
Aku terkejut sekaligus senang mendengar kabar tersebut. Ini adalah impian calon suamiku. Ya, meskipun dia adalah pewaris tunggal dari perusahaan Derrens Corp, tapi sang ayah tidak serta merta melimpahkan jabatan CEO begitu saja kepada Mas Yudhis. Ada banyak serangkaian posisi yang harus Mas Yudhis lewati, sehingga akhirnya dia bisa mencapai posisi tertinggi di perusahaan itu.
"Waah, selamat ya, Mas!" ucapku, tulus.
"Iya, terima kasih, Sayang. Semua ini juga tak lepas dari support dan do'a kamu," jawab Mas Yudhis.
"Semoga maslahat dunia dan akhirat. Dan semoga bisa menjadi pemimpin yang baik, suri tauladan bagi para anak buahnya," ucapku lagi.
"Aamiin. Oh iya, nanti selepas salat dzuhur, Mas jemput kamu, ya. Kita rayakan keberhasilan ini," ucap Mas Yudhis lagi.
"Ok. Siap Mas!" jawabku, sumringah.
"Ya sudah, Mas tutup teleponnya ya! Assalamu'alaikum." Mas Yudhis berpamitan.
"Wa'alaikumsalam." Aku mematikan tombol merah dan kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku blazer.
Kabar yang diberikan Mas Yudhis seolah menjadi mood booster bagiku. Aku kembali meraih buku besar itu dan mulai mengerjakannya dengan hati-hati. Aku tidak ingin ada kesalahan yang membuat atasan bisa menegurku lagi.
Selesai mengerjakan tugas, aku kembali mengeluarkan benda pipih berwarna navy dari saku blazer. Aku mengusap layarnya dan mulai mengetikkan sesuatu di sana.
Assalamu'alaikum
Ma, pulang sekolah Kakak izin makan siang di luar dengan Mas Yudhis untuk merayakan kenaikan jabatan Mas Yudhis. Mama sama adik makan duluan saja. Tidak usah menunggu Kakak.
Love you
Aku menekan ikon tanda panah, dan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku blazer. Azan dzuhur mulai berkumandang. Aku segera membereskan meja kerja, setelah itu berangkat ke mushola sekolah untuk melaksanakan salat dzuhur. Namun, sebelumnya aku kembali ke ruangan kepala sekolah untuk menyerahkan hasil revisi laporan keuangan sekaligus meminta izin pulang awal.
Selesai salat, aku menunggu Mas Yudhis di teras mesjid sambil sesekali membaca modul kuliah. 20 menit kemudian, mobil Mas Yudhis terlihat melewati gerbang dan terparkir tepat di depan mushola. Aku segera berdiri untuk menyambut kedatangan Mas Yudhis.
Tubuh tegap itu berjalan menghampiri aku. "Apa sudah siap, Nyonya Devano?" guraunya.
Mendengar panggilan itu, aku hanya bisa tersipu malu. "Mau ke restoran mana, Mas?" tanyaku pada Mas Yudhis.
"Terserah kamu saja, Chi. Restoran mana pun kalau perginya sama kamu, pasti sangat menyenangkan," rayu Mas Yudhis.
"Hmm, gombal!" ledekku sambil menarik pelan ujung hidung Mas Yudhis yang terlihat mancung dan sangat menawan.
"Kamu naik saja ya, Mas mau salat dulu!" ucapnya.
__ADS_1
Aku mengangguk dan menaiki mobil Mas Yudhis. Sedangkan Mas Yudhis sendiri membuka sepatunya dan pergi ke tempat wudhu.
Setelah beberapa menit berlalu, Mas Yudhis membuka pintu mobil. "Sudah siap?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk dan menatapnya. Sejurus kemudian Mas Yudhis menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukannya membelah jalanan kota yang semakin ramai.
Setelah melewati 30 menit perjalanan, kami tiba di sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas kesukaan kami, yaitu nasi liwet.
"Kamu cari tempat dulu, ya ... Mas mau ke toilet," perintah Mas Yudhis.
Aku mengangguk, kemudian mulai mencari tempat yang cukup nyaman untuk kami. Aku memilih bangku lesehan yang dekat dengan danau buatan di tengah-tengah ruangan. Tak berapa lama, seorang pelayan wanita datang menghampiri mejaku.
"Silakan, ini menunya Mbak!" ucap pelayan itu sambil menyerahkan daftar menu padaku.
Aku menerimanya. "Terima kasih, Mbak. Nanti saya panggil kembali begitu tunangan saya sudah datang, ya, Mbak!" kataku.
"Oh iya. Baiklah, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya.
"Sudah pesan makanannya, Yang?" tanya Mas Yudhis tak lama setelah pelayan itu pergi.
"Eh, Chi pikir Mas bakalan lama, ya Chi suruh pelayannya pergi dulu deh," jawabku.
Aku menyerahkan buku menu tersebut. Akhirnya Mas Yudhis yang memilih menu makan untuk siang ini. Untungnya, selera makanan kami nggak jauh beda.
.
.
"Chi, perusahaan Mas merencanakan sebuah pesta untuk merayakan pengangkatan Mas sebagai CEO. Kamu dan mama mau datang, 'kan?" tanya Mas Yudhis membuka obrolan saat kami menunggu pesanan tiba.
"Ya kalau diundang, Chi sama mama pasti datang, lah," jawabku sambil menikmati camilan sebagai pengganjal perut yang mulai menjerit meminta jatah.
"Kok gitu sih, ngomongnya. Ya pasti diundang lah ... kamu kan calon istri Mas," ucap Mas Yudhis.
Aku tersenyum dan mengusap lembut pipi Mas Yudhis. "Ngomong-ngomong, kapan pestanya, Mas?" tanyaku.
"Sabtu malam di Ballroom Hotel Shandika," ucap Mas Yudhis.
"Oh, iya ... Insya Allah Chi datang," jawabku.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti Mas kirim mobil jemputan ke rumah kamu," kata Mas Yudhis lagi.
"Oke" jawabku.
"Permisi, Mas, Mbak. Ini makanannya." Kehadiran seorang pelayan yang mengantarkan makanan, menjeda omongan kami. Setelah makanan tersaji, kami akhirnya mulai menikmatinya makanan siang kami.
.
.
.
Sabtu malam, pukul 07.00. Mobil jemputan yang dikirim Mas Yudhis sudah terparkir di halaman rumahku.
Berjalan berdampingan dengan mama, aku mendekati mobil itu dan menaikinya. Tanpa banyak bicara, sang supir melajukan mobilnya. Setengah jam perjalanan, akhirnya mobil itu tiba di hotel Shandika. Mobil berhenti tepat di depan lobi hotel. Aku dan mama turun, salah seorang pelayan hotel menyambut kami dan membawa kami ke ballroom hotel di lantai lima.
Tiba di sana, suasana sudah sangat meriah. Aku mengedarkan pandangan ke depan panggung untuk mencari keberadaan Mas Yudhis. Senyumku seketika mengembang saat aku lihat pria tampan itu tengah berbincang bersama seorang pria paruh baya. Saat aku ingin mendekatinya, tiba-tiba saja Tante Amara mendekati kami.
"Ah, cantiknya ibu ... Akhirnya kamu datang juga. Eh, ada jeung Rani, alhamdulillah sudah meluangkan waktu menghadiri pesta Yudhis loh, Jeng," ucap Tante Amara.
"Sama-sama Jeng. Tentu saja saya tidak akan pernah melewatkan acara penting dalam kehidupan calon menantu saya, Jeng," kata mama.
"Ah, iya ... Jeng memang benar adanya. Mana mungkin kita akan melewatkan kebahagiaan putra putri kita," timpal Tante Amara. "Mari kita ke depan Jeng, sambil menikmati jamuan yang ada," ajak Tante Amara kepada kami.
Aku, mama dan Tante Amara berjalan berdampingan menuju meja hidangan.
"Ayo-ayo, silakan dicicipi jamuan alakadarnya!" ucap Tante Amara begitu kami tiba di tempat-tempat berbagai aneka hidangan.
"Iya, terima kasih Tante," ucapku.
"Nikmati saja. Tante tinggal dulu sebentar, ya?" Tante Amara pamit karena melihat seseorang yang melambaikan tangan kepadanya.
"Baik, Tante," jawabku.
Sepeninggal Tante Amara, aku pergi ke tempat yang menyediakan minuman karena merasa haus. Saat aku tengah mengambil segelas orange juice, tiba-tiba tanpa sengaja seseorang menyenggol dan membuat jus itu seketika tumpah membasahi bajuku.
"Eh, maaf!'
"Kau?'
__ADS_1
Bersambung