
Aku yang awalnya sudah ingin beranjak dan pergi, seketika langsung mengurungkan niatku mendengar ucapan Aji.
"Ya, kenapa Ji?" tanyaku.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Aji balik bertanya.
"Silakan, Ji. Kalau bisa Res jawab, pasti bakalan Res jawab," ucapku.
"Tapi, mungkin ini agak sedikit pribadi. Boleh?" tanya Aji lagi.
Aku sedikit mengerutkan kening, tak memahami arah pembicaraan pria innocent itu.
"Boleh tidak?" Kembali Aji bertanya padaku.
"Apaan sih Ji, nggak jelas banget. Ya silakan kalo mo nanya, mah. Tapi ya itu tadi, kalau Res bisa jawab, pasti bakal Res jawab. Kalau nggak, ya jangan maksa juga kali," jawabku.
Aji hanya terkekeh mendengar jawabanku.
"Iih, Aji mah..." rengekku. "Mo nanya apa sih, Res kepo nih, jadinya?"
"Hahaha, radar kepo mulai berfungsi," ledek Aji.
"Ish, itu kalimat Res, Bang. Ntar kena copyright baru nyaho, Anda!" gurauku.
"Hahaha, bisa aja kamu Res. Ya udah, serius yuk!"
"Ya udah, ayo mo nanya apa?"
"Emm, ini tentang Fatwa. Apa dia sudah meminta maaf padamu?"
Deg!
Seketika jantungku berpacu dengan cepat begitu mendengar nama yang baru saja ingin aku lupakan. Aku hanya bisa diam tanpa tau harus bagaimana menjawab pertanyaan Aji.
"Kok, diam Res. Apa kamu belum bertemu dengannya? Sebenarnya, Fatwa itu anak yang baik Res. Aku yakin dia tidak akan sengaja menyakiti seseorang. Apalagi seorang wanita. Di–"
__ADS_1
"Tapi kenyataannya dia menyakiti Res," ucapku serak. Aku sudah tidak bisa membendung air mataku. Tanpa permisi, dia mengalir begitu saja di kedua pipiku.
Aji meraih tisu yang berada di atas meja, kemudian menyerahkannya padaku. "Tapi, mungkin dia punya alasan, Res," ucap Aji.
"Res nggak tahu, dan nggak pernah mau tahu. Kesalahan terbesar Res, adalah membiarkan rasa itu tumbuh. Tapi kini, Res berusaha untuk mematikan semuanya. Lupakan apa yang memang seharusnya Res lupakan. Apa pun yang pernah terjadi di antara Res dan pria itu, pasti bisa Res lupakan," jawabku cukup untuk memberikan sebuah ketegasan bahwa rasa ini telah berakhir dan mati.
Aji hanya bisa menghela napasnya panjang. Aku melihat sinar kekecewaan pada kedua bola matanya. Namun, jujur saja ... aku tidak begitu mengerti akan arti tatapannya.
"Res permisi dulu, Ji!" pamitku padanya.
Aji tak menjawab, dia hanya bisa menatap kepergianku. Tanpa aku sadari, sepasang mata elang itu mengawasi aku dari balik rak buku yang tersusun rapi.
Aku menyandarkan tubuhku pada dinding pembatas kelas. Mataku menerawang jauh menatap hamparan bunga yang berada di depanku. Entah kenapa, rasa sesak setelah bertahun-tahun menghilang, kini datang kembali. Kedua mataku berembun mengingat itu adalah kalimat terakhir yang aku ucapkan untuk pria itu. Ya, lupakan apa yang memang harus dilupakan, gumamku dalam hati.
"Kak Chi!" Sentuhan tangan Citra di pundakku kembali menyadarkan aku.
"Citra minta maaf karena sudah membuat Kakak membuka luka lama lagi," ucapnya.
"Tidak apa-apa, Cit. Lagi pula, itu hanya sebuah masa lalu," jawabku.
"Apa kakak memang tidak pernah mencari tahu kenapa waktu itu pak Fatwa bersikap demikian?" tanya citra.
"Kenapa?"
"Aku rasa, itu bukanlah hal yang penting. Terlebih lagi, harga diriku telah terluka oleh sikapnya. Hatiku tidak sesuci malaikat yang tak pernah memiliki rasa benci. Setiap kali bertemu dengannya, aku membenci diriku sendiri yang telah jatuh ke dalam pesonanya."
"Kakak, kalian berpisah sudah lebih dari belasan tahun. Tapi Kakak masih mengingat setiap detail kenangan Kakak bersamanya. Apa Kakak sangat mencintainya?" tanya Citra mulai menelisik isi hatiku.
Aku mengalihkan pandanganku dan menatap lekat Citra. "Kata orang, kesan pertama tidak mudah untuk dilupakan. Dan mungkin itulah yang terjadi padaku. Kesan pertama yang begitu menyakitkan. Tentu saja tidak akan semudah aku membalikkan telapak tangan untuk melupakannya," jawabku.
"Apa ini yang membuat Kakak begitu sulit menerima cinta Mas Yudhis, dulu?"
Aku mengernyitkan kening. "Hei, kenapa jadi bawa-bawa nama Mas Yudhis?" tanyaku heran.
Citra terdengar menghela napasnya. "Maafkan aku, Kak. Mas Yudhis pernah cerita jika dulu Kakak adalah wanita yang paling sulit untuk didekati. Bahkan, Mas Yudhis juga sudah mengalami puluhan penolakan, 'kan dari Kakak?"
__ADS_1
"Aish, sok tahu kamu!"
"Hehehe,... aku tahu, lah. Karena Mas Yudhis pernah cerita tentang perjuangan dia dalam menaklukkan hati Kakak."
Aku tersenyum membayangkan pertemuan awalku dengan Mas Yudhistira. "Ya, kamu benar. Dan aku wanita yang sangat bodoh karena telah mengabaikan ketulusan hati seseorang untuk waktu yang cukup lama. Tapi, alhamdulillah ... Mas Yudhis bukan orang yang mudah menyerah. Perjuangan beliau yang begitu gigih dalam membuktikan ketulusan cintanya, pada akhirnya membuat hatiku luluh."
"Apa setelah kalian lulus sekolah, Kakak pernah bertemu lagi dengan pak Fatwa?"
"Tidak. Setelah lulus, aku pernah kehilangan kontak dengan teman-temanku. Aku memutuskan untuk merantau, karena itu aku tidak tahu bagaimana perkembangan semua teman-teman semasa SMA. Baru setelah beberapa tahun kemudian, aku kembali ke kampung halaman. Tiba-tiba aku menerima undangan dari kak Lastri yang hendak menikah. Di pernikahan itulah aku tahu dari Tika kalau Fatwa kuliah di luar kota, namun kondisinya tidak baik-baik saja."
"Maksud Kakak?"
"Dia...."
"Woy, mo sampai kapan lo ngobrol di sana, lo nggak liat dosen dah masuk!"
Tiba-tiba, teguran salah satu rekan mahasiswa membuat aku menggantung kalimatku.
"Ya sudah, Cit. Kita masuk dulu. Nanti aku lanjutkan lagi ceritanya," ajakku kepada Citra.
Citra mengangguk. Akhirnya kami berjalan beriringan memasuki kelas. Memanglah benar, pada saat kami sampai di ambang pintu, dosen killer itu tengah berdiri di depan kelas untuk membuka materi.
"Assalamu'alaikum, permisi Pak. Maaf kami terlambat," ucap Citra. "Apa kami boleh masuk?" Citra melanjutkan perkataannya.
"Hmm." Hanya itu yang keluar dari mulut dosen berjambang tipis itu.
"Terima kasih, Pak."
Aku dan Citra memasuki kelas. Pada saat aku duduk dan mulai memperhatikan materi yang dia sampaikan, tanpa sengaja tatapan kami beradu. Seketika aku memutuskan pandangan karena tak mampu melawan tatapan tajamnya.
Jantungku kembali berdegup kencang. Kenapa seperti ini? Bukankah aku sudah biasa mengikuti materinya tanpa ada perasaan yang aneh. Kenapa sekarang aku tidak bisa berkonsentrasi mengikuti mata kuliahnya. Apa karena perkataan mesum dia tempo hari? batinku.
Dosen killer itu mulai menerangkan materinya. Sesekali dia melakukan tanya jawab dengan para mahasiswanya. Sikapnya begitu ramah saat ada beberapa orang mahasiswa yang bertanya. Namun, terkadang dia melemparkan pandangan tajam ke arahku.
Aku merutuki waktu yang seolah begitu lambat bergerak. Dua jam bersamanya sungguh sangat menyiksa batinku. Tekadku untuk melupakan apa yang memang harus aku lupakan, kini mulai menguap. Setiap tatapan matanya, gerak-geriknya, dan halus tutur katanya saat sedang melakukan diskusi dengan mahasiswa, membuat aku mengenang kembali setiap kejadian yang pernah kami lewati di Parentas. Mengingat hal itu, hatiku kembali kacau.
__ADS_1
Teeeeettttt!
Bersambung