My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Gosip


__ADS_3

Berhari-hari aku memikirkan perkataan Irma tentang ta'aruf. Entahlah, aku benar-benar merasa aneh dengan apa yang dikatakan Irma. Yang aku tahu, di saat seseorang memiliki pasangan, maka itu namanya pacaran. Dan pacaran itu terbagi menjadi dua kategori. Ada yang sehat, dan ada yang tidak sehat.


Aku sering melihat beberapa temanku yang telah memiliki pasangan. Sebagian memang ada yang menjalaninya biasa saja, dan sebagian lagi ada yang menjalaninya dengan cara berlebihan. Itu mungkin yang dinamakan konsep pacaran antara pacaran sehat atau tidak sehat. Lalu konsep ta'aruf sendiri, apakah sama dengan konsep pacaran sehat?


Ah, semakin lama aku memikirkannya, semakin terasa berdenyut kepalaku ini. Akhirnya, aku hanya bisa memendam perasaan dan membiarkan waktu yang akan menjawab semua konsep tersebut.


Ya, meski tak memiliki arti, tapi hubunganku dengan pria dingin itu mengalami sedikit kemajuan.


"Aku senang kamu bisa mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan IREMA," ucap Fatwa saat dia menghampiriku selepas acara pengajian berakhir.


Memanglah benar, setelah mengenal Fatwa, aku mulai sering mengikuti kajian yang diadakan oleh IREMA. Tak jarang aku melihat tatapan heran dari para akhwat, tapi aku mencoba untuk tidak menghiraukannya.


"Ini sudah sangat sore, ayo, aku antar kamu pulang!" ucapnya lagi.


Aku terkejut mendengar ajakan Fatwa. Ya Tuhan ... apa aku tidak salah dengar? batinku.


"Kok malah ngelamun, ayo!"


Kini, pria dingin itu telah berdiri di hadapanku. Dengan dada yang masih bergetar, aku beranjak dari tempat duduk dan mengikuti ajakan Fatwa.


"Hehehe, iya Fat," jawabku tersipu malu.


Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir di sekolah. Setelah menemukan motornya, Fatwa mengajakku untuk menaiki motor tersebut. Dengan perasaan tak menentu aku menaiki kendaraan itu. Sejurus kemudian, Fatwa melajukan motornya.


Diam. Hanya itu yang mengiringi perjalanan kami. Sepatah kata pun tak ada yang terucap dari bibir kami. Jujur, lidahku terasa kelu saat berhadapan dengannya. Apalagi sedekat ini. Ah, biarlah kebersamaan ini terlewati meski tanpa bahasa.


Melewati 20 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di rumahku. Aku menawari dia untuk singgah. Namun, karena hari sudah sangat sore, Fatwa hanya bilang terima kasih dan lain waktu saja.


.


.


.


Setelah beberapa hari berlalu, tiba-tiba saja aku mulai merasakan kejanggalan di sekolah. Entahlah, aku melihat ada tatapan sinis dari anak-anak IREMA saat aku kembali mengikuti kajian. Tapi, aku berusaha untuk menekan rasa penasaran dan tak menghiraukan tatapan itu.

__ADS_1


Setelah menyimpan tas sekolah, aku pergi ke kantin untuk menemui ketiga sahabatku.


"Apa kalian tahu berita hangat yang sedang menjadi trending topik di sekolah kita?" tanya Tika kepada kedua temanku.


"Tentang Chi dan Fatwa?" timpal Kak Lastri.


Sebenarnya aku ingin menghampiri mereka, tapi saat aku mendengar Kak Lastri menyebutkan namaku dan nama pria asing itu, aku mengurungkan niatku. Aku mencoba menguping pembicaraan mereka agar mengetahui berita seperti apa mengenai aku dan pria itu.


"Ya, gue denger berita itu. Ish, gue kesel banget, sapa sih yang berani menyebarkan gosip murahan seperti itu? Awas aja kalo gue tahu, abis tuh orang!" gerutu Irma sambil mengepalkan tangannya.


Deg!


Jantungku seolah berhenti berdetak. Gosip? Tentang apa? Kenapa melibatkan namaku dan nama pria dingin itu. Pria yang bahkan seperti tidak diketahui keberadaannya karena seorang introvert.


Tak sanggup membendung rasa penasaran, akhirnya aku menghampiri mereka.


"Gosip apaan nih? Apa gue ketinggalan berita hanya karena sering meninggalkan kalian untuk mengikuti kajian IREMA?" Aku mencoba menetralisir emosiku dan menganggap jika mereka sedang tidak membicarakan aku.


"Eh, Chi ... kapan kamu datang?" tanya Kak Lastri yang cukup terkejut melihat kedatanganku. Sebenarnya bukan hanya Kak Lastri saja yang terkejut, Irma dan Tika pun sama terkejutnya dengan Kak Lastri.


Ketiga sahabatku hanya saling pandang menanggapi pertanyaan dariku.


"Kok pada lirik-lirikan gitu, sih? Apa ini ada hubungannya sama Chi?" tanyaku, mencoba menelisik lebih jauh.


"Hhh." Terdengar Kak Lastri menghela napasnya berat. "Sebenarnya, ini tentang kedekatan kamu dengan Fatwa, Chi," ucap Kak Lastri.


Aku terkejut mendengar perkataan Kak Lastri.


"Aku dan Fatwa?" tanyaku sambil mengerutkan kening.


Aku melihat Irma dan Tika mengangguk.


"Hei, sebenarnya ada apa dengan kami? Kenapa kami harus menjadi sumber gosip? Kek selebriti saja, hahaha," gurauku menutupi rasa gundah di hati.


"Chi, ini bukan saatnya bercanda. Saat ini, lo sedang jadi bahan omongan anak-anak seantero SMA 1. Palagi anak-anak IREMA, mereka tuh lagi santer-santernya ngomongin lo!" ucap Irma dengan nada kesal karena gurauanku.

__ADS_1


"Gue nggak becanda, Ma! Lagian apa untungnya gue becanda. Gue hanya nggak habis pikir aja, apa sih yg mereka gosipin tentang gue? Toh gue bukan selebriti, bukan juga top model di sekolah ini," sangkalku.


"Ish, lo mah gitu Chi! Jan terlalu menganggap enteng persoalan, napa?" rungut Irma.


"Udah deh, biarin aja lah, toh nanti kalo dah capek, mereka berhenti sendiri," dalihku.


"Ish, Chi ... lo nggak bisa gitu dong! Lo harus klarifikasi. Ini menyangkut harga diri lo. Gue nggak rela sobat gue dituduh yang nggak-nggak." kembali Irma berbicara dengan nada geram. Wajahnya mulai terlihat merah karena menahan amarah.


Sebenarnya, bagi aku pribadi, aku tidak terlalu memusingkan apa yang orang bicarakan tentang aku. Tapi melihat Irma seemosi itu, aku jadi penasaran, hal apa yang sebenarnya bisa menjadi trending topik di sekolah sepopuler ini?


"Emangnya mereka lagi ngomongin apaan tentang gue?" Akhirnya, pertanyaan yang memicu rasa penasaranku terlontar juga.


"Ini tentang kedekatan lo ma Fatwa? Mereka bilang, lo masuk IREMA cuma buat cari perhatian Fatwa doang. Mereka bilang lo agresif dan lo pasti menyem-menyemin tuh cowok es ampe kemaren dia anterin lo pulang! Mereka nuduh lo dah ngelakuin hal diluar batas waktu kalian tersesat, dulu," ucap Irma berapi-api.


Uhuk!


Aku yang sedang menelan bakwan akhirnya tersedak juga karena rasa terkejut.


Tika segera mengambil air mineral gelas, menusuk tutupnya dengan sedotan kecil dan menyerahkannya padaku.


Rada sakit di tenggorokan membuat aku menenggak habis air mineral itu. Setelah tertelan, aku menyeka mulut dan menatap mereka satu per satu.


"Serius?" tanyaku menyelidik.


Ketiga temanku hanya menganggukkan kepalanya.


Ish, siapa yang mergokin aku pulang bersama. Padahal, hari itu sudah sangat sore dan sudah tak ada orang lagi di sekitar sekolah. Aku harus menjelaskan ini pada Fatwa, aku tidak mau dia beranggapan buruk kepadaku, batinku.


Aku segera beranjak dari kursi yang aku duduki. "Girls! Gue cabut dulu, ya?"


"Chi, lo mau ke mana?"


Aku hanya melambaikan tangan menjawab pertanyaan Irma. Aku ingin segera bertemu dengan pria dingin itu dan mencoba mengklarifikasi gosip yang sedang beredar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2