My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Negosiasi


__ADS_3

Fatwa kembali melirik aku. Sepertinya, dia semakin penasaran ketika melihat aku senyam-senyum sendiri. Tiba-tiba Fatwa menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Sejurus kemudian, dia menariknya hingga membuat aku mau tidak mau menoleh padanya.


“Apaan sih, Fat?” gerutuku dengan kesal.


“Kamu yang apaan? Cengar-cengir nggak jelas seperti itu!” ujar Fatwa sedikit membentak.


Aku mengerucutkan bibirku untuk meledek Fatwa. “Lepas, ih!” protesku.


Akhirnya Fatwa melepaskan tangannya dari wajahku. “Oke, sekarang jelaskan padaku, apa yang sedang berada di otakmu saat ini?” ucap Fatwa seraya menonyor pelan keningku dengan telunjuknya.


“Nanti Res jelasin, tapi … makan dulu, yuk! Res lapar…” rajukku padanya.


“Dasar perut karet! Makan mulu yang ada di otak kamu,” gerutu Fatwa.


“Biarin, daripada maag Res kambuh. Emang, kamu mau tanggung jawab kalau penyakit Res kambuh lagi?” sahutku.


“Gampang, aku buang aja kamu ke rumah sakit,” ledek Fatwa.


Aku kembali mengerucutkan bibir mendengar jawaban Fatwa. Namun, di satu sisi aku merasa senang juga, karena Fatwa tidak sedingin dulu lagi.


Mendengar keinginanku, Fatwa segera melajukan kendaraannya. Jalanan terlihat lengang, karena ini masih jam kerja juga. Orang-orang masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah restoran khas Sunda.


Fatwa mulai memesan makanan begitu pelayan menghampiri kami. Menjalani waktu bersama selama beberapa pekan, membuat dia dengan cepat memahami apa yang menjadi kesukaan aku. Setelah beberapa menit, pelayan itu pergi.


“Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan, Res?” tanya Fatwa yang mungkin masih penasaran dengan apa yang ada dalam benakku.


“Res ingin menukar kebebasan mas Yudhis dengan sebuah perjanjian,” jawabku datar.


Fatwa terlihat semakin mengernyitkan keningnya. Mungkin dia belum bisa mencerna maksud dari apa yang aku ucapkan.


“Apakah bisa lebih diperjelas lagi?” pinta Fatwa.


Aku menatapnya tajam. “Begini, Fat. Aku tahu peran mas Yudhis begitu penting di perusahaannya, dan aku juga yakin jika mas Yudhis juga sangat mendambakan kebebasan. Aku pun yakin kalau tante Amara menginginkan mas Yudhis segera bebas. Jadi a–“


“Ish, bisakah kamu tidak usah berbelit-belit seperti itu?” tanya Fatwa memotong ucapanku.


“Ya mangkanya, dengerin dulu. Nggak usah nyelak omongan orang!” Aku mendengus kesal.


“Oke-oke, aku dengerin,” ucap Fatwa terlihat patuh.

__ADS_1


“Jadi begini … Res akan berusaha bicara dengan tante Amara tentang Citra. Res akan menukar kebebasan mas Yudhis dengan mengajukan syarat. Dan syarat itu adalah menikahi Citra,” paparku seraya tersenyum, membayangkan jika semua ini adalah ide yang cemerlang.


“Ih. It’s not good idea, Res!” ucap Fatwa.


Seketika aku cemberut mendengar ucapan Fatwa. “Kamu mah seperti itu terus … selalu mematahkan semangat Resti,” gerutuku kesal.


“Bukannya seperti itu, Res. Tapi semuanya harus dipikirkan baik-baik. Bang Yudhis itu tipe orang yang kalau dipaksa, dia akan semakin ngeyel. Buktinya Sandra? Bukan sekali dua kali tante Amara membujuk bang Yudhis untuk menjenguk Sandra. Tapi pada kenyataannya, semakin bang Yudhis dipaksa, dia akan semakin membangkang,” tutur Fatwa.


“Tapi ini kasusnya beda, Fat!” bantah aku. “Mungkin dulu tante Amara tidak punya alasan yang cukup kuat untuk menekan mas Yudhis. Tapi sekarang? Mas Yudhis dipenjara entah untuk berapa tahun, sedangkan perusahaan butuh mas Yudhis. Resti yakin, jika kita lakukan negosiasi dengan benar, tante Amara pasti akan membantu kita,” kataku.


“Terserah kamu saja, deh!” Fatwa terlihat pasrah menghadapi kekeraskepalaan aku.


Aku tersenyum penuh kemenangan. “Tapi, entar bantuin Resti ngomong, ya!” pintaku merayu.


“Hmm, ini yang paling aku nggak demen,” seloroh Fatwa.


Aku hanya terkekeh mendengar jawaban Fatwa.


Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Setelah semuanya tersaji, kami pun mulai menyantap makanan tersebut.


.


.


“Ayo dong Res! Dah telat nih … kamu, 'kan tahu kalau tante Amara itu orangnya disiplin waktu,” gerutu Fatwa.


“Iya-iya, kamu jadi cowok kok bawel amat sih!” Aku mendengus kesal. Tiba di halaman rumah, aku segera menaiki mobil Fatwa.


Setelah berpamitan, Fatwa mulai melajukan kendaraannya menuju kediaman tante Amara. Perjalanan kami lalui selama kurang lebih satu jam. Sesampainya di rumah mas Yudhis, Fatwa segera mengajak aku turun dan memasuki rumah besar itu.


"Silakan duduk! Sebentar, saya penggilkan ibu dulu,” ucap asisten rumah tangga keluarga tante Amara.


Tak lama berselang, wanita berusia lebih dari lima puluh tahun itu berjalan menghampiri kami.


“Ah, Chi Sayang … apa kabarmu, Nak?” sapa Tante Amara begitu tiba di hadapanku.


“Alhamdulillah, Chi baik, Tante,” jawabku.


“Syukurlah,” ucap Tante Amara. Sejenak dia menhampiri Fatwa dan memeluknya. “Terima kasih sudah mengajak Chi kemari,” bisik Tante Amara di telinga Fatwa.

__ADS_1


“Sama-sama, Tan,” jawab Fatwa.


Setelah berbasa-basi, kami pun duduk untuk mendiskusikan maksudku.


“Jadi, apa yang bisa Tante bantu, Nak?” tanya Tante Amara.


“Begini, Tan. Sebelumnya, Chi minta maaf jika Chi telah lancang berbicara seperti ini kepada Tante. Tapi, jujur saja Chi nggak punya pilihan lain,” ucapku.


Tante Amara terlihat kebingungan. Sepertinya, dia belum bisa mencerna ucapanku.


“Jadi begini Tan, Res bermaksud mencabut tuntutannya kepada Fatwa. Sebagai gantinya, Tolong Tante bujuk bang Yudhis agar dia mau bertanggung jawab kepada Citra dan anaknya. Dalam artian, bang Yudhis harus menikahi Citra,” tutur Fatwa tanpa basa-basi.


Begitulah pemikiran para pria, to the point!


Tante Amara cukup terkejut mendengar penuturan Fatwa. Sejenak dia termenung, mungkin sedang memikirkan apa yang baru saja Fatwa katakan. Namun, beberapa detik kemudian raut mukanya kembali terlihar sedih.


“Sebenarnya, Tante bukan tidak ingin membantu. Tapi, kamu sendiri tahu, ‘kan bagaimana sikap abang kamu. Tidak mudah untuk membujuk dia supaya mengikuti apa yang kita inginkan,” tutur Tante Amara.


Aku sedikit kecewa mendengar jawaban Tante Amara. Belum dicoba, tapi Tante Amara sudah menyerah.. ibarat kata, kalah sebelum berperang. Merasa tidak mungkin mendapat bantuan dari Tante Amara, akhirnya aku berpamitan kepada beliau.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Fatwa.


Aku bisa melihat dengan jelas jika Fatwa juga merasa kecewa dengan keputusan tante Amara. Aku menggedikkan bahu menanggapi pertanyaan Fatwa.


“Bagaimana jika kita menemui mas Yudhis dan bernegosiasi dengannya,” usulku kepada Fatwa.


Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya mendengar usulanku.


“Ayolah, Fat … please …” Aku kembali merajuk kepadanya.


“Res, bisa tidak, kamu melupakan urusan orang lain dan mulai fokus pada urusan diri kamu sendiri?” Fatwa malah mengalihkan pembicaraan.


“Memangnya, apa yang menjadi urusanku. Sepertinya, urusan aku tidak begitu penting,” gurauku pada Fatwa.


“Ish tidak penting bagaimana? Ingat, Neng … kamu itu masih utang tiga nilai pada dosenmu yang tampan ini,” jawab Fatwa narsis.


“Haish, bisa tidak sih, kamu tidak mengingatkan Res tentang hal itu?" Aku menggerutu kesal saat dosen itu mengingatkan aku tentang nilaiku yang hancur.


“Hahaha, ya sudah. Tapi biarkan aku yang bicara langsung sama bang Yudhis!”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2