
Aku menutup mata dan telinga, saat bunyi suara tembakan keluar dari ujung senapan yang dipegang Anneu. Saat ini, aku benar-benar memasrahkan hidupku pada Sang Maha Pemilik. Mungkin, takdir hidupku hanya sampai di sini. Sesaat, bayangan Mama dan Rayya muncul dalam benakku. Ah, entah apa yang akan terjadi kepada mereka, saat mereka mendengar kabar kematianku.
“Aaarghh!”
Aku terhenyak begitu mendengar suara laki-laki berteriak sangat keras.
Brugh!
Bunyi orang terjatuh pun begitu jelas terdengar di hadapanku.
“Fa-fatwa!” teriak Anneu.
Apa?! Fatwa?
Aku terkejut saat Anneu meneriakkan nama laki-laki itu. Aku membuka mata dan hanya bisa terpaku saat melihat laki-laki yang kurindukan telah tersungkur di atas tanah dengan bersimbah darah.
"Fatwa,” ucapku lirih.
Begitu tersadar jika dia memang Fatwa, aku segera berlari dan menjatuhkan diri di samping Fatwa.
“A-apa yang kamu lakukan, Fat?” tanyaku dengan bibir bergetar.
Fatwa tampak membuka matanya. Tangan kanannya memegang dada kiri yang terus mengeluarkan darah. Sebersit senyum terukir di bibirnya.
“A-pa ka-bar, Re-res?” tanya Fatwa dengan napas tersengal.
“Sudah, jangan banyak bicara. Res mohon, berikan ponselmu, biar Res hubungi ambulan,”ucapku masih dengan bibir bergetar. Tanpa sadar, aku menggeledah saku jas Fatwa dan mengambil ponselnya. Tapi, tiba-tiba ….
Prak!
Anneu menendang tanganku hingga ponsel itu terlempar cukup jauh.
Aku mendongak dan menatapnya. “Apa-apaan kamu?” teriakku.
Sedetik kemudian, aku mencoba berdiri untuk mengambil benda pipih yang tergeletak beberapa meter dari hadapanku.
Anneu kembali menarik tanganku. Dia terus menyeret aku hingga kami tiba di tepi jurang yang cukup dalam.
"Ish, lepaskan aku!” teriakku kepada Anneu.
“Tidak! Jangan harap aku akan melepaskan kamu, wanita laknat!” Anneu membalas teriakan aku.
“Cukup Neu! Apa kamu tidak lihat jika Fatwa sedang terluka? Kita harus menolongnya. Aku mohon, cepat lakukan sesuatu!” pintaku kepada Anneu.
"Tentu saja aku akan menolongnya, tapi nanti … setelah urusan kita selesai,” ucap Anneu.
“Kau gila!” bentakku, “Dia bakalan meninggal jika kamu tidak segera menolongnya, apa kau sadar itu?” teriakku yang sudah tak bisa mentolelir sikap Anneu.
Aku mencoba melepaskan cengkeraman tangan Anneu di pergelangan tanganku. Tapi tenaga Anne terlalu kuat. Aku terus meronta dan menari-narik tanganku, tapi tetap saja tak membuahkan hasil. Semakin aku meronta, semakin kuat pula Anneu mencengkeram pergelangan tangan hingga kuku-kukunya menancap di kulit tanganku.
“Lepaskan Dia!” tiba-tiba suara bariton seseorang terdengar menggelegar di dalam hutan yang mulai sepi. Sontak kami melirik ke arah sumber suara.
__ADS_1
“Bang Rizal," gumam aku dan Anneu bersamaan.
“Aku bilang, lepaskan dia Neu!” Kembali Bang Rizal memberika perintahnya.
“Wah-wah-wah … rupanya ada yang mau jadi pahlawan kesiangan, hehehe…” Bukannya melepaskan aku, Anneu malah mengejek Bang Rizal.
“Jangan hiraukan Chi, Bang! Tolong saja Fatwa, dia sudah banyak kehilangan darah. Chi, mohon!” teriakku kepada Bang Rizal.
Kulihat, Bang Rizal melirik Fatwa sekilas. Senyum menyeringai terukir di bibirnya. Namun, di detik selanjutnya, Bang Rizal malah kembali fokus pada kami yang tengah berada di tepi jurang. Dia mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati kami.
“Jangan mendekat!” teriak Anneu.
Bang Rizal tidak menggubris perintah Anneu. Dia terus berjalan ke arah kami.
“Berhenti! Aku bilang berhenti! Jangan mendekat lagi, kalau tidak …” Anneu menjeda kalimatnya.
“Kalau tidak?” tanya Bang Rizal seolah menantang Anneu.
“Aaah!” Aku berteriak saat Anneu semakin menjorokkan tubuhku ke tepi jurang.
“Jangan nekat kamu, Neu!” teriak Bang Rizal.
“Hahaha, rupanya kamu sangat peduli sama kekasih gelap kamu, Zal,” seru Anneu, menyeringai.
“Cukup, Neu! Lepaskan dia!” teriak Bang Rizal.
“Nggak! Aku nggak akan pernah lepasin wanita laknat ini. Aku harus menghukumnya, Zal. Dia telah mengambil Fatwa dariku. Aku harus menyingkirkannya. Harus, Zal!” racau Anneu seraya terus mendorong tubuhku semakin menjorok ke tepi jurang.
Hmm, sepertinya Bang Rizal sedang mengulur waktu untuk mencari kelengahan Anneu.
“Sudah tidak ada yang bisa dibicarakan lagi, Zal. Semua orang sudah tidak peduli lagi padaku,” ucap Anneu, lirih.
“Enggak, Neu. Itu enggak benar, semua orang begitu peduli padamu. Termasuk aku dan Maira. Aku mohon, jangan bertindak gegabah, Neu. Maira sangat membutuhkan kamu,” kata Bang Rizal semakin mendekati kami.
Bang Rizal masih berusaha untuk mengalihkan perhatian Anneu. Dia terus mengajak Anneu berbicara, sementara tangannya mulai terulur untuk meraih tanganku.
Namun, Anneu menyadari semua usaha Bang Rizal untuk menyelamatkan aku. Sesaat kemudian, dia kembali menarik kedua bahuku. Tapi Bang Rizal berhasil menyambar tangan kananku. Sedetik kemudian, dia menarik tanganku dengan keras hingga aku berhasil terlepas dari cengkeraman Anneu.
Nahasnya, Anneu menginjak batu yang berukuran kepalan tangan hingga akhirnya dia terpeleset.
“Anneu, awas!” teriak Bang Rizal meraih tangan Anneu.
Tapi Rupanya, Anneu sudah tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Sepersekian detik saat tangan Bang Rizal menggenggam tangan Anneu, tubuh Bang Rizal pun ikut tertarik.
“Aaaahh!”
Untuk beberapa detik, hanya lengkingan suara mereka yang terdengar menggema di udara, diiringi kepakan sayap burung yang beterbangan.
“Astagfirullahaladzim!”
Aku memekik keras melihat pasangan itu terjatuh ke jurang yang cukup dalam. Seketika kedua lututku terasa lemas. Aku mulai limbung, dan ….
__ADS_1
Brugh!
Tubuhku jatuh terkulai lemah di atas tanah. Untuk beberapa detik, aku hanya membisu, menatap nanar ke tepi jurang tempat di mana pasangan suami istri itu jatuh.
Wiu…wiu…wiu…
Tiba-tiba terdengar bunyi sirine mobil polisi mendekati tempat di mana aku berada saat ini. sejurus kemudian, mobil itu berhenti.
“Angkat tangan!” teriak salah seorang polisi kepadaku.
Aku hanya bergeming tanpa mengikuti perintah pak polisi itu. jangankan untuk mengangkat tangan, tubuhku saja sudah tak berdaya.
“Ndan, sepertinya ada korban!” teriak seorang polisi yang seketika menyadarkan aku pada kondisi Fatwa.
Sekuat tenaga aku bangkit dan kembali menghambur ke arah Fatwa.
“Jangan mendekat!” teriak polisi itu lagi.
Jujur, aku sendiri tidak paham kenapa polisi bisa ada di sini sekarang. Tapi aku mencoba mengabaikan semua itu. Fokus aku hanya satu, yaitu menyelamatkan Fatwa.
“Aku mohon, Pak. Dia temanku … tolong selamatkan dia!" pintaku kepada polisi yang mencegah langkahku.
"Kami sudah menghubungi ambulan. Sebaiknya, Nona tenanglah dulu,” ucap salah satu polisi yang dilihat dari raut wajahnya, dia adalah polisi senior.
“Apa Anda tahu, siapa yang telah mencelakai korban?” tanya polisi itu.
Aku mengangguk.
Polisi yang bertanya terlihat mengedarkan pandangannya. Dahinya sedikit mengernyit saat dia tidak menemukan siapa-siapa lagi selain aku dan Fatwa yang masih tergeletak.
"Di mana pelakunya, Nona?” tanya polisi itu.
“Me-mereka ja-jatuh ke dalam jurang sana, Pak!” Tunjuk aku ke tepi jurang.
Polisi itu terkejut mendengar ucapanku. Sejurus kemudian, dia meminta anak buahnya untuk melihat lokasi.
“Jurangnya terlalu dalam, Ndan. Kami tidak bisa melihatnya,” teriak salah satu polisi yang diberikan perintah tadi.
“Bentuk tim dan segera lakukan pencarian!” teriak komandan polisi.
Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil ambulan tiba di lokasi. Dengan sigap, para tim medis itu memindahkan Fatwa ke atas brankar dan segera membawanya ke dalam mobil ambulan.
“Bo-bolehkah saya menemani teman saya di mobil ambulan?” pintaku kepada komandan polisi.
“Maaf, Nona. Sebaiknya Nona ikut bersama kami untuk dimintai keterangan,” ucap komandan polisi.
“Lalu, korban yang lainnya? Terdapat sepasang suami istri yang jatuh ke dalam jurang, Pak” Aku melaporkan apa yang aku tahu kepada komandan polisi tersebut.
“Anda tidak usah khawatir. Sore Ini juga, tim kami akan melakukan pencarian terhadap korban,” ucap komandan polisi.
Aku mengangguk. Setelah mobil ambulan pergi, aku mengikuti komandan polisi itu memasuki mobil patroli. Tiba di dalam mobil, aku langsung menyandarkan punggungku. Tragedi senja hari ini, sungguh membuat jiwa dan ragaku terasa lelah.
__ADS_1
Bersambung