My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Ternyata Kamu Seorang Bajingan


__ADS_3

Seketika kedua kakiku terasa lemas hingga aku jatuh ke lantai. Fatwa berjongkok dan segera mengangkat tubuhku yang semakin tak berdaya. Sejurus kemudian, aku tak mampu mengingat apa-apa lagi.


Perlahan, aku membuka mata saat tangan dingin menyentuh keningku.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Res," ucap Fatwa dengan senyumnya yang khas.


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan bernuansa putih. "Resti di mana, Fat?" tanyaku kembali menatap Fatwa yang masih sibuk menyeka bulir keringat di keningku.


"Kamu berada di kamar pemeriksaan. Tadi kamu sempat pingsan dan aku membawamu kemari," jawab Fatwa.


Tiba-tiba, perkataan Fatwa kembali terngiang di telingaku. 'Citra yang sama'. Itu artinya, saat aku mengenalkan mas Yudhis kepada Citra, saat itu pula mereka sudah saling mengenal. Ya Tuhan ... bodoh sekali aku.


"A-apa mas Yudhis tahu jika dia punya anak?" tanyaku kepada Fatwa.


Laki-laki itu mengangguk. "Sebenarnya, bukan hanya bang Yudhis saja yang mengetahui keberadaan anak itu. Tante Amara juga tahu," jawab Fatwa, "bahkan, selama ini tante Amara yang membiayai semua keperluan anak itu," lanjut Fatwa.


Astaghfirullah! Jadi, selama ini aku sudah dibohongi mentah-mentah oleh keluarga mas Yudhis. Tapi, kenapa selama ini kedua orang tua mas Yudhis begitu baik padaku.


"Lalu, kenapa tante Amara begitu baik ke Res? Dan, kenapa juga tante Amara tidak pernah bicara apa pun tentang masa lalu mas Yudhis ke Res?" tanyaku pada Fatwa.


"Mungkin karena tante Amara begitu ingin bang Yudhis berubah dan menikah. Karena itu dia menutupi semua masa lalu bang Yudhis. Terlebih lagi, dia sangat menyukai kamu sebagai wanita yang begitu sederhana. Tante Amara selalu menyanjung calon menantunya setiap kali keluarga besar kami berkumpul," jawab Fatwa.


"Lalu Sarah? Apa maksud dia berpura-pura menjadi Sandra? Dan kenapa mas Yudhis tidak mengenali dia sebagai kakaknya Sandra?" tanyaku lagi.


"Aku... Aku...." Sarah terlihat sulit untuk berbicara.


"Sebenarnya, aku yang meminta Sarah untuk memasuki perusahaan itu. Aku hanya ingin melihat apakah bang Yudhis telah berubah atau belum. Tapi ternyata ... sesuai dugaanku. Bang Yudhis tetaplah seorang pria hidung belang yang tak pernah puas dengan satu perempuan. Saat Sandra memasuki perusahaan itu dengan gaya pakaian yang menggoda, bang Yudhis lupa kalau statusnya telah menjadi calon suami. Bahkan dia juga lupa kalau sering menghabiskan malam bersama Citra. Hari-harinya dia jalani hanya untuk menggoda Sarah. Dengan bantuan Sarah, akhirnya aku bisa membongkar kelakuan bang Yudhis di hadapan kamu," jawab Fatwa.


Prok-prok-prok!


Tiba-tiba kami terkejut mendengar tepukan tangan yang berirama lambat.

__ADS_1


"Wah-wah-wah ... hebat sekali kerja sama kalian untuk menjatuhkan aku! Cih, dasar dua cecunguk kotor!"


Tiba-tiba, Mas Yudhis sudah berdiri di ambang pintu dengan di dampingi dua orang pria yang memakai pakaian serba hitam.


"Bang Yudhis!" kata Fatwa.


"Pak Yudhis!" ucap Sarah.


"Kau!" teriak Mas Yudhis. Dia menghampiri Sarah dan menjambak rambutnya. "Aku sudah menduga, ada yang tak pernah beres dari kehadiran kamu di kantorku. Dan ternyata ... cih, dasar wanita murahan!" sarkas Mas Yudhis seraya terus menarik rambut Sarah.


"Lepaskan dia, Bang! Dia enggak bersalah dalam hal ini. Kalau Abang mau menghakimi, hakimi saya yang sudah meminta Sarah untuk membantu membongkar kedok Abang!" teriak Fatwa seraya berdiri menghampiri mas Yudhis.


"Shitt! Dasar pasangan laknat!" seru Mas Yudhis seraya mendorong tubuh Sarah hingga terjengkang.


Aku segera bangun dan menghampiri Sarah. "Kamu nggak pa-pa?" tanyaku.


"Nggak, sa-saya nggak pa-pa, Bu," jawab Sarah sambil meringis menahan sakit di kulit kepala dan bokongnya.


"Hentikan, ini bukan ring tinju!" teriakku yang mulai kesal karena kedua bersaudara itu sudah mengambil ancang-ancang untuk saling melayangkan tinju.


"Jangan hentikan Mas, Chi! Biar Mas beri pelajaran pada orang yang telah menghancurkan hubungan kita," seru Mas Yudhis.


Aku tersenyum sinis. "Orang yang menghancurkan hubungan kita? Apa Chi nggak salah dengar? Bukankah orang yang telah menghancurkan hubungan kita itu, kamu sendiri, Mas? Kenapa kamu malah melimpahkan semua kesalahan kamu kepada orang lain?" ucapku, kesal.


"Bukan Mas, Chi, tapi mereka!" tunjuk Mas Yudhis kepada Fatwa dan Sarah. "Kedua orang itu yang telah menjebak Mas. Wanita murahan itu telah menggoda Mas supaya Mas terlihat buruk di hadapan kamu. Dan semua itu dia lakukan atas perintah laki-laki bajingan, si Fatwa! Mas tahu, dia masih sangat mencintai kamu, karena itu dia berusaha menghasut kamu untuk membenci Mas!" teriak Mas Yudhis berusaha untuk membela diri.


"Brengsek kamu, Bang! Ternyata kamu nggak pernah berubah sama sekali. Ya, Abang benar, aku memang masih mencintai Resti. Tapi aku akan berusaha ridho melepaskannya jika dia berjodoh dengan orang baik-baik. Bukan orang seperti Abang yang selalu berpetualang mencari kesenangan. Apa Abang pikir, selama ini aku nggak tahu semua kelakuan Abang?" teriak Fatwa.


"Kau!"


Bugh!

__ADS_1


"Aww!"


"Res!"


"Chi!"


"Ibu!"


Mas Yudhis terpancing emosi mendengar semua ucapan Fatwa. Melihat dia hendak melayangkan tinjunya, aku segera berlari ke tengah untuk menghentikan. Nahasnya, gerakan Mas Yudhis begitu cepat hingga pukulan itu mengenai rahangku. Aku menjerit, dan terhuyung hingga jatuh ke dalam pelukan Fatwa. Aku dengar Fatwa, Mas Yudhis dan Sarah memanggil namaku.


Aku menarik diri dari pelukan Fatwa. Dengan sinis, aku tatap wajah Mas Yudhis yang mulai menjijikkan di mataku.


"Chi nggak nyangka, Mas. Ternyata kamu seorang bajingan! Dengar Mas Yudhis, seumur hidup pun, Chi nggak akan pernah sudi berhubungan dengan kamu lagi!" ucapku seraya menarik tangan Fatwa untuk pergi. Tiba-tiba...


"Aaarhhh....!"


Seorang anak kecil berteriak keras. Aku dan Fatwa segera membalikkan badan. Tampak Mas Yudhis menggendong anak itu dengan kasarnya.


"Tolong jangan sakiti dia, Pak. Dia masih kecil," ucap Sarah saat melihat tangan kuat Mas Yudhis melingkar di perut anak itu.


"Gila kamu, Bang! Lepaskan dia!" Fatwa berteriak keras melihat anak itu meronta-ronta kesakitan.


"Aku tidak akan melepaskan anak ini sebelum Chi pergi bersamaku!" teriak Mas Yudhis.


Semua terhenyak mendengar ucapan Mas Yudhis. Hmm, rupanya dia ingin menukar anak itu denganku. Aku tersenyum sinis.


Kau pikir aku peduli?" tanyaku mendekati Mas Yudhis. "Kau ingin menyakiti anak ini? Darah dagingmu sendiri? Silakan, aku tidak peduli! Lagi pula, aku tidak punya hubungan apa pun dengan anak ini. Jika kau ingin menukar kehidupan anak ini dengan kehidupanku sendiri, jau salah besar, yudhistira!" ucapku dingin. Aku berusaha untuk tidak terpancing emosi, meski sebenarnya, aku pun sangat mengkhawatirkan anak itu.


"Ibu, saya mohon, selamatkan keponakan saya!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2