My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Tentang Aku, Bang Rizal, Anneu dan Fatwa


__ADS_3

Zein memekik keras hingga kendaraannya sedikit oleng.


“Ish, hati-hati Zein?” tukasku.


“Maaf, Kakak,” ucap Zein, “tapi, apa maksud Kakak? Apa istrinya bang Rizal mengenal pak Fatwa?” tanya Zein lagi.


Aku menarik napas panjang sebelum aku menceritakan semuanya kepada Zein.


“Sebenarnya, kisahnya begitu rumit dan panjang, Zein. Kakak, almarhum bang Rizal, Anneu dan Fatwa, kami pernah memiliki kisah yang berkaitan di masa lalu,” jawabku.


“Maksud Kakak?” Zein semakin menautkan kedua alisnya.


“Anneu mencintai Fatwa sejak masa sekolah hingga saat ini. Dia sangat terobsesi untuk memiliki Fatwa, hingga dia tega menghalalkan berbagai macam cara untuk memiliki Fatwa. Termasuk mencelakai saudara kembarnya yang statusnya adalah pacar Fatwa saat itu. Setelah sauudara kembarnya meninggal akibat kecelakaan saat sedang berkendaraan dengan Fatwa, Anneu memaksa kedua orang tuanya untuk mendekatkan hubungan dia dengan Fatwa. Dan saat mereka mulai dekat, Fatwa bertemu Kakak dan mulai berteman baik. Hingga pada suatu hari, tiba-tiba Fatwa memperlakukan Kakak begitu kasar di hadapan umum. Sejak saat itulah, hubungan Kakak dengan Fatwa mulai jauh. Sampai akhirnya, Kakak kembali bertemu Fatwa di kampus kita.”


Ah, akhirnya aku menceritakan masa laluku kepada Zein.


“Lalu, hubungan Kakak dengan almarhum bang Rizal?” tanya Zein lagi.


“Almarhum bang Rizal adalah sahabat bang Andra. Dan, Bang Andra sendiri, dia adalah kakak kandungnya Anneu,” jawabku.


“Ish, Kakak … Zein bener-bener nggak ngerti,” tukas Zein.


Aku kembali menarik napas panjang. Rasanya begitu sesak harus kembali menguak luka lama. Tapi, aku sendiri tidak tega harus membuat Zein semakin penasaran.


“Kakak dan bang Andra sempat dekat, meski hubungan kami saat itu masih bisa dibilang cinta monyet. Kakak baru duduk di bangku SMP kelas 3 saat mengenal bang Andra yang sudah duduk di bangku SMA kelas 2. Saat Kakak hendak menghadapi ujian Ebtanas, Kakak meminta bang Andra untuk menjaga jarak dulu, supaya Kakak bisa fokus belajar. Namun, rupanya bang Andra menyalahartikan permintaan Kakak. Dia pun mulai terjebak dalam minuman keras dan obat-obatan terlarang hingga akhirnya meninggal karena over dosis. Dan Anneu menyalahkan Kakak atas apa yang terjadi pada bang Andra. Sikap Anneu semakin menggila saat mengetahui Fatwa dekat dengan Kakak. Dia mulai memanfaatkan kebencian bang Rizal untuk membalaskan dendamnya. Anneu menyuruh bang Rizal untuk menculik kakaknya Fatwa. Hingga akhirnya Fatwa menjauhi Kakak. Namun, kebencian Anneu tidak berhenti sampai di sana. Terlebih lagi, saat Fatwa memutuskan pertunangan mereka, kebencian Anneu semakin mengakar,” paparku menceritakan hubungan rumit antara aku, Fatwa, Anneu dan almarhum bang Rizal.


“Lalu, hubungannya dengan almarhum bang Rizal? Maksud Zein, jika memang Anneu mencintai pak Fatwa, kenapa dia malah menikah dengan bang Rizal? Dan jika bang Rizal telah memiliki pasangan, kenapa dia menculik Kakak dan hendak menjadikan Kakak sebagai istrinya? Ish, Kakak … kenapa semuanya terlihat rumit sekali?” tanya Zein.


“Anneu menikah dengan bang Rizal hanya untuk mengelabui kedua orang tuanya. Kedua orang tua Anneu memasukkan Anneu ke sebuah panti rehabilitasi mental akibat gangguan jiwa yang diderita Anneu. Untuk mengelabui orang tuanya jika dirinya telah sembuh, Anneu meminta bang Rizal untuk menikahinya,” jawabku.


“Ish, kenapa bang Rizal mau?” tukas Zein.

__ADS_1


“Itu karena bang Rizal sangat menyayangi Anneu seperti adiknya sendiri.” Aku kembali menjawab pertanyaan Zein.


“Yang satu hanya menyayangi sebatas adik, yang satu hanya untuk mengelabui orang tuanya, tapi kok bisa ada Maira di antara mereka. Huh, munafik!” dengus Zein, terlihat kesal.


“Ya, namnya dua orang dewasa yang telah disatukan, semuanya bisa saja terjadi, 'kan Zein?” ucapku. “Sebenarnya, bang Rizal sudah berusaha menerima Anneu, tapi Anneu sendiri yang menjauh dari keluarganya. Dia malah mengejar Fatwa hingga ke Makasar."


Ciiiit!


Dugh!


"Ish, hati-hati dong, Zein!” Aku menggerutu kesal saat Zein menginjak rem mendadak hingga membuat keningku mencium dashboard mobil.


“Eh, maaf Kak. Zein hanya kaget saja, ternyata obsesi Anneu benar-benar kuat hingga sampai menyusul pak Fatwa segala. Apa karena ini, Anneu membawa paksa Kakak siang itu?” tanya Zein lagi.


Aku mengangguk.


“Lalu bang Rizal? Kakak bilang, bang Rizal sempat menguntit Kakak. Itu artinya, bang Rizal bertemu Kakak kembali tanpa sepengetahuan Kakak. Tapi, di mana? Bagaimana bisa dia menemukan Kakak kembali?” tanya Zein beruntun.


“Mas Andre? Mas Andre kakak ipar Citra?” tanya Zein terlihat terkejut.


Aku mengangguk.


“Aih, Kakak … ternyata dunia ini begitu sempit,” ujar Zein.


“Hmm, benar sekali, Zein,” timpalku.


“Bukankah Kakak teman dekatnya teman bang Rizal, lalu bagaimana bisa bang Rizal mencintai Kakak. Jika seperti itu, berarti bang Rizal pagar makan tanaman dong,” gurau Zein.


“Entahlah. Tapi menurut pengakuannya, jauh sebelum bang Andra mengenal Kakak, bang Rizal sudah menyukai Kakak. Tapi, bang Rizal mengalah demi kebahagiaan bang Andra,” jawabku.


“Hmm, Zein nggak nyangka, ternyata Kakak primadona sekolah juga, hehehe,” ujar Zei seraya terkekeh.

__ADS_1


“Aish, kamu bisa saja Zein. Semua itu nggak benar, masih banyak kok gadis cantik yang menjadi primadona di sekolahan Kakak dulu,” tukasku.


“Hahaha, jadi ingat masa SMA ya, Kak. Masa yang tidak akan pernah bisa dilupakan,” ucap Zein.


“Iya, Zein. Tapi sayangnya, masa SMA Kakak tidak semanis seperti apa yang pernah dialami orang-orang. Disaat para gadis mulai mengenal cinta dan kebahagiaan waktu itu, Kakak hanya mengalami patah hati, hehehe,” jawabku kembali membayangkan cinta pertama yang hancur seketika.


“Hmm, tidak apa-apa, Kak. Selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa,” kata Zein, bijak sekali.


Tanpa terasa, mobil telah berbelok menuju halaman gedung rumah sakit Bhayangkara Healthy Centre. Setelah memarkirkan mobil, aku dan Zein kembali menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang ICU. Tiba di sana, sebelum melihat keadaan Fatwa, aku menanyakan ruangan di mana Anneu di rawat.


“Bu Anneu dirawat di kamar nomor 2, Bu,” jawab perawat penjaga di ruang ICU


“Baik, Sus. Terima kasih,” jawabku.


Hmm, rupanya kamar Fatwa dan Anneu berdampingan. Aku segera mendekati kamar nomor dua. Kulihat dari celah jendela kamar, Anneu tampak berbaring tak berdaya di atas ranjang. Kepalanya dibalut perban, begitu juga dengan kakinya yang sedikit terangkat. Mungkin Anneu mengalami patah Kaki. Di sekitar kedua tangannya juga terlihat luka-luka lecet. Ah entahlah, aku tidak bisa membayangkan seperti apa mereka jatuh. Tanpa sadar, kedua bahuku bergedik saat kembali teringat peristiwa itu.


Saat aku tengah mengamati kondisi Anneu dari luar, tiba-tiba seorang perawat yang telah selesai memeriksa Anneu keluar. Aku dan Zein segera menghampiri perawat itu.


“Bagaimana keadaann pasien, Sus?” tanyaku.


“Maaf, kalau boleh tahu? Anda siapanya pasien?” Perawat itu malah balik bertanya.


“Saya temannya pasien, Sus,” jawabku.


“Begini, Mbak. Kondisi pasien sangat kritis. Dia mengalami patah tulang kaki dan tulang ekornya pun mengalami keretakan. Di bagian kepalanya juga sama mengalami retak tulang tengkorak bagian belakang. Saya rasa … harapan untuk kembali sembuh total, sangatlah tipis,” tutur perawat itu.


"Innalillahi!” ucap Zein dan aku berbarengan.


“Sebaiknya, Mas dan Mbak-nya berdo’a saja. Semoga saja ada keajaiban untuk bu anneu,” ucap perawat itu.


“Aamiin.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2