My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Kesepakatan


__ADS_3

“Kapan kita akan menemui mas Yudhis, Fat?” tanyaku langsung begitu Fatwa merespon permintaan aku.


Fatwa menghela napas. “Aku! hanya aku yang akan menemui bang Yudhis. Aku tidak akan melibatkan kamu lagi, Res,” ucap Fatwa penuh ketegasan.


“Tapi, Fat!" Aku hendak memprotes keputusan Fatwa.


“Hanya aku, atau tidak sama sekali!” jawab Fatwa cukup tegas.


Aku hanya kembali bersandar pada sandaran jok mobil depan. Aku sedikit kecewa mendengar keputusan Fatwa yang sepertinya memang tidak bisa diganggu gugat.


Fatwa melirik ke arahku. Mungkin dia juga merasa tidak enak karena sudah membuat aku kecewa. Akhirnya dia menatap intens ke arahku.


“Res, aku mohon mengertilah. Aku hanya tidak ingin kamu celaka lagi seperti dulu. Kamu tidak tahu bagaiman sikap bang Yudhis jika dia telah memiliki keinginan. Aku hanya takut, dia akan memanfaatkan kelemahan kamu,” tutur Fatwa.


Aku hanya diam. Sungguh aku tidak pernah bisa memahami apa yang baru saja diucapknan Fatwa.


“Percayalah, aku melakukan semua ini juga karena kamu. Aku tidak mau kamu disakiti lagi sama bang Yudhis. Aku nggak mau kamu kecewa dan terluka lagi, Res. Aku mohon, percayakan padaku. Biar aku yang mengurus mereka,” kata Fatwa lagi.


Akhirnya aku hanya bisa mengangguk pasrah. “Iya, Fat. Res percayakan semuanya sama kamu,” jawabku lemah.


Setelah pembahasan tentang menemui mas Yudhis telah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan. Pulang.


.


.


Hari demi hari terus berlalu. Aku tidak mendengar kabar apa-apa lagi tentang Citra ataupun mas Yudhis. Semuanya seolah hilang ditelan bumi. Hingga pada hari ini, hari di mana aku sedang menghabiskan hari libur dengan pekerjaan rumah, tiba-tiba, Fatwa menemui aku.


Tok-tok-tok!


“Ka, di ruang tamu ada bang Fatwa, tuh!” kata Rayya seraya mengetuk pintu kamar.


Aku sedikit mengernyit. Tumben, kok dia datang nggak bilanga-bilang, batinku.


“Kak! Kakak denger nggak sih?” teriak Rayya lagi.


“Iya, Dek. Kakak denger kok. Suruh tunggu dulu bentar, Kakak mau beresin buku dulu,” jawabku kepada Rayya.


Tak lama kemudian, suara di balik pintu pun menghilang. Aku segera membereskan buku-buku novel yang selalu aku baca di saat mempunyai waktu luang. Lima menit setelah membereskan buku, aku segera pergi ke ruang tamu untuk menemui Fatwa.

__ADS_1


“Hai, Fat. Tumben main?” tanyaku begitu tiba di ruang tamu.


“Hmm, nggak boleh?” Fatwa balik bertanya.


“Bukan nggak boleh, sih. Tapi aneh aja. Biasanya kalau mo ke sini, kamu, ‘kan kasih kabar dulu,” tukasku.


“Aku hanya ingin menyampaikan ini sama kamu,” ujar Fatwa seraya menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat.


“Apa ini?” tanyaku meraih amplop yang diberikan oleh Fatwa.


“Itu berkas-berkas yang harus kamu tanda tangani untuk mencabut tuntutan kamu kepada bang Yudhis,” ucap Fatwa datar.


“Oh gitu, ya. Memang prosesnya lama banget, ya. Kok baru datang sekarang berkas-berkasnya?” tanyaku yang memang tidak mengerti apa-apa tentang hukum.


“Bukan prosesnya yang menyebabkan lama, hanya alotnya kesepakatan yang aku buat dengan bang Yudhis," jawab Fatwa.


“Kesepakatan? Kenapa harus alot? Bukankah kesepakatannya sudah jelas, ya?” tanyaku kepada Fatwa.


Kesepakatan awal memang sudah jelas, aku menukar kebebasan mas Yudhis dari penjara dengan syarat, mas Yudhis harus menikahi Citra. Apa itu berat?


“Hhh.” Fatwa terdengar menghela napasnya. Dia seolah sedang memiliki beban pikiran yang cukup berat.


“Eh, kenapa, Res?” tanya Fatwa, terhenyak.


Hmm, benar dugaanku. Sepertinya Fatwa memang sedang memiliki masalah. Terbukti dengan tidak fokusnya dia menjawab pertanyaanku.


“Res tanya, ada apa? Kok, Res lihat kamu diam aja. Kamu punya masalah, Fat?” tanyaku lagi.


“Hmm, nggak ada, Res. Aman terkendali, kok,” guraunya cengengesan.


“Ih, suka nggak nyambung gitu, deh. Serius ini, kamu ngomong aja kalau mo curhat. Res bisa diandalin jadi pendengar setia, kok. Ya, kalau kamu ngomong, siapa tahu bisa mengurangi beban kamu,” tuturku.


“Huh, sok tau…! Ya sudah, cepat tanda tangani berkas ini. Biar segera diurus dan Citra bisa cepet nikah,” ucap Fatwa.


“Eh, bener juga, ya! Sebentar, Res ambil balpoin dulu,” ucapku seraya pamit pergi masuk kamar. “Sini, di mana Res harus tanda tangan?” tanyaku begitu kembali dari kamar.


Fatwa menghampiri aku. Dia menunjukkan satu per satu halaman yang harus aku tanda tangani. Hmm, cukup rumit juga persyaratan mencabut tuntutan. Kupikir mudah, semudah aku dengan lancar memberikan kesaksian untuk membuat tuntutan.


Setelah beberapa berkas selesai aku tanda tangani, Fatwa kembali mengumpulkan berkas-berkas tersebut dan menyusunnya seperti sedia kala.

__ADS_1


“Oh iya, Fat … ngomong-ngomong, apa ada tambahan poin kesepakatan yang lainnya, sampai kesepakatan kalian berjalan alot?” tanyaku, penasaran.


Fatwa terlihat termenung mendengar pertanyaanku. Dia seolah sedang menimbang sesuatu untuk dikatakan. Namun, sedetik kemudian, senyumnya kembali tergambar jelas di wajahnya.


“Ada, tapi bukan hal yang penting,” ucap Fatwa.


“Benarkah?” tanyaku terkejut heran. “Seperti apa contohnya?” Aku bertanya tentang poin tambahan itu.


“Sudahlah, bukan hal yang pantas juga untuk dibicarakan,” jawab Fatwa.


Ish, kebiasaan deh kalau udah berkelit-kelit seperti ini. Aku, 'kan makin penasaran. Akhirnya, aku kesal sendiri melihat sikap Fatwa, yang terlalu banyak menyimpan misteri.


“Ya sudah, apalagi yang harus Res lakukan?” tanyaku.


“Hmm, tidak ada. Kamu hanya tinggal menunggu kebebasan bang Yudhis saja,” jawab Fatwa.


Sejenak aku tertegun. Mendengar kabar mas yudhis akan bebas, semburat ragu dan ketakutan pun menggelayut di hatiku. Tapi segera aku singkirkan ketakutanku itu. Aku pasti baik-baik saja, tekadku dalam hati.


“Kapan kira-kira mas Yudhis bebas?” tanyaku.


“Mungki sekitar satu mingguan,” jawab Fatwa.


Aku menghela napas, berat. Itu artinya, satu minggu lagi aku harus mempersiapkan mental jika suatu saat bertemu dengan laki-laki itu lagi.


“Res, apa kamu benar-benar ikhlas melepaskan bang Yudhis untuk Citra?” tanya Fatwa menatapku lekat seolah sedang berusaha menyelami apa yang tersirat di balik kedua bola mataku.


“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” tanyaku seraya mengernyitkan kening.


“Ya nggak pa-pa sih, aku cuma pengen tahu aja, apa masih ada tempat di hatimu untuk satu nama yang lain?” tukas Fatwa. Terlihat sebuah harapan di matanya.


Aku diam. Sungguh aku sendiri tidak tahu apakah aku mampu membuka hatiku lagi atau tidak. Hanya saja, untuk saat ini aku hanya ingin merasakan ketenangan. Biarkanlah hati ini kosong tanpa ada penghuninya, asalkan aku bisa hidup tanpa ada kerisauan dalam hati.


“Fat,” panggilku lirih.


Fatwa tak menjawab, dia hanya memandangku dengan tatapan yang sama seperti saat pertama kali bertemu. Entah kenapa, darahku berdesir melihat tatapan Fatwa yang seolah ingin menelanjangiku. Aku hanya bisa menelan ludah tanpa mampu melanjutkan kata-kataku.


“Re-Res … Res minta maaf.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2