
Tiba-tiba, Maira yang hendak tidur siang keluar dari kamarnya. Gadis kecil itu berlari seraya berteriak memanggilku.
Aku segera membalikkan badan dan kembali berjongkok untuk menyambut kedatangannya.
Brugh!
Maira menenggelamkan wajahnya di dadaku. Tangisnya tak mampu dia bendung, tubuhnya berguncang seraya menggumamkan keinginannya.
“Buna … huhuhu … maila ikut … maila mau ikut cama Buna. Huhuhu,…”
Sungguh isak tangis yang menyayat hati semua orang. Bu Wati segera bangkit dari duduknya. Beliau kemudian menghampiri kami dan berjongkok di samping Maira. Tangan keriputnya mulai memegang kedua bahu mungil Maira.
“Maira, Sayang … Maira sama Nenek, ya. Bunda ada urusan pekerjaan dulu di luar. Maira tunggu sama Nenek dan Kakek, ya. Nanti Nenek sama Kakek bakalan ajak Maira pergi ke kebun binatang lagi. Bukankah Maira sangat suka binatang?” Bu Wati berusaha membujuk cucunya.
Maira menggelengkan kepalanya. Dia semakin memeluk aku dengan erat. “Nggak! Maila nggak mau cama Nenek. Maila mau ikut cama Buna!” teriak Maira.
Bu Wati terlihat menghela napasnya sejenak. Dia kembali membujuk Maira dengan berbagai macam cara. Tapi Maira masih tetap menolak.
Jujur, aku sendiri merasa berat harus meninggalkan Maira. Meskipun pertemuan kami cukup singkat, tapi tingkah dan kelucuan Maira sudah mengakar kuat di hatiku. Rasanya, aku ingin memiliki gadis mungil itu. hanya saja aku sadar … masih ada orang yang lebih berhak atas diri Maira, yaitu ibunya.
Jika posisiku saat ini baik-baik saja, mungkin aku sudah meminta izin wali Maira untuk membawanya pergi barang sehari atau dua hari saja. Tapi, mengingat aku punya kewajiban untuk mengurus Fatwa, akhirnya aku memendam keinginanku.
Aku mencoba menarik pelan tangan Maira untuk melepaskan pelukannya. “Maira anaknya Bunda yang paling cantik,” ucapku. Terlihat gadis itu mendongakkan wajahnya dan menatapku, “Maira anak pintar dan sholehah, 'kan?” tanyaku kepada gadis kecil itu.
Maira mengangguk.
Aku pun tersenyum melihat respon Maira atas ucapanku. “Jika memang Maira anak yang sholehah, Maira pasti akan menuruti semua nasihat dan perkataan Bunda, 'kan?” lanjutku lagi.
Kembali Maira mengangguk.
“Kemarilah!” ucapku seraya membiarkan Maira duduk di pangkuan. Aku memeluk pinggang kecil Maira dan mulai menumpukan wajahku di bahu mungilnya. “Hari ini, Bunda ada urusan di rumah sakit. Maira tahu, 'kan, rumah sakit tempat apa?” tanyaku.
“Melawat olang cakit, Buna,” jawab cadel Maira semakin menggemaskan.
“Maira sakit, nggak?” tanyaku lagi.
“Nggak,” jawab Maira singkat.
__ADS_1
“Kalau nggak sakit, Maira boleh nggak pergi ke rumah sakit?” tanyaku bermain logika dengan anak sekecil Maira.
“Nggak boleh Buna. Kata Ayah, olang nggak cakit nggak boleh pelgi ke lumah cakit. Ental, bica jadi cakit kalena ketulalan olang cakit,” jawab Maira panjang lebar.
Gadis kecil itu memang masih belum lancar berbicara, tapi di usianya yang baru menginjak tiga tahun, dia cukup mengerti dengan maksud dari ucapan kita.
“Nah, itu Maira tahu,” jawabku.
“Apa Buna pelginya, lama?” tanya Maira lagi.
Aku hanya bisa menatap Zein. Rasanya lidahku kelu untuk menjanjikan sesuatu yang mustahil aku penuhi. Zein hanya bisa menggedikkan kedua bahunya menanggapi tatapanku.
Tiba-tiba, Pak Rahadi menghampiri kami. "Sudah, Nak. Bunda kamu harus pergi. Nanti, jika urusan Bunda kamu selesai. Dia pasti akan kembali menjemput kamu,” ucap Pak Rahadi terkesan dingin.
“Ayah!” bentak Bu Wati, “jagan memberikan harapan palsu pada cucu kita?” tegur Bu Wati.
“Lalu Bunda maunya apa? Bunda sendiri tahu seperti apa watak Maira. Dia itu mewarisi kekeraskepalaan kedua orang tuanya. Jadi, sebelum dia terbentuk menjadi orang egois seperti Rizal dan Anneu, kita harus bisa mengendalikan Maira. Supaya kelak hidupnya tidak seperti kedua orang tuanya,” tutur Pak Rahadi
“Ya tapi tidak dengan cara keras pula,” dengus Bu Wati terlihat kesal.
Aku hanya melongo melihat perdebatan mereka. Dari sikap mereka aku melihat, mungkin perdebatan kecil inilah yang membuat Maira tidak betah tinggal bersama kakek dan neneknya.
Memahami isyarat dariku, Ida mulai mengambil paksa Maira. “Non Maira ikut Bik Ida dulu, ya! Biar nanti Bik Ida belikan es krim yang banyak untuk Non Maira,” ucapnya.
“Nggak mau! Maila mau cama Buna. Maila nggak mau ikut Bik Ida!” teriak Maira seraya meronta-ronta.
Ida tak menghiraukan perkataan gadis kecil itu. meskipun memberontak, tapi pelukan Ida berhasil menguncinya. Dia kemudian membawa Maira pergi ke atas.
“Maafkan sikap cucu saya, Nak. Silakan, kamu bisa pergi sekarang,” ucap Pak Rahadi seraya mengatupkan kedua tangannya.
Entah kenapa aku merasa sakit hati melihat sikap Pak Rahadi, seolah beliau sedang mengusirku saat ini. sejenak aku menatap Zein dan Pak Radit secara bergantian. Aku melihat mereka mengangguk sebagi pertanda jika aku memang harus pergi dari tempat ini. Akhirnya, untuk yang kedua kalinya, aku kembali berpamitan kepada mereka.
“Sebentar, Kak!” ucap Zein sesaat setelah kami tiba di halaman rumah.
Aku melihat Zein menghampiri Pak Ujang. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun, terlihat Pak Ujang mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Setelah itu, Zein kembali menghampiri.
“Sudah siap, Kak?” tanya Zein.
__ADS_1
Aku mengangguk. Saat aku hendak menaiki mobil. Aku dengar teriakan Maira dari atas balkon.
“Bunaaa! Maila cayang Buna! Nanti demput Maila, ya!” teriak gadis kecil itu seraya melambaikan tangannya padaku.
Aku benar-benar terharu dibuatnya. Aku pun melambaikan tangan padanya. Bunda janji, Sayang. Setelah urusan Bunda selesai, Bunda akan sering-sering mengunjungi kamu di sini, janjiku dalam hati.
Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, aku segera memutus pandangan dan menaiki mobil. Zein kemudian melajukan kendaraannya keluar dari halaman Villa yang begitu luas ini.
Selama dalam perjalanan, hanya keheningan yang mengiringi perjalanan kami menuju rumah sakit Bhayangkara Healthy Centre. Kami tenggelam dalam pemikiran kami masing-masing. Entah apa yang ada dalam pikiran Zein saat ini. wajahnya terlihat seperti orang kebingungan. Aku paham, mungkin saat ini, ada banyak pertanyaan dalam benak Zein tentang aku dan penculikan aku. Juga tentang Maira.
“Kak, gadis kecil itu?” tanya Zein
Hmm, benar juga dugaanku. Zein sangat penasaran dengan Maira.
“Iya, kenapa Zein?” tanyaku.
“Ma-maksud Zein. Gadis kecil itu … mm, kenapa gadis kecil itu memanggil Kakak, Bunda? Apa Kakak sudah menikah dengan almarhum bang Rizal?” tanya Zein.
Seandainya tidak dalam suasana duka, tentu aku sudah tertawa mendengar dugaan Zein. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Zein.
“Namanya Al-Khumaira. Dia putri bang Rizal dan Anneu. Menurut pengakuan almarhum bang Rizal, hubungan pernikahannya tidak begitu harmonis. Selama ini, Maira tidak pernah mengenal ibunya. Karena itu, saat pertama kali dia bertemu dengan Kakak, dia langsung memanggil Kakak dengan sebutan Bunda."
“Jadi, selama ini, Maira tidak pernah bertemu dengan ibunya?” tanya Zein lagi.
“Seminggu sekali, Maira bertemu ibunya. Hanya saja, ibunya Maira mengenalkan dirinya sebagai tante. Dia seolah tidak ingin mengakui Maira, karena dia tidak pernah mencintai ayah Maira. Dia selalu menganggap kehadiran Maira akibat kesalahan dirinya dan bang Rizal."
“Astagfirullah! Lalu hubungannya dengan Kakak?”
"Bang Rizal menculik Kakak untuk dijadikan istrinya. Menurut pengakuannya, dia telah mencintai Kakak sejak lama. Dan setelah menemukan Kakak kembali, dia mengintai Kakak. Apa kamu masih ingat orang yang Kakak ceritakan telah menguntit Kakak?”
Zein mengangguk. “Tunggu! Apa si penguntit itu adalah bang Rizal?” tanya Zein.
Kali ini, giliran aku yang mengangguk.
“Ish, cinta kok nyulik,” dengus Zein terlihat kesal, “itu bukan cinta, Kak. Tapi obsesi,” lanjutnya.
“Ya, seperti obsesi Anne pada Fatwa,” gumamku.
__ADS_1
“Apa?!”
Bersambung