My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Sadar


__ADS_3

"Bunaaa!" teriak Maira begitu aku membuka daun pintu kamar rawat Fatwa lebar-lebar.


Gadis kecil yang sedang duduk di samping Zein, seketika melompat dan menghambur ke arahku. Aku kembali berjongkok untuk menyambut pelukan gadis kecil itu.


Mama hanya tersenyum melihat interaksi antara aku dan Maira. Sedangkan Rayya, hmm ... aku masih bisa melihat dengan sudut mataku jika Rayya tidak terlalu senang dengan kedekatan aku dan gadis kecil itu.


Aku melepaskan pelukan dari tubuh mungil Maira. "Maira makan malam dulu, ya. Ini, Bunda bawain nasi goreng buat Maira," ucapku seraya menunjukkan plastik yang berisikan kotak nasi goreng tadi.


Maira mengangguk. Dia kemudian menuntun tanganku dan mengajak aku untuk duduk di sofa.


"Ini buat kamu, Zein," kataku seraya menyerahkan kotak nasi goreng milik Zein.


"Makasih Kak Chi," sahut Zein, mengambil kotak nasi itu dan membukanya. "Wuiiih, wangi banget ... kek-nya enak nih, Kak," seru Zein.


"Hmm, pastinya dong," jawabku. "Ayo, Maira duduk di sini! Biar Bunda suapin ya," ucapku menyuruh Maira duduk di samping aku.


Gadis kecil itu mengangguk. Dengan lincahnya, dia bergerak menaiki sofa dan duduk menghadapku. Maira mulai makan dengan lahapnya. Sesekali dia berceloteh dengan gaya bahasa yang hanya dia sendiri yang mengerti. Aku, Zein dan mama dibuat tergelak oleh tingkahnya Maira. Hanya Rayya saja yang terkesan masa bodoh dengan kehadiran Maira.


"Apa kamu dengar itu, Bang Fat?" tanya Rayya yang mulai mengajak bicara laki-laki yang tengah tertidur pulas itu. "Gitu tuh, kelakuan Kak Chi. Bukannya ngurusin kamu, tapi dia malah sibuk ngurusin anak orang yang udah nyulik dia. Ish, Rayya heran deh Bang sama kelakuan cewek yang Abang puja sebegitu dalamnya. Kok bisa-bisanya dia nggak khawatir sama kesehatan Abang. Ray rasa nih ya, otak Kak Chi tuh letaknya di dengkul, bukan di kepala," ucap Rayya seperti sedang menumpahkan kekesalannya dengan bercerita kepada Fatwa.


Aku hanya bisa menghela napas saat mendengar gerutuan Rayya.


"Tidak seperti itu juga, Ray," tukasku seraya menghampiri ranjang Fatwa. "Apa kabar, Fat. Res minta maaf kalau Res sempat mengabaikan kamu. Tapi Res nggak bermaksud untuk menelantarkan kamu, Fat. Ada hal yang lebih urgent yang memang harus Res lakukan. Percayalah, Res masih sangat mengharapkan kamu bisa kembali sehat paripurna seperti dulu lagi," ucapku seraya duduk di kursi yang disediakan untuk menjaga pasien.


"Rayya harap, itu bukan sekedar omong kosong Kakak saja, ya," tegas Rayya.


Aku menyikut lengan Rayya. "Ish, Dek ..." rajukku.


Rayya hanya menjulurkan lidahnya untuk meledekku. Sejurus kemudian, dia kembali ke sofa dan duduk di samping Zein.

__ADS_1


Maira yang sedari tadi anteng mengunyah makanannya, tiba-tiba turun dari sofa. Dia kemudian berlari menghampiri aku.


"Ciapa Om ini, Buna? Tenapa Om tidul telus dali tadi?" tanya Maira, dia kemudian memegang pergelangan tangan Fatwa. "Om, bangun yuk! Ental main cama Maila, ya" lanjutnya.


Aku tersenyum seraya meraih Maira ke dalam pangkuanku. "Om ini, namanya Om Fatwa. Dia temannya Bunda." Aku menyahuti pertanyaan Maira.


"Hai, Om. Nama caya Maila. Cenang deh tetemu cama Om," ucap Maira menyapa Fatwa. Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku gadis kecil itu.


"Oh iya, Ma. Mama sama Rayya nginep di hotel mana?" tanya Zein.


"Enggak Zein, Mama nggak nginep di hotel. Karena Nak Fatwa sudah dipindahkan juga, jadi rencananya Mama sama Rayya nginep di sini saja," jawab mama.


"Kenapa nggak pesan hotel, Ma? Biar Zein pesankan via aplikasi, ya?" ucap Zein.


"Nggak usah Zein. Lagian Mama kangen juga sama Kak Chi. Biar kita tidur ramai-ramai di sini saja," tukas mama.


"Oh, ya sudah kalau begitu," jawab Zein.


"Ote, Nin," jawab Maira seraya berlari ke arah mama. Maira kembali melahap nasi goreng yang hanya tinggal setengahnya lagi.


Setelah menghabiskan makanannya, mama menyuruh Maira untuk ke kamar mandi membersihkan diri. Nampaknya, mama mulai bisa menerima kehadiran Maira. Ya, mungkin karena dia juga sudah sangat menginginkan seorang cucu. Mengingat teman-teman seusianya sudah ramai membicarakan tingkah laku cucu mereka. Karena itu mama mudah akrab dengan Maira.


Zein menggelar kasur lantai yang memang sengaja dia beli saat kami mengantarkan Ida tadi siang. Ya, meskipun hanya berbantalkan lengan dan bantal sofa, tapi setidaknya kami bisa tidur telentang dan melemaskan otot-otot kami yang terasa kaku.


Setelah semuanya siap, Zein sendiri merebahkan dirinya di sofa.


.


.

__ADS_1


Waktu terus berlalu. Malam pun semakin merangkak. Suasana di ruang rawat semakin dingin. Ditambah lagi dengan AC yang menyala, membuat tubuh ini terasa menggigil.


Aku menggerakkan tangan untuk memeluk Maira yang terlelap di sampingku. Pikir aku, mungkin gadis kecil itu kedinginan, karena itu aku ingin meraihnya dan mendekap dia ke dalam pelukanku. Namun, saat aku raba tempat di sampingku, kosong.


Aku mengerjapkan mata. Mungkin saja Maira pergi ke kamar mandi. Tapi, anak sekecil itu? Apa bisa dia ke kamar mandi sendirian?


Aku bangun dan menggeliatkan badan untuk melemaskan otot-ototku. Sayup-sayup, aku dengar celotehan Maira dari arah ranjang Fatwa. Aku cukup terkejut melihat Maira duduk di tepi ranjang Fatwa.


Tawa riang Maira kembali terdengar. Ya Tuhan ... Kenapa anak kecil itu harus terbangun di jam segini? batinku seraya melirik jam yang menempel di dinding. Aku pun berdiri dan berjalan menghampiri Maira.


"Ssst, Maira. Om-nya jangan digangguin. Om kan butuh istirahat biar cepet se...."


Seketika kalimatku terjeda begitu melihat raut wajah nan tampan yang dihiasi dengan senyum yang begitu menggoda.


"Hai, Res ... apa kabar?" sapa Fatwa, terdengar lirih.


Aku tak mampu menjawab pertanyaan Fatwa. Aku terlalu senang melihat wajah tampan itu telah membuka matanya. Aku segera menghambur ke arah Fatwa. Sejurus kemudian, aku menjatuhkan diri untuk memeluk pria itu dengan erat.


"Ish!" Fatwa meringis, tapi dia sepertinya tidak menghiraukan rasa sakitnya. Aku merasakan jika tangan kanan Fatwa mulai melingkar di punggungku.


Tanpa sadar, aku mulai menangis di dada bidang laki-laki itu. Sungguh, aku benar-benar tidak kuasa membendung keharuanku. Melihat Fatwa sadar adalah keinginan terbesar aku saat ini. Dan semuanya terwujud malam ini. Fatwa sadar, dan dia mengenali aku. Rasanya, semua ini sudah seperti mimpi saja.


Setelah cukup lama kami berpelukan, aku dan Fatwa melepaskan tangan kami masing-masing. Fatwa menyeka air mata yang masih meleleh di pipiku.


"Ssst, jangan nangis lagi, Res. Aku baik-baik saja, kok," ucap Fatwa.


Aku hanya mampu menganggukkan kepala. Lidahku terlalu kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun.


"Aku merindukan kamu."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2