
Selepas berbicara seperti itu, kedua orang tua Anneu pergi begitu saja. Huh, sungguh aku dibuat kesal oleh sikap mereka. Pantas saja jika Anneu memiliki watak yang keras. Toh, kedua orang tuanya pun berhati batu.
"Benar-benar menyebalkan. Orang tua macam apa mereka? Sungguh tega membuang cucu kandungnya sendiri," dengus Zein terlihat kesal.
Hmm, rupanya bukan aku saja yang dibikin geregetan oleh tingkah laku kedua orang yang seharusnya sudah banyak bertobat. Zein pun terlihat sangat kesal dengan sikap mereka.
"Zein heran, Kak. Di zaman milenial seperti ini, kok ada ya, yang sikapnya seperti itu. Bener-bener nggak punya hati," gerutu Zein.
"Ya sudahlah, biarin saja. Toh mulai sekarang, kita tidak akan pernah berhubungan dengan mereka lagi. Akan Kakak pastikan, mereka tidak akan bisa menyentuh Maira seujung kuku pun," ucapku penuh penekanan.
.
.
Rupanya, apa yang dikatakan pak Rahadi bukanlah omong kosong semata. Menjelang magrib, aku melihat perawat hilir mudik mempersiapkan brankar dan segala peralatan medis yang dibutuhkan. Iseng-iseng, aku dekati perawat yang sedang membenarkan tabung gas tepat di hadapanku.
"Pasien di kamar sebelah kenapa, Sus? Anfal lagi?" tanyaku.
Perawat itu melirik. "Oh, bukan Mbak. Pasien mau dipindahkan ke luar kota," jawab perawat itu.
"Benarkah? Dipindahkan ke mana, Sus?" tanyaku lagi.
"Pihak keluarga meminta pasien dipindahkan ke wilayah Sumatera. Akan tetapi, dokter belum mengizinkan. Kondisi pasien belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan sejauh itu. Dan akhirnya, mereka meminta pasien dipindahkan ke kota Jakarta saja. Katanya, untuk sementara waktu, pasien akan dirawat di rumah sakit milik kerabatnya," papar perawat itu.
"Oh, begitu ya Sus," timpalku yang tersenyum tipis mendengar jawaban perawat itu. Katanya mau pindah jauh, sampai-sampai tidak sanggup membawa Maira. Namun, kenyataannya hanya ke luar kota saja, bukan ke luar provinsi. Ya Tuhan ... ada-ada saja.
Tak lama kemudian, aku melihat beberapa orang perawat keluar seraya mendorong brankar Anneu. Pak Rahadi dan istrinya terlihat mengikuti mereka dari belakang. Kedua orang tua itu sama sekali tidak melirik ke arah kami. Aku dan Zein pun hanya bisa saling pandang melihat kelakuan mereka. Sejurus kemudian, mereka menghilang di balik pintu.
"Semoga saja, kelak Maira tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi," gerutu Zein dengan sangat kesal.
Aku hanya bisa menepuk bahu Zein untuk mengingatkan, bahwa apa yang dia katakan itu tidak baik.
.
.
Hari-hari terus berlalu. Beruntung pihak pemerintah yang menyita semua aset bang rizal, memberikan waktu seminggu kepada Ida untuk berkemas. Esok adalah hari terakhir mereka berada di tempat itu. Mau tidak mau, aku harus menjemput Maira karena besok Ida akan berangkat ke kampung halamannya.
__ADS_1
"Jam berapa kita jemput Maira, Kak?" tanya Zein saat kami sedang makan malam di kantin.
"Setelah Fatwa dipindahkan ke kamar rawat saja, Zein," jawabku.
"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pak Fatwa, Kak? Dokter bilang, semua organ vital pak Fatwa berfungsi dengan baik. Tapi kenapa pak Fatwa masih belum sadar juga?" tanya Zein.
"Entahlah, Zein. Tapi, menurut salah seorang perawat yang menjaganya, ada kemungkinan jika Fatwa mengalami trauma psikis, karena itu dia seolah tidak ingin terbangun dari tidurnya," jawabku.
"Ish, Kakak ini ada-ada saja," tukas Zein.
"Ya ... itu, 'kan menurut perawat. Soalnya, dia bilang, ada saudaranya yang pernah mengalami seperti itu," jawabku mencoba membela diri.
"Ya sudahlah, semoga saja pak Fatwa tidak seperti itu," ucap Zein.
.
.
Keesokan harinya, dokter bilang kondisi Fatwa sudah cukup stabil untuk dipindahkan ke kamar rawat. Ya, meskipun masih memerlukan alat bantu pernapasan dan selang infus untuk memenuhi nutrisi di tubuhnya. Tapi, setidaknya Fatwa sudah terlepas dari masa-masa kritis, meskipun belum terjaga dari lelapnya.
Setelah kunjungan dokter, akhirnya para perawat membawa Fatwa menuju ruang rawat VVIP. Di sini, fasilitasnya cukup bagus. Bahkan, aku dan Zein pun bisa menungguinya di kamar. Aku bersyukur, meskipun Fatwa belum sadar, tapi kami bisa menjaganya dalam satu ruangan. Ya, setidaknya ... kami mengetahui kondisi terbaru Fatwa untuk ke depannya.
"Iya, boleh Zein. Lagi pula, Kakak sudah menitipkan Fatwa kepada Suster Amel, kok," jawabku.
"Ya sudah, ayo!" ajak Zein.
"Sebentar," ucapku. Sejurus kemudian, aku menghampiri Fatwa. Kusentuh pipinya yang terlihat semakin tirus. "Res pergi dulu ya, Fat. Kamu baik-baik sama Suster Amel. Semoga saja, setelah Res kembali ... kamu sudah sadar," ucapku.
Laki-laki itu masih tidak bereaksi apa-apa. Matanya masih terpejam dengan damainya. Helaan napasnya pun terdengar cukup teratur. Aku sedikit merasa lega, melihat kondisi dia.
Tak berapa lama kemudian, Suster Amel datang untuk menjaga Fatwa. Setelah menitipkan Fatwa kepada Suster Amel, akhirnya aku dan Zein keluar dari ruang rawat VVIP nomor satu itu.
.
.
Kembali Zein melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ya, suasana jalan di kota ini memang cukup lengang. Terlebih lagi jalan yang menuju villa bang rizal. Ya, meskipun jalannya cukup terjal, tapi kendaraan yang berlalu lalang di sana pun dapat dihitung dengan jari.
__ADS_1
Tepat pukul dua siang, aku dan Zein tiba di villa tersebut. Di teras depan, aku lihat Ida dan ayahnya, sedang duduk di kursi. Sedangkan Maira, tertidur dalam pangkuan Ida. Di samping ayahnya Ida, terdapat dua buah koper besar tersimpan rapi. Sedangkan di atasnya ada tas ransel baby yang mungkin berisi semua peralatan Maira.
"Loh, sudah siap, Da?" tanyaku begitu melihat pemandangan yang berada di hadapan aku.
"Iya, Non. Tadi ada orang-orang dari pihak pemerintah yang meminta kami mengosongkan tempat ini saat dzuhur tiba," jawab Ida.
Maira yang terlelap di pangkuan Ida, sontak mengerjapkan matanya begitu mendengar suaraku. Dia menatapku dengan binar yang dipenuhi kerinduan.
"Bunaaa!" teriak Maira seraya meronta, meminta turun dari pangkuan Ida.
Ida yang mengetahui jika gadis kecil itu sangat merindukan aku, segera menurunkan Maira. Sejurus kemudian, gadis kecil itu menghambur ke arahku. Kedua tangan mungilnya merentang dan memelukku begitu tiba di hadapanku. Aku pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhku dengan gadis kecil itu.
"Bunaaaa, Maila tangen," ucap cadel Maira. Bulir air matanya mulai jatuh menetes di pipinya yang gembul.
"Iya, Sayang. Bunda juga kangen sama Maira," ucapku serak karena tidak kuasa menahan tangis.
"Buna, apa Buna datang buat jemput Maila?" tanya gadis kecil itu.
Aku mengangguk.
"Buna nggak akan pelgi lagi? Buna akan bawa Maila, 'kan, kalo pelgi-pelgi lagi," celotehnya.
Kembali aku mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Mulai saat ini, ke mana pun Bunda pergi, Bunda pasti akan selalu membawa Maira," ucapku penuh kepastian.
"Janji?" tanya gadis kecil itu seraya mengulurkan kelingkingnya.
"Janji," pungkasku, menautkan jari kelingkingku di jari mungilnya dia.
Maira terlihat bersorak gembira. Tak lama kemudian, dia kembali memeluk tubuhku erat.
"Nona, Ida dan Bapak pergi dulu. Ida titipkan Maira pada Nona Chi. Ida yakin, di bawah didikan Nona, Maira akan tumbuh menjadi anak yang baik dan solehah," ucap Ida.
"Aamiin ... semoga saja, Da. Ngomong-ngomong, kamu pergi naik apa? Taksi online?" tanyaku kepada Ida.
"Ida sama Bapak pergi naik angkot saja, Nona. Kami sendiri harus menghemat pengeluaran untuk bekal kami di kampung nanti," jawab Ida.
"Kalau begitu, biar saya saja yang antar."
__ADS_1
Bersambung