
Pukul 8 pagi, Rayya tiba di kantor polisi setempat. "Assalamu'alaikum! Permisi!" sapa Rayya begitu tiba di depan kantor polisi.
"Wa'alaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya polisi penjaga di sana.
"Saya ingin melaporkan orang hilang, Pak. Apa Bapak bisa membantu saya?" tanya Rayya lagi.
"Oh, bisa banget, Mbak. Sekarang, silakan Mbak menuju meja sana!" Tunjuk polisi penjaga ke bagian pelayanan pengaduan masyarakat.
Rayya mengikuti arahan polisi penjaga. Sejurus kemudian, dia tiba di meja layanan pengaduan masyarakat.
"Permisi Pak, saya ingin membuat laporan orang hilang," ucap Rayya.
"Oh iya, silakan duduk Mbak," jawab polisi yang diketahui dari papan namanya bernama Basith.
Rayya menarik kursi plastik yang berada di depan meja pengaduan, setelah itu dia menduduki kursi tersebut.
"Jadi, siapa yang hendak Mbak laporkan. Ayah, ibu, anak, kerabat?" tanya Pak Basith.
"Tepatnya, kakak perempuan saya, Pak," jawab Rayya.
"Oh, begitu ya. Usianya berapa tahun?" tanya Pak Basith lagi.
"Sekitar 24 tahun, Pak," jawab Rayya.
"Apa Mbak memiliki bukti kekerabatan?" Kembali Pak Basith bertanya.
"Maksud Bapak bukti kekerabatan itu, seperti apa ya? Maaf, saya kurang paham, Pak," tukas Rayya.
"Maksud saya, semacam dokumen yang menyatakan tentang hubungan Mbak dengan orang hilang tersebut. Yaa, misalnya fotokopi Kartu Keluarga, gitu," balas Pak Basith.
"Oh, ada Pak. Sebentar!" Rayya kemudian membuka tas ranselnya dan mengeluarkan selembar fotokopi Kartu Keluarga dan juga dua lembar foto. Foto yang pertama adalah foto keluarga antara dirinya, sang kakak dan ibunya. Sedangkan foto yang kedua adalah foto kakaknya sendiri.
"Octora Resttyani," gumam Pak Basith, "jadi, kakak perempuan Mbak bernama Octora Resttyani, benar begitu?" tanya Pak Basith.
"Iya, benar Pak," jawab Rayya.
"Kapan terakhir kali Mbak melihatnya?" tanya Pak Basith lagi.
"Kemarin pagi, Pak," jawab Rayya.
__ADS_1
"Bisakah Mbak menceritakan kronologi kejadian sebelum kakak Mbak menghilang?" Kembali Pak Basith bertanya.
"Bisa, Pak," jawab Rayya.
Rayya kemudian menceritakan awal mula sang kakak menghilang. Tak lupa dia juga menceritakan pengaduan tukang ojek online yang membawa kakaknya dan mengalami pembegalan di tengah jalan.
Selama Rayya bercerita, Pak Basith mendengarkan sambil mengetik intisari laporan Rayya. Selesai bercerita, Pak Basith pun menyerahkan selembar kertas yang harus Rayya tanda tangani.
"Apa ini, Pak?" tanya Rayya yang merasa heran ketika dirinya diminta untuk menandatangani kertas tersebut.
"Ini bukti laporan Mbak atas kasus hilangnya kakak Mbak. Setelah Mbak menandatangani surat keterangan kehilangan anggota keluarga, maka kami akan menindaklanjuti laporan Mbak dengan cara memproses laporan dan juga penyelidikan ke tempat kejadian perkara," tutur Pak Basith menjelaskan prosedural laporan orang hilang.
"Oh, baiklah kalau begitu. Tapi, pasti ya Pak, pihak kepolisian akan membantu mencari kakak saya?" tukas Rayya.
"Insya Allah, Mbak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari kakak Mbak," jawab Pak Basith.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu!" pamit Rayya.
.
.
.
.
Fatwa yang terus membulati angka di dalam kalender, tersenyum tipis saat bulatan balpoin merahnya jatuh di tanggal 23 bulan Mei.
"Hmm, hari ini adalah hari kelulusan, Resti. Aku pernah berjanji untuk datang di hari kelulusannya. Namun, bagaimana dengan perjanjian aku sama bang Yudhis. Jika dia melihatku di kampus Resti, tidak menutup kemungkinan bang Yudhis akan menyalahartikan kedatanganku. Uuh, benar-benar pilihan yang menyebalkan," gerutu Fatwa seraya memandangi dirinya di depan cermin.
"Dasar laki-laki pengecut!" bisik kata hati Fatwa tepat di telinganya.
Ya, sepertinya predikat itu memang pantas untukku. Mengingat aku lebih memilih menjauhi Resti daripada mengakui perasaanku sendiri. Namun, bukankah semua ini aku lakukan demi kebaikan dirinya juga? batin Fatwa seolah mencari pembenaran.
Kata hati Fatwa terus berperang antara menghadiri kelulusan wanita pujaannya atau tidak. Dan pada akhirnya, ketika cinta tak mampu mengukur logika, hatinyalah yang menang.
Fatwa segera beranjak dari depan cermin menuju walk in closet untuk berganti pakaian. "Tak apa aku melanggar janjiku pada bang Yudhis, asalkan aku bisa menepati janjiku kepada Resti. Ya, aku akan hadir di hari kelulusannya meskipun harus dari jarak yang tak terlihat olehnya," gumam Fatwa.
Setelah berpakaian cukup rapi, Fatwa mengeluarkan mobil kesayangannya dari garasi. Sejurus kemudian, dia pun melajukan mobilnya untuk pergi ke kampus Resti.
__ADS_1
Setelah melewati perjalanan selama satu jam, Fatwa akhirnya tiba di kampus tempat dia mengajar dulu. Dari kejauhan, Fatwa memperhatikan satu per satu para mahasiswa dan mahasiswi yang memasuki gerbang kampus. Namun, dia belum melihat wanita pujaannya melewati gerbang itu.
Seolah tak ingin berkedip, Fatwa terus menatap gerbang itu dengan seksama. Akan tetapi, tetap saja dia tidak melihat wanita yang selalu menggeraikan rambut hitam legamnya itu.
Sayup-sayup, Fatwa mendengar rektor kampus berbicara di podium. Setelah memberikan sambutan yang cukup lama, pernyataan mahasiswa lulus 100% kecuali Octora Resttyani pun terdengar hingga ke telinga Fatwa yang sedang duduk di balik kemudi. Fatwa terkejut, seketika otaknya berputar mencoba mengingat kemungkinan wanita itu tidak lulus.
Ish, ada apa dengannya? Bukankah sebelum pergi aku telah memberikan nilai yang sempurna untuknya? Apa dosen penggantiku tidak memperbarui nilai mata kuliahku? batin Fatwa.
Hingga tak lama berselang, terdengar lagi rektor berbicara tentang do'a yang dia pinta untuk keselamatan Resti.
"Astaghfirullah! Ada apa dengan wanita itu? Kenapa semua orang terlihat khusu mendo'akan keselamatannya?" gumam Fatwa.
Rasanya, Fatwa ingin waktu segera bergulir. Dia sangat penasaran dengan berita tentang wanita itu yang sayup-sayup hanya terdengar sebagian.
Ya Tuhan ... Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini? Apa yang terjadi pada Resti? Dan ke mana dia? Kembali Fatwa bermonolog dalam hatinya.
Semua para mahasiswa dan mahasiswi kampus Universitas Terbuka itu tampak riuh menyambut hari kelulusannya. Tiba-tiba, Fatwa melihat seorang pemuda yang melipir dari kerumunan para mahasiswa. Dengan wajah murung, pemuda itu berjalan lesu menuju tempat parkiran motor.
"Zein?" gumam Fatwa.
Fatwa segera membuka pintu mobilnya. "Zein, tunggu!" teriak Fatwa saat melihat Zein mulai mengeluarkan motornya melewati gerbang kampus.
Merasa ada yang memanggil, Zein pun menghentikan laju motornya. Sejenak, dia menoleh ke belakang. Zein begitu terkejut saat Fatwa –dosen yang pernah mengajarnya– tengah melambaikan tangan kepadanya. Sejurus kemudian, Zein menepikan motornya.
"Pak Fatwa! Apa kabar?" sapa Zein begitu Fatwa mendekatinya.
"Alhamdulillah, kabar saya baik Zein. Kamu sendiri?" tanya Fatwa.
"Zein juga baik, Pak," jawab Zein.
"Oh iya, Zein. Tadi, nggak sengaja saya dengar tentang rektor yang meminta do'a keselamatan untuk Resti. Memangnya, ada apa dengan Resti?" tanya Fatwa yang rasa penasarannya sudah semakin membuncah.
"Loh, memangnya Bapak belum mendengar kabar tentang kak Chi?" Dengan wajah terkejut, Zein malah balik bertanya kepada Fatwa.
"Memangnya, ada kabar apa tentang Resti?" tanya Fatwa lagi semakin penasaran.
"Kak Chi hilang, dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya," jawab Zein.
"Apa?!
__ADS_1
Bersambung