
Aku merengut, menekuk wajahku yang sudah jelek semakin terlihat jelek. Rasa kesal masih menggelayut di hatiku. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Mengutuk Aji yang sudah memasangkan aku dengan pria dingin tanpa perasaan itu.
Sepanjang jalan aku hanya diam, berharap dia bisa peka terhadap sikap protesku. Tapi, emang dasar pria tak punya perasaan, dia malah bersikap masa bodoh melihat kediamanku.
Rumah kedua kami singgahi. Entah kenapa jantungku berdetak tak beraturan saat pria itu kembali mengucap salam. Aku takut jika yang membukakan pintu adalah seorang gadis belia lagi. Hmm, sepertinya aku mulai parno terhadap seseorang yang berada di balik pintu.
"Wa'alaikumsalam!" jawab seseorang. Begitu pintu terbuka, akhirnya aku bisa bernapas dengan lega saat melihat ibu-ibu paruh baya berdiri di ambang pintu.
Setelah dipersilakan masuk, kembali pria dingin itu melakukan tugasnya. Rumah ini dihuni oleh seorang janda beranak empat. Dia bernama Bu Retno. Suaminya telah meninggal dua tahun yang lalu. Melihat keempat anaknya yang masih kecil, aku merasa iba. Aku membuka tas ransel dan mengeluarkan beberapa camilan dari dalam tas. Camilan itu aku berikan kepada mereka. Ternyata, mereka sangat senang menerima jajanan yang tidak seberapa bagiku, tapi begitu besar artinya bagi mereka.
Selesai melakukan tugas, kami akhirnya berpamitan kepada Bu Retno. Saat hendak pergi, aku melihat Fatwa merogoh saku celananya dan menyelipkan sesuatu di tangan Bu Retno.
"Ini, Bu. Ada sedikit rezeki buat Ibu dan anak-anak," ucap Fatwa sambil menatap keempat anak kecil yang sedang makan snack.
Mata Bu Retno berkaca-kaca menerima uang dari Fatwa. "Terima kasih, Nak," ucapnya.
"Sama-sama. Kalau begitu, kami permisi dulu, Bu. Assalamu'alaikum!" kata Fatwa.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Bu Retno.
Setelah berpamitan, kami kembali melakukan perjalanan menuju rumah ketiga. Jalan yang kami tempuh semakin menanjak dan mulai menyempit. Aku mulai kesulitan menapaki jalan yang semakin terjal itu. Di sepanjang jalan, batu-batu besar terlihat di mana-mana.
Huff!
Aku mengembuskan napasku dengan kasar. Sulitnya medan yang harus kami tempuh, membuat waktu semakin terbuang percuma. "Ya Tuhan ... kok ada, ya, desa se-terpencil ini? Untung saja tidak hujan, coba kalau dikasih hujan ... bisa nggak sampai ke tempat tujuan nih," gumamku pelan.
"Sudah, jangan terus mengeluh. Keluhan kamu itu tidak akan mempersingkat perjalanan kita," tegur Fatwa.
Eit dah, sekalinya bicara, dia bicara ketus seperti itu padaku. Emang dasar si mulut pedas, lemes sekali tuh bacot. Aku semakin menggerutu mendengar teguran dia. Tapi tentu saja hanya dalam hati.
Saat kami tiba di persimpangan jalan, tiba-tiba kami melihat wanita tua sedang duduk di tepi jalan. Raut wajahnya terlihat meringis seperti sedang menahan rasa sakit. Kami segera menghampiri wanita tua tersebut.
"Loh, Nenek!" ucapku terkejut saat mengenali wajah wanita tua itu.
"Nenek kamu?" Fatwa malah bertanya dengan menampakkan wajah pilonnya.
"Ish, mana ada. Lo pikir gua penduduk sini!" Sanggahku ketus.
Fatwa hanya menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Aku berjongkok di hadapan wanita tua itu. "Nenek mau ke mana? Kenapa ada di sini?" tanyaku pada wanita tua tersebut.
"Nenek mau pulang, Cu. Kebetulan tadi Nenek habis dari ladang," jawabnya.
"Ayo, aku bantu, Nek!" ucapku sambil mengulurkan tangan untuk membantu wanita tua itu berdiri.
"Ish, Nenek tidak kuat berdiri, Cu," ucap wanita tua itu.
"Tapi, kenapa Nek?" tanyaku lagi.
"Kaki Nenek tadi terkilir saat di ladang," jawab wanita tua itu.
"Di mana rumah Nenek?" Fatwa ikut bertanya.
"Rumah Nenek masih jauh, Cu," jawabnya.
Fatwa menurunkan tas ransel miliknya. Tanpa berbicara, dia menyerahkan tas ransel itu padaku. Meskipun heran, aku tetap menerima tasnya.
Tiba-tiba aku melihat pria dingin itu berjongkok di hadapan wanita tua itu. "Naiklah ke punggungku, Nek!" ucap Fatwa.
"Tapi Cu, Nenek berat," jawab si wanita tua.
Aku membantu wanita tua itu berdiri dan melingkarkan kedua tangannya di leher Fatwa. Setelah siap, Fatwa mulai mengangkat tubuh renta itu.
Mata wanita tua itu sepertinya masih berfungsi dengan baik, terbukti dengan kemampuan dia menunjukkan jalur ke rumahnya di antara semak belukar yang menutupi jalan. Di kiri kanan jalan setapak, hanya terlihat hutan pohon jati. Bulu kudukku sedikit berdiri membayangkan jika malam mulai menyapa di daerah ini.
Awan hitam sudah mulai menggelayut di langit. Fatwa semakin mempercepat langkahnya karena takut hujan keburu turun. Dengan langkah terseok-seok aku pun berjalan setengah berlari untuk mengimbangi langkah Fatwa.
"Itu rumahnya, Cu!" Wanita itu menunjuk sebuah bangunan.
Aku tersenyum lega melihat bangunan yang terbuat dari kayu itu. Ya, rumah panggung yang sangat sederhana bercat coklat terlihat jelas di hadapan kami. Tiba di sana, Fatwa menurunkan wanita tua itu di atas bangku.
Wanita tua itu mengeluarkan kunci dari balik kebayanya. "Tolong pintunya dibuka, Cu!" perintah wanita tua itu kepadaku.
Aku mengangguk dan mengambil kunci rumah itu dari tangannya. Sejurus kemudian, aku membuka kunci pintunya. Setelah pintu terbuka, Fatwa kembali menggendong wanita tua itu hingga ke ruang tamu.
"Apa Nenek punya minyak urut?" tanya Fatwa.
"Ada di dalam kamar, Cu," jawab nenek.
__ADS_1
"Biar aku ambilkan!" Aku menawarkan diri untuk mengambil minyak urut. Setelah menemukannya, aku segera kembali ke ruang tengah dan memberikan minyak tersebut kepada Fatwa.
Pria dingin itu menerimanya tanpa mengucap kata terima kasih. Huh, sungguh pelit sekali berbicara, gerutuku dalam hati.
Fatwa mulai mengurut kaki wanita tua itu. Dengan telaten, dia mengurus wanita tua tersebut.
"Bagaimana, Nek?" tanya Fatwa.
Terlihat wanita renta itu menggerak-gerakan pergelangan kakinya.
"Alhamdulillah, Cu. Sekarang sudah agak baikan," jawabnya.
Fatwa tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Oh, iya Nek. Apa Nenek mau saya bantu ke kamar? Mungkin saja Nenek mau beristirahat," kata Fatwa.
"Tidak usah Cu, Nenek hanya mau ke kamar mandi saja. Pakaian Nenek kotor," jawabnya.
"Mari aku bantu, Nek!" Aku mendekati wanita tua itu dan mulai memapahnya menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, aku membantu dia pergi ke kamarnya.
"Apa Nenek tinggal sendirian di sini?" tanyaku.
"Tidak. Nenek tinggal bersama Zainab," ucapnya.
"Zainab?" tanyaku sambil mengerutkan kening.
"Iya, wanita yang waktu itu berjalan bersama kalian," ucapnya
"Oh, iya ... aku ingat. Lalu, kemana ibu Zainab sekarang?" tanyaku yang merasa heran karena tidak melihat keberadaan wanita paruh baya itu.
"Zainab sedang turun untuk membeli keperluan rumah tangga kami. Sebentar lagi dia pulang." Wanita tua itu kembali menjawab pertanyaanku.
Mendengar saat ini wanita renta itu sendirian berada di rumahnya. Akhirnya aku menemui Fatwa dan meminta dia untuk mengizinkan aku menemani wanita tua itu hingga putrinya pulang.
"Boleh ya, Fat?" pintaku.
Pria dingin bermata elang itu hanya bisa mengembuskan napasnya dengan kasar menanggapi permintaanku.
Bersambung
__ADS_1