
Keesokan harinya, dokter desa memeriksa keadaanku.
"Alhamdulillah, sekarang kondisinya sudah stabil," ucapnya.
"Alhamdulillah. Apa aku bisa pulang sekarang?" tanyaku.
Dokter paruh baya itu tersenyum. "Hmm, rupanya kamu sudah tidak sabar ingin kembali berkumpul dengan teman-temanmu, ya? Tentu saja, boleh," jawab dokter itu.
Melihat kondisi aku yang sudah berangsur pulih, akhirnya dokter desa mengizinkan aku untuk pulang. Di jemput keempat sobat, akhirnya aku kembali ke rumah Pak Karyo.
.
.
.
Tiba di rumah Pak Karyo, aku melihat beliau begitu gembira sekali menyambut kedatanganku. Bahkan pasangan itu membuat acara tasyakuran untuk kesembuhanku. Aku semakin terharu melihat kasih sayang mereka terhadap kami. Padahal kami baru mengenalnya dan kami pun bukan siapa-siapa mereka.
"Ayo, silakan duduk, Neng!" ucap Bu Karyo yang membantu memapahku ke ruang depan.
"Ya, hati-hati," ucapnya lagi saat melihat aku hendak duduk.
Uuh, aku seperti orang sakit yang mengalami patah tulang saja. Apa-apa beliau bantu. Padahal aku cuma sakit maag saja, hehehe...
"Nah, karena Neng Chi-nya sudah datang, sekarang ayo kita siapkan hidangannya. Sok atuh, Neng Tika, Neng Irma, yap bantu Ibu ke dapur untuk membawa makanannya!" ajak Bu Karyo kepada kedua temanku.
Aku melihat Irma dan Tika mengangguk. Mereka kemudian pergi ke dapur untuk membawa makanan ke ruang depan. Tak lama kemudian, mereka kembali.
Bu Karyo terlihat begitu senang menata hidangan di atas hamparan tikar. Semua orang duduk mengelilingi makanan itu.
"Nah, alhamdulillah, makanannya sudah siap. Sok atuh Cep Aji, dipimpin dulu atuh, buat berdoa bersama," ucap Bu Karyo.
"Apa tidak sebaiknya oleh Bapak saja." Karena sangat menghormati orang yang lebih tua, Aji menawarkan terlebih dulu kepada Pak Karyo.
"Silakan, Nak Aji saja yang pimpin," ucap Pak Karyo.
"Baiklah kalau begitu," jawab Aji.
Setelah mendapatkan izin dari orang yang lebih tua, akhirnya Aji mulai memimpin do'a. Semua do'a terbaik kami ucapkan sebagai wujud rasa bersyukur. Setelah selesai berdo'a, kami akhirnya mulai menyantap makanan tersebut untuk sarapan.
__ADS_1
.
.
.
Setelah benar-benar pulih, aku mulai kembali mengikuti kegiatan yang telah diprogramkan oleh panitia penyelenggara. Tapi, mungkin karena tak ingin kejadian itu terulang kembali, panitia memangkas waktu kami di desa ini. Waktu yang seharusnya kami lewati selama seminggu, akhirnya dikurangi menjadi lima hari.
Dan hari ini, adalah hari terakhir kami di desa Parentas. Kami berkumpul kembali di sebuah lapang dekat desa. Upacara penutupan kegiatan di mulai. Sambutan demi sambutan, baik dari pihak desa maupun dari pihak sekolah, satu per satu diutarakan. Hingga akhirnya kami tiba di penghujung acara, yaitu musyafahah.
Bapak kepala desa, dengan beberapa aparat desa berikut perwakilan sekolah dan juga beberapa warga masyarakat yang rumahnya kami tinggali, berdiri di hadapan kami. Setelah ada aba-aba mulai, diiringi shalawat akhirnya kami saling berjabat tangan untuk saling memaafkan bila ada salah kata, ucap dan tindakan yang baik disengaja atau tidak disengaja kami lakukan saat berada di desa ini.
Acara berjalan begitu khidmat. Tanpa terasa, air mata mulai menetes di pipi kami. Meskipun hanya lima hari, tapi desa ini telah memberikan makna mandiri pada kami.
Selesai bermusyafahah, kami mulai menuruni jalanan terjal untuk kembali pulang. Sepanjang perjalanan kami saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing tinggal di rumah warga. Senyum dan tawa mengiringi langkah kami, karena kami tahu jika sebentar lagi kami akan pulang dan melepaskan kerinduan kepada orang tua kami masing-masing.
Di pertengahan jalan, aku kembali merasa kelelahan. Akhirnya aku meminta Irma untuk menemani beristirahat sejenak. Kebetulan, kami melintasi sebuah masjid. Aku dan Irma berbelok menuju masjid itu.
Di beranda masjid, aku melepaskan lelah. Melihat tingkah kami, akhirnya satu per satu teman-teman yang melintas di masjid ini pun berbelok untuk beristirahat sejenak. Begitu juga dengan rombongan anak-anak IREMA yang selain beristirahat, mereka juga akan melakukan salat dhuha.
Kembali aku beradu pandang dengan pria itu. Namun, saat ini, wajahnya tidak sedatar saat awal kami bertemu. Ada senyum tipis yang aku lihat saat kami saling bertatapan. Walaupun setipis itu, tapi hatiku berbunga-bunga mendapatkan perubahan sikapnya.
Saat mereka melintas di hadapan kami, Bang Gaos tak Lupa mengajak aku dan Irma untuk melanjutkan perjalanan.
"Ayo, Ma!" ajaknya.
Irma tersenyum. "Siap, Bang!" jawab Irma sambil memberi hormat seperti saat sedang menghormat bendera.
"Lanjut yuk, Chi!" Irma mengajaku melanjutkan perjalanan.
"Ma, bisa gendong gue, nggak!" ucapku.
"Eit dah ... sue, lo! Lo pikir lo enteng," jawab Irma.
"Tapi, gue, 'kan kurus, Ma!" rajukku.
"Kurus sih kurus, tapi tulang-belulang lo padet. Tetep aja berat, geblek!" ucap Irma mulai memaki kekonyolanku.
"Ya, udah deh. Gua berangkatnya entar aja, nunggu orang yang mau gendong gue," celetukku.
__ADS_1
"Anjret! Lo mah nyusahin aja sih idupnya," gerutu Irma.
Aku cuma nyengir kuda mendengar gerutuan sobat rombengku itu.
Tiba-tiba, aku lihat Bang Gaos melambaikan tangannya. "Ayo, Chi!" ajak Bang Gaos.
"Geeendong!" Aku merengek padanya.
Bang Gaos menghampiri aku. Tidak disangka tidak diduga, dia malah berjongkok membelakangi aku.
"Ayo, naiklah!" ucapnya.
"Serius, Bang?" tanyaku tak percaya.
"Kamu pikir Abang bakalan jongkok begini kalau nggak serius?" ucapnya, sambil melirik ke arahku.
Sebenarnya aku ragu. Tapi kakiku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Terlebih lagi kaki kiri yang sempat terkilir beberapa hari yang lalu.
"Kok malah bengong. Mau, nggak? Buruan, sebelum masa berlakunya kadaluwarsa," gurau Bang Gaos.
Tak baik menolak rezeki. Daripada aku tersiksa harus menyeret kaki kiriku, akhirnya aku bangkit dan mulai menjatuhkan diri di punggung Bang Gaos.
Sejurus kemudian, Bang Gaos berdiri dan mulai mengayunkan langkahnya.
"Berat nggak, Bang?" tanyaku sambil melingkarkan tangan di leher Bang Gaos.
"Lebih berat sekarung beras berisi 25 kg daripada kamu,' canda Bang Gaos.
"Hahaha, Abang bisa aja. Tapi serius Bang, berat nggak? Kalau berat, udah, Chi turun aja," ucapku
"Apa kamu nggak lihat kalau kaki kamu bengkak? Mau, tambah parah dan nggak bisa sekolah?" Gerakan dagu Bang Gais menunjuk kaki kiriku
Aku melirik kakiku. Memang benar apa yang dikatakan Bang Gaos. Kakiku bengkak dan memerah. Pantas saja terasa berdenyut dan lemas.
Pada akhirnya, sepanjang perjalanan, Bang Gaos menggendong aku. Sesekali Bang Gaos berhenti untuk melepas lelah. Aku sudah berusaha minta diturunkan. Namun, kasih sayangnya dia sebagai kakak, menolak permintaanku.
Tanpa aku sadari, aku telah melukai perasaan segelintir orang-orang yang tengah memperhatikan kami.
Bersambung
__ADS_1