My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Tak Punya Pilihan


__ADS_3

"Res, tunggu! Res!"


Aku mendengar Fatwa terus berteriak, tapi aku tak menggubrisnya. Aku sudah terlanjur kesal padanya. Tatapan heran dari para pengunjung pasar malam pun tidak aku hiraukan. Mungkin saat ini, mereka sedang berpikir jika kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Ah, bodo amat! Aku tidak peduli.


Hup!


Fatwa berhasil meraih tangan dan mencekal pergelangan tanganku. Dia memaksa aku untuk menghentikan langkah.


"Mau kamu apa, sih, Fat? Tak bosankah kamu mengusik hidup Res?" Aku berteriak kesal padanya. Namun, laki-laki itu seperti tidak tahu malu saja. Dia malah menatapku tajam.


"Aku tidak akan pernah merasa bosan mengusik kehidupanmu sebelum kamu bisa terlepas dari bang Yudhis." Kalimat dingin itu kembali terucap dari bibirnya.


"Huff!" Aku membuang napas kasar. "Sudah berapa kali Res bilang, Res nggak akan memutuskan hubungan Res sama mas Yudhis!" Aku berteriak kesal pada pria yang sudah seperti bunglon itu. Baru saja aku memuji sifatnya yang bisa bersikap hangat. Namun, dalam sekejap kalimat pujian itu harus patah karena dia mulai kembali pada sifat aslinya.


"Dan aku tidak akan menyerah untuk menggangu hubungan kalian!" Fatwa balik membentakku.


Mataku mulai berkaca-kaca mendapatkan perlakuan dari Fatwa. Ya, wanita mana pun di muka bumi ini, tentunya tidak akan pernah menerima dirinya di bentak seorang pria di tempat umum.


Menyadari hal itu, tiba-tiba tatapan Fatwa mulai melembut.


"Maafkan aku, Res!" ucapnya sambil meraih kedua pundakku dan menariknya ke dalam dekapan penuh kehangatan.


"Kamu jahat, Fat! Kamu benar-benar jahat. Kenapa kamu datang kembali jika harus membuat hidup Resti semakin susah?" Tak kuasa menahan lara, aku mulai terisak dalam dekapan pria dingin itu.


"Maafkan aku, Res. Tapi aku hanya ingin melindungi kamu," ucapnya seraya mengusap punggungku.


Aku meronta pelan, meminta dia melepaskan pelukannya. "Melindungi dari apa, Fat. Aku baik-baik saja, dan aku tidak membutuhkan perlindungan dari siapa pun. Sudah ada mas Yudhis yang akan selalu melindungi aku," ucapku pelan.


"Tapi bang Yudhis tidak sebaik yang kamu kira, Res. Percaya sama aku!" Mata Fatwa kembali memerah.


"Cukup, Fat ... cukup! Jangan pernah menjelekkan lagi nama mas Yudhis di hadapan Res. Asal kamu tahu, apa pun yang kamu bilang tentang mas Yudhis, Res nggak bakalan percaya sebelum Res melihatnya dengan mata kepala Res sendiri. Ngerti kamu!" Aku kembali histeris saat Fatwa mengatakan sesuatu hal yang buruk tentang mas Yudhis.


"Huh, terserah kamu saja!" ujar Fatwa melangkah pergi dan membukakan pintu mobilnya. "Masuklah! Aku antar kamu pulang sekarang?" perintah Fatwa.


Aku mengikuti perintahnya. Sejurus kemudian, mobil pun keluar dari tempat parkir pasar malam, dan melesat membelah jalanan yang mulai lengang.


.

__ADS_1


.


Bertepatan dengan waktu magrib, mobil tiba di rumah. Mama mempersilakan Fatwa masuk. Dan tanpa tahu malunya, dosen gila itu meminta izin mama untuk shalat di rumah.


"Alhamdulillah, mumpung ada laki-laki di rumah, kita berjamaah yuk!" ajak mama padaku dan adikku.


Aku dan Rayya hanya bisa saling tatap melihat tingkah mama.


"Ikuti aja, Kak. Mungkin Mama lagi kangen papa. Bukannya kalo papa pulang, kita selalu shalat berjamaah, ya," bisik Rayya.


Ok, demi Mama, batinku. "Ya sudah, bentar... Kakak bersih-bersih dulu," ucapku seraya pamit pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


10 menit kemudian, aku turun ke bawah. Ruang keluarga telah berubah menjadi sebuah mushala. Sejenak, aku teringat pada mendiang papa. Hal inilah yang selalu kami lakukan saat papa pulang. Merubah ruang keluarga menjadi mushala dan tempat berkumpul untuk saling berbagi cerita.


"Ayo turun, Kak!" ajakan Rayya membuyarkan lamunan aku tentang mendiang papa. Aku menyeka kedua sudut mata. Aku tidak mau mama tahu kalau aku menangis karena mengenang papa. Atau beliau akan merasa sedih.


"Iya, Dek!" jawabku seraya menuruni anak tangga satu per satu. Tiba di sana, mama langsung menyuruh dosen gila itu untuk memulai shalat magrib berjamaah.


Selesai shalat, mama malah meminta dosen itu untuk makan malam di rumah. Ish Mama, ada-ada aja deh, gerutuku dalam hati.


"Mau ya, Nak Fatwa, makan malam bareng di sini?" tanya mama pada Fatwa.


"Baiklah, kalau begitu Ibu undang Nak Fatwa untuk makan malam di sini. Mau, "kan?" ulang mama.


Yassalam Ma ... jangan sampai ikut-ikutan setengah miring kek dia...


"Siap, Bu. Saya mau," ucap Fatwa.


"Ya sudah, Ray temenin Kak Fatwa dulu ya, Mama sama Kak Res mau masak dulu buat makan malam kita," perintah mama pada adikku.


"Oke, Ma!" jawab Rayya singkat.


"Ayo, Kak!" ajak mama.


Aku segera melipat mukena dan menyimpannya di atas sofa. Setelah itu aku mengikuti mama ke dapur untuk membantu beliau. Tiba di dapur, aku berbisik pada mama.


"Ngapain sih Ma, pake ngajakin dosen Kakak makan malam?" protesku pada mama.

__ADS_1


"Sst, sudah ah, Kak. Tibang makan malam doang. Itung-itung ucapan terima kasih kita karena udah nganterin Kakak pulang juga," jawab mamaku.


"Tapi, 'kan, Ma...." Aku masih merajuk.


"Udah-udah, ayo cepetan kita masak. Ntar keburu kemalaman," perintah mama


"Ish, kalau mas Yudhis ke sini, gimana, Ma?" rengekku lagi.


"Emangnya nak Yudhis mau kemari? Tumben, ya. Bukannya dia sibuk banget, 'kan, Kak? Mama perhatikan, semenjak dia diangkat jadi CEO, dia jarang main ke sini lagi. Mungkin dia sudah lupa sama kamu kali, kak," cerocos mama meledekku.


Aku semakin cemberut. "Mama, ih ...." Aku kembali merengek pada orang yang paling aku cintai.


"Hehehe, Mama becanda, Kak. Sudah, kalau emang Yudhis mau ke sini, ya nggak pa-pa. Biar rumah kita semakin ramai," ucap mama seraya mulai memotong sayuran.


Aku tak punya pilihan lain, selain mengikuti keinginan mama.


Detik demi detik terus berjalan. Hingga akhirnya azan isya mulai berkumandang. Kami segera membereskan meja makan untuk menghidangkan makanan yang telah kami buat.


Selesai menata meja, mama kembali berjalan ke ruang keluarga. "Eh, kita makan dulu, apa shalat dulu, nih?" tanya mama kepada Rayya dan dosen itu.


"Sebaiknya, shalat dulu Bu, biar makannya nggak diburu-buru waktu," usul Fatwa.


"Ah, bener ... ide yang bagus tuh, Bang!" timpal Rayya.


Mama tersenyum. "Ya sudah, Mama ambil wudhu dulu ya, sekaligus ngasih tahu kakak," ucap mama. Tak lama kemudian, mama kembali ke dapur. "Kita shalat dulu, Kak!" ajak mama.


Lagi-lagi aku tak punya pilihan. Aku mengangguk dan mulai berwudhu. Setelah itu aku dan mama pergi ke ruang keluarga untuk menunaikan shalat isya berjamaah.


Selesai shalat, kami pun langsung menyerbu meja makan.


"Ayo kita mulakan membaca basmallah bersama sebelum kita makan!" ucap Fatwa.


Rayya dan mama terlihat manut. Mereka pun membaca basmallah yang dilanjutkan dengan berdo'a bersama. Sejurus kemudian, mereka mulai menyantap makanannya masing-masing. Rayya langsung terlihat akrab dengan Fatwa. Pun dengan mama yang tak merasa canggung memberikan perintah ini dan itu terhadap Fatwa.


Tiba-tiba, aku teringat mas Yudhis. Aku melirik jam dinding. Sudah hampir pukul 19.30. Tapi, mas Yudhis belum juga datang. Biasanya selepas magrib, mas Yudhis selalu sudah datang jika dia memang berjanji untuk main ke rumah. Ah, kemana dia? batinku seraya menatap kosong pada ketiga orang yang tengah asyik bersenda gurau sambil menikmati makanan.


"Ayo makan, Kak!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2