
Tes-tes-tes!
Tetesan air hujan mulai menyapa tubuhku yang tengah menyandar pada batang pohon yang cukup lebar. Langit memang terlihat sangat gelap. Aku kembali berdiri untuk menghindari tetesan air hujan tersebut. Kembali kulangkahkan kaki memasuki hutan belantara, mencari tempat yang lebih rimbun untuk berteduh.
Entah sudah berapa jauh aku melangkah. Hingga kaki yang terkilir tadi, memaksa aku untuk berhenti. Sepertinya, aku tidak akan sanggup lagi untuk melangkahkan kaki ini. Setiap aku bergerak, denyutan yang kurasakan semakin terasa hebat. Sakit sekali. Beruntungnya, aku bisa menemukan sebuah pohon yang daunnya begitu rimbun. Akhirnya, aku kembali berhenti dan duduk menyandar pada batang pohon yang lebarnya melebihi pohon yang semula.
Rasa lelah benar-benar menderaku. Napas yang kian tersengal, tubuh yang semakin terasa menggigil, kaki yang terus berdenyut hebat, ditambah lagi dengan perut yang keroncongan, semakin menambah lengkap penderitaanku malam ini. Tenagaku telah terkuras habis dalam pelarian. Harapanku hanyalah satu, Mukjizat Yang Maha Kuasa.
Dalam ketidakberdayaanku ini, mata mulai tak bisa aku ajak kompromi. Mungkin karena terlalu lelah, akhirnya mata ini mulai terpejam. Meski cacing dalam perutku menjerit meminta jatah makan, meski nyamuk di sekitar telingaku berdengung manja, meski gigitan semut di kakiku mulai terasa gatal, tapi aku tetap tidak menghiraukan semua itu. Hanya bayangan mama dan adikku yang mampu aku ingat. Hingga akhirnya, sehebat apa pun penderitaan malam ini, pasti akan aku tahan demi bisa pulang dan memeluk mereka.
"Bertahan, Kak. Papa akan selalu bersamamu," bisik halus di telingaku.
Sesaat aku tersenyum saat mengenali suara itu.
"Apa kabar, Pa? Sudah lama kita tidak berjumpa. Apa Papa tahu, seberapa besar Kakak merindukan Papa?" tanyaku menatap teduh wajah tampan yang akan selalu menjadi cinta sejatiku.
Senyum khasnya kembali mengembang. Sesaat tangan hitam legam nan kekar itu terulur padaku. Mengusap rambut panjangku dengan penuh kelembutan.
"Papa, dingin," rengekku manja.
Laki-laki yang telah menjadi cinta pertamaku itu mulai meraih bahuku hingga aku bersandar dalam dadanya yang bidang. Kehangatan mulai menjalari tubuhku. Dia mengecup pucuk kepalaku. "Bersabarlah, Kak. Ini ujianmu, dan Papa yakin kamu bisa lulus," ucapnya lembut di telingaku.
Aku mendongak. Senyum penuh keteduhan itu kembali terpancar dari kedua sudut bibirnya. "Kakak pasti lulus, Pa. Demi mama dan juga Rayya. Tentunya demi Papa juga," gumamku perlahan.
Kembali papa mendekapku hingga aku tak mampu mengingat apa-apa lagi.
__ADS_1
Entah berapa lama aku tertidur, sampai akhirnya, mimpiku mulai berpindah dimensi.
Seorang lelaki berkuda putih yang selalu ada dalam cerita papa, lambat laun berjalan mendekati aku. Sang pangeran yang mengenakan pakaian kerajaan itu, berjongkok di hadapanku. Senyummya begitu indah sekali. Bersinar bak sinar purnama di tengah kegelapan malam. Sesaat dia mengulurkan tangannya. Tanpa permisi, dia mulai mengangkat tubuhku, hingga tubuh yang ringan ini, seolah tengah melayang di udara.
Sesekali, kecupan hangat mendarat di keningku. Gelanyar aneh mulai aku rasakan, begitu nikmat dan syahdu. Sehingga aku tak pernah ingin membuka mata. Hmm, apakah dia seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemani kesendirianku di hutan ini? Sungguh Mimpi yang terlalu indah di tengah hutan belantara.
Sesaat setelah tubuhku melayang di udara, aku pun tak mengingat apa-apa lagi.
.
.
Sayup-sayup, aku mendengar suara isak tangis seseorang. Aku mengerjapkan mata, tapi entah kenapa terasa begitu berat. Tiba-tiba, tangan lembut nan hangat terasa menyentuh kulitku.
Ingin rasanya aku sapu air mata yang meleleh di pipinya. Namun, entah kenapa tangan ini terasa kaku tuk bergerak. Sesaat setelah isak tangis itu berhenti. Tiba-tiba seseorang mengangkat tanganku.
"Apa kabarmu Res? Sudah tiga hari kamu tertidur. Apa kamu tidak ingin bangun? Hmm, sepertinya aku tahu kenapa kamu tidak pernah ingin bangun. Kamu pasti sengaja, 'kan, agar aku tidak memberi kamu tugas tambahan untuk memperbaiki nilaimu? Bangunlah, Res! Aku janji, untuk kali ini, kamu akan mendapatkan nilai yang sempurna. Nilai yang tentunya sesuai dengan usahamu."
Sejurus kemudian, tangannya yang putih mulus, mengusap rambutku.
Tiga hari tidak bangun? Ya Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi padaku? Terakhir aku ingat, jika aku sedang berada di dalam hutan karena pelarianku. Aku tahu aku tersesat, tapi kenapa orang-orang ini bisa bersamaku. Apa mungkin ini hanya sekadar mimpi?
Tangan kekar itu kembali mengusap keningku. Sentuhannya begitu halus. Membuat aku seperti ketagihan untuk merasakannya lagi dan lagi. Ya Tuhan, jika memang benar ini sebuah mimpi, tolong jangan bangunkan aku! Sungguh, aku hanya ingin terus merasakan sentuhan hangat sang pangeran.
Tiba-tiba....
__ADS_1
Brakk!
Aku mendengar suara pintu yang dibuka paksa. Hmm, entah apa yang terjadi. Aku mencoba menajamkan indera pendengaranku. Tapi percuma, aku tidak bisa mendengar apa-apa. Rasanya aku ingin berteriak dan bertanya, apa yang sedang terjadi di sini? Tapi, kepada siapa aku harus bertanya. Suasana di sini cukup hening. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Akhirnya, aku kembali memejamkan mata dan berharap pangeran berkuda putih itu akan kembali muncul di hadapanku.
"Tunggu! Kamu tidak bisa masuk begitu saja. Aku tidak akan mengizinkan siapa pun masuk hanya untuk menyakiti Resti!"
Ish, kenapa berisik sekali, batinku. Ya Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi padaku. Kenapa aku tak mampu menggerakkan bagian tubuhku. Sepertinya mataku telah lelah terpejam, tapi entah kenapa aku tidak bisa membukanya.
"Berhenti! Aku bilang berhenti! Jangan pernah berani-beraninya lagi kau menginjakan kaki di sini. Paham! Pergi kamu dari sini! Pergi!"
Ish, kenapa suara si dosen gila itu mengganggu mimpiku. Suaranya yang begitu menggelegar, seketika membuat pangeran berkuda putihku ketakutan. Aish, sebenarnya dia sedang berbicara dengan siapa? Kenapa nada bicaranya begitu tinggi? Dan kenapa juga dia harus berteriak-teriak segala? Huh, bikin kuping aku terasa sakit saja. Aku mendengus kesal mendengar suara-suara berisik itu.
"Sa-saya mohon, Pak. Izinkan saya bertemu dengan Kakak Chi. Saya janji, saya tidak akan menyakitinya. Sa-saya hanya ingin meminta maaf. Sa-saya... Huhuhu...."
Suara itu?
Tiba-tiba, sebuah lenguhan panjang kembali menggema di telingaku.
Mas Yudhis dan di-dia... Aaargh!
Aku mengerjapkan mata dan menutup telinga agar tidak mendengar lenguhan terkutuk itu lagi. Bedebah kau Citra, berani kau datang menemuiku? Shitt! Aku harus memberikan pelajaran untuk sahabat seperti dia.
"Ci-citra!"
Bersambung
__ADS_1