
Fatwa kembali diam mendengar jawabanku. Kecewa, sudah pasti dia sangat kecewa. Aku bisa melihat dengan jelas hal itu di wajahnya. Mungkin memang aku terlalu kejam, tapi aku tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Fatwa. Aku masih butuh waktu untuk menata hati dan kehidupanku.
Melihat Fatwa diam, aku semakin merasa bersalah. “Fat, Res minta maaf. Kamu sendiri tahu apa yang pernah terjadi dalam kehidupan Res. Res hanya tidak mau ka–“
“Sudahlah, Res. Aku mengerti, tidak perlu kamu jelaskan lagi,” tukas Fatwa memotong ucapanku.
Aku hanya terdiam. Aku tahu, aku sudah menyakiti hati laki-laki itu. Tapi aku benar-benar tidak berdaya. Dua kali aku mengalami kegagalan dalam memiliki rasa, dan aku takut jika harus mengalami kegagalan yang ketiga kalinya. Karena jika itu terjadi, bukan hanya trauma yang akan aku dapati, tapi juga mati rasa.
Sejenak, Fatwa menatapku. “Perlukah aku menunggu?” tanyanya.
Aku diam, tak mampu memberikan jawaban. Di satu sisi, aku masih memiliki rasa untuk laki-laki ini, tapi aku terlalu takut untuk mengungkapkan dan menjalaninya. Aku takut gagal lagi.
Melihat kediamanku, sepertinya Fatwa menyerah. Dia terlihat menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.
“Ya sudah, kalau begitu, aku pulang dulu. Sampaikan salamku untuk ibu dan Rayya,” ucap Fatwa seraya beranjak dari kursi.
Hmm, tidak biasanya Fatwa bersikap seperti ini. Biasanya, jika dia hendak pulang, dia selalu meminta aku memanggilkan ibu dan Rayya untuk berpamitan secara langsung. Tapi sekarang, dia terlihat tidak bergairah. Ah sudahlah, mungkin dia sedang banyak pikiran.
.
.
Hari berganti minggu. Kabar kebebasan mas Yudhis sudah sampai di telingaku. Bahkan, Citra sudah kembali ke kampus dengan rona kebahagiaan terpancar di wajahnya. Citra bercerita jika dia telah dilamar oleh keluarga besarnya mas Yudhis. Dan pernikahan mereka akan dilangsungkan dalam sebulan lagi.
Aku hanya tersenyum getir mendengar cerita Citra. Dulu, aku pernah berada di posisi Citra. Aku bercerita kepada Citra dengan penuh kebahagiaan setelah sehari mas Yudhis melamar aku. Ternyata, ibarat kata, aku seperti sedang mengajari itik berenang. Memberi tahu tentang kebaikan mas Yudhis kepada orang yang sudah mengenalnya terlebi dahulu.
“Pokoknya, Citra nggak mau tahu, Citra pengen Kak Chi menjadi pendamping mempelai wanita dalam pernikahan Citra nanti,” ucapnya bersemangat saat sedang membicarakan rencana pernikahannya.
“Ish, Cit. kamu nggak bisa gitu, dong!” tukas Zein.
Citra menatap Zein dengan sengit. “Kenapa tidak? Bukankah Kak Chi itu sahabat Citra? Wajar dong, kalau Citra minta Kakak Chi berperan penting di dalam pernikahan Citra yang terjadi dalam seumur hidup Citra,” ucap Citra mencari alasan.
“Kamu emang nggak punya hati, Cit!” dengus Zein terlihat kesal.
Citra hanya mencebikkan bibirnya dikatai seperti itu oleh Zein.
Aku menatap Zein dan memberikan isyarat agar Zein menghentikan ocehannya. “Zein, bisa antarkan aku menemui rektor?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.
Meskipun terlihat heran, tapi Zein mengangguk. “Boleh, Kak Chi. Kebetulan Zein juga ada perlu,” sambut Zein yang sepertinya mulai memahami maksud ajakan aku.
__ADS_1
“Kita pamit dulu ya, Cit. Ada urusan sebentar dengan pak rektor,” pamitku kepada Citra.
“Oh, ya sudah. Jangan lama-lama ya, Kak!” pinta Chi setengah berteriak.
Aku hanya tersenyum menanggapi teriakan Chi.
“Memangnya ada perlu apa Kakak ke ruang rektor?” tanya Zein saat kami berjalan menyusuri koridor kampus.
Aku yang memang tak punya kepentingan apa pun dengan rektor, hanya bisa mengulum senyum menanggapi pertanyaan Zein.
“Sebenarnya Kakak nggak punya kepentingan apa-apa dengan pak rektor, Zein. Kakak hanya …” Aku menjeda kalimatku.
“Hmm, aku ngerti, Kak. Citra emang keterlaluan. Bisa-bisanya dia selancar itu membicarakan pernikahan di depan Kakak. Padahal dia tahu jika mas Yudhis adalah mantan tunangan Kakak yang dia rebut,” cerocos Zein dengan sangat kesalnya.
“Sudahlah Zein, mungkin memang tugas Kakak cuman jagain jodoh orang,” selorohku.
“Ish, Kakak … nggak boleh ngomong kek gitu. Zein yakin, suatu saat nanti, Kakak pasti mendapatkan jodoh terbaik yang melebihi dari mas Yudhis,” tutur Zein.
“Aamin,” jawabku sambil tersenyum.
“Terus, ngapain kita ke sini kalau nggak mau ketemu rektor?” tanya Zein lagi.
“Oh, oke. Semoga dapat nilai sempurna ya, Kak?” kata Zein
Asyik ngobrol, tanpa terasa kami sudah tiba di depan ruangan dosen gila itu.
“Entar, kamu temenin Kakak masuk ke dalam, ya!” pintaku kepada Zein.
“Ish, kenapa nggak Kakak sendirian saja. Aku malas kalau ketemu sama pak Fatwa,” ucap Zein.
“Loh. Emangnya kenapa?” tanyaku penasaran.
“Auranya menyeramkan,” tukas Zein.
“Hahaha, kamu bisa saja, Zein. Ya sudah, yuk ah!” ajakku seraya memasuki ruangan itu.
“Permisi, Pak. Saya ingin mengambil nilai saya yang semalam Bapak beri tahukan kepada saya,” ucapku sopan. Hmm, aku sadar jika di kampus ini, posisiku hanyalah seorang mahasiswinya, bukan temannya.
Tiba-tiba orang yang sedang menghadap rak buku itu membalikkan badannya. Aku tertegun saat melihat jika orang yang sedang berdiri di hadapan kami bukanlah Fatwa.
__ADS_1
“Anda Octora Resttyani?” tanya orang itu.
“I-iya, benar,” jawabku gugup karena baru pertama kali bertemu dengannya.
Pria bertubuh tegap itu membuka laci meja kerjanya. Dia mengeluarkan amplop putih. “Duduklah!” perintahnya.
Aku dan Zein segera duduk, mengikuti perintah orang yang masih asing di kampus ini.
“Ini nilai Anda yang bapak Fatwa titipkan kepada saya,” ucap pria itu.
“Oh, begitu ya, Pak. Terima kasih,” jawabku.
Sebenarnya aku ingin bertanya tentang ketiadaan Fatwa di ruangan ini, tapi aku segan. Aku takut jika orang yang sedang duduk di hadapanku menganggap aku tidak sopan.
“Baiklah, kalau begitu, saya permisi dulu, Pak,” pamitku kepada pria asing itu.
“Sebentar, Mbak Resti. Ini ada satu lagi titipan dari bapak Fatwa untuk Anda,” cegah pria itu.
Aku yang hendak beranjak dari tempat duduk, kembali mendaratkan bokongku di atas kursi. Terlihat orang itu menyerahkan sebuah amplop padaku. Aku mengernyitkan kening, merasa tidak mengerti kenapa Fatwa harus menitipkan sebuah surat pada pria itu.
“Beliau menitipkan ini padaku. Silakan diterima,” ucap pria itu.
Entah kenapa, tiba-tiba saja perasaanku mulai tidak nyaman. Dengan tangan gemetar, aku menerima amplop tersebut, “Te-terima kasih, Pak,” ucapku terbata.
“Namaku Gunawan, dan aku yang akan menggantikan mata kuliah pak Fatwa untuk semester akhir ini,” ucap pria itu.
“Memangnya, Pak Fatwanya ke mana, Pak?” tanya Zein.
Ah syukurlah Zein mewakili pertanyaan yang sedari tadi ingin aku lontarkan.
“Pak Fatwa dipindahtugaskan di kampus baru di daerah Makasar,” jawab Pak Gunawan.
Aku dan Zein hanya saling tatap mendengar jawaban Pak Gunawan. Karena sudah tidak ada keperluan lagi, kami akhirnya pamit.
Dengan perasaan tak menentu, aku berjalan menyusuri koridor kampus. Sepanjang jalan aku terus bertanya-tanya, kenapa Fatwa tidak pernah bercerita tentang kepindahannya? Apa ini jawaban atas sikap dia yang berbeda waktu itu? Aku memandangi surat yang sedang aku pegang.
“Kira-kira, itu surat apa, Kak?”
Bersambung
__ADS_1