
Seketika kedua lututku bergetar hebat saat mendengar kemungkinan yang dikatakan dokter senior itu.
“Tapi, ba-bagaiman bisa, Dok? Bukankah tadi Dokter sendiri yang bilang jika organ vital Fatwa baik-baik saja?” tanyaku kepada dokter senior itu.
“Semuanya memang baik, Bu. Dan seharusnya, secara medis pak Fatwa bisa sadar setelah pengaruh anastesi-nya sudah hilang. Tapi, semua kemungkinan, 'kan, bisa saja terjadi, Bu. Kita do’akan saja semoga esok hari pak Fatwa bisa segera sadar,” jawab dokter itu.
Ya, kemungkinan selalu terjadi. Manusia hanya memiliki rencana dan usaha. Tuhan-lah yang tetap menjadi penentu akhir atas apa yang telah kita ikhtiarkan.
“Yang sabar ya, Bu,” ucap dokter senior seraya menepuk bahuku.
Aku hanya mampu bergeming menanggapi ucapan dokter itu. kepalaku rasanya berat sekali, tapi aku harus berusaha untuk tetap kuat. Aku tidak boleh menyerah. Aku yakin Tuhan selalu bersamaku, dan aku masih yakin jika Fatwa adalah pejuang yang sangat tangguh.
“A-apa saya boleh melihatnya, Dok?” tanyaku sebelum dokter itu pergi.
Sesaat dokter itu menatap kepada perawat yang mendampinginya. Dia kemudian mengangguk sebagai isyarat agar perawat tersebut menemani aku untuk memasuki kamar Fatwa.
Perawat itu pun mengangguk. “Mari, Bu!” Perawat itu membuka pintu kamar Fatwa dan mempersilakan aku masuk.
Aku melangkahkan kaki mengikuti perawat yang sudah duluan masuk ke ruangan Fatwa. Sejenak aku terpaku, melihat wajah tampan yang sedang terlelap seolah bayi yang tertidur nyenyak.
“Saya tinggal ya, Bu,” pamit perawat itu kepadaku.
Aku mengangguk. Sesaat setelah perawat itu keluar dari kamar Fatwa, aku menarik kursi yang berada di dekat ranjang Fatwa dan mendudukinya.
“Hai, apa kabar, Fat? Sudah lama kita tidak bertemu. Tapi sayang, sekalinya bertemu, kamu malah dalam kondisi seperti ini. Dan, semuanya terjadi karena Res yang bodoh. Res … Res minta maaf, Fat. Res selalu ceroboh dan Res selalu menjadi beban hidup bagi kamu. Maafkan Res, Fat,” gumamku lirih.
Aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mata. Hingga akhirnya, aku mulai terisak seraya menggenggam tangan kekar milik Fatwa.
“Res mohon, Fat. Sadarlah! Res nggak akan bisa memaafkan diri Res sendiri kalau terjadi apa-apa sama kamu. Bangun dong, Fat! Bukankah kamu pernah bilang kalau kamu akan selalu jagain Res, kamu masih ingat janji kamu, ‘kan, Fat?”
Aku kembali berbicara pada Fatwa yang masih asyik memejamkan matanya. Aku berharap, meskipun dia terpejam, tapi dia akan mendengar suaraku.
__ADS_1
Aku mencoba memberanikan diri untuk menyentuh wajahnya yang masih terlihat pucat. Perlahan, aku usap wajah dingin itu penuh dengan kelembutan. Ya, semoga saja sentuhan tangan ini akan segera membawa Fatwa ke alam sadarnya. Aku tidak mau jika Fatwa sampai mengalami koma. Sungguh, aku tidak akan pernah sanggup menghadapi kenyataan tersebut.
Kumohon, segera sadarkan laki-laki ini ya, Tuhan. Aku mencintainya … aku sangat mencintainya!
Aku segera menyeka air mata yang terus mengalir di pipi. Aku harus kuat, aku tidak boleh memperlihatkan kelemahanku di depan Fatwa. Aku harus bisa tegar agar Fatwa bisa segera bangun dari tidur yang aku sendiri tidak tahu entah sampai kapan.
Tiba-tiba, aku mendengar pintu kamar Fatwa terbuka. Aku meliriknya, perawat yang tadi mengantarku, tampak memasuki kamar.
“Maaf, Bu. Pasien harus banyak beristirahat, sebaiknya Ibu kembali menunggu di luar saja,” kata perawat itu.
“Baik, Sus,” jawabku.
Kembali kualihkan pandanganku kepada Fatwa. “Res pergi dulu ya, Fat. Kamu tidak usah khawatir. Res bakalan tungguin kamu di luar. Kamu cepet bangun, ya? Bukankah kamu ingin melihat Res wisuda? Ya, meskipun nggak bakalan barengan sama teman-teman yang lainnya,” ucapku seraya kembali mengusap lembut punggung tangan Fatwa.
Sejurus kemudian, aku kembali keluar dan duduk di samping Zein. Seketika, entah kenapa perasaanku begitu hampa. Aku merindukan kamu, Fat. Merindukan suaramu, merindukan kemarahan kamu, merindukan tatapan dingin kamu. Ah, pokoknya aku sangat merindukan setiap hal yang ada pada dirimu.
“Bagaimana keadaan pak Fatwa, Kak?” tanya Zein begitu melihat aku mendaratkan bokong di sampingnya.
Zein hanya terlihat manggut-manggut saat aku menjelaskan keadaan Fatwa yang baru saja kutemui.
“Yang sabar ya, Kak?" ucap Zein menggenggam tanganku. Sepertinya Zein sedang mencoba menenangkan aku.
Aku menatap Zein dan mengangguk padanya. “Insya Allah, Zein. Kakak akan selalu sabar menunggu dia sadar,” ucapku, bertekad.
“Hmm, baguslah. Ini baru namanya Kak Chi yang aku kenal,” sahut Zein seraya mengusap punggungku.
Sku hanya tersenyum simpul menaggapi ucapan Zein.
Setelah koridor sepi dan hanya menyisakan kami berdua di dalamnya. Aku dan Zein kembali bertukar cerita selama aku terpisah dulu.
“Jadi gimana, Zein? Bagaimana Rayya dan mama mengetahui jika Kakak diculik? Apa ada seseorang yang memang sengaja memberi tahu hilangnya Kakak pada mereka?” tanya aku yang mulai penasaran terkait usaha yang mereka tempuh dalam menemukan aku.
__ADS_1
"Menurut pengakuan Rayya, dia ...."
Rayya masuk ke dalam rumahnya begitu telah selesai menyapu teras. Tiba-tiba ….
“Permisi!” teriak seseorang yang berdiri di depan pagar rumahnya.
Rayya mengernyit. Entah siapa orang itu, Rayya merasa tak mengenalnya. Dia hanya bergeming tanpa berniat untuk membuka pintu pagar rumahnya.
“Permisi, Mbak! Apa benar ini rumahnya Mbak Octora Resttyani?” tanya orang itu lagi.
Kembali Rayya mengernyit.
Apa aku tidak salah dengar? Dia menanyakan Kak Res. Apa orang itu temannya kak Chi? Tapi, kenapa dia datang kemari dengan keadaan yang kusut seperti itu? Bajunya pun hanya memakai kaos oblong putih yang tampak lusuh. Huh, mencurigakan, batin Rayya.
“Maaf, Mbak! Jika memang benar ini rumahnya mbak Octora Resttyani, saya hanya ingin menyampaikan jika mbak Octora kemungkinan diculik oleh seseorang yang menyamar sebagai tukang ojek online.” Kembali pria itu berteriak.
Kali ini, perkataan pria itu benar-benar mengejutkan Rayya. Jantung Rayya seolah berhenti berdetak mendengar kabar yang dibawanya. Apa? Diculik? Tapi, bagaimana bis? jerit Rayya dalam hatinya.
Rayya segera berlari untuk membukakan pintu pagar.
“Maaf, dengan Abang siapa, Ya? Dan, bagaimana bisa Abang menuduh jika seseorang telah menculik kakak saya?” Rayya memberondong pria berkaos oblong tersebut dengan berbagai pertanyaan
“Ma-maaf, Mbak. Se-sebenarnya saya adalah pengendara ojek online yang tadi pagi Mbak Octora pesan,” ucap laki-laki berkaos oblong tersebut.
Rayya terlihat mengernyitkan keningnya. “Lalu, ojek online yang tadi?” tanya Rayya semakin kebingungan.
“Se-sebenarnya, saat saya sedang dalam perjalanan menjemput nona Octora, tiba-tiba ada sebuah mobil Van menghadang perjalanan saya. Ada empat orang laki-laki yang menyergap saya. Tentunya saya tidak tinggal diam, saya mencoba melawannya. Sayangnya, perlawanan saya harus kalah karena pertarungan yang tidak seimbang. Mereka menangkap saya dan membawa saya ke sebuah tempat pemakaman keluarga yang letaknya cukup jauh dari perkampungan. Setelah itu, salah seorang dari mereka mulai melucuti seragam ojek online yang saya pakai,” tutur laki-laki itu.
“Astagfirullah!”
Bersambung
__ADS_1