My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Kunjungan Mama dan Rayya


__ADS_3

Mendengar ucapan Ida, aku merasa kasihan kepada mereka. Aku memutuskan untuk memesan taksi online yang akan mengantarkan Ida sampai di terminal. Ya, mungkin bantuan aku ini tidak seberapa, tapi aku yakin Ida sangat membutuhkannya. Setidaknya, dia bisa menghemat puluhan ribu rupiah jika aku pesan dan aku bayar taksi online untuknya. Ya, hitung-hitung wujud terima kasih aku saat dia sudah melayani aku dengan baik waktu disekap bang Rizal dulu. Namun, rupanya Zein sudah mendahului niat baiknya. Dia pun menawarkan diri untuk mengantar Ida dan ayahnya sampai ke terminal Garut.


Sejenak, Ida melirik aku saat mendengar tawaran Zein. Tersirat keraguan di raut wajahnya. Aku menyentuh bahu Ida seraya menganggukkan kepala untuk meyakinkan Ida, agar dia menerima tawaran dari Zein.


"Apa tidak merepotkan, Mas?" tanya Ida kepada Zein.


"Kalau merepotkan, aku tidak akan pernah menawari kamu tumpangan," sahut Zein sedikit judes.


Ya, Zein memang seperti itu orangnya. Dia laki-laki yang begitu acuh dan terkesan sombong untuk orang yang pertama kali mengenalnya.


"Sudah, ayo naik! Jangan biarkan waktu terbuang percuma demi hal kecil seperti ini," ucapku seraya mendorong tubuh Ida agar menaiki mobil sedan berwarna maroon tersebut.


Ida menurut. Dia kemudian menggandeng tangan ayahnya untuk menaiki mobil Zein. Namun, sebelumnya Zein membantu ayahnya Ida untuk memasukkan koper ke bagasi mobil.


Aku memangku Maira dan duduk di samping Zein. Anak itu terlihat anteng memainkan boneka Barbie-nya. Sesekali dia mendongak dan mencium pipiku. "Maila cayang Buna," ucapnya cadel. Zein hanya mengulum senyum melihat tingkah anak kecil itu.


Satu jam kemudian, kami tiba di terminal Garut. Aku mengantarkan Ida dan ayahnya menuju tempat bus jurusan Sukabumi. Beruntungnya, bus itu belum berangkat. Akhirnya Ida dan ayahnya menaiki bus tersebut.


Setelah bus meluncur pergi. Aku dan Zein kembali menaiki mobil. Sebelum pergi ke rumah sakit, Zein mengajak kami ke sebuah restoran untuk makan siang, ya meskipun waktu sudah memasuki waktu asar.


Di restoran, Maira terlihat begitu senang. Terdapat sebuah aquarium besar yang berisi ribuan ikan kecil berwarna-warni. Celotehan Maira tentang ikan-ikan tersebut, terdengar sangat riang. Aku pun tak kuasa menahan tawa saat melihat dia mengajak ngobrol ikan-ikan kecil tersebut.


Beberapa menit kemudian, pesanan kami pun datang.


"Maira, sini makan dulu, Nak!" panggilku.


Maira berlari kecil menuju meja yang aku dan Zein duduki. Sejurus kemudian, dengan cekatan dia menaiki kursi yang berada di sampingku. Dia kemudian mulai menyendok nasi yang berada di depannya. Maira makan begitu lahapnya. Sesekali, dia melempar senyum seraya mengecup pipiku. Bibirnya yang belepotan kuah sayur, terus menempel di pipi. Aku pun semakin gemas dibuatnya.


Selesai makan, kami kembali menaiki mobil untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Di dalam perjalanan, obrolan tentang Fatwa dimulai.


"Kak, apa tidak sebaiknya kita pindahkan pak Fatwa ke rumah sakit Ciamis. Supaya Kakak bisa kembali masuk kerja. Lagi pula, di sana pun alat-alat medisnya cukup lengkap," ujar Zein membuka percakapan.


"Iya, Zein. Kakak juga berpikir seperti itu," jawabku.


"Ya, kalau pak Fatwa berada di rumah sakit sana, minimal kita bisa gantian sama Rayya buat nungguin pak Fatwa kalau kakak lagi berangkat kerja," timpal Zein.

__ADS_1


"Benar juga, Zein. Ya sudah, nanti kita tanyakan dokternya. Mudah-mudahan Fatwa bisa dipindahkan," jawabku.


Pukul 17.00, mobil Zein memasuki halaman parkir rumah sakit. Setelah itu, kami memasuki lobi rumah sakit. Tiba-tiba saja, seorang penjaga keamanan menghampiri kami.


"Maaf, Mbak. Anak kecil dilarang masuk," tegur penjaga keamanan itu.


Sejenak, aku dan Zein saling pandang. Bingung harus berbuat apa.


"Tapi maaf, Pak. Saya tidak bisa meninggalkan anak ini di sini," jawabku.


"Saya mengerti. Tapi, Anda sudah paham, 'kan kalau dilarang membawa anak kecil ke rumah sakit? Lalu, kenapa Anda nekat membawanya," balas penjaga keamanan itu.


"Bisa kita bicara sebentar, Pak?" tanya Zein.


"Ba-baiklah," jawab penjaga keamanan itu dengan wajah yang kebingungan.


"Kira-kira, di mana ya, tempat yang enak buat ngobrol, Pak?" tanya Zein seraya mengedarkan pandangannya untuk menemukan tempat yang cocok buat ngobrol.


"Di ruangan saya saja," jawab penjaga keamanan itu seraya melangkahkan kakinya menuju pos penjagaan.


Zein kemudian mengikuti penjaga keamanan tersebut. Sedangkan aku pergi menuju sofa lobi dan menunggu Zein di sana.


"Bunda mau jagain temen Bunda yang lagi sakit. Maira nggak keberatan, 'kan, temani Bunda dulu di sini?" jawabku.


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Aku dan Maira cukup lama menunggu di lobi. Berbagai permainan tangan sudah kami lakukan. Namun, Zein belum kelihatan juga batang hidungnya. Ish, ke mana anak itu, gerutuku dalam hati.


Hingga setelah satu jam menunggu, Zein akhirnya menghampiri kami. "Ayo, Kak!" ajak Zein seraya mengulurkan tangannya.


"Ke mana?" tanyaku, heran.


"Ya ke ruangan pak Fatwa lah, ke mana lagi?" tukas Zein sedikit merasa kesal.


"Tapi, Maira?" tanyaku.


"Aman ... Maira boleh dibawa ke kamar, kok," jawab Zein.

__ADS_1


"Yakin?" tanyaku.


"Seratus persen, yakin!" jawab Zein, pasti.


Aku tersenyum seraya beranjak dari sofa. Sejurus kemudian, aku meraih Maira dan menggendongnya. "Makasih, Zein," ucapku tulus.


Zein hanya tersenyum menanggapi ucapan rasa terima kasihku. Kami pun melanjutkan perjalanan menaiki lift untuk menuju kamar VVIP di lantai empat.


Tiba di depan pintu, aku dan Zein sedikit mengernyitkan kening saat mendengar suara berisik dari dalam kamar Fatwa.


"Apa pak Fatwa sudah sadar, Kak?" tanya Zein.


Aku hanya menggedikkan kedua bahuku untuk menjawab pertanyaan Zein. Sejurus kemudian, Zein menekan handle pintu dengan kuat. Hingga akhirnya....


Brakk!


Pintu terbuka dengan sangat kasar. Seketika, orang-orang yang berada di dalam kamar, menoleh ke arah kami.


"Ish, kenapa kamu kasar sekali buka pintunya Zein," tukas Rayya dengan sangat ketus.


"Mama, Rayya ... kapan kalian datang?" tanyaku yang begitu terkejut dengan keberadaan mereka di sini.


"Tadi siang," jawab mama. "Kalian ke mana saja? Kenapa kalian meninggalkan nak Fatwa? Untung ada Suster Amel yang menjaga," lanjut mama.


"Maaf, Ma. Tadi Kakak sama Zein ada sedikit urusan," jawabku.


Tiba-tiba, Maira mencolek bahuku. "Siapa Buna?" tanyanya seraya menatap mama dan Rayya bergantian.


"Oh, ini Enin," ucapku seraya mengenalkan mama, "dan itu ... satunya lagi, namanya Ateu Rayya, adiknya Bunda," jawabku.


Maira meronta, meminta aku untuk melepaskan gendongannya. Aku pun menuruti keinginan Maira. Aku turunkan Maira. Sejurus kemudian, gadis kecil itu berlari ke arah mama dan Rayya.


"Hallo Enin, hallo Ateu Layya. Caya Maila, cenang beltemu Enin cama Atteu," ucap Maira menampakkan wajah imutnya.


Mama dan Rayya mengerutkan kening mereka saat melihat gadis kecil itu.

__ADS_1


"Biar nanti Kakak jelaskan, Ma, Ray...."


Bersambung


__ADS_2