My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Jangan Tinggalkan Aku!


__ADS_3

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Akhirnya, momen yang dinantikan Fatwa terjadi juga. Di hari ini, yang merupakan hari kedua memberikan penyuluhan kepada warga, Aji menjadikan gadis itu sebagai partner kerjanya. Namun, meskipun hati Fatwa dipenuhi bunga berwarna-warni, tetap saja sikapnya terkesan kaku di mata sang gadis.


Di rumah pertama, Fatwa mendapatkan giliran untuk memberikan penyuluhan. Penerimaan tuan rumah, begitu baik. Bahkan, putrinya terlihat begitu antusias menyimak penjelasan Fatwa. Dan sepertinya, hal itu membuat gadis tersebut gusar. Terlihat dari mimik wajahnya yang sangat tidak sedap dipandang mata. Tak ingin menimbulkan kesalahpahaman lebih jauh lagi, Fatwa segera mengakhiri kunjungannya.


Di rumah kedua pun, Fatwa merasa canggung untuk memberikan perintah kepada gadis itu. Entahlah, mulutnya seakan terkunci jika berdekatan dengan sang gadis. Di tempat inilah rasa kagum Fatwa mulai timbul. Melihat anak-anak yatim yang masih kecil-kecil tersebut, si gadis rela mengeluarkan seluruh makanannya dari ransel dan memberikannya kepada anak-anak kecil itu. Fatwa terlihat takjub melihat pemandangan di hadapannya. Hmm, rupanya dia gadis yang sangat baik, batin Fatwa.


Saat mereka sedang melanjutkan perjalanan, tiba-tiba gadis itu berlari menghampiri seorang nenek yang tengah duduk di tepi jalan. Rupanya sang nenek terjatuh saat baru pulang dari ladang. Tanpa berpikir panjang, mereka menolong nenek itu hingga sampai ke rumahnya.


Perjalanan panjang penuh liku mereka tempuh demi mengantarkan sang nenek dengan selamat. Tiba di rumah nenek, Fatwa segera mengobati kaki nenek yang terkilir. Setelah mengobatinya, Fatwa mengajak gadis itu untuk pulang. Namun, lagi-lagi Fatwa mendapatkan sebuah kejutan. Tak tega meninggalkan wanita tua itu sendirian, gadis itu meminta dirinya untuk menunggu hingga anak sang nenek pulang.


Awalnya Fatwa ingin menolak, tapi tatapan matanya yang jernih dan meneduhkan, membuat Fatwa mengalah. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya bu Zainab, sang anak pun kembali. Fatwa kemudian mengajak gadis itu untuk pulang. Nahasnya, mereka tersesat di tengah hutan rimba saat dalam perjalanan pulang.


Fatwa menengok ke belakang, dia tidak melihat gadis itu. Perasaan cemas pun kembali dia rasakan. Akhirnya, Fatwa memutuskan untuk menunggunya.


Samar-samar, gadis itu mulai tampak. Dia sedang meraba-raba jalanan dengan menggunakan tongkat. Hmm, rupanya rindangnya pohon jati ini, telah membuat suasana menjadi sangat gelap. Tak ingin terpisah lagi, Fatwa segera meraih tangan mungilnya.


Degup jantung Fatwa berdetak semakin tak beraturan. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. Tak ingin dikuasai emosi, Fatwa segera menarik tangan mungil itu untuk berjalan beriringan. Sejenak Fatwa berhenti untuk mengamati jalan yang dilaluinya.


"A-ada apa, Fat?" tanya gadis itu terlihat ragu.


"Aku mencari pertigaan saat pertama kali masuk ke hutan ini. Tapi, kenapa tidak ada, ya?" jawab Fatwa.


Gadis itu terlihat mengedarkan pandangannya untuk mencari jalan yang Fatwa maksud.


Tiba-tiba, Fatwa kembali menarik tangan gadis itu. Dengan langkah yang begitu cepat, hingga gadis itu terpaksa berjalan terseok-seok demi mengimbangi jalannya.


"Fat, bisakah kamu sedikit lebih pelan. Kakiku sakit sekali karena sering tersandung ranting," ucap pelan gadis itu.


"Apa kamu mau, kita jadi santapan raja hutan?" Fatwa malah bertanya dan mulai menakuti gadis itu.


"Ish, amit-amit. Lo kalo ngomong jan kek gitu, Fat. Nggak lucu, ah!" jawab gadis itu.


Dalam hati Fatwa bersyukur, candaannya berhasil membuat gadis itu berkata tanpa beban formal. Akhirnya, Fatwa semakin ingin menggodanya

__ADS_1


"Siapa juga yang bercanda. Aku serius," tukas Fatwa.


Terlihat gadis itu diam seketika, wajahnya mulai terlihat memucat.


"Fat, gue takut," ucap lirih gadis itu.


Fatwa tak sanggup menahan rasa gelinya. melihat kepanikan di wajah gadis itu, dia pun terkekeh.


"Lo ngerjain gue?" teriak gadis itu.


Fatwa hanya mengedikan kedua bahunya.


"Ish, sialan!" gerutu gadis itu.


Fatwa berlalu begitu saja. Tiba-tiba,


Bugh!


"Aww! Ish, bilang-bilang dong kalo mo berhenti." Kembali gadis itu menggerutu dengan sangat kesalnya. Dia menatap Fatwa yang tiba-tiba berhenti.


"What?!" jerit gadis itu. "Semua ini gara-gara kamu! Kalau seandainya tadi kita menerima tawaran Bu Zainab untuk menginap, ini semua nggak akan terjadi. Kamu emang egois, Fat. Kamu nggak mikir apa, kalo aku nih perempuan? Tersesat di hutan belantara sama seorang cowok, apa tanggapan orang nanti? Kenapa sih harus memaksakan diri untuk pulang? Padahal Bu Zainab udah begitu baik mau menampung kita di sana untuk malam ini. Bukankah Bu Zainab juga dah bilang kalo hutan ini sangat gelap meskipun masih sore. Dan sekarang, kita tersesat di hutan yang seluas ini." Gadis itu terus berkata tanpa jeda.


"Hey! Hey! Tenanglah dulu!" ucap Fatwa seraya menangkup wajah gadis itu dengan kedua telapak tangannya.


"Ish, gimana gue bisa tenang. Kita tersesat, Fat! TER-SE-SAT, di hutan belantara yang segini luasnya. Dan elo tau apa yang paling parah dari semua ini? Kita tersesat di negara orang. Negara terpencil yang penuh mistis yang kita nggak tahu pantangan dan larangannya seperti apa. Dan semua ini gara-gara elo!" Gadis itu semakin kalap.


Fatwa melepaskan tangannya, dia kemudian memegang kedua bahu gadis itu. "Terserah kamu mau ngomong apa, tapi aku mohon, tenanglah dulu! Kamu nggak sendirian di sini. Aku akan berusaha untuk mencari jalan keluar. Please trust me, oke!" ucap fatwa.


sejenak, gadis itu menatap Fatwa dan mengangguk. "Oke, i will trust you!" gumamnya lirih.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Karena tak kunjung juga mendapatkan jalan keluar, Fatwa akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka mulai membuka makanan yang dibekalkan bu Zainab kepada gadis itu dan menyantapnya. Selesai makan, Fatwa mengeluarkan pemantik api untuk membuat api unggun. Udara malam mulai semakin dingin.


Fatwa mulai membenahi tempat itu dan menyuruh sang gadis untuk tidur. Dia berjanji jika sepanjang malam dia akan menjaga gadis itu. Namun, rupanya rasa kantuk pun tidak bisa dia hindari. Akhirnya, Fatwa ikut terlelap bersama gadis itu.

__ADS_1


Entah berapa lama Fatwa tertidur. Udara yang semakin menusuk kulitnya, membangunkan dia dari tidurnya.


Res, apa kamu kedinginan?" tanya Fatwa.


Hening.


Res! Kamu denger aku?"


Fatwa kembali bertanya. Namun, tak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu. Fatwa membuka matanya lebar-lebar. Dan, dia sangat terkejut saat tidak mendapati gadis itu di tempatnya tadi. Fatwa segera bangkit dan mulai mencari keberadaan gadis itu.


Jantung Fatwa berdegup tak beraturan setelah hampir 15 menit mencari tanpa hasil.


"Res! Kamu di mana?"


Fatwa mulai berteriak, akan tetapi gadis yang dipanggilnya tidak menyahut juga.


"Res, tolong jawab aku, kamu di mana?"


Masih tak terdengar jawaban. Pikiran Fatwa pun semakin kacau. Entahlah, ada rasa sesak bersemayam di dalam dadanya. Fatwa kembali berlari ke sana kemari untuk mencari keberadaan gadis yang mulai mengusik pikirannya. Ya Tuhan ... jangan sampai aku kehilangan wanitaku lagi, batin Fatwa.


Sekali lagi, Fatwa berteriak. "Res, jawab aku kalo kamu mendengar suaraku. Kamu di mana!" Kali ini, begitu lantang Fatwa bersuara.


"Iya, Fat!! Aku di sini!"


Samar-samar, Fatwa mendengar suara perempuan. Dia pun kembali berteriak. "Resss....! Kamu di mana?"


"Fat!"


Tiba-tiba, Fatwa mendengar suara lembut dari arah belakang. Dia segera membalikkan badannya. Tampak gadis itu tengah berdiri di hadapannya. Tak ingin mengulur waktu, Fatwa berlari ke arahnya.


Brugh!


Fatwa memeluk dan mendekap erat gadis itu. Cairan bening mulai menetes dari kedua sudut matanya.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku! Aku mohon jangan tinggalkan aku!"


Bersambung


__ADS_2