
Kami semua melirik ke arah sumber suara yang menyuruh Rayya untuk membatalkan taksi online yang sudah dipesan.
“Loh, Zein? Kamu belum pulang?” tanyaku yang merasa heran saat mendapati Zein masih berada di tempat pemakaman ini.
“Belum, Kak,” jawab Zein.
Aku mengerti jika Zein masih berada di tempat ini. Mungkin bagi Zein, kepergian Citra menyisakan luka yang mendalam. Belum hilang luka yang almarhumah toreh untuk hatinya, kini Zein harus terluka kembali karena kepergian Citra dengan cara yang cukup tragis.
Zein turun dari mobilnya dan menghampiri kami. “Mari, Tan … saya antar sampai rumah,” kata Zein.
Mama melihatku sejenak, tapi saat aku menganggukan kepala, mama mau menerima ajakan Zein.
“Terima kasih loh, Nak Zein, sudah mau mengantarkan kami pulang,” kata mama.
“Iya, sama-sama, Tan,” jawab Zein. “Eh, ngomong-ngomong, Rayya masih semester berapa?” tanya Zein seraya menatap Rayya yang tengah duduk di belakang bersama mama.
“Memasuki semester enam, Kak,” jawab Rayya.
“Wah, nggak terasa ya, setahun lagi, lulus dong,” ucap Zein.
“Iya, Kak,” jawab Rayya, singkat.
Setelah semua ini, perjalanan pun kami lalui dengan keheningan. Mendapati jawaban-jawaban Rayya yang singkat, mungkin membuat Zein enggan bertanya lagi. Begitulah Rayya, dia memang terkesan cuek terhadap laki-laki.
Setengah jam kemudian, kami tiba di rumah. Aku berbasa-basi menawari Zein untuk masuk. Tetapi Zein menolaknya.
“Mungkin lain kali saj, Kak. Hari ini benar-benar cukup melelahkan. Lagi pula, Zein yakin kalau Kakak juga butuh istirahat dan ketenangan,” ucap Zein.
Ya, apa yang dikatakan Zein memang benar. Hari ini cukup banyak menguras emosi dan tenaga. Aku butuh istirahat dan menenangkan diri.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas tumpangannya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut dan jangan terlalu banyak melamun,” pesanku kepada Zein.
“Oke, Kakak. See you tomorrow!” kata Zein seraya melambaikan tangannya. Sejurus kemudian, dia melajukan kembali kendaraannya.
.
.
Setelah kepergian Citra, hari-hari yang dilalui di kampus terasa sepi. Tak ada lagi orang yang selalu menggangu kami dalam setiap tugas. Teman-teman yang lain pun merasa kehilangan sosok Citra yang memang selalu menghangatkan suasana kelas. Perlahan, gosip miring tentang Citra yang beberapa minggu lalu santer terdengar, kini mulai hilang. Seolah terkubur bersama jasadnya.
Minggu demi minggu berlalu menjadi bulan. Tanpa terasa, ujian akhir pun kembali menyapa. Belajar kali ini terasa berbeda. Tak ada lagi belajar sambil nongkrong di sebuah kafe ataupun coffee shop. Kini kami hanya melakukan belajar kelompok di rumah salah satu mahasiswa.
“Hari ini kita belajar di tempatnya Rahma, ‘kan, Kak?” tanya Zein.
“Iya, kesepakatannya sih kemarin begitu,” jawabku.
“Oke, nanti malam Zein bikin power point-nya dulu untuk bahan presentasi besok,” lanjut Zein.
__ADS_1
Aku tersenyum pada Zein. “Good job, Boy!” ucapku seraya mengacungkan dua jempol untuknya.
“Hmm, modus,” ledek Zein.
Aku tertawa. Ya, untuk urusan presentasi dan menjelaskan materi, aku mungkin bisa. Tapi untuk urusan IT, huh … sepertinya otakku sudah mulai kadaluwarsa.
Aku mulai membereskan modul-modul kampusku. Setelah itu berpamitan pulang kepada anak-anak.
“Mau Zein Antar, Kak Chi?” tawar Zein.
“Nggak usah, makasih Zein. Kakak ada urusan dulu sebentar,” jawabku.
“Oh, ya sudah,” ucap Zein.
Setelah berpamitan, aku pun mulai berjalan kaki menuju halte bus. Entah kenapa sore ini bus terlambat datang. Sudah hampir 30 menit aku menunggu bus, tapi belum datang juga. Aku mulai mengedarkan pandangan mengawasi jalanan yang mulai sepi.
Tiba-tiba, mataku terkunci pada sosok yang seolah tidak asing bagiku. Seorang pria berkacamata hitam dan mengenakan hoodie berwarna senada, sedang berdiri menyandarkan tubuhnya pada tiang listrik di depanku. Pandangannya seolah fokus menatapku. Di halte ini hanya ada aku, dan pria itu masih dengan asyiknya memandang ke arah halte bus.
Aku mulai beranjak dari halte untuk mencoba meyakinkan jika ini mungkin hanya dugaanku saja. Setelah berjalan kira-kira sejauh 50 meter, aku kembali mengedarkan pandangan untuk mencari sosok pria misterius itu. Tapi, tidak ada. Aku mengembuskan napas perlahan, ah syukurlah, ternyata ini cuma perasaanku saja.
Aku mulai mendaratkan bokong di bangku panjang tempat menunggu angkot. Tiba-tiba, seorang anak kecil penjual koran datang mendekati aku dan menyodorkan sekuntum bunga mawar merah.
“ini untuk Kakak,” ucap anak kecil itu.
“Apa ini, Dek?” tanyaku yang masih enggan menerima apa yang diulurkan oleh tangan mungil itu.
“Siapa yang memberikan ini pada kamu?” tanyaku lagi.
Anak kecil itu menunjuk ke arah pria yang sedang duduk di sebuah bangku di depan minimarket tak jauh dari tempat aku duduk.
Deg-deg-deg!
Jantungku mulai berpacu dengan cepat saat menyadari jika perawakan dan ciri-ciri dari laki-laki yang tengah duduk itu, sama persis dengan laki-laki misterius yang tadi memandangi aku di halte bus. Aku segera memalingkan wajah dan kembali menatap gadis kecil.
“Apa kamu tahu siapa dia?” tanyaku pada gadis itu.
“Tidak, Kak,” jawab gadis kecil itu.
Aku tersenyum seraya mengusap pipinya. “Terima kasih, ya,” kataku.
“Sama-sama,” jawab gadis kecil itu. Sejurus kemudian dia pergi dari hadapanku.
Beberapa detik setelah dia pergi, aku mulai membuka kartu ucapan yang berada di ujung tangkai bunga mawar itu. Jantungku kembali berdetak tak karuan saat membaca kata demi kata dalam kartu ucapan tersebut.
I love you
Segera aku lemparkan kartu itu beserta bunga mawar yang aku pegang di tangan kiriku. Sejurus kemudian, aku kembali menatap pria itu. Sebuah senyum menyeringai aku lihat di wajahnya. Hoodie dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya membuat aku sulit mengenali siapa laki-laki itu.
__ADS_1
Merasa terancam, akhirnya aku segera pergi dari sana. Beruntung sebuah ojek online tengah melintas di hadapanku. aku segera menghentikannya.
“Mohon maaf tidak memakai aplikasi, tapi ini sangat mendesak sekali. Bisa kau antarkan saya ke perumahan Griya Residen!” pintaku kepada pengemudi ojek online tersebut.
“Siap, Mbak. Bisa banget,” jawabnya.
Aku segera menaiki ojek online itu dan meminta abangnya melajukan kendaraan dengan cepat. Meskipun aku lihat dahinya sedikit berkerut, tapi itu tidak membuat si abang banyak bertanya. Yang penting tarikan lancar. Mungkin itu yang ada di pikiran si abang.
Tiba di rumah, aku segera mengunci pintu dan meminta orang rumah untuk tidak membukakan pintu pada orang yang tidak dikenal. Melihat raut wajahku yang mungkin tidak seperti biasanya, mama dan Rayya hanya mengernyitkan kening.
“Kamu kenapa sih, Kak?” tanya mama.
“Tahu, heboh banget,” timpal Rayya.
“Ish, pokoknya pintu rumah ini harus tetap terkunci, jangan pernah membukakan pintu untuk orang yang tidak kita kenal sama sekali. Terutama laki-laki. Titik!” pesanku penuh ketegasan.
.
.
Keesokan harinya, seperti biasa aku melakukan rutinitas kerjaku. Hari ini jadwalku cukup padat. Pulang ngajar nanti, aku harus bekerja kelompok untuk menyusun tugas akhir mata kuliah.
“Bu Res, tadi ada titipan tuh, tapi sudah saya simpan di meja Bu Resti,” ucap Bu Fina begitu aku tiba di ruang guru.
“Oh, ya. Dari siapa, Bu?” tanyaku lagi.
“Dari orang tua murid,” jawab Bu Fina.
“Oh, baiklah. Terima kasih, Bu,” kataku.
“Sama-sama,” jawab Bu Fina.
Setelah bel berbunyi, aku segera beranjak dari kursi guru, menuju kelas.
“Selamat pagi anak-anak!” sapaku begitu memasuki kelas.
“Pagi, Bu!” jawab para peserta didikku.
Saat aku hendak menyimpan tas di meja, tiba-tiba pandanganku terkunci pada bunga mawar yang tergeletak di atas meja. Ish, apa ini bunga yang sama? batinku. Segera aku ambil kartu ucapan yang tergeletak di samping bunga tersebut.
I love you.
Kembali aku lempar kedua benda itu ke tong sampah yang berada di samping meja kerjaku. Ya Tuhan, Bunga yang sama, kartu ucapan yang sama dan tulisan yang sama. Siapa kira-kira pelaku teror bunga mawar merah itu?
“Bu Res?!”
Bersambung
__ADS_1