
"Kak," kata Mama seraya memegang pundak aku. Hmm, mungkin Mama mendengar keributan dari kami, karena itu beliau terbangun.
Mata Mama membelalak sempurna saat melihat Fatwa telah membuka matanya. "Subhanallah... kamu sudah sadar, Nak," seru Mama sedikit memekik sehingga membangunkan Zein dan Rayya.
Fatwa terlihat tersenyum mendengar ucapan Mama, terlihat jika Fatwa mengangguk pelan untuk menjawab perkataan Mama.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar, Nak. Ibu benar-benar mencemaskan keadaan kamu," lanjut Mama.
"Iya, Bang. Bukan hanya Mama, tapi kita juga sangat khawatir dengan keadaan Abang. Bukan begitu, Zein?" timpal Rayya yang sudah berdiri di samping Mama.
Zein yang tengah berdiri di samping Rayya pun, menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Bu, Rayya dan juga Zein," jawab Fatwa, lirih.
"Sudah, jangan diajak bicara dulu, Ma, Ray. Biarkan Fatwa istirahat dulu," ucapku menengahi pembicaraan mereka.
"Kak, apa tidak sebaiknya kamu panggil perawat jaga untuk memeriksa Nak Fatwa?" saran Mama.
"Tapi, ini sudah malam Ma. Enggak enak juga kalau harus mengganggu mereka," jawabku.
"Ish, Kak Chi ini... itu, 'kan sudah tugas mereka," tukas Rayya.
"Biar Zein saja yang panggilkan, Kak," pungkas Zein seraya hendak berlalu ke luar kamar.
"Tidak usah, Zein," cegah Fatwa.
"Tapi, Pak," tukas Zein.
"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja kok. Besok pagi saja kamu panggil perawatnya. Sekarang, lebih baik kalian tidur kembali," balas Fatwa dengan napas terengah. Mungkin, kondisi tubuhnya belum pulih benar, karena itu dia terlihat kesulitan bernapas saat harus berbicara panjang lebar.
"Sudah, tidak usah berbicara lagi. Sebaiknya, kamu juga tidur dan beristirahat, Fat," ucapku.
"Benar, apa yang dikatakan Kakak. Istirahatlah, Nak Fatwa. Biar sekarang, Ibu, Rayya dan Zein pulang ke hotel dulu," timpal Mama.
"Loh, bukannya kalian mau menginap di sini?" tanyaku yang merasa heran mendengar perkataan Mama.
"Ish, Kakak. Nak Fatwa, 'kan sudah sadar. Jadi, nggak ada gunanya juga kita nemenin Kakak di sini. Yang ada, kita bisa jadi nyamuk kalau terus-terusan ada di kamar ini, " gurau Mama sambil terkekeh.
__ADS_1
"Hmm, bener tuh Ma," timpal Zein.
Fatwa hanya tersenyum mendengar candaan mereka. Sedangkan aku, hmm ... mungkin saat ini wajahku sudah seperti kepiting rebus saja.
Tanpa menunggu persetujuan dariku, akhirnya mereka bertiga pun pergi dengan membawa Maira. Mungkin, mereka memberikan kami ruang dan waktu untuk bisa menyadari jika kami memang saling membutuhkan.
"Kenapa belum tidur juga?" tanyaku yang masih melihat Fatwa anteng menatapku.
"Mataku pegal karena terus terpejam," seloroh Fatwa.
"Ish kamu ini," tukasku. "Omong-omong terima kasih, ya," ucapku.
"Untuk?" jawab Fatwa seraya mengernyitkan kening.
"Karena telah menyelamatkan Res dari tangan Anneu," balasku.
"Oh, itu. Sudah kewajiban aku untuk selalu melindungi kamu, Res," jawab Fatwa.
Aku merasa terharu mendengar jawaban Fatwa. Rasanya, aku ingin memeluk erat laki-laki itu. Namun, aku sadar jika di antara kami belum ada ikatan apa pun.
"Oh iya, Fat. Sebenarnya Res heran, bagaimana bisa kamu berada di hutan itu?" tanyaku yang teringat kembali dengan kemunculan Fatwa di hutan yang secara tiba-tiba.
"Oh, begitu ya ... tapi bagaimana bisa kamu tahu jika Res disandera di rumah bang Rizal?" tanyaku, penasaran.
"Hmm, ceritanya sangat panjang, Res," gumam Fatwa.
"Kalau begitu, tidurlah! Setelah kamu sembuh total, baru kamu bisa ceritakan semuanya ke Res," tukasku.
"Kalau kamu mau, aku bisa menceritakannya sekarang," timpal Fatwa.
"Tidak usah, Fat. Kita masih punya banyak waktu untuk saling bertukar cerita," jawabku.
"Hmm, kamu benar. Tapi yang jelas, tanpa bantuan bang Yudhis, aku pasti tidak akan bisa menemukan kamu," tukas Fatwa.
"Mas Yudhis?" Aku mengulang perkataan Fatwa.
"Iya, bang Yudhis," tegas Fatwa. "Bang Yudhis yang sudah memberitahukan aku jika kamu berada di rumah Afrizal," ucap Fatwa.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana bisa?" tanyaku, heran.
"Apa kamu pernah pergi ke sebuah pesta bersama Afrizal di sekitar wilayah villa miliknya?" tanya Fatwa.
"Ya, bang rizal memang pernah mengajak Res pergi ke sebuah pesta yang diadakan oleh koleganya," jawabku.
"Nah, saat itulah bang Yudhis melihat kamu di sana," ucap Fatwa.
"Benarkah? Ta-pi, bagaimana mungkin? Dan kapan kamu bertemu mas Yudhis. Bukankah terakhir kali Res mendengar kabarnya, jika mas Yudhis tinggal di Bali?" tanyaku.
"Sebenarnya, setelah aku mengetahui kamu hilang, aku pun mulai mencari keberadaan bang Yudhis."
"Tolong katakan padaku Tante, di mana bang Yudhis berada?" Tanya Fatwa kepada Tante Amara.
"Ada urusan apa lagi kamu menanyakan Yudhis? Jangan bilang kalau kamu sedang mencurigai Yudhis sebagai dalang dibalik hilangnya Resti," tebak Tante Amara.
"Maafkan Fatwa, Tan. Tapi Fatwa tidak memiliki orang yang pantas untuk Fatwa curigai lagi selain bang Yudhis," jawab Fatwa, jujur.
"Tega kamu, Fat! Yudhis itu abang sepupu kamu, dan dia tidak serendah itu hanya untuk mendapatkan cinta seorang wanita," ucap Tante Amara, marah.
"Maaf, Tan ... Fatwa tidak bermaksud lancang. Namun, apa yang pernah bang Yudhis lakukan terhadap Resti, itu yang menjadi alasan Fatwa mencurigai bang Yudhis," jawab Fatwa.
Tante Amara mendengus kesal. "Terserah kamu saja," ucapnya seraya meraih buku catatan kecil yang terletak di atas meja telepon.
Tante Amara menuliskan sesuatu di dalam secarik kertas dan menyobeknya. Sejurus kemudian, dia menyerahkan sobekan kertas itu kepada Fatwa.
"Ini alamat Yudhis. Pergilah dan jangan pernah ganggu Tante lagi!" pinta Tante Amara dengan tegas.
"Terima kasih, Tante," jawab Fatwa.
Setelah mendapatkan alamat kakak sepupunya, Fatwa segera meninggalkan rumah tante Amara. Dia tidak ingin membuang waktu lagi dalam melakukan pencarian terhadap wanita yang selalu bertahta di hatinya. Fatwa segera meluncurkan kendaraannya menuju Bandara.
"Aku harus segera pergi ke Bali untuk menemui bang Yudhis," gumam Fatwa.
Fatwa menambah kecepatan kendaraannya. Sekilas, dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum penerbangan jam 18.00. Fatwa pun memutar arah untuk kembali terlebih dahulu ke apartemennya.
Tiba di apartemen, Fatwa mulai mengemas beberapa pakaian. Dia yakin, mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengorek informasi dari seorang Yudhistira. Bagaimanapun juga, Yudhistira adalah seorang lelaki yang cukup keras kepala. Namun, Fatwa tidak akan menyerah begitu saja. Apa pun akan dia lakukan untuk bisa menemukan wanitanya.
__ADS_1
Bersambung