
“Jangan-jangan apa?” tanyaku yang sedikit heran melihat ekspresi Fatwa.
“Ah, sudah. Lupakan saja!” sahut Fatwa.
Aku merengut kesal. “Ish, kebiasaan deh! Suka nggak jelas gitu,” protesku kesal.
“Nggak, aku cuma nggak mau menduga-duga. Takut timbulnya suudzon, nanti,” kilah Fatwa.
“Hmm, ya sudahlah. Toh, Res juga nggak bakalan kepo, wew!” ledekku seraya menjulurkan lidah.
“Hahaha, bisa aja …” Fatwa tergelak melihat sikapku. “Ya sudah, pulang yuk!” ajak Fatwa.
“Memang, obatnya sudah kamu tebus?” tanyaku.
“Sudah. Nih!” Fatwa menunjukkan bungkusan kecil yang sedari dia pegang.
“Oh, ya udah. Yuk, pulang!” ajakku.
“Mau kugendong?” tawar Fatwa.
“Yeeaayy, itu mah, enakan di kamu,” seruku.
Fatwa hanya terkekeh mendengar ucapanku. Dia kembali mengulurkan tangan untuk menuntun aku. Tiba di depan rumah sakit, dia menyuruhku untuk menunggunya. Namun, karena aku malas jika sampai bertemu Citra lagi, akhirnya aku ikut dia ke pelataran parkir.
“Besok kamu sekolah, Res?” tanya Fatwa begitu kami telah memasuki mobil.
“Keknya sekolah, Fat. Soalnya, besok Res ada rapat penting. Kalau kamu nggak bisa antar jemput, nggak apa-apa, kok, Fat,” ucapku.
“Ish, suudzon mulu. Aku bukan nggak mau antar jemput, aku hanya khawatir saja. Kamu nggak ingat apa kata dokter? Kalau misalnya kaki kamu memang mengalami retak tulang, otomatis kamu nggak boleh banyak gerak. Apa nggak lebih baik kamu cuti dulu sampai kaki kamu benar-benar sembuh?” usul Fatwa.
“Entahlah, Res hanya bingung bagaimana nasib anak-anak kalau Res bolos ngajar terus,” kilahku mencari alasan. Padahal yang sebenarnya, aku nggak terbiasa kalau harus terus berada di rumah.
“Ish, memangnya nggak ada guru pengganti, gitu? Daripada proses penyembuhannya jadi lama, alangkah lebih baik kamu cuti biar istirahat total.” Fatwa kembali memberi saran.
“Iya-iya, nanti Res pikirin lagi,” jawabku.
Tak lama kemudian. Mobil pun tiba di halaman rumah. Fatwa kembali memapah aku untuk memasuki rumah. Ah, jika terus seperti ini, bisa-bisa aku jadi ketergantungan sama laki-laki itu.
.
.
Hari demi hari terus berlalu. Dugaan Dokter Rodriguez memanglah tepat. Ada sedikit retak di tulang kaki. Akhirnya, setelah beristirahat total kurang lebih sepuluh hari, aku pun mulai bisa beraktivitas seperti sedia kala.
__ADS_1
hari ini, aku hendak pergi ke kampus untuk memberikan tugas yang diberikan dosen gila yang kini sudah sedikit waras. Aku tidak ingin merepotkan dia terus. Karena itu, aku putuskan untuk pergi ke kampus tanpa memberi tahu dia. Dengan menggunakan taksi online, akhirnya aku tiba di kampus.
Aku berjalan menyusuri koridor kampus untuk pergi ke ruang dosen. Entah kenapa, aku melihat tatapan aneh para mahasiswa, saat aku melewati sekumpulan mahasiswa yang sedang asyik bercengkerama.
“Eh, bukannya itu temennya dia, ya?” bisik salah satu mahasiswi yang masih bisa aku dengar perkataannya.
“Bener, sih. Itu sahabatnya. Soalnya aku lihat, mereka tuh ke mana-mana selalu berdua,” timpal teman si mahasiswi tadi.
“Kira-kira, dia tahu nggak kalo temannya hamil?” gumam mahasiswi tadi.
Aku lihat, temannya hanya menggedikan bahu.
“Kasihan banget, ya. Mana cowoknya katanya di penjara lagi?” tukas temannya yang lain.
Ish, entah siapa yang sedang mereka bicarakan. Tapi, kenapa aku merasa mereka sedang meng-ghibah aku, ya? Ah sudahlah, tidak perlu aku pusingkan juga. Mungkin saja ini hanya perasaanku saja.
Tok-tok-tok!
Aku mengetuk pintu ruangan Fatwa. Sejenak, aku teringat saat pertama kali aku mengunjungi ruangan ini. Sungguh kesan pertama yang seketika membuat aku illfeel saat berhadapan dengannya. Aku tersenyum sendiri mengingat hal itu. Hmm, entah kenapa … semua kesan pertamaku bersama laki-laki itu, hanyalah sebuah kesan buruk yang selalu saja mengakibatkan kesalahpahaman.
Tok-tok-tok!
Sekali lagi aku mengetuk pintu saat tidak aku dapati jawaban dari dalam.
Aku membalikkan badan. “Eh, kamu Zein, bikin kaget aja,” ucapku.
“Hehehe, maaf, Kak,” jawab Zein.
“Iya, nggak pa-pa. Eh, ngomong-ngomong, pak Fatwa ke mana ya? Kok ruaangannya kek sepi gitu. Kakak dah beberapa kali ketuk pintu, tapi nggak ada sahutan juga dari dalam,” tanyaku pada Zein.
“Setahu aku, pak Fatwa emang lagi nggak ada, Kak. Katanya ada workshop di Makasar," jawab Zein.
“Oh, gitu ya.” Kataku.
Hmm, kenapa dia nggak bilang sama aku, ya? Ish, memangnya aku siapanya dia, ampe harus lapor segala. Hehehe,….
“Ya sudah, nanti Kakak ke sini lagi, deh. Kalau pak Fatwa-nya dah datang. Kakak pergi dulu ya, Zein!” pamitku pada teman sekelas.
“Eh Kak, tunggu!” cegah Zein.
“Iya, ada apa Zein?” Aku heran kenapa Zein menghentikan langkahku.
“Apa kita bisa bicara?” tanya Zein dengan nada pelan. Entahlah, aku seperti melihat gurat kesedihan dari wajahnya.
__ADS_1
“Tentang?” tanyaku, penasaran.
“Sebaiknya kita cari tempat yang nyaman untuk bicara. Kakak mau, 'kan?” pinta Zein penuh harap.
Aku melirik jam tanganku. Hmm, masih banyak waktu sebelum jadwal aku pulang ke rumah. “Baiklah, ayo kita ke coffee shop dekat kampus!” ajakku kepada Zein. Ya, aku merasa penasaran juga dengan apa yang ingin Zein bicarakan denganku.
Zein mengangguk. Akhirnya kami berjalan berdampingan menuju coffee shop yang letaknya persis di samping kampus.
“Mau pesan apa, Kak?” tanya Zein.
“Ice Cappucino saja,” jawabku.
“Oke. Sebentar ya, Zein pesankan dulu,” pamit Zein. Tak lama kemudian, Zein kembali ke meja kami.
“Mau bicara apa sih, Zein?” tanyaku semakin penasaran.
“Ini tentang Citra, Kak,” jawab Zein.
Deg!
Seketika jantungku berpacu tak karuan saat Zein menyebutkan nama itu. Setelah hampir dua minggu aku tak mendengar namanya, akhirnya hari ini nama Citra kembali mengingatkan aku pada persahabatan yang telah terkhianati.
“Kak! Hallo! Kok, Kakak malah ngelamun?” tanya Zein yang membuat aku terhenyak saat mendengar ucapannya.
“Eh, iya Zein … memangnya, ada apa dengan Citra?” tanyaku sambil mencoba menguasai emosi.
“Apa Kakak sudah mendengar gosip yang kurang sedap tentang Citra?” tanya Zein lagi.
Aku mengernyitkan kening, merasa tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Zein. “Maaf, Zein … tapi Kakak nggak paham apa yang kamu maksud,” ucapku.
Zein terlihat menghela napasnya sejenak. Sejurus kemudian, dia menatapku. “Kakak, apa selama ini Citra pernah menceritakan tentang kekasihnya?” tanya Zein.
Aku semaki terkejut mendengar pertanyaan Zein. “Tolong jangan berbelit-belit seperti ini, Zein. Kakak bener-bener nggak ngerti. Dan untuk urusan kekasihnya Citra, jujur saja, dia sama sekali nggak pernah cerita kepada Kakak tentang kehidupan pribadinya dia,” jawabku panjang lebar.
Zein terlihat menarik napasnya, berat. Dia kemudian menatap jendela yang berada di samping meja kami.
“Memangnya ada apa dengan Citra?” Akhirnya, pertanyaan yang Sebenarnya tidak ingin aku lontarkan, harus terlontar juga karena melihat kediaman Zein yang cukup lama.
Zein menatap lekat ke arahku. Dia kemudian menarik napasnya panjang. Sejenak. Mengembuskannya dengan perlahan.
“Citra hamil!”
Bersambung
__ADS_1