
Ajakan mama membuyarkan lamunanku tentang mas Yudhis. Aku mencoba menguasai emosi. Aku tidak ingin mama tahu jika saat ini aku tengah bersedih memikirkan ke mana perginya calon suamiku.
Makan malam yang cukup ramai, karena diselingi oleh canda tawa ketiga orang yang langsung akrab itu. Sepertinya, mereka sudah cukup lama saling mengenal. Fatwa yang saat SMA aku beri label cowok dingin, ternyata berbanding terbalik dengan yang aku kenal saat ini. Dia sosok yang cukup supel dan mudah menyesuaikan diri memasuki keluargaku. Bahkan Rayya, aku bisa melihat jika dia lebih leluasa bersenda gurau dengan Fatwa ketimbang mas Yudhis yang calon kakak iparnya sendiri.
Pukul 9 malam, akhirnya Fatwa berpamitan. "Sering-sering main ke sini, ya, Bang!" ucap Rayya saat Fatwa memasuki mobilnya.
Fatwa hanya memberikan simbol oke sebagai jawaban. Setelah berpamitan, mobil pun keluar dari halaman rumahku.
"Bang Fatwa baik ya, Kak?" ucap Rayya padaku.
"Kenapa? Naksir?" tanyaku.
"Ish, enak aja ... Rayya nggak doyan pria berumur, wew!" jawab Rayya seraya menjulurkan lidah padaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah anak ABG itu.
Setelah membereskan lantai bawah, aku kembali ke kamarku dan langsung menghempaskan tubuh di atas ranjang. Aku melirik jam beker di atas nakas. Penunjuk waktu berhenti di angka 22.25. Sudah dipastikan jika mas Yudhis tidak akan datang. Ish, ke mana kamu, mas? Kenapa kamu sampai bisa melupakan janji kamu sendiri? batinku.
Lelah tenggelam dalam rasa penasaran dan kecewa, akhirnya mataku mulai mengantuk. Sejurus kemudian, aku mulai terlelap merangkai mimpi yang entah seperti apa mimpi yang akan datang sebagai bunga tidurku.
.
.
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, genap satu bulan dosen killer itu tak pernah absen untuk menjemput aku di sekolah. Hati yang awalnya kesal, kini mulai terbiasa akan kehadirannya. Meskipun sikap dia masih suka terbawa angin. Kadang baik, tak jarang juga dingin dan cuek.
"Hari ini jadi survey ke Maya Plaza, Bu?" tanya Bu Fina, rekan kerjaku.
"Insya Allah, Bu. Soalnya tidak ada waktu lagi. Sekarang minggu terakhir di tema tujuh," jawabku.
"Perlu saya temani? Sekalian saya juga mau survey. Tema berikutnya ada yang berkenaan dengan karya wisata, tuh," ucap Bu Fina.
"Oh, boleh Bu, ide yang bagus, tuh," timpalku.
"Tapi, saya nanti nyusul pake motor, ya. Soalnya takut mengganggu kebersamaan Bu Res sama temannya," kata Bu Fina.
Aku mengernyit mendengar ucapan Bu Fina. "Maksudnya mengganggu gimana, ya, Bu?" tanyaku seperti orang bego.
"Ish, Bu Res ini ... macam orang tak tahu saja. Setiap hari, 'kan Bu Res dijemput. Mbok ya, saya nggak mau loh, ikut kalian dan jadi kambing congek," tutur Bu Fina.
__ADS_1
"Oalah ... iya-iya, saya paham Bu. Tenang saja, aman kok. Hari ini dia nggak bisa jemput saya, kok," ucapku.
"Loh, kenapa?" Kini giliran Bu Fina yang mengernyitkan keningnya.
"Kebetulan dia ada workshop di Bandung," jawabku.
"Loh, Bu Res nggak ikut lagi? Bukannya Bu Res asdos-nya dia?" tanya Bu Fina.
Aku gelagapan mendapati pertanyaan seperti itu. Huh, semua ini gara-gara dosen gila itu. Sejak kejadian penyekapan tempo hari, izinku selalu disangkut-pautkan dengan kegiatan dia. Huh, menyebalkan!
"Nggak kok, Bu. Kebetulan, saya ditugaskan untuk menggantikan beliau di kampus saja." Mau tidak mau, akhirnya aku berbohong kepada teman kerjaku itu.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti, setelah pulang sekolah, kita berangkat bareng aja. Tapi, nggak pa-pa, 'kan, kalo perginya naik motor?" ucap Bu Fina.
"Nggak pa-pa, Bu. Justru malah lebih enak naik motor. Tapi, Ibu yang bawa ya? Saya nggak bisa mengendarai motor," ucapku.
"Hahaha, Bu Res ini ... bisa saja. Okelah, kalau begitu," jawab Bu Fina.
"Ya sudah, Bu. Saya ke kelas dulu ya! Masih banyak administrasi yang belum saya selesaikan!" pamitku kepada Bu Fina.
"Iya, monggo Bu Res," jawab Bu Fina.
.
.
Pukul 13.15, sekolah bubar. Aku sengaja menunaikan shalat dzuhur di mushala sekolah. Saat aku sedang memakai sepatu sehabis shalat, Bu Fina datang dengan membawa motor matic-nya.
"Siap, Bu Res?" tanya Bu Fina.
Aku mendongak. "Eh, iya ... ayo Bu Fin," jawabku sambil menyisir rambut menggunakan jari-jemariku.
Bu Fina menyerahkan sebuah helm padaku, dan aku langsung memakainya.
"Yuk, Bu!" Aku menepuk pelan bahu Bu Fina sebagai tanda jika aku sudah siap dan kendaraan sudah mulai bisa dilajukan.
Butuh waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Maya Plaza. Setibanya di sana, Bu Fina segera mencari tempat parkir yang cukup aman. Dengan cekatan, Bu Fina memarkirkan motornya. Setelah itu, kami berjalan berdampingan untuk memasuki arena bermain salju yang berada di lantai atas gedung Maya Plaza.
__ADS_1
"Permisi! Ada yang bisa saya bantu?" ucap salah seorang penjaga pintu masuk ke kawasan arena bermain salju.
"Oh, iya Mas. Sebelumnya perkenalkan nama saya Resti dan ini rekan saya, Fina. Kami hendak survey tentang fasilitas di arena bermain ini. Kebetulan, insya Allah dalam waktu dekat, kami hendak membawa anak didik kami kemari," ucapku mengenalkan diri dan mengatakan maksud dan tujuanku mendatangi tempat ini.
"Oh iya, kalau begitu, sebaiknya Ibu berbicara langsung dengan manajer kami saja. Mari, Bu ... saya antarkan untuk menemui bapak manajer," ucap penjaga pintu itu.
"Oh, boleh kalau begitu," ucapku. Sejurus kemudian, aku dan Bu Fina mengikuti penjaga itu untuk memasuki ruangan manajer.
"Mari, Bu. Silakan!" ucapnya sopan seraya membuka pintu ruangan manajer.
Setelah manajer itu mempersilakan kami duduk, akhirnya dia menjelaskan tentang prosedural dan aturan mengunjungi tempat wisata ini.
Kurang lebih selama setengah jam kami berbincang tentang tata cara mengajak pengunjung secara berkelompok. Setelah semuanya bisa dipahami, akhirnya aku dan Bu Fina berpamitan pulang.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak! Terima kasih atas pencerahannya," ucapku.
"Baiklah, sama-sama Bu. Ditunggu kedatangannya di arena bermain salju," jawab sang manajer.
"Insya Allah," jawab serempak aku dan Bu Fina. Tak lama kemudian, aku dan Bu Fina keluar dari ruangan itu.
"Bu, kita pergi ke food court dulu, ya? Kok, perut saya tidak bisa diajak kompromi, ya," pinta Bu Fina.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Fina. "Ya sudah, ayo! Mumpung lagi di mall juga, nanti kita sekalian lihat-lihat tas, ya, Bu. Tas saya sudah mulai rusak nih," ucapku.
"Ayolah, siapa takut!" jawab Bu Fina.
Kami melangkahkan kaki menuju food court dan berhenti di sebuah kedai yang menyuguhkan nasi liwet ciri khas makanan Sunda. Kami mulai memasuki kedai itu dan duduk di sana. Seorang pelayan menghampiri kami dengan membawakan buku menu makanan di sana. Setelah melihat-lihat menu tersebut, akhirnya kami memilih makanan yang sesuai dengan selera lidah kami.
Saat sedang menunggu makanan, aku mengedarkan pandangan ke bawah. Kami sengaja memilih kursi di tepi pembatas agar bisa melihat pemandangan di bawah. Meskipun pemandangan yang kami lihat hanyalah orang-orang yang berlalu lalang memasuki toko-toko yang menjual pakaian.
Tiba-tiba, penglihatanku terkunci pada sosok pria yang tengah berdiri di barisan hanger blouse wanita. Pria itu terlihat menenteng paper bag berwarna pink. Aku mengeluarkan kacamataku untuk melihat lebih jelas sosok pria tersebut. Sayangnya, sesaat setelah memakai kacamata, pria itu sudah tak ada di tempatnya lagi. Dengan penuh keraguan, aku mencoba menyangkal jika pria itu adalah orang yang aku kenal.
Makanan mulai datang dan disajikan di atas meja. Karena rasa lapar yang sudah mulai tak tertahan, akhirnya aku dan Bu Fina menyantap makanan itu dengan lahap, hingga tak bersisa.
Selesai makan dan beristirahat sejenak, aku dan Bu Fina melanjutkan acara berikutnya, yaitu berburu tas kulit. Toko tas langganan kami berada di lantai dua. Tiba di sana, kami mulai berpencar untuk mencari tas yang sesuai dengan selera kami masing-masing.
Saat aku mengedarkan pandanganku untuk melihat tas-tas yang terpajang di etalase, lagi-lagi aku bertemu dengan sosok pria yang postur tubuhnya sudah tak asing lagi dari pantulan kaca etalase. Kali ini aku merasa yakin dengan penglihatanku. Aku pun berbalik untuk menyapanya.
__ADS_1
"Mas! Ngapain kamu di sini?"
Bersambung