My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Butuh Hiburan


__ADS_3

Aku tertegun begitu tiba di luar. Seorang laki-laki tampak berdiri membelakangi, beberapa meter dari depan pintu ruang guru. Dilihat dari postur tubuhnya, aku yakin sekali jika itu bukan mas Yudhis. Seketika, aku menghentikan kalimatku.


Untuk beberapa saat, aku mulai mengatur napas. Entahlah, bertemu dengan sosok pria itu selalu membuat tekanan darahku naik. Saat aku sudah menguasai emosi, aku mendekatinya.


"Untuk apa kamu datang kemari?" tanyaku tak ingin menatap wajahnya.


Hening. Laki-laki itu tak menjawab pertanyaan dariku. Dia hanya menoleh. Ujung mataku menangkap jika dia sedang memandangi aku.


"Kau tuli ya? Ngapain kamu datang ke tempat kerja Res?" tanyaku lagi semakin kesal.


Hanya kernyitan dahinya yang kembali aku lihat dari sudut mataku. Aku menghela napas. Dan menatapnya. "Hei! Res lagi nanya sama kamu! Ngapain kamu datang ke sini? Jemput Res?" tanyaku yang semakin gemas melihat sikap diamnya pria dingin itu.


"Oh, kamu ngomong ma aku?" Laki-laki itu malah balik bertanya dengan wajah tak berdosa.


"Memangnya siapa lagi orang yang ada di sini selain kita berdua," dengusku, kesal.


"Oh, aku pikir kamu ngomong sama jalanan. Soalnya kamu ngomongnya sambil natapin jalanan, sih!" gurau pria dingin itu.


Haish ... sejak kapan tuh cowok doyan guyon, biasanya juga selalu serius, batinku.


"Ish, peka dikit napa?" Aku semakin jengkel dengan kelakuan pria itu.


"Mangkanya, kalau ngomong tuh lihat lawan bicara, jangan sambil melongo menatap jalanan. Emangnya kamu mau, dianggap orang gila karena ngomong sendiri?" kata si pria dingin itu.


Eergh!! Kedua tanganku terasa gatal ingin mencekik lehernya


"Sudahlah! Res nggak punya banyak waktu buat ngeladenin orang stress seperti kamu. Sekarang katakan! Ngapain kamu datang kemari?" Aku kembali bertanya


"Menjemputmu!" ucap pria itu.


"Ish, sori ya! Mas Yudhis yang bakalan jemput Res. So, kamu balik aja deh. Ngapain di sini juga? Hanya bikin langit cerah berubah jadi mendung saja!" sindirku kesal. Aku membalikkan badan hendak pergi ke ruang guru lagi.


"Bang Yudhis tidak akan menjemput kamu!" teriak laki-laki itu yang langsung menghentikan langkahku. Aku kembali membalikkan badan dan menatapnya sangar.


"Nggak usah kaget seperti itu. Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri untuk tidak bergantung pada bang Yudhis. Karena sekarang, bang Yudhis sedang sibuk ngurusin proyek sama sekretarisnya," seru pria dingin itu.


"Apa maksud kamu?" tanyaku, menatap tak mengerti padanya.


"Kalau kamu nggak percaya, coba aja kamu telepon mas Yudhis kesayangamu itu!" tantang Fatwa.


Karena aku penasaran dengan mas Yudhis yang akhir-akhir ini mulai berubah, aku mengeluarkan ponsel dari saku blazer dan mulai menelepon calon suamiku itu. Untuk beberapa saat, sambungan telepon terhubung.


"Assalamu'alaikum, Chi!" sapa mas Yudhis di ujung telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Baru sampai mana, Mas? Masih lama nggak?" cehcarku pada mas Yudhis.


"Maksud kamu, Yang?" Mas Yudhis malah balik nanya padaku.


Aku menepuk jidat sendiri, berpikir, apa mungkin dia lupa dengan janjinya?


"Hallo, Sayang! Hallo! Apa kamu masih di sana?" Terdengar mas Yudhis sedikit berteriak-teriak di ujung telepon.


"Ya, Masih kok, Mas," jawabku lesu.


"Kamu ada apa hubungin, Mas? Ada hal yang penting? Kita bicara di rumah saja, ya. Nanti malam, Mas ke rumah. Ya sudah ya, Sayang. Mas meeting dulu!"


Tut-tut-tut!


Tanpa menunggu jawaban dan penjelasan dariku, mas Yudhis menutup teleponnya.


"Hhh." Aku menghela napas sejenak. Entah kenapa aku merasa sakit hati saat mas Yudhis tidak menghiraukan aku. Rasanya aku ingin segera tiba di rumah dan menumpahkan seluruh air mata yang mulai menggenang.


Tanpa aku sadari, pria dingin itu menyeka kedua sudut mataku yang telah berair dengan ujung ibu jarinya. "Jangan jatuhkan air matamu untuk laki-laki bajingan seperti dia!" ucapnya lembut.


Aku menatapnya dengan perasaan marah. "Dia bukan bajingan. Dia sangat terhormat dan tidak psikopat seperti kamu!" ucapku geram.


Terdengar pria itu menghela napasnya. "Sudahlah, mau sampai kapan kamu berada di sini? Ini sudah sangat sore. Ibumu pasti akan mencemaskan anak gadisnya yang belum pulang. Ayo, aku antar kamu pulang sekarang!" ajak pria itu seraya membuka pintu mobilnya.


Fatwa mulai melajukan kendaraannya. Sepanjang jalan, hanya kebisuan yang mengiringi perjalanan kami. Hingga tanpa aku sadari, Fatwa menghentikan mobilnya di sebuah pasar malam yang baru dibuka sore ini.


"Ngapain kita ke sini?" tanyaku heran.


"Menghiburmu," jawab pria itu santai sembari membuka pintu mobil.


Fatwa keluar mengelilingi bagian depan mobil. "Keluarlah, kita bermain-main sebentar!" Dia mulai memberikan perintah.


"Ish, nggak mau! Res mo pulang, capek!" rengekku.


"Ayolah!" Fatwa membuka pintu mobil dan meraih tanganku. Mau tidak mau, aku pun turun dari mobilnya Fatwa.


"Ayo, kita naik bianglala!" ajaknya setelah menutup kembali pintu mobil.


"Ck, Res bukan anak kecil, Fat!" Aku berdecak kesal menanggapi ajakannya.


"Aku tahu, tapi kamu sedang butuh hiburan saat ini. Ayo!" Fatwa merangkul pundakku. Setengah berlari, dia membawaku ke tengah lapang.


Suasana di pasar malam yang memang biasanya buka selepas asar ini, begitu ramai. Banyak para emak-emak mengerubuti stan panci dan perabotan lainnya. Ada juga mama-mama muda yang sedang mengajak main putra-putri mereka. Dan tak kalah menariknya. Banyak pasangan ABG hingga dewasa, hilir mudik di pasar malam itu.

__ADS_1


"Tiketnya dua Bang!" ucap Fatwa kepada si penjaga tiket bianglala.


"Oke, Bos!" Lelaki yang usianya kira-kira tak jauh beda dengan kami segera menyobek dua tiket dan menyerahkan kepada Fatwa.


"Jadi berapa, Bang?" tanya Fatwa lagi.


"20 ribu, Bos!" jawab si penjaga karcis.


"Nih! Kembaliannya ambil aja," ucap Fatwa menyerahkan selembar uang 50 ribuan.


"Waduh! Rezeki nomplok nih ... makasih, Bos!" Si penjaga karcis terlihat gembira menerima bonus dari Fatwa.


Pria dingin itu hanya tersenyum dan menepuk pundaknya. "Kerja yang bener, jan lupa sholat!" pesannya kepada si penjaga karcis.


"Siap, bos!" jawab si penjaga karcis.


Tak lama kemudian, kami berjalan dan ikut mengantre di ujung pintu besi bianglala.


Saat tengah mengantre, tanpa sengaja sudut mataku melihat seorang ibu-ibu penjual permen kapas. "Uuh, keknya enak banget," gumamku, tanpa sadar.


Terlihat Fatwa menoleh dan mengikuti arah pandangku. "Tunggu di sini!" pesannya sambil berlari entah ke mana.


"Tung–" Aku hendak mencegahnya, tapi dia keburu menghilang di tengah kerumunan orang. Akhirnya aku hanya bisa membuang napasku dengan kasar.


Antrean mulai bergerak. Satu per satu, para pengunjung yang hendak menaiki bianglala mulai naik ke kursinya masing-masing. Aku masih celingak-celinguk mencari keberadaan pria jangkung itu. Tiba giliranku,


"Naik, Mbak!" perintah sang penjaga pintunya.


"Sebentar, Mas. Aku nunggu temanku dulu," jawabku.


"Oh, iya. Baiklah kalau begitu," kata si penjaga itu.


Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya cuitan di belakangku mulai terdengar.


"Ayo dong, Mbak. Mana temennya, nih! Lama banget, kita juga, 'kan mo naik," ucap pengunjung yang satu.


"Iya, Mbak!" timpal yang lain.


"Kalau nggak, mending Mbak-nya minggir dulu, deh. Tunggu temennya dulu!" usul pengunjung yang lainnya.


Aku menghela napasku. "Menghibur apanya, ini malah membuatku malu," gerutuku. Saat aku hendak melangkah untuk keluar dari antrean, tiba-tiba...


"Tarraaaa.....!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2