My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
CEO Derrens Corp


__ADS_3

Hari-hari, aku lalui penuh dengan kebimbangan. Bahkan, tak jarang aku bersikap ceroboh karena tidak bisa fokus dalam mengerjakan sesuatu.


"Bu Res, dipanggil bapak kepala sekolah," ucap salah satu rekan kerjaku.


Aku yang sedang menilai hasil tugas siswa, seketika mendongak. "Eh Bu Fina," ucapku padanya, "ada apa pak Diman memanggilku?" Aku lanjut bertanya.


"Maaf, Bu ... saya kurang tahu. Tapi, sepertinya ini penting," jawab Bu Fina.


Aku segera menaruh balpoin merah yang sedari tadi aku pegang. Aku pun mulai membereskan buku tugas anak yang masih berserakan di atas meja. Sejurus kemudian, aku membuka laci meja dan mengambil ponsel yang tergeletak di sana. Setelah menutup laci itu kembali, aku segera pergi ke ruangan bapak kepala sekolah.


Tok-tok-tok!


Aku mengetuk pintu ruangan bapak kepala sekolah.


"Masuk!" Suara dingin penuh emosi terdengar menggelegar dari dalam ruangan.


Aku mulai menekan handle pintu dan membukanya. "Permisi, Pak! Apa Bapak memanggil saya?"


Huh, sungguh pertanyaan yang sangat bodoh! Jika aku diperintahkan untuk datang ke ruangan ini, tentu saja dia memanggil aku, rutukku dalam hati.


"Duduklah, Bu Res!" Lagi-lagi suara dinginnya terdengar begitu mencekam di telingaku.


Sejenak, aku melihat Pak Diman menarik napasnya panjang dan mengembuskan dengan perlahan.


"Sebenarnya, ada masalah apa yang terjadi pada Anda?" tanya Pak Diman.


Aku sedikit mengangkat kedua alisku. "Mohon maaf, Pak ... saya tidak mengerti maksud pembicaraan Bapak," ucapku.


"Hhh." Pak Diman menghela napasnya sejenak, "begini Bu Res, setelah saya memeriksa buku kas umum, ternyata ada banyak laporan keuangan yang nominalnya tidak sama dengan kwitansi pembelian barang. Bahkan ada juga yang nominal barang yang satu, tertukar dengan barang yang lain. Dan ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Bu Res sendiri tahu, 'kan, jika mengenai urusan keuangan, itu adalah hal yang sangat sensitif?" tutur Pak Diman

__ADS_1


Aku sangat terkejut begitu mendengar penuturan bapak kepala sekolah. Seketika aku mengambil buku laporan keuangan yang telah aku buat beserta buku inventaris barang. Aku mulai membuka kedua buku yang berukuran folio itu. Kedua bola mataku membulat sempurna saat aku melihat perbedaan nilai nominal yang cukup signifikan di beberapa barang yang aku tulis. Ish kenapa bisa seceroboh ini? gumamku dalam hati.


"Maafkan saya, Pak. Akan segera saya perbaiki," ucapku kepada Pak Diman.


"Sebenarnya Anda punya masalah apa, Bu? Tidak biasanya Anda bersikap ceroboh seperti ini, terutama dalam laporan keuangan. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda?" tanya bapak kepala sekolah, menyelidik.


Aku tergamam mendengar pertanyaan bapak kepala sekolah. Aku sudah berusaha untuk tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Namun, rupanya aku kecolongan juga. Semrawutnya pikiranku akhir-akhir ini, membuat pekerjaanku menjadi kacau.


"Ti-tidak, Pak. Saya tidak memiliki masalah apa pun. Hanya saja, mungkin akhir-akhir ini tugas kuliah semakin menumpuk. Karena itu saya kurang berkonsentrasi pada pekerjaan," pungkasku menutupi semua penyebab aku bertindak ceroboh.


"Hmm, saya mengerti. Memang tidak mudah harus berkuliah sambil bekerja. Tapi, ini sudah menjadi tuntutan pemerintah, bahwa ijazah kita harus linier dengan pekerjaan kita. Semoga saja Bu Res masih tetap semangat menjalani keduanya," ucap Pak Diman.


"Insya Allah, Pak," ucapku.


"Ngomong-ngomong, tinggal berapa semester lagi pendidikannya?" tanya Pak Diman.


"Dua semester lagi, Pak," jawabku.


Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. "Insya Allah masih semangat, Pak. Jika sudah tidak ada yang harus disampaikan lagi, saya permisi dulu, Pak. Hendak memperbaiki laporan keuangan ini."


"Oh iya ... silakan ... silakan!" jawab bapak kepala sekolah.


Setelah berpamitan dan mengucap salam, akhirnya aku pergi dari ruangan kepala sekolah. Aku kembali ke kelas dengan membawa pekerjaan yang akan aku revisi. Tiba di kelas, aku segera kembali mengerjakan yang aku tinggalkan tadi.


Selesai memasukkan nilai siswa ke dalam laptop, aku mulai membuka buku laporan keuangan yang akan kuperbaiki. Kembali aku teliti satu demi satu susunan pembelian barang yang harus aku laporkan. Mataku mulai berkunang-kunang melihat angka-angka yang semakin mengecil. Sejenak, aku menghentikan pekerjaanku.


Aku merogoh saku blazer untuk mengeluarkan ponsel. Saat kuusap layarnya, tampak beberapa panggilan tak terjawab dari Mas Yudhis. Dahiku langsung berkerut. Aku melirik jam tangan mungilku, penunjuk waktu berhenti di angka 11.15. Bukankah ini masih jam kerja? Lalu, kenapa Mas Yudhis menghubungi aku di jam segini? Apa dia sedang tidak bekerja? Atau ada sesuatu hal yang penting?


Aku segera menghubungi Mas Yudhis, takut memang ada hal penting yang harus dia katakan.

__ADS_1


"Hallo! Assalamu'alaikum Mas!" sapaku setelah telepon tersambung.


"Wa'alaikumsalam, Chi kamu ke mana saja? Kenapa teleponnya nggak diangkat?" Berondong Mas Yudhis dari ujung telepon.


"Maaf Mas, tadi Chi abis rapat di kantor kepala sekolah. Dan kebetulan, HP-nya di-silent," jawabku pada Mas Yudhis.


"Oh, ya sudah, nggak pa-pa," jawab Mas Yudhis.


"Memangnya ada apa Mas? Ada hal penting yang ingin Mas sampaikan? Kok misscall-nya sampe banyak banget," tanyaku.


"Iya, Chi. Coba tebak Mas abis ngapain?" ucap Mas Yudhis berteka-teki.


"Yeayy... mana Chi tau. Tapi, dari nada suaranya, Mas Yudhis terdengar happy banget. Jangan-jangan, abis menang lotre ya?" gurauku sambil terkekeh.


"Aish, kamu kalo ngomong suka ngelantur aja! Ini lebih dari sekedar lotre, Sayang. Ayo tebak?" Lagi-lagi Mas Yudhis berteka-teki.


"Udah deh Mas, Chi cape! Otak Chi dah nggak bisa mikir lagi. Apalagi, barusan Chi ditegor bapak kepala sekolah karena salah membuat laporan keuangan. Lebih baik, Mas bilang aja maksud dan tujuan Mas nelepon. Atau ... kalau nggak, Chi tutup nih teleponnya!" ancamku kepada Mas Yudhis.


"Eh, jangan! Iya-iya, Mas Yudhis nggak main tebak-tebakan lagi deh. Ntar, pulang sekolah Mas Yudhis jemput ya, sekalian makan siang," ucap Mas Yudhis.


"Makan siang? Dalam rangka apa? Tumben Mas Yudhis mo ngajakin Chi makan siang. Pasti ada sesuatu ya?" Selidikku yang merasa aneh dengan ajakan Mas Yudhis.


Ya, as Yudhis itu tipikal orang yang gila kerja. Dia sangat sibuk dengan semua urusannya di kantor. Sehingga setelah hampir setengah tahun bertunangan, ajakan makan siang bersama masih bisa dihitung jari.


"Ish, kok ngomongnya nggak enak banget, Sayang. Maafkan Mas ya, yang nggak pernah punya waktu untuk selalu makan siang sama kamu. Tapi, semua ini Mas lakukan, 'kan, demi kepentingan hidup kita ke depannya. Insya Allah, setelah Mas pindah ruangan, Mas akan selalu meluangkan waktu makan siang supaya Mas bisa makan siang sama kamu," ucap lirih Mas Yudhis di telepon. Aku merasa tak enak hati mendengar perkataan Mas Yudhis.


"Pindah ruangan? Memangnya Mas mau pindah kerja?" tanyaku mengalihkan pembicaraan agar Mas Yudhis tidak merasa bersalah lagi.


"Iya, Sayang, mulai besok Mas resmi menempati kantor CEO Derrens Corp," jawab Mas Yudhis. Suaranya kembali terdengar bahagia di ujung telepon.

__ADS_1


"Benarkah?"


Bersambung


__ADS_2