My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Bermain Api


__ADS_3

Aku begitu terhenyak mendengar pengakuannya. Jadi, ini juga ciuman pertama baginya? Bagaimana bisa?


Aku mendorong tubuh pria dingin itu. "Apa sekarang Bapak puas?" tanyaku menatap dingin pria yang telah berhasil merenggut kesucian bibirku, "apa ini yang harus saya bayar untuk memperbaiki nilai saya?" Emosi sudah menguasai hatiku.


Rasanya dadaku begitu sesak ketika aku menyadari jika ini adalah harga yang harus aku berikan untuk mengganti nilaiku yang hancur.


"Tolong jangan salah sangka dulu. Ini bukan transaksi untuk memperbaiki nilai kamu," ucap pria itu dengan nada bicara yang lain dari biasanya.


"Lalu apa? Apa Bapak pikir saya wanita murahan?" Aku mulai histeris melihat wajah tanpa dosanya.


"Itu hanya pikiran kamu saja. Aku tidak pernah menganggapmu demikian," ucapnya santai.


"Bapak jangan macam-macam, ya? Saya ini wanita yang sudah bertunangan. Jadi saya harap, Bapak tahu batasannya bagaimana harus bersikap terhadap wanita yang sudah memiliki calon suami," ucapku geram.


Pria dingin itu kembali mendekati aku. Tangannya yang kekar mulai meraih pinggangku dan menariknya hingga tubuh kami menempel satu sama lain. Wajahnya mulai mendekat, embusan napasnya terasa hangat menerpa wajahku.


"Selama janur kuning belum terpasang, selama ijab qabul belum terucap, selama itu pula aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan dirimu," ucapnya penuh keyakinan.


"Ish, dasar pria gila!" umpatku yang mulai kesal dengan teka-teki bahasa lisannya.


"Terserah kamu mau bilang apa! Tapi pada kenyataannya, aku memang tergila-gila padamu. Akan aku pastikan, kau akan menjadi milikku untuk selamanya!" ucap pria dingin itu sambil terus mendekatkan wajahnya.


Kembali pria itu menyentuh bibirku. Dan kali ini, dia mengisapnya cukup kuat hingga membuatku meringis kesakitan.


Fatwa melepaskan ciumannya. Telunjuknya mulai meyapu bibirku yang basah dan kebiruan. Seringai tipis tergambar di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


"Bibir ini telah menjadi milikku. Dan akan kupastikan untuk selalu menjadi milikku. Jadi, jangan pernah bermain api denganku!" ucapnya. Sejurus kemudian dia mengecup hangat keningku dan segera keluar dari kamar mandi.


Aku yang begitu terkesima mendapatkan perlakuan tidak terpuji darinya, hanya mampu bergeming di balik pintu kamar mandi. Seketika lututku bergetar hebat saat aku menyadari aku telah memberikan sebagian tubuhku kepada laki-laki yang bukan suamiku. Bahkan bukan calon suamiku. Ya Tuhan ... kisah perjalanan cinta seperti apa yang akan aku lewati saat ini? Apa yang harus aku katakan pada Mas Yudhis jika dia tahu kalau bibir ini telah terjamah oleh laki-laki lain?


Aku menutup closet dan mulai mendudukinya. Pikiranku benar-benar kacau. Sungguh aku tidak mengerti apa arti dari semua perlakuannya? Kenapa dia tega melakukan semua itu padaku? Memelukku, menyentuh sebagian tubuhku, bahkan mencium aku penuh kelembutan. Apa arti dari semua ini? Apa ini ada sangkut pautnya dengan nilai mata kuliahnya dia? Atau benar-benar menyalurkan sebuah rasa yang dia miliki? Tapi kenapa?


Air mata mulai membasahi kedua pipiku. Kenapa Fatwa? Kenapa kau harus taruh aku di sebuah persimpangan? Kenapa kau tidak pernah meraih dan menggandeng tanganku? Kenapa kau malah menghempaskan aku pada jurang yang lebih dalam? batinku menangis.


"Permisi! Apa ada orang di dalam?" Tiba-tiba, suara seorang wanita di luar membuyarkan lamunanku tentang Fatwa.


Aku segera menyeka sisa air mata di kedua pipiku dan membasuhnya dengan air. Setelah aku bisa menguasai emosiku, aku menekan handle pintu dan membukanya.


"Kau?" tanya wanita semampai yang berdiri di hadapanku.


"Eh, hai Na!" sapaku mencoba menguasai kegugupan.


"Pak Fatwa? Eng-enggak ... a-aku nggak ngelihatnya," ucapku terbata.


"Ish, aneh. Tadi dia bilang dia salah masuk toilet, tapi kok Kakak Chi nggak lihat dia, sih? Ah sudahlah, mungkin Kakak Chi emang lagi di kamar mandi, jadi mereka nggak saling ketemu," ucap Naina bermonolog.


Huh, jadi dia melihat pria dingin itu keluar dari toilet ini? Dasar pria aneh, dia nggak nyadar apa, kalo ini akan menjadi skandal, jika sampai seseorang melihat kami berada di dalam satu kamar mandi yang sama? Lalu, sebenarnya siapa yang bermain api di antara kita. "Ish dasar dosen sengklek!"


Sepanjang jalan aku terus menggerutu kesal. Hingga tanpa aku sadari, aku telah sampai di ujung koridor. Samar-samar aku mendengar pemandu acara memanggil namaku. Aku segera menghampiri kerumunan kecil yang tengah berada di depan panggung.


"Ish, Kak ... dari mana saja, sih, kamu?" tanya mama dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Maaf, Ma. Kakak dari toilet dulu sebentar," jawabku masih menatap panggung yang berada di depan.


"Itu, kamu sudah dipanggil dari tadi, loh, sama MC," kata mama.


"Memangnya mau ngapain sih, Ma? Kenapa juga MC manggil-manggil Chi?" Aku menggerutu kesal.


Belum hilang kekesalan di hatiku akibat perbuatan dosen mesum itu, sekarang malah ditambah lagi aku harus tampil ke panggung. Apa tuh MC nggak tahu, kalo aku termasuk orang yang demam panggung.


"Kamu dipanggil atas permintaan Yudhis dan calon mertua kamu. Mereka ingin mengenalkan kamu kepada para tamu undangan dan koleganya Yudhis," bisik mama.


Astaghfirullah! Aku sangat terkejut mendengar bisikan mama. Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan. Mas Yudhis dan keluarganya begitu mengakui keberadaan aku. Tapi aku sendiri? Aku malah melakukan hal yang tidak senonoh dengan dosen gila itu.


Tapi tunggu! Aku tidak melakukannya! Semua ini diluar dugaanku. Aku hanya penerima, bukan pelaku. Dan, apakah itu artinya aku telah menjadi korban pelecehan? Hmm, bisa jadi iya. Tapi lidahku terlalu kelu untuk berbicara. Aku tidak ingin bersikap munafik. Aku akui, ada gelanyar aneh yang menjalari sekujur tubuh saat dia menyentuhku


"Sekali lagi, saya minta kepada Nona Octora Resttyani untuk maju ke depan!"


Ucapan MC itu membuyarkan lamunanku. Mama mendorong punggungku untuk maju ke depan. Dengan wajah yang mulai memerah seperti buah tomat, aku berjalan dan mulai menaiki tiga buah anak tangga menuju panggung.


Riuh tepuk tangan aku dengar begitu bergemuruh di ruangan yang luas ini. Mas Yudhis mengulurkan tangannya menyambutku. Senyum kebahagiaan tergambar dengan jelas di wajah Tante Amara dan Om Derren. Sedangkan aku sendiri? Aku tampak kikuk menerima semua rona kebahagiaan mereka setelah apa yang aku perbuat.


"Kemarilah, Sayang!" ucap Mas Yudhis menggandeng tanganku untuk berjalan lebih ke depan lagi.


Saat aku menatap orang-orang yang sedang berdiri di depan panggung, tanpa sengaja aku beradu pandang dengan dosen sakit jiwa itu. Seketika, suaranya kembali terngiang jelas di telingaku 'Bibir ini telah menjadi milikku. Dan akan kupastikan untuk selalu menjadi milikku. Jadi, jangan pernah bermain api denganku'.


"Tidak!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2