
"Kenapa Kak? Dari tadi Bibi lihat kok, kamu cuma ngelamun saja di sini. Kamu ada masalah sama mama kamu?" tanya Bi Enci.
Aku terkejut mendengar pertanyaan Bi Enci yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. "Eh, Bi Enci. Maaf, Kakak nggak lihat Bibi datang," ucapku, melirik ke arahnya.
"Tentu saja Kakak nggak lihat, orang dari tadi Bibi perhatiin, Kakak tuh cuman bengooong aja. Kenapa, sih? Ada masalah? Kalau Kakak punya masalah, Kakak bisa ceritakan ke Bibi. Siapa tahu Bibi bisa bantu kamu," ucap Bi Enci mengelus rambut panjangku.
Kedua mata kami saling bertemu. Aku mulai menangis, dan memeluk Bi Enci. Dengan penuh kelembutan, Bi Enci mengusap rambutku, mencoba menenangkan.
"Yang sabar, Kak. Bibi memang tidak tahu masalah seperti apa yang sedang menimpa kamu saat ini. Tapi, Kakak juga harus percaya jika Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Seberat-beratnya masalah yang sedang Kakak hadapi, Tuhan pasti memberikan solusi yang terbaik untuk Kakak. Bukankah apa yang Tuhan ciptakan itu selalu berpasangan?" ucap Bi Enci.
Ya! Apa yang dikatakan Bi Enci memanglah benar. Apa pun di dunia ini, pasti selalu memiliki pasangan. Ada lelaki ada perempuan. Ada siang ada malam. Ada langit ada bumi. Pun dengan sebuah permasalahan. Ada masalah, tentunya ada solusinya. Kita hanya cukup berikhtiar untuk mencari solusi tersebut.
"Apa Kakak sanggup?" Aku mengurai pelukan dan menatap mata teduh milik Bi Enci.
"Tentu saja Kakak sanggup. Asal Kakak terus berikhtiar untuk mencari solusinya. Dan, salah satu ikhtiarnya, Kakak bisa juga membicarakan masalah tersebut dengan seseorang yang amanah, supaya Kakak bisa bersama-sama mencari solusi yang terbaik," ucap Bi Enci lagi.
Hening. Hanya itu yang mampu tercipta setelah Bi Enci berbicara. Jujur saja, aku belum siap menceritakan apa yang terjadi dalam hidupku. Mengalami penolakan di depan umum, sungguh ini sangat memalukan. Dan aku selalu menganggap itu adalah aibku. Aku tidak tahu apa yang salah dari rasaku. Sehingga dia harus layu sebelum berbunga.
"Ya sudah kalau Kakak tidak mau bicara, Bibi tidak akan memaksa. Tapi ada satu hal yang harus Kakak ketahui. Ujian itu diberikan saat kita akan mengalami kenaikan kelas. Begitu juga dengan ujian dari Tuhan. Percayalah, ketika Kakak mampu melewati ujian yang Tuhan berikan untuk Kakak, maka Kakak akan mendapatkan manisnya keberhasilan. Ujian diberikan justru untuk menaikan derajat kita. Entah itu di mata Tuhan, ataupun masyarakat."
Ya Tuhan ... sungguh meresap sekali patah per patah kata yang Bi Enci lontarkan. Apa yang dia katakan, semuanya sama persis dengan apa yang selalu diucapkan mama ketika aku berkeluh kesah tentang problematika yang menyapa hidupku. Tapi untuk urusan pria dan rasa, sungguh lidahku kelu untuk berbagi cerita dengan mama.
"Maaf, Bi. Mungkin lain waktu Kakak ceritakan sama Bibi. Saat ini, Kakak belum siap, Bi," ucapku.
__ADS_1
Bibi kembali membelai lembut rambutku. "Iya, tidak apa-apa. Bibi tidak akan memaksa kamu. Oh iya, apa besok Kakak mau ikut ke pasar?" tanya Bi Enci.
Bi Enci seorang pedagang buah-buahan di pasar yang tempatnya tak jauh dari rumah. Waktu kecil, setiap liburan catur wulan, aku suka diajak Bi Enci pergi ke pasar. Libur di tempat nenek, yang sekarang rumahnya ditempati Bi Enci, adalah satu kesempatan yang aku nantikan dalam hidupku. Pasalnya, di tempat nenek, suasananya masih sangat asri dan segar. Masih rindang oleh pepohonan besar dan hamparan sawah seperti sebuah permadani yang berwarna hijau yang beberapa bulan ke depan akan berubah warna menjadi menguning.
Sekitar 1 km dari rumah nenek, terdapat sebuah pasar tradisional. Tempatnya memang tidak begitu luas, tapi pasar itu begitu ramai. Hampir setiap harinya, pasar itu dikunjungi oleh masyarakat setempat yang sangat membludak.
"Insya Allah Kakak ikut, Bi. Sudah lama juga Kakak tidak pergi ke pasar," jawabku.
"Ya sudah, Bibi keluar dulu sebentar. Ada sesuatu yang harus Bibi urus di sekolahnya si kembar," ucap Bi Enci.
Aku mengangguk. Setelah Bi Enci pergi, aku kembali menatap hamparan sawah di depanku.
.
.
Berhari-hari aku melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya aku menyadari jika aku tidak bisa terus sembunyi dari masalahku sendiri. "Masalah bukan untuk dihindari, Kak. Justru harus bisa kita hadapi supaya cepat selesai." Itu wejangan papa saat dia menelepon untuk menanyakan kabarku.
Meskipun kami terpisah dan jarang berjumpa karena beliau bekerja di luar kota, tapi ikatan batin di antara kami sangatlah kuat.
"Kasihan mama kamu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Adik kamu juga masih terlalu kecil. Dia butuh perlindungan kakaknya di saat mama sedang tidak ada di rumah. Tolong Kakak jangan terlalu egois, ya? Apalagi untuk urusan hati. Papa percaya, Kakak pasti bisa menjaga kepercayaan Papa terhadap Kakak."
Astaghfirullahaladzim ... sekali lagi aku tertampar oleh ucapan ayahku. Ya! Bodoh sekali rasanya jika aku menjadi orang lemah hanya karena urusan perasaan. Aku anak sulung, sudah selayaknya aku menjadi panutan adikku dan penolong mama. Aku tidak bisa membiarkan keegoisan terus-menerus bersarang di hatiku. Sudah cukup aku menjadi orang tolol karena terlalu mendewakan perasaan.
__ADS_1
Setelah tinggal selama lima hari di rumah bibiku, akhirnya aku pamit pulang. Aku sudah bertekad untuk menghapus rasa itu. Apa pun yang terjadi, aku harus bangkit kembali menjadi seorang Octora Resttyani yang dulu. Bila perlu, menjadi lebih baik dari yang pernah ada.
.
.
Mama tersenyum lebar melihat kedatanganku. "Alhamdulillah, Nak. Akhirnya kamu pulang juga," ucapnya
Aku berlari ke arah mama dan langsung memeluk wanita pujaanku itu.
"Maafkan Kakak, Ma. Maafkan Kakak yang sudah egois meninggalkan kewajiban Kakak di rumah hanya karena ingin menghindari masalah," ucapku sambil terisak dalam pelukan mama.
Mama melonggarkan pelukannya setelah mendengar tangisku mulai mereda. "Tidak apa-apa, Kak. Semuanya perlu waktu. Menjadi dewasa juga membutuhkan sebuah proses," ucap mamaku begitu bijak.
"Iya, Ma. Maafkan Kakak."
.
.
Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah. Dengan tekad dan semangat baru, aku mulai menapaki koridor itu. Cibiran siswa-siswi SMA 1 masih terdengar begitu jelas. Sepertinya, yang menjadi trending topik kali ini tentang menghilangnya aku selama lima hari terakhir. Tapi aku tetap berusaha untuk tidak menghiraukan sindiran mereka. Fokusku cuma satu, kembali menjadi pribadi yang dulu. Bahkan kalau bisa, harus lebih baik dari sebelumnya.
Brugh!
__ADS_1
Bersambung