itu menyesap sedikit demi sedikit bibirku. Sentuhannya terasa hangat. Begitu lembut. Hingga tanpa sadar aku memberikan celah kepada laki-laki itu untuk mengeksplor lebih jauh lagi.


Pagutan yang begitu hangat, indera pengecap yang begitu lincah mengeksplor setiap inci bagian dari bibirku, membuat aku terbuai dalam semua kasih yang dia berikan. Untuk sejenak, Fatwa melepaskan pagutannya. Dia menatap intens seraya menyatukan kening kami.


"So, will you marry me, Octora Restyani!" ulang Fatwa.


"Yes, i wiil." Aku menjawab sembari menundukkan kepala.


Fatwa meraih daguku dan sedikit mengangkatnya. Sedetik kemudian, dia mengecup bibirku.


"Thanks," jawabnya seraya menarik bahuku ke dalam pelukannya. Hangat, benar-benar terasa hangat berada dalam pelukan pria itu.


"Apa kamu tahu, Res. Ini adalah malam sempurna bagiku. Pada akhirnya, aku bisa menaklukkan hatimu. Aku sungguh bahagia, Res. Sangat bahagia," ucap Fatwa lirih seraya mengecup pucuk kepalaku.


Aku hanya bisa diam. Jujur, lidahku kelu untuk saat ini. Namun, ribuan kupu-kupu seakan beterbangan di dalam hatiku. Perasaan bahagia itu mulai membuncah di dalam dadaku. Hingga gemuruhnya terasa begitu jelas. Membuat jantungku berpacu dengan cepat.


"Katakan, Res. Apa kau mencintai aku?" tanya Fatwa.


Aku mendongak. Mencoba memberanikan diri untuk menatapnya. Sesaat kemudian, aku berkata padanya, "Apa di usia kita yang sekarang, masih butuh kata cinta untuk mengungkapkan perasaan?


Fatwa tersenyum, dia kembali memelukku. "Tidak perlu, Res. Aku tahu jika sedikit pun tak ada yang berubah dari hati kita," ucapnya.


Tentu saja, Fat. Bahkan sampai detik ini, rasaku untuk kamu masih tetap sama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2