
Aku terkejut saat seseorang yang mengenakan seragam ojek online mendekati aku. Ish, apa maksudnya ini? Apa dia juga terlibat dalam penculikan aku saat ini?
“Hehehe, apa kabar Chi?” tanya si abang ojek itu.
Chi?! Kenapa dia bisa tahu nama panggilan aku? Padahal, nama itu hanya aku pakai di tempat kelahiran. kalaupun ada yang tahu, paling hanya keluarga atau orang-orang terdekat aku saja. Sedangkan dia? Huh, bahkan aku baru saja mengenalnya beberapa jam yang lalu.
“Kenapa melamun, Chi? Apa kau tidak pernah menyangka jika kita akan bertemu lagi?” Kembali abang ojek online itu bertanya.
Kita? Ish, apa aku pernah mengenalnya?
Aku mengernyit, mencoba mengingat gurat wajah itu. Tapi, tak sedikit pun aku merasa, aku pernah bertemu dengan laki-laki. Ya Tuhan, mungkin apa yang dikatakan dosen gesrek itu ada benarnya. Bahwa, otakku memang terlalu lemot.
“Ah, sudahlah! Tidak ada gunanya memaksa orang untuk mengingat sesuatu yang memang tidak pernah dia ingat. Hanya buang-buang waktu saja, huh!” dengus si abang ojek itu terlihat kesal. Sedetik kemudian, dia membuka masker yang sedari tadi dikenakannya.
Dia?!
Aku kembali terkejut saat mengenali sosok itu sebagai si penguntit yang pernah aku lihat di warung depan sekolah. Ish, jadi dia memang bekerja sama dengan komplotan penculik itu. Tapi siapa dia? Kenapa sepertinya dia sangat mengenali aku? Bahkan dia tahu tentang nama panggilanku. Apa sebelumnya aku pernah bertemu dia?
“Cepat beri dia makan!” perintah si abang ojek.
Tak lama kemudian, orang yang sedari tadi memegang kotak makan mendekati aku. dia meletakkan makanan itu di atas meja.
“Dengar, Nona. Aku hanya akan membuka ikatan di tangan kananmu saja. Jadi, jangan coba-coba kabur. Jika kau mencoba melarikan diri, maka kau tidak akan pernah membayangkan apa yang bisa aku lakukan kepada dirimu,” ucap laki-laki itu penuh ancaman.
Aku tak menggubris ancamannya. Pikiranku masih berkelana, mencoba mengingat sosok laki-laki yang mengenakan jaket berwarna hijau itu.
“Siapa kamu?” tanyaku seraya menatap tajam si abang ojek.
Laki-laki yang hendak berlalu pergi itu, kembali membalikkan badan saat dia mendengar pertanyaan yang aku lontarkan. Sejenak, dia menatapku dengan tajam. Senyum sinis terukir di bibirnya.
“Siapa kamu?” Aku kembali bertanya.
__ADS_1
“Cobalah untuk menebak aku, Chi. Tidak seru rasanya jika aku langsung memberi tahu kamu tentang jati diriku yang sebenarnya. Marilah kita bermain-main sejenak, Chi. Hmm, sekedar untuk mengasah otak yang sudah mulai tumpul saja,” guraunya.
Aku mendengus kesal mendengar semua ucapannya yang tidak terarah. Huh, apa dia seorang psikopat yang sedang mencari korban?
Tak lama kemudian, aku mendengar bunyi dering ponsel milik pria itu. Dia mengeluarkan ponselnya, mengusap layarnya dan berlalu pergi begitu saja.
“Semuanya beres!”
Hanya kalimat itu yang aku dengar dari bibirnya sebelum dia melangkah jauh dari hadapanku.
“Makanlah!” ucap laki-laki yang membuka ikatanku tadi. Sejurus kemudian, dia bersama temannya kembali meninggalkan aku sendirian di ruangan ini.
Seketika, aku teringat ponsel yang aku taruh di dalam saku blazer. Aku mulai merogoh saku blazer dengan menggunakan tangan kanan yang terbebas.
Sial! Ternyata mereka telah merampas ponselku juga. Aku hanya bisa merutuki nasibku yang sepertinya sudah berlangganan menjadi korban penculikan. Entah siapa dalang dibalik semua penculikan kali ini? Dan aku sendiri tidak begitu yakin apa aku akan selamat atau tidak.
Waktu terus berlalu. Menjelang sore, aku masih tidak mau menyentuh makanan yang mereka berikan. Selera makanku seketika hilang saat menyadari kebebasan aku telah direnggut oleh para penculik itu. Terdengar gelak tawa yang mengiringi percakapan mereka. Entahlah, aku sendiri tidak mengerti tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
Malam semakin merangkak. Semilir angin malam mulai masuk melalui celah jendela yang kayunya mulai keropos dimakan rayap. Udara malam mulai semakin dingin menusuk kulit yang hanya mengenakan pakaian tipis. Rintik air hujan di luar pun menambah suasana semakin mencekam sempurna.
Sayup-sayup aku mendengar deru suara mobil yang tiba-tiba berhenti. Entah siapa yang datang ke tempat ini. Mungkin salah satu dari para penculik yang baru kembali, atau bisa jadi orang baru.
“Di mana wanita itu?”
Keningku sedikit mengernyit saat samar-samar aku mendengar suara perempuan bertanya di luar sana.
“Ada di dalam, Bos,” kata salah satu penculik yang berlogat Batak.
Bos? Jadi dia bos-nya? Seorang perempuan? Tapi, siapa perempuan itu? batinku.
“Hmm, baguslah!” jawab perempuan itu.
__ADS_1
“Apa kau ingin menemuinya, Bos?” Pria berlogat Batak itu kembali bertanya.
“Tidak usah, belum waktunya!” tukas suara laki-laki yang aku yakini dia adalah si abang ojek online gadungan.
“Haish, apa hak kamu melarang aku menemui wanita itu?” Si wanita bertanya dengan nada yang mulai meninggi.
“Aku tidak melarang kamu. Aku hanya bilang, belum waktunya. Bersabarlah sedikit lagi jika kau memang ingin mewujudkan impianmu,” ucap laki-laki itu.
“Impian?! Huh, aku tidak tahu apa aku masih memiliki impian tentang dirinya. Kehadiran wanita itu membuat semua mimpiku menguap,” dengus wanita itu terdengar sangat kesal.
“Terserah apa katamu. Tapi yang jelas, aku tidak akan pernah mengizinkan kamu menyentuh wanita itu, apalagi menyakitinya,” balas si laki-laki.
“Cih, apa kamu mencintainya?” tanya sinis wanita itu.
“Ya, aku mencintainya. Apa itu salah?” Laki-laki itu malah balik bertanya.
“Jika kamu memang mencintainya, lalu kenapa kamu lepaskan dia untuk orang lain?” si wanita malah balik bertanya.
“Itu bukan urusan kamu! Sekarang, pulanglah. Anak buahku akan mengantarkan kamu sampai tujuan,” balas laki-laki itu.
“Tidak! Aku tidak akan pulang sebelum aku membalaskan dendamku pada wanita itu,” tukas si wanita.
“Nggak usah ngeyel. Pulanglah!” bentak laki-laki itu.
“Huh, menyebalkan sekali!” dengus wanita itu.
Sesaat kemudian, suasana pun kembali sunyi. Aku menarik napas panjang, mencoba mencerna percakapan yang baru saja aku dengar. Wanita itu memiliki dendam terhadapku. Tapi, dendam karena apa? Selama ini aku merasa aku tidak pernah memiliki musuh. Entah di masa lalu, atau masa yang sedang aku lalui sekarang, aku merasa aku baik-baik saja. Aku tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun. Lalu laki-laki itu? Apa maksud dari ucapannya yang sejak dulu mencintai aku, kapan? Di mana? Ah, entah kenapa aku tidak pernah bisa mengingat wajah laki-laki itu.
Ish, siapa sebenarnya mereka? Kenapa meraka melakukan semua ini padaku? Apa memang hanya karena dendam? Tapi, dendam untuk apa?
Bersambung
__ADS_1