
Tanpa terasa, air mata pun mengalir deras di kedua pipiku.
Jadi ini alasan Fatwa mempermalukan aku dulu. Dia hanya ingin menolong kakaknya dari kebiadaban si penculik. Tapi, siapa orang yang telah menculik kakaknya Fatwa? Kenapa dia harus melibatkan namaku, batinku.
"A-apa kau tahu siapa yang menculik kakakmu?" tanyaku menatap datar laki-laki yang kini tengah meneteskan air mata.
Fatwa menyeka kedua matanya yang mulai terasa panas. "Ya, aku tahu siapa dia?" jawab Fatwa.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Afrizal Mahesa," jawab Fatwa.
Aku terkejut mendengar nama yang disebutkan dosen gila itu. "A-Afrizal Mahesa?" tanyaku mengulang ucapan Fatwa. Seketika pikiranku melayang pada sosok laki-laki hitam manis yang selalu bersama bang Andra ke mana pun bang Andra pergi.
"Tunggu! Apa Andra yang kau maksud adalah Andra Wardana anak SMA Panca?" tanyaku dengan bibir bergetar.
Fatwa mengangguk.
Tubuhku seketika terasa lemas melihat anggukan Fatwa. "Ja-jadi, semua ini salahku," gumamku pelan. Air mata semakin luruh di kedua pipiku. Lintasan memori masa lalu mulai kembali bermain dalam benakku.
"Setelah tiga bulan tanpa kabar, aku memang kaget mendengar kematian bang Andra yang tiba-tiba. Desas-desus mengatakan jika bang Andra meninggal akibat over dosis. Tapi aku tidak pernah menyangka jika semua itu ada hubungannya denganku." Tanpa diminta, aku menceritakan apa yang aku ketahui tentang kematian bang Andra.
"Kalau boleh tahu, kenapa kau memutuskan hubungan dengannya?" tanya Fatwa, dingin.
"Memutuskan hubungan?" ulangku seraya mengernyitkan kening.
"Iya, putus. Bukankah waktu itu kalian berpacaran?" tuduh Fatwa.
Aku menghela napas. Tidak kusangka jika Fatwa pun mempunyai pemikiran yang sama dengan teman-teman bang Andra dulu.
"Satu hal yang perlu kamu garis bawahi. Selama ini aku tidak pernah memiliki hubungan dengan laki-laki mana pun, kecuali mas Yudhis. Hubungan aku dengan bang Andra hanya sebatas teman biasa. Aku mengenal bang Andra saat sedang berlatih Paskibra di SMA Panca. Sejak saat itu, dia selalu datang menjemput aku ke sekolah. Hingga suatu hari, aku, bang Andra, bang rizal dan kak Salma terlibat pembicaraan yang rupanya dianggap serius oleh bang Andra. Padahal, saat itu mereka tahu jika kami sedang bermain truth or dare. Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku meminta bang Andra untuk tidak menemui aku dulu. Karena waktu itu aku sedang fokus mempersiapkan diri untuk EBTANAS. Setelah itu, aku tak mendengar kabar apa pun lagi, selain kematiannya yang tiba-tiba." Aku menceritakan awal mula perkenalan aku dengan bang Andra. Satu pun tak ada yang aku tutup-tutupi darinya.
__ADS_1
"Apa memang ceritanya seperti itu?" tanya Fatwa penuh selidik.
"Huh, untuk apa aku berbohong padamu, tidak ada manfaatnya sama sekali. Justru seharusnya aku yang bertanya. Kenapa penculikan kakakmu sampai membawa nama aku segala?" ucapku sewot.
"Ada dalang dibalik penculikan itu," ucap Fatwa sendu.
"Maksud kamu?" Aku semakin tidak mengerti. Rasanya, permasalahan ini sudah seperti benang kusut saja. Semakin rumit.
Kembali Fatwa menghela napasnya. "Semua ini ternyata tak luput dari rencana Anneu," jawab Fatwa.
"Anneu? Uuh ... bisakah kau tidak berteka-teki denganku? Sungguh kepalaku tak mampu mencerna semua ucapanmu," jawabku.
"Ck, pantas saja. Sudah kubilang otakmu lemot. Karena itu kau tidak mampu menyerap semua mata kuliah yang aku ajarkan, dan akhirnya kau mendapatkan nilai yang buruk," ejek Fatwa.
Eit dah ... kenapa jadi bawa-bawa nilai mata kuliah segala, umpatku dalam hati.
"Aku sedang malas berdebat. Sekarang, kamu katakan dengan jelas semua teka-teki yang kamu sembunyikan itu!" Aku mulai nge-gas. Rasanya dari tadi aku sudah mulai muak ngobrol ke utara ke selatan tanpa ada titik temunya.
"Ish, percaya diri sekali kamu! Memangnya kamu tahu dari mana jika Anneu juga menyukai kamu?" tanyaku mulai ingin tahu.
"Hmm, dia sendiri yang bilang," jawab Fatwa datar.
"Hah, benarkah?! Apa dia nembak kamu waktu itu?" tanyaku sedikit kepo.
"Tidak! Dia mengakui semua itu pada saat aku berubah pikiran dan memutuskan pertunangan aku dengannya," jawab Fatwa.
"Ja-jadi kau sempat bertunangan?" tanyaku terkejut.
Fatwa mengangguk.
Aku merasa kesal. Jika kau memiliki tunangan, kenapa kamu harus menciumku? gerutuku dalam hati.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kau memutuskan ikatan pertunangan kalian?" tanyaku lagi.
"Tanpa sengaja, aku menemukan buku harian Anna di kamarnya. Dari buku usang itulah, Anna menceritakan tentang semua perilaku Anneu. Termasuk pengakuan dia kepada Anna tentang rasa cinta yang dia miliki untuk aku. Dan ternyata...." Fatwa menggantungkan kalimatnya.
"Ternyata...?" tanyaku semakin ingin tahu.
"Ternyata Anneu-lah dalang dibalik semua penculikan mbak Nilam. Dia menyuruh bang Afrizal untuk mencilik dan menekan aku agar menjauhi kamu. Dan yang paling parah dari semua kejahatannya adalah ... dia menjadi malaikat maut bagi saudara kembarnya sendiri!" ucap Fatwa, terlihat sedih.
"Apa?!" Seketika mataku membelalak sempurna. "Ja-jadi maksud kamu, Anneu juga dalang dibalik meninggalnya Anna? Ish, yang benar saja. Mana mungkin dia tega mencelakai adiknya sendirian," ucapku kepada Fatwa.
"Tapi itu kenyataannya, Res! Dan yang paling parah dari semua ini. Orang tua Anneu ternyata telah mengetahui kebenaran dari semua sikap dan perbuatan Anneu. Namun, karena rasa cintanya kepada sang anak, membuat bu Wati dan pak Rahadi bungkam tentang kematian Anna."
"Lalu, di mana Anneu sekarang?" tanyaku.
"Dia berada di panti rehabilitasi di daerah Suryalaya," jawab Fatwa.
"Dan keadaannya?" tanyaku lagi.
"Terakhir orang tuanya bilang, Anneu sudah menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Tapi jujur saja, aku mengharapkan dia akan selamanya tinggal di sana," jawab Fatwa.
"Ish jahat sekali kamu, Fat," tegurku.
"Karena perbuatannya dia kepadaku tidak sebanding dengan apa yang telah aku korbankan. Dia telah mengambil Anna dariku. Dia juga yang telah memaksa aku berpisah denganmu," ucap Fatwa sendu.
"Lupakan tentang kita, Fat! Semuanya sudah sangat terlambat. Mungkin memang tidak pernah ada jodoh di antara kita. Apa yang kita rasakan waktu itu, mungkin hanya sebatas mengagumi saja. Yang terpenting sekarang, aku sudah tahu jawaban dari sikapmu kepadaku selama ini," jawabku.
"Aku mohon, beri aku kesempatan, Res!" Fatwa memelas, menatapku penuh harap.
"Maafkan aku, Fat. Tapi aku tidak bisa."
Bersambung
__ADS_1