My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Pesta


__ADS_3

“Ya sudah, istirahatlah!” kata Bang Rizal seraya membereskan mangkuk bekas makan kami. “Tidak usah dicuci, biar nanti Abang suruh Ida membereskan kamar kamu. Abang Pergi dulu,” lanjut Bang Rizal seraya keluar dari kamarku.


Setelah kepergian Bang Rizal, aku menghampiri kaca jendela kamar. Kegiatan rutin yang selalu aku lalui jika aku merindukan orang-orang di sekitarku.


Apa kabar kalian, ma, Ray? Kakak yakin, kalian pasti sedang mencari Kakak saat ini. Maafkan Kakak, karena selalu menyulitkan kalian. Kakak sendiri tidak mengerti, entah apa yang salah dari hidup Kakak, sehingga begitu banyak orang-orang yang membenci Kakak. Sampai-sampai kita harus terpisah seperti ini.


Semilir angin senja mulai menerpa wajahku. Rimbunnya pepohonan di seberang hutan, membuat cahaya matahari yang terbenam semakin terlihat samar. Kini, hanya bunyi serangga itu yang semakin nyaring aku dengar. Ish, entah kenapa Bang Rizal memilih tempat se-sepi ini untuk tempat tinggalnya.


"Sudah sore, sebaiknya kamu tutup jendelanya, Chi. Angin sore tidak baik untuk tubuh kamu.”


Tiba-tiba, Bang Rizal sudah berdiri kembali di ambang pintu kamarku. Seketika, aku menoleh padanya seraya mengernyitkan kening.


“Apa ada yang ketinggalan, Bang?” tanyaku.


“Tidak. Abang hanya lupa bilang, nanti malam Abang akan menemui klien di villa sebelah, dan Abang ingin mengajak kamu. Jadi, istirahatlah! Supaya nanti kamu kelihatan segar,” ucap Bang Rizal.


“bertemu klien?" tanyaku lagi.


“Iya, kebetulan salah satu teman Abang akan merayakan pesta atas keberhasilannya memenangkan tender. Dan kebetulan juga, pestanya diadakan di Villa dia yang berjarak hanya sekitar 200 meter dari rumah ini. Jadi, Abang berniat mengajak kamu, supaya kamu nggak bosan tinggal di rumah,” jawab Bang Rizal panjang lebar.


“Apa Abang tidak takut kalau Chi bakalan kabur?” tanyaku.


“Memangnya kamu mau kabur ke mana? Tempat ini begitu terpencil, Chi. Tidak akan ada orang yang mengira jika terdapat kehidupan di balik bukit Dinding Ari,” ucap Bang Rijal.


Oh, jadi bukit yang terlihat dari jendela kamarku ini bernama Dinding Ari? Ish … sebenarnya daerah mana ini?


“YA sudah, hanya itu yang ingin Abang sampaikan. Abang pergi dulu!” pamit Bang Rizal, kembali keluar dari kamarku.


Sreek!


Aku segera menutup tirai jendela kamar ketika langit sudah terlihat gelap. Sesaat kemudian, aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Sebentar lagi azan magrib berkumandang.


Saat aku sedang berada di kamar mandi, aku dengar suara Ida berteriak dari luar.


“Maaf, Nona! Ida disuruh mencuci piring kotor di sini. Apa Nona ada di dalam?”


“Iya, bersihkan saja, Da!” jawabku menyahuti pertanyaan Ida.

__ADS_1


.


.


Setengah jam telah berlalu, aku keluar kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk menunaikan kewajiban aku. Setelah aku memakai rapi mukena, azan magrib pun mulai berkumandang. Segera aku menunaikan shalat begitu selesai Iqamah terdengar.


Selepas shalat, aku menyempatkan diri untuk melantunkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, walau hanya beberapa ayat saja. Ya, setidaknya aku masih bisa untuk melapalkan kalam Allah di setiap sujud sembahku pada-Nya.


Tok-tok-tok!


"Apa Ida boleh masuk, Nona?”


Aku mendengar bunyi ketukan di pintu kamar. Tak lama berselang, aku mendengar suara Ida dari luar kamar. Aku segera melepas mukena dan melipatnya.


“Iya, masuk saja, Da!” perintahku seraya masih melipat mukena.


Cetrek!


Kriet!


Aku mendengar bunyi kunci pintu dibuka. Sejurus kemudian, aku mendengar seseorang yang adalah Ida, membuka pintu. Dia kemudian menghampiri aku yang tengah duduk di tepi ranjang seraya melipat sajadah bekas aku shalat tadi.


“Anu, Nona! Ini, Tuan Muda meminta saya untuk mengantarkan ini kepada Nona?” ucap Ida seraya menyerahkan paper bag berwarna coklat.


Dahiku sedikit mengeryit, menatap heran pada benda yang ditunjukkan oleh Ida.


“Apa itu, Da?” tanyaku menatap heran pada paper bag yang dibawa Ida.


"Entahlah, Non. Ida hanya diperintahkan untuk memberikan ini kepada Nona, dan Nona harus segera bersiap-siap katanya,” ucap Ida.


Aku mengangguk dan segera mengambil paper bag yang diulurkan Ida. Sejurus kemudian, Ida keluar dan kembali mengunci pintur kamarku.


Setelah Ida pergi, aku membuka paper bag tersebut yang isinya ternyata sebuah gaun pesta yang sangat anggun. Aku mulai mengganti pakaian dan mengenakan gaun tersebut.


Hmm, sepertinya bang Rizal sangat ahli dalam memilih selera pakaian. Terlihat dari warna pakaian yang cocok dengan warna kulitku di malam hari. Pun dengan ukurannya yang sangat pas saat aku pakai. Sejenak, aku mematut diri di depan cermin.


"Hmm, pakaian yang indah," gumamku. Aku duduk di kursi rias untuk merias tipis wajahku.

__ADS_1


Satu jam kemudian, ketukan pintu mulai kembali terdengar. Seaat setelah itu, Bang Rizal kembali berdiri di ambang pintu, lengkap dengan pakaian tuxedo yang dia kenakan. Ish, jas model tersebut, membuat pria itu semakin berkharisma.


"Sudah siap?” tanya Bang Rizal menatap lekat ke arahku. Sepertinya dia begitu terpesona melihat penampilanku.


Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Bang Rizal. Sedetik kemudian, aku lihat tangan Bang Rizal terulur. Segera aku raih tas tangan yang tergeletak di atas nakas. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Bang Rizal. Akhirnya, aku sambut uluran tangan Bang Rizal. Setelah itu, kami keluar menuruni tangga.


Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, aku keluar dari tempat ini. Ya, meskipun masih berkeliaran di wilayah yang sama. Tapi, setidaknya aku bisa menghirup udara luar.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat itu. Setelah berkendaraan selama 10 menit, akhirnya kami tiba di sebuah Villa megah bercat putih yang memiliki nuansa klasik.


Bang Rizal menggandeng tanganku untuk memasuki Villa itu. Lantunan musik syahdu, terdengar sangat jelas begitu kami tiba di dalam Villa.


“Ah, Afrizal Mahesa … selamat datang di pesta ini, Bung!” sapa seseorang yang usianya tidak jauh beda dengan Bang Rizal. Laki-laki itu tampak mengulurkan tangannya.


Bang Rizal menyambut uluran tangan laki-laki itu. Sepersekian detik kemudian, mereka saling berpelukan. Dugaan aku, laki-laki itu pasti tuan rumah yang sedang menyelenggarakan pesta ini.


“Apa dia istrimu?” tanya laki-laki itu kepada Bang Rizal.


“Mudah-mudahan,” jawab Bang Rizal tersenyum tipis.


“Hahaha, kamu bisa saja. Oh ya, apa kamu tidak ingin mengenalkan wanita cantik ini padaku?” tanya laki-laki itu seraya menatapku tanpa berkedip.


“Akan aku kenalkan. Tapi, awas saja kalau kau macam-macam dengannya!” ucap Bang Rizal dengan nada mengancam.


“Wow, amazing man! Sampai segitunya kamu menjaga wanita kamu, Zal,” ucap laki-laki itu.


“Karena dia permata hatiku, Bung,” jawab Bang Rizal tanpa keraguan.


“Baiklah, Bro. tidak usah khawatir, kali ini aku tidak akan menikung kamu, hahaha …” ucap laki-laki itu seraya tergelak.


“Huh, bisa saja, kau!” Bang Rizal menonyor pelan bahu temannya.


“Ngomong-ngomong, siapa nama Anda, Nona?” tanya pria itu. “Kenalkan, nama saya Adhewa Saksena” ucapnya seraya mengulurkan tangan.


Aku menyambut uluran tangan Adhewa Saksena. “Perkenalkan, nama saya Octora Resttyani,” ucapku.


Tanpa aku sadari, sepasang mata tampak sangat terkejut begitu melihatku dalam gandengan tangan pria lain.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2