
Seminggu telah berlalu. Sejak bang Rizal membawaku keluar rumah untuk pertama dan yang terakhir kali, sejak saat itu pula kelonggaran aku dapatkan.
Ya, bang rizal mulai memberikan aku ruang untuk keluar kamar, meski hanya sebatas memasuki ruang tamu, ruang keluarga, dapur, taman baca, tempat gym dan taman bunga.
Pagar di rumah ini menjulang sangat tinggi, karena itu aku tidak tahu penampakan di luar seperti apa. Terlebih lagi, begitu banyak penjaga keamanan yang selalu mengawasi tindak-tandukku setiap waktu. Kalau begini caranya, huh … sama saja bohong.
.
.
Suasana senja di hari Sabtu. Entah kenapa, lambat laun aku semakin nyaman tinggal di tempat ini. Terlebih lagi saat senja menyapa, aku mulai terbiasa menikmati waktu senjaku di kebun belakang. Hamparan bunga mawar berwarna putih begitu sedap dipandang mata. Semerbak harumnya pun sangat memanjakan indera penciumanku. Tiba-tiba….
“Bunaaa!” teriak seorang anak kecil.
Brugh!
Seseorang menabrak aku dari belakang. Tangan mungilnya memeluk erat pinggangku meski tak sampai. Sontak aku membalikkan badan. Anak kecil itu mendongak menampakkan binar kedua bola matanya yang bening.
“Hayo Buna, Maila tangen cama Buna,” ucapnya cadel.
Aku mengernyit. Jika aku tidak salah lihat, wajah ini adalah wajah yang pernah diperlihatkan bang Rizal melalui pas foto berukuran 2R. Apa mungkin dia anaknya bang Rizal dan Anneu?
“Buna, tenapa Buna diam. Buna nggak cenang tetemu Maila?” tanya anak itu lagi.
Aku berjongkok untuk mensejajarkan tubuhku dengannya. “Kamu siapa, Nak? Datang ke sini sama siapa?” tanyaku, hanya ingin memastikan saja, siapa anak itu sebenarnya.
“Maila … Ayah, tuh!”
Anak itu menunjuk kepada sosok pria yang sedang berjalan ke arah kami. Hmm, rupanya memang benar, dia anaknya Bang Rizal.
“Maira mandi dulu sama Bik Ida, ya. Ayah mau bicara sama Bundanya Maira,” ucap Bang Rizal sambil menggendong anaknya.
Tak berapa lama, Ida datang untuk mengambil alih Maira dari tangan Bang Rizal. Untungnya, anak itu penurut sekali. Dia sama sekali tidak meronta saat Ida menggendong dan membawanya pergi.
Aku menatap Bang Rizal. “Apa maksudnya ini, Bang?” tanyaku.
__ADS_1
“Abang mengambil Maira dari orang tua Anneu?” jawab Bang Rizal seraya mendaratkan bokongnya di bangku taman.
“Tapi kenapa?” tanyaku.
“Mereka hendak pindah ke kampung halamannya. Abang tidak akan sanggup harus berpisah jauh dari Maira,” jawab Bang Rizal.
“Memangnya, di mana kampung halaman orang tua Anneu?” tanyaku.
“Sumatera,” jawab Bang Rizal.
“Lalu ibunya?” tanyaku lagi.
“Entahlah,” jawab Bang Rizal.
Aku mengernyit. Kok entahlah, Bang? Memangnya Anneu ke mana?” tanyaku lagi.
“Abang tidak tahu, Chi,” jawab Bang Rizal.
“Kok aneh sih, Bang. Jadi, Anneu tidak tahu kalau Abang telah mebawa anaknya kemari?” tanyaku lagi.
“Ish, anak seperti apa dia,” dengusku kesal. “Lalu Maira, kenapa dia memanggil Chi Bunda? Apa dia juga tidak mengenali bundanya sendiri?” tanyaku, asal tebak.
“Hmm, tebakan kamu benar sekali, Chi. Sejak kecil, Maira tidak pernah mengenal sosok ibu. Anneu tidak ingin mengakui dia sebagai anaknya. Maira sendiri hanya mengetahui Anneu sebagai tantenya, karena Anneu yang mengenalkan dirinya sebagai tante kepada Maira,” tutur Bang Rizal.
“Aish … kok ada ibu yang tega seperti itu,” ucapku semakin kesal.
“Banyak, Chi … dan salah satunya adalah Anneu,” tukas Bang Rizal. “Sudah sore, sebaiknya kita masuk,” ajak Bang Rizal seraya beranjak dari tempatnya.
“Abang duluan saja. Chi masih ingin tinggal di sini,” jawabku.
“Ya sudah.”
Bang rizal meninggalkan aku sendirian di taman ini. Ah, entahlah … semakin hari, pikiranku semakin kacau. Hidupku semakin terasa hambar. Hidup segan mati tak mau, mungkin seperti itulah gambaran kehidupanku saat ini.
Bayangan mama dan Rayya pun semakin memudar. Entah kenapa, hatiku semakin terasa hampa. Lalu anak itu? Apa yang harus aku lakukan dengan anak itu, jika memang Bang Rizal akan meninggalkannya di sini?
__ADS_1
Ish, kenapa pikiranku sudah sejauh ini. Hmm, semoga saja, dia hanya singgah di sini dan Bang Rizal kembali membawanya pergi. Atau kalau tidak, penderitaan aku akan semakin lengkap.
.
.
Dan, rupanya takdir berkata lain. Dugaanku ternyata benar. Bang Rizal meninggalkan anak itu di rumah ini. Mau tidak mau, aku dan Ida-lah yang setiap hari bergantian mengasuh anak itu.
Sudah hampir sepekan Maira tinggal di sini. Semakin hari, gerakannya semakin lincah saja. Kadang, aku dan Ida dibuat tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah lucunya.
Pada akhirnya aku tersadar, kehadiran Maira di rumah ini tidak terlalu buruk juga. Rumah terasa semakin ramai, meski komunikasi aku memang masih sangat dibatasi. Tak ada televisi digital, tak ada ponsel yang aku pegang. Semua perkembangan Maira, hanya Ida yang berhak melaporkan. Meski ada Maira, tapi bang Rizal masih tidak mempercayai aku untuk memegang alat komunikasi.
“Nona, kenapa Nona tidak mencoba untuk membuka hati dan menerima Tuan Rizal? Bukankah selama ini Tuan Rizal selalu bersikap baik dan sangat menghormati Nona?” tanya Ida saat kami berada di taman untuk mengasuh Maira.
“Entahlah, Da. Aku sendiri bahkan tidak pernah bisa mengerti dengan apa yang aku rasakan,” jawabku.
“Lihatlah Maira, Nona! Apa Nona tidak ingin memberikan kasih sayang sebagai ibu untuknya? Ida lihat, dia sangat dekat dengan Nona. Apa Nona tega membiarkan Maira terus memiliki harapan palsu dengan menganggap Nona sebagai ibunya? Apa jadinya Maira, jika suatu hari nanti Nona pergi dari sini?” tutur Ida.
“Hmm, apa aku bisa pergi dari sini, Da? Aku rasa, aku akan selamanya terkurung di rumah ini. Bukankah kamu sendiri tahu, jika Bang Rizal masih akan tetap mengurungku sampai aku mau menikah dengannya,” jawabku.
“Kalau begitu, kenapa Nona tidak mencoba berdamai dengan keadaan? Cobalah untuk membuka hati Nona. Demi Maira, dan demi ketenangan batin Nona sendiri,” ucap Ida memberikan nasihat padaku.
“Tapi bagaimana dengan perasaanku, Da? Aku sama sekali tidak memiliki perasaan untuk bang Rizal, apalagi perasaan cinta,” tukasku.
“Ish, Nona. Pepatah jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa. Ya, terbiasa karena kebersamaan, karena berinteraksi, karena terus-terusan bertemu. Ida yakin, Nona Chi pasti lama-lama bisa mencintai Tuan Rizal dengan tulus,” ucap Ida.
Aku tersenyum mendengar perkataan Ida. Ya, itu mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Tapi masalahnya, saat ini aku belum bisa terbiasa untuk menerima bang Rizal. Entah jika suatu hari nanti. Namun yang pasti, jika takdirku memang bersama bang Rizal, aku akan mencoba belajar membuka hati untuk ikhlas menerimanya.
“Sudah asar, Da. Sebaiknya kita bawa Maira masuk,” ucapku pada Ida.
Aku menghampiri gadis kecil yang sedang bermain pasir. “Ayo Maira, kita mandi sama Bunda!” ajakku seraya menggendong gadis kecil itu.
Aku melangkahkan kaki untuk masuk ke rumah. Namun, tiba-tiba ….
Plak!
__ADS_1
Bersambung