
Zein menepuk pundak aku.
“Eh, iya. Kenapa, Zein?” tanyaku, terhenyak.
“Apa kita akan ke rumah sakit Husada sekarang?” tanya Zein lagi.
“Baiklah, Zein. Kita pergi sekarang,” jawabku.
“Lalu, operasi pak Fatwa?” tanya Zein lagi.
“Operasinya sudah selesai, Zein. Saat ini, Fatwa sudah dibawa ke ruang ICU untuk observasi pascaoperasi,” jawabku.
“Ah, syukurlah. Kalau begitu, kita pergi ke rumah sakit Husada sekarang saja. Biar urusannya cepat selesai,” usul Zein.
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, kami pergi menuju lift. Tiba di bawah, Zein segera menuju parkiran, sedangkan aku menunggunya di depan lobi rumah sakit. Tak lama berselang, mobil Zein berhenti di depanku. Aku segera membuka pintu mobil dan menaikinya. Zein melajukan mobilnya menuju rumah sakit Husada.
Perjalanan menuju rumah sakit Husada memakan waktu sekitar satu jam. Pukul 9 malam, kami baru tiba di sana. Setelah memarkirkan mobilnya, aku dan Zein memasuki rumah sakit tersebut. Di lobi rumah sakit, tampak dua orang polisi yang sedang berbincang-bincang. Kami segera menghampiri mereka.
“Selamat malam, Pak!” sapa Zein seraya mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, nama saya Zein, dan ini Kakak saya, Resti,” kata Zein memperkenalkan diri.
“Oh iya, Anda Resti yang menjadi saksi kejadian di hutan itu, bukan?” tanya salah satu polisi yang aku lihat bernama Radit di papan namanya.
“Benar, Pak,” jawabku.
“Saya, Radit dan ini Agung, rekan saya. Kami ditugaskan menunggu Anda untuk mengidentifikasi jenazah yang telah kami temukan di dasar jurang,” jawab Pak Radit.
Aku mengangguk.
“Apa Anda sudah siap untuk kembali bersaksi?” tanya Pak Radit.
Aku kembali mengangguk.
“Kalau begitu, mari ikut saya!” ucap Pak Radit seraya berjalan mendahului kami.
Kedua polisi itu mengajak aku dan Zein menuju kamar jenazah. Sepanjang perjalanan, hati dan pikiranku benar-benar kacau. Berjalan pun seolah tak berpijak. Aku memegang erat sikut Zein untuk menyeimbangkan langkahku.
“Tenanglah, Kak,” ucap Zein seraya memegang erat tanganku yang melingkar di sikutnya.
Setelah berkoordinasi dengan penjaga kamar jenazah, pintu kamar jenazah terbuka.
“Mari silakan mendekat, Mbak!” perintah Pak Radit kepadaku.
__ADS_1
Dengan didampingi Zein, aku melangkahkan kaki mendekati jenazah yang terbungkus rapi dalam kantong jenazah. Tiba di tepi brankar, Pak Radit membuka kantung jenazah itu. Seketika, kedua lutut aku bergetar hebat saat melihat wajah Bang Rizal yang penuh dengan luka.
“Apa Anda mengenali jenazah ini?” tanya Pak Radit.
“I-iya, Pak. Sa-saya mengenalinya. Dia … di-dia adalah Bang Rizal, orang yang telah menculik dan menyekap saya di villanya,” tutur aku terbata.
“Kalau begitu, bisakah Anda menghubungi keluarganya untuk mengambil korban?” tanya Pak Radit.
“Se-sebenarnya, saya tidak tahu keluarga Bang Rizal. Tapi, di Villa almarhum, ada seorang wanita bernama Ida dan ayahnya bernama pak Ujang. Mungkin Bapak bisa menghubungi mereka,” ucapku.
“Baiklah, kalau begitu, apa saya bisa meminta nomor kontak salah satu dari mereka?” tanya Pak Radit lagi.
“Saya sama sekali tidak tahu nomor kontak mereka, Pak,” jawabku.
“Alamatnya?” tanya Pak Radit.
“Maafkan saya, Pak. Untuk alamat villanya pun, saya tidak mengetahuinya. Selama saya di sekap, saya tidak pernah keluar dari kamar dan juga rumah almarhum. Tapi, seingat saya … di tempat itu hanya ada dua Villa, satu milik Bang Rizal, satunya lagi milik Pak Adhewa Saksena,” tutur aku.
“Baiklah, akan saya catat kesaksian Anda. Mungkin, untuk saat ini kesaksian Anda sudah cukup,” kata Pak Radit.
“Oh iya, Pak. Ngomong-ngomong, di mana korban yang kritis dirawat? Apa saya boleh menemuinya?” tanyaku pada Pak Radit.
“Korban kritis seorang perempuan, dia sudah dipindahkan ke rumah sakit Bhayangkara Healthy Centre karena kondisinya cukup parah. Alat di sini tidak memungkinkan untuk menanganinya, akhirnya kami memutuskan untuk memindahkan dia ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan medisnya. Sebaiknya, esok hari saja Anda menemui korban. Sekarang sudah terlalu malam juga,” jawab Pak Radit.
“Maaf, Pak. Apa kami boleh pulang sekarang?” tanya Zein.
“Ah, tentu saja, Mas. Nanti akan saya hubungi kembali jika kami sudah terhubung dengan pihak keluarga korban,” kata Pak Radit.
Setelah mendapatkan izin dari Pak Radit, Zein pun mengajak aku pulang.
.
.
“Kakak, sebaiknya kita pulang ke hotel saja,” kata Zein.
“Tapi, bagaimana dengan Fatwa?” tanyaku yang mencemaskan keadaan Fatwa.
“Pak Fatwa sedang berada di ruang ICU, tim medis pasti akan menjaganya dengan baik. Percuma juga kita menunggui di sana, Kak. Kita nggak bakalan bisa masuk untuk melihat kondisi pak Fatwa. Sebaiknya, malam ini Kakak gunakan untuk beristirahat. Besok, pihak kepolisian pasti akan meminta kesaksian Kakak lagi terkait kejadian tadi siang. Saran Zein, Kakak gunakan malam ini untuk istirahat total, supaya besok Kakak terlihat segar dan siap memberikan kesaksian yang mereka minta kembali,” tutur Zein panjang lebar.
Ya, mungkin apa yang dikatakan Zein ada benarnya juga. Aku pun mengangguk mengikuti saran Zein. Setelah mendapatkan persetujuanku, Zein memutar arah dan kembali melajukan kendaraannya menuju hotel tempat kami beristirahat untuk malam ini.
__ADS_1
.
.
Tiba di kamar Hotel, aku disambut oleh Raya. Mama sudah terlelap dalam mimpinya. Setelah memakan nasi padang yang sudah hampir dingin, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setengah jam kemudian, aku mulai membaringkan tubuhku di atas ranjang. Kutatap Rayya yang sudah mendengkur halus di samping mama. Entah kenapa, aku tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Fatwa yang masih terpejam setelah menjalani operasi, selalu terlintas dalam benakku. Semoga malam ini Fatwa bisa melewati masa kritisnya.
.
.
Keesokan harinya. Aku menyuruh Rayya untuk membawa mama pulang. Awalnya mama menolak untuk pulang. Tapi, setelah dibujuk oleh Rayya dan Zein, akhirnya mama bersedia juga untuk pulang.
Setelah kepergian mama, aku meminta Zein untuk menemani aku membeli pakaian dan beberapa barang yang akan aku butuhkan selama menjaga Fatwa di rumah sakit. Tekad aku sudah bulat, aku akan menjaga laki-laki itu sampai sembuh.
Saat kami sedang dalam perjalanan pulang dari pusat perbelanjaan, tiba-tiba ponsel Zein berdering.
“Siapa, Zein?” tanyaku.
“Dari kepolisian, Kak?” jawab Zein.
“Ya sudah, cepat angkat, Zein! Siapa tahu ada hal yang penting,” titah aku pada Zein.
Zein mengangguk, dia kemudian mengangkat ponselnya.
“Hallo!” sapa Zein.
“Maaf mengganggu waktunya, Mas Zein. Kami hendak memberitahukan bahwa tadi subuh, jenazah pak Rizal sudah diambil oleh pihak keluarga. Seperti apa yang telah dilaporkan, hari ini akan diadakan pemakaman Pak Rizal tepat di belakang Villanya. Untuk itu, saya mengharapkan kehadiran mbak Resti untuk dimintai keterangan atas tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh istri almarhum kemarin siang. Kebetulan, kami juga akan meminta keterangan dari asisten rumah tangganya almarhum. Apa kira-kira Mas Zein bisa menyampaikan hal ini kepada mbak Resti?” tanya Pak Radit di ujung telepon.
Aku yang memang mendengar jelas perkataan O
Pak Radit, segera menyahut.
“Iya, Pak. Ini saya, Resti. Saya bersedia menghadiri prosesi pemakaman bang Rizal. Kira-kira, kapan bang Rizal akan dimakamkan?” tanyaku.
“Mungkin sekitar pukul 9 tepat,” jawab Pak Radit.
Aku melirik jam tangan mungilku. Masih tersisa waktu satu jam untuk tiba di sana.
“Baiklah, Pak. Sekarang juga, kami akan menuju villa bang Rizal. Maaf, apa Anda bisa mengirim shareloc, karena kami tidak tahu jalan menuju Villa bang Rizal,” pintaku kepada polisi itu.
__ADS_1
“Baiklah, akan saya kirim sekarang juga.”
Bersambung