My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Permintaan Maaf Tante Amara


__ADS_3

"Terima kasih, Fat!" ucapku pada laki-laki dingin yang kini telah berubah.


"Untuk?" jawab Fatwa seraya mengernyitkan keningnya.


"Untuk menyelamatkan aku," jawabku.


"Itu sudah menjadi kewajibanku, Res. Istirahatlah, kamu nggak dengar apa kata dokter tadi?" timpal Fatwa.


Ya, beberapa menit yang lalu, seorang dokter datang untuk melihat kondisi terbaruku. Mereka bilang, aku mengalami koma sekitar tiga hari yang lalu. Hmm, entah koma entah pingsan, yang jelas, aku tidak ingat apa-apa. Menurut dokter, aku harus banyak beristirahat dan tidak boleh stress lagi, agar cepat pulih. Stress?! Ya Tuhan ... seperti sudah begitu berat saja beban hidupku.


"Assalamu'alaikum!" Sapaan di pintu kamar seketika mengalihkan pandanganku dan Fatwa.


"Wa'alaikumsalam," jawab Fatwa.


"Mama," gumamku pelan. Tak ayal lagi, air mata mulai membanjiri pipiku.


"Alhamdulillah, Kak ... kamu sudah sadar," ucap mama, seraya menghampiri dan memelukku.


Aku membalas pelukan mama dan mulai tersedu. Sungguh, aku selalu tak berdaya jika berhadapan dengan mama. Membayangkan kesedihan wanita tua itu saat kehilangan salah satu putrinya, sungguh membuat aku tak kuasa. Sejenak aku melirik ke arah Fatwa. Rasa syukur kembali aku panjatkan karena Tuhan telah mengirimkan malaikat pelindung dalam wujud seorang Fatwa Immamuddin.


Mama melepaskan pelukanku. Dia kemudian menyeka air mataku. "Puji syukur kepada Tuhan ... kamu telah kembali dalam keadaan selamat, Kak. Meskipun Mama harus menahan rindu karena menunggu kamu sadar dari koma," kata mama.


"Maafkan Kakak, Ma. Ternyata, Kakak bukan anak yang kuat," ucapku, perih.


"Hush, jangan bilang begitu! Kata siapa Kakak bukan anak yang kuat? Justru Kakak adalah putri Mama yang paling tangguh," jawab mama mencoba menghiburku.


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mama. "Oh iya, Ma. Ke mana Rayya?" tanyaku kepada mama.


"Rayya sedang ujian, Kak. Dia hanya menitipkan salam untuk kamu. Dia sangat merindukan kamu, Kak," ucap mama.


Aku tersenyum. "Kakak juga sangat merindukan Rayya, Ma. Kangen sama bawelnya," jawabku seraya menyandarkan kepala di bahu mama.

__ADS_1


Fatwa terlihat tersenyum senang melihat aku bermanja pada mama.


"Oh iya, Nak Fatwa ... bagaimana hasil pemeriksaan dokter? Apa yang dokter katakan? Apa ada sesuatu yang serius dengan kondisi putri Ibu?" tanya mama kepada Fatwa.


"Nggak ada, Bu. Nggak ada yang serius pada kondisi tubuh Res. Alhamdulillah ... Res baik-baik saja," ucap Fatwa.


"Ah, syukurlah!" Mama kembali merangkulku. Sesaat kemudian, beliau melepaskan aku lagi. "Jadi, kapan dokter mengizinkan anak Ibu untuk pulang?" tanya mama lagi, menatap Fatwa.


"Mungkin besok atau lusa, Bu. Melihat kondisi Res dulu, apa sudah stabil atau belum. Dokter bilang, Resti mengalami dehidrasi juga. Jadi masih butuh pemantauan perawat untuk menstabilkan cairan ditubuhnya," jawab Fatwa.


"Oh begitu. Ya sudah, lakukan yang terbaik saja. Yang terpenting, anak Ibu bisa ceria lagi seperti sedia kala," kata mama


Saat kami sedang bercengkerama. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar rawat. Seketika, kami menoleh ke arah pintu.


Deg!


Kami semua sangat terkejut mendapati tamu tak diundang tengah berdiri di ambang pintu.


"Boleh Tante masuk, Nak?" pinta Ibu Amara yang tak lain mamanya mas Yudhis.


Tante Amara memasuki kamar rawat. Dia menghampiri mama seraya mengulurkan tangannya. Sedetik kemudian, mereka saling berpelukan dan bercipika-cipiki ria.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya tante Amara seraya mengusap rambutku.


Aku mengulurkan tangan untuk menyalami tante Amara. Bagaimanapun juga, aku dan tante Amara telah memiliki hubungan yang cukup baik.


"Chi baik-baik saja, Tan," jawanku.


"Alhamdulillah, Tante sangat senang mendengarnya. Terakhir Tante jenguk kamu, waktu itu kamu masih tak sadarkan diri," ucap tante Amara.


Aku hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan tante Amara.

__ADS_1


"Silakan duduk, Tan!" Fatwa meraih sebuah kursi plastik dan menyimpannya di tepi ranjang supaya tante Amara bisa duduk.


Tante Amara menatap Fatwa. Seulas senyum tulus terpancar dari wajahnya. "Terima kasih, Sayang," ucap tante Amara seraya mengusap pipi Fatwa. Sejurus kemudian, tante Amara mendaratkan bokongnya di kursi yang tadi Fatwa sediakan.


"Begini, Nak Chi. Tante datang ke sini untuk meminta maaf sama kamu," ucap tante Amara.


Aku dan mama hanya bisa saling pandang mendengar permintaan maaf dari tante Amara.


"Sudahlah Jeng. Kemarin kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi," kata mama.


"Tapi, tetap saja hatiku tidak tenang sebelum aku mendapatkan maaf dari anakmu, Jeng," jawab tante Amara.


"Maksud Tante, apa, ya? Chi nggak ngerti," jawabku.


"Ini tentang Yudhis dan semua perbuatannya sama kamu, Nak. Jujur Tante akui, Tante sangat bersalah karena Tante sudah mendukung Yudhis untuk menyembunyikan kebenarannya tentang dia yang telah memiliki anak. Tante juga tahu, jika selama ini Yudhis berselingkuh dengan Citra. Tante sudah mengingatkan dia, bahkan Tante sudah bilang agar Yudhis memberi tahu kebenaran ini kepadamu dan meminta maaf. Tante ancam dia, jika dia tidak melakukan hal itu, maka Tante sendiri yang akan membeberkan perselingkuhan dia. Tapi, saat itu Yudhis berjanji jika dia akan segera mengakhiri hubungannya dengan Citra. Tante pikir, pada saat kita makan malam bersama, Yudhis sudah menyelesaikan semuanya dan berkata jujur padamu. Karena Yudhis pernah bilang jika kamu menerima Yudhis apa adanya. Tante sempat marah saat Fatwa mengatakan kamu memergoki Yudhis berselingkuh. Tante sudah meminta Yudhis untuk memutuskan hubungan kalian. Karena jujur saja, Tante tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan kamu dan keluargamu. Tapi ... Tante tidak menyangka jika Yudhis tega menculik dan menyandera kamu. Maafkan Tante, Chi. Maafkan Tante karena sudah tidak becus mendidik Yudhis," tutur tante Amara yang mulai terisak, menangis.


"Sudahlah, Tante ... semua ini bukan kesalahan Tante. Jika memang Tante sudah berusaha untuk menyadarkan mas Yudhis, Tante bisa berbuat apa ketika mas Yudhis memang tidak pernah ingin menyadari semua kesalahannya. Lagi pula, yang terpenting saat ini adalah, aku baik-baik saja tanpa kekurangan satu apa pun," ucapku pada tante Amara.


Haish, dasar emang diriku yang tidak tegaan. Jujur, aku tak sanggup jika harus melihat orang tua menangis. Apa lagi, dia menangis karena perbuatan tidak terpuji anaknya.


Fatwa memeluk tante Amara dari belakang. "Sudahlah, Tante. Jangan terlalu menyalahkan diri Tante sendiri. Berdo'a saja, semoga kejadian ini bisa merubah bang Yudhis menjadi lebih baik lagi," kata Fatwa.


Tante Amara tersenyum seraya mengusap lengan kekar Fatwa yang tengah melingkar di lehernya.


"Iya, kamu benar Nak. Terima kasih sudah menyelamatkan Resti. Semoga setelah semua ini, Yudhis bisa menyadari kesalahannya," ucap tante Amara.


Entah kenapa, aku tersenyum senang melihat interaksi antara Fatwa dengan tante Amara. Sepertinya, hubungan mereka sangat dekat.


"Oh iya, Nak Chi. Boleh Tante minta sesuatu dari kamu?" tanya tante Amara.


"Silakan Tante, jika memang Chi bisa mengabulkan, pasti akan Chi kabulkan permintaan Tante itu," jawabku.

__ADS_1


"Tante tidak akan meminta kamu untuk tetap bersama Yudhis. Semuanya hak kamu. Setelah semua ini, Tante sendiri terlalu malu untuk mendapatkan seorang menantu sempurna seperti kamu. Tante akan sangat bersyukur jika kamu bisa bertahan. Tapi, jika tidak pun, Tante tidak akan memaksa. Yang jelas, jika kamu punya waktu. Bisakah kamu menjenguk Yudhis di penjara?


Bersambung


__ADS_2