
Aku sangat terkejut mendengar masa lalu dari si pria dingin itu.
"Lalu, apa yang terjadi setelah kecelakaan itu?" tanyaku kepada Aji.
"Fatwa mengalami koma selama satu bulan," jawab Aji, sedih.
"Dan Anna?" Aku kembali bertanya.
"Dia meninggal di tempat kejadian. Dia mengalami benturan yang cukup hebat di kepala bagian belakang. Nahasnya, helm yang dia gunakan tidak dia kunci dengan benar. Sehingga, saat dia terlempar dari motor, helm itu pun ikut terjatuh," papar Aji.
Seketika aku ingat dengan kejadian yang menimpa salah satu teman pramuka dari SMA 42. Dan kemungkinan besar, mereka adalah orang yang sama. "Jadi, dia memang Anna Khoerunnisa yang sama," gumamku yang masih bisa didengar oleh Aji.
"Maksud kamu?" Aji yang heran mendengar gumamanku langsung bertanya.
"Res mengenal Anna Khoerunnisa. Dia adalah Pradani di ambalan penegak SMA 42. Dia memang gadis yang sangat cantik, pandai bergaul dan memiliki jiwa empati yang tinggi. Terakhir, memang Res dengar kabar jika dia meninggal dalam kecelakaan. Tapi ... Res nggak nyangka jika dia mengalami kecelakaan tersebut bersama Fatwa," tuturku.
"Benarkah? Jadi kamu mengenal Anna Khoerunnisa? Lalu, apa yang keluarga Anna lakukan setelah kecelakaan itu?" tanya Aji.
Aku heran mendengar pertanyaan Aji. "Res nggak tahu, Ji," jawabku.
"Loh, kenapa? Bukannya kamu mengenal dia, ya? Kalian sama-sama anggota pramuka, 'kan?" Aji balik bertanya dengan perasaan yang heran pula.
"Kami memang sama-sama anggota pramuka, tapi pangkalan kami, 'kan, beda ... jadi tidak begitu akrab. Lagi pula, aku mengenal dia saat kerja bareng di DKR," jawabku. "Memangnya, ada apa dengan keluarganya Anna?" Aku balik bertanya kepada Aji.
"Entahlah. Hanya saja, semenjak kejadian itu, Fatwa mulai berubah. Dia mulai menutup dirinya dari dunia. Bahkan dari aku dan Gaos yang selalu siap mendengarkan keluh kesahnya. Tapi entah kenapa, dia seperti mulai menjaga jarak dengan kami," tutur Aji.
"Apa kematian Anna yang menjadi alasan dibalik sikap dinginnya orang itu?" tanyaku lagi.
"Hmm, mungkin saja," jawab Aji.
__ADS_1
"Ya, pasti dia sangat mencintai gadis itu. Sehingga dia bersikap dingin dan selalu menutup hatinya untuk orang lain," gumamku pelan. Namun, sepertinya Aji masih mendengarkan gumaman aku.
"Tapi, dia juga mencintai kamu, Res," tukas Aji.
Aku sangat terkejut mendengar pernyataan Aji. Huh, cinta dari mana. Orang dia justru mematahkan hatiku sebelum aku mengetahui apakah itu hanya sebuah rasa kagum, atau justru rasa cinta.
"Hahaha, jangan ngawur deh, Ji. Mencintai aku? Hmm, dari mana ceritanya. Cinta dari hongkong, kali!" gurauku mencoba menutupi rasa terkejut.
"Aku serius, Res!" ucap Aji penuh penekanan.
"Udah deh, Ji. Res nggak mau bahas itu lagi," pungkasku.
Aji meraih tanganku. "Coba tatap mata aku!" pinta Aji, memandang lurus kedua bola mataku.
Aku menatap tajam kedua bola mata milik Aji yang berwarna hitam pekat itu. Dari dulu memang tak pernah ada yang berubah. Kedua bola mata itu selalu berbicara tentang kejujuran. Tapi sayangnya, tindakan Fatwa jauh lebih mengena di hatiku ketimbang kejujuran yang dipancarkan kedua bola mata milik Aji.
"Apa kamu percaya padaku?" Aji kembali bertanya dan membuyarkan lamunanku.
Kembali Aji menghela napasnya, berat. "Padahal, jika aku boleh jujur, aku sangat senang ketika kamu dan Fatwa mulai dekat," kata Aji.
"Maksud kamu?" tanyaku kepada Aji.
"Fatwa mulai berubah setelah dia mengenal kamu, Res," jawab Aji.
"Maaf Ji, Res bener-bener nggak ngerti," jawabku yang tidak mengerti arah pembicaraan Aji.
"Sebenarnya, setelah kita pulang observasi dari desa Parentas dulu, aku melihat Fatwa lebih bersemangat dalam menjalani harinya. Pernah tanpa sengaja, dia bertanya tentang kamu pada bang Gaos. Waktu itu, kami sedang begadang untuk mempersiapkan acara Milad IREMA. Mungkin, Fatwa merasa penasaran melihat hubungan kamu sama bang Gaos. Ya, secara ... kalian, 'kan begitu dekat," tutur Aji.
"Kamu itu, Ji ... hmm, bertanya bukan berarti cinta, 'kan?" ucapku, sambil menepuk punggung tangan Aji. Jujur saja, aku tidak mau terlalu percaya diri dan merasa ge'er dengan kalimat yang baru saja Aji ucapkan.
__ADS_1
"Hmm, tapi Fatwa bukan type laki-laki yang terlalu kepo dengan urusan orang lain. Jika dia merasa ingin tahu tentang seseorang, itu artinya dia memiliki perhatian khusus untuk orang itu," papar Aji.
Hehehe, entahlah, Ji. Namun, apa pun itu, Res lebih percaya dengan apa yang Res lihat dan Res dengar. Yang jelas, Fatwa tidak pernah menyukai Res, terlebih lagi mencintai Res. Hahahab... apalah Res, Ji?" jawabku sambil tertawa.
"Ish, konsepnya tidak seperti itu, Res. Aku yakin, Fatwa mencintai kamu. Dia pernah bilang jika kamu dan semua keceriaan kamu mengingatkan dia pada sosok almarhumah Anna. Karena itulah, dia merasa senang ketika bisa mengenal kamu. Tapi...."
Aji menggantungkan kalimatnya.
"Tapi, apa Ji?" tanyaku penasaran.
"Entahlah, aku merasa seperti ada yang ganjil dari sikapnya waktu itu. Aku yakin dia menyimpan sesuatu. Masalahnya, dia pernah cerita jika dia menyukai gaya kamu yang free. Seolah tidak memiliki beban. Dia merasa bersyukur dengan kejadian yang kalian alami waktu di Parentas. Karena dari kejadian itu, dia merasakan kehadiran kamu seolah memiliki peran dalam hidupnya," tutur Aji.
Tapi sayangnya, aku masih berprinsip pada apa yang aku lihat, itulah kenyataannya. Apa pun yang Aji tau tentang isi hati Fatwa, faktanya pria dingin itu pernah mengatakan jika dia tidak pernah menyukai aku. Dan aku tidak bisa menyangkal hal itu.
"Res!" panggil Aji, membuat aku terhenyak.
"I-iya, kenapa Ji?" tanyaku, gagap.
"Aku berharap, jika kamu punya waktu, tolong temui Fatwa. Aku yakin jika dia akan merasa senang bisa bertemu denganmu," ucap Aji.
"Hahaha, jangan terlalu optimis dulu, Ji. Memangnya untuk alasan apa dia akan merasa senang bertemu denganku?" kataku, mencoba untuk tidak terlalu berharap dari apa yang Aji katakan.
"Untuk sebuah rasa, Res. Aku yakin Fatwa memiliki rasa untuk kamu," jawab Aji.
"Hahaha ... sudahlah, nggak usah becanda terus. Lagi pula, kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya. Aku yakin, dia pasti sudah melupakannya. Seperti aku yang sudah melupakan peristiwa buruk itu. Ya sudah, Ji. Aku permisi dulu. Senang bertemu kamu, semoga lain waktu kita bisa bertemu kembali dan ngobrol banyak lagi," cerocosku.
Tak ingin mendengar hal yang akan membuka luka lama, Aku segera mengakhiri pembicaraan. Aku berdiri dan berpamitan kepada Aji. Namun, saat aku melangkahkan kaki,...
"Apa kamu yakin, kamu telah melupakan rasamu itu?"
__ADS_1
Bersambung