
Bersiul dengan tenang sambil menatap langit langit yang akan segera menjadi gelap.
"Tolong ... lepaskan aku"
Ucap Ellie dengan wajah nya yang lelah akan segala nya, 20 menit telah berlalu sejak dimulai nya permainan kecil yang dibuat oleh Torano.
Lalu begitu juga dengan jari kiri Ellie yang hanya tersisa 3 disini, bukan berarti jari nya itu dipotong jadi jika diberikan sihir penyembuh dan perawatan yang tepat, maka itu akan membuat nya sembuh total.
Torano tersenyum pahit dengan permohonan dari Ellie.
"Aku menolak"
"...... ka .... begitu, tolong bunuh aku"
Menerima rasa sakit dari ini adalah hal yang mustahil, daripada merima penyiksaan yang lebih dari ini, maka lebih baik membebaskan diri dengan kematian.
Torano tersenyum pahit, mulai berdiri dan berjalan perlahan ke arah Ellie, menundukkan badan nya untuk menyamakan arah pandangan nya ke Ellie.
"Ya, setelah semua ini berakhir"
Dalam ketenangan, ucapan itu lebih menyakitkan bagi siapapun yang menerima penyiksaan seperti Ellie.
Dan tanpa disadari oleh Torano, sebuah pedang melayang dan igu mengenai tubuh nya, menusuk dalam hingga Torano memuntahkan darah disini.
"Urg!"
Jatuh kelantai dan menatap kebelakang nya dimana terdapat Chelsea yang sedang berjalan ke arah nya dengan perlahan.
Melihat hal itu membuat Torano tersenyum dengan perasaan kesal yang meluap luap diwajah.
"Keparat"
###
Chelsea menatap tajam ke arah Torano yang sedang terjatuh dilantai, lalu pandangan nya lebih tertuju ke arah wanita dihadapan nya.
Diikat disebuah salib batu dengan keadaan tubuh yang buruk, banyak bekas cambukkan bahkan beberapa jari nya yang diposisi yang tidak seharus nya.
Melihat hal itu membuat Chelsea menggigit bibir nya.
"Kau benar benar keparat yang busuk"
Torano mendengus sombong sambil mencoba untuk berdiri, tetapi Chelsea merespon hal itu dan mengarahkan tangan nya kedepan.
Dimana pedang yang tertancap ditubuh Torano mulai bergejolak, membuat Torano meringis kesakitan sampai akhirnya pedang itu mundur dan terbang kebelakang dengan cepat.
Sampai dimana itu kembali ketangan Chelsea dan Chelsea menebaskan pedang nya kesamping untuk membersihkan darah yang menempel.
Menghembuskan nafas nya secara perlahan sambil mewaspadai tindakan Torano.
"Kau ataupun pedang mu itu, sepertinya sudah terbiasa dalam membunuh dan menusuk daging manusia, aku kagum akan hal itu, ah benar ... aku pernah mendengar nya, suatu klan yang bertugas sebagai pembunuh bayaran, kalau tidak salah mama klan itu adalah ...."
Sebelum Torano menyelesaikan perkataan nya, Chelsea menebas pedang nya dengan membelah tangan kiri Torano dengan rapi.
Membuat Torano berteriak histeris dan mengeliat ditanah.
Setelah itu dia berjalan perlahan kehadapab Ellie, menatap wajah Ellie yang bahkan kehilangan harapan.
(Aku tidak yakin jika dia bisa bertahan hidup setelah ini)
Mengerutkan dahi nya, Chelsea menghela nafas dan membersihkan wajah Ellie dengan sapu tangan putih milik nya.
"Locknear!!! Hahaahahhahahaahha!!! Sudah kuduga, darah terkutuk dari klan Locknear, aaahhh~~ tidak kusangkah ada salah satu dari mereka disini"
Meski didalam kesakitan yang dialami nya setelah kehilangan tangan kiri, tetapi dia masih senang disini, terangsang akan suatu hal dimana dia mencintai darah dari siapapun.
(Sungguh manusia yang menyedihkan)
Chelsea menyiapkan pedang nya dan berjalan perlahan ke arah Torano.
"Kolosyni"
Gumam kecil Torano dimana cahaya mulai bergumpal menjadi satu, melihat hal itu dan menyadari nya, Chelsea memberikan respon panik, mengarahkan pedang nya kedepan, dimana pedang itu dilapisi beberapa listrik.
Torano tersenyum sinis, melemparkan cahaya itu dan Chelsea menangkis nya dengan pedang, melemparkan nya kembali menjauh dimana itu membutuhkan tenaga yang besar.
__ADS_1
Setelah dilempar kembali bola cahaya itu mengenai bangunan tertentu, meledak dan melelehkan sekitar dengan daya ledakan yang besar.
Disisi lain Chelsea menghembuskan nafas beberapa kali dimana tangan nya bergetar sendiri karena memukul kekuatan yang begitu besar itu.
Meski dia sudah melapisi listrik dipedang nya tetapi dia masih menerima beberapa dampak kecil.
Lalu perhatian nya terfokuskan ke arah Torano yang sedang berlari menjauh sambil tertawa seperti orang gila.
Setelah dia membalikkan tubuh nya beberapa cahaya yang sama terbentuk sekaligus.
"Membunuh salah satu dari Locknear!! Ini akan menjadi kehormatan yang bagus!!"
Torano memajukan lengan nya kedepan dimana secara berututan bola cahaya itu terlempar ke arah Chelsea dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat dari petir.
Chelsea menggerakan sedikit tubuh nya untuk mencoba kabur, satu masih bisa tetapi beberapa dari mereka adalah hal yang mustahil.
Tetapi disaat dia mencoba untuk kabur, dia mengingat tentang keberadaan wanita dibelakang nya, melebarkan mata nya, lalu dia menggigit bibir nya sendiri.
Memperkuat petir dipedang nya, dia mengangkat pedang nya keatas dan menebas bola pertama yang muncul.
Dari tebasan itu mampu untuk membelah bola itu, dan sebelum itu meledak, dengan petir yang melekat dipedang, Chelsea menjauhkan mereka.
Menghanjurkan tanah dan merobohkan pepohonan berkat cahaya dan petir dari Chelsea, dan Dia harus menghadapi lebih dari satu disini.
Mengulangi hal yang sama, Chelsea menebas bola cahaya itu sekali lagi, bahkan otot tangan nya berada diambang batas dan satu kesalahan kecil maka tangan nya itu akan melepaskan pedang itu tanpa keinginan nya.
Tetapi Chelsea terus berjuang untuk tidak melepaskan genggaman nya di gagang pedang itu, sampai dia meneteskan air mata darah.
Dan semua itu hanya terjadi selama 6 detik dimana Chelsea harus berurusan dengan 9 dari bola cahaya itu.
Dia bergerak lebih cepat dari satu detik, berkat cahaya dan petir itu menghancurkan area sekitar tanpa ampun.
"Hahahahajajajajaahhhhrhrhrh--- matiiii!!!-"
Torano tertawa puas, sampai akhirnya bola itu habis, berhenti menyerang dan tanpa diketahui oleh nya, Chelsea keluar dari asap, dengan darah yang masih terus mengalir keluar dari mata nya.
Dia menusuk leher Torano.
"Arg"
Tanpa ampun, sampai torano akan segera mati.
Sampai akhirnya angin bertiup dan mengenai mereka, setelah terkena oleh angin itu Chelsea sedikit terkejut dan sadar dari amarah nya.
Dia mulai berdiri di atas Torano, memperhatikan tangan kanan nya yang masih terus bergetar.
Dia menahan tangan kanan nya itu dengan tangan kiri untuk menghentikan getaran tangan nya akibat otot lengan itu yang terlalu menegang.
Menutup mata nya, meski itu menyakitkan, tetapi dia terus menutup mata nya untuk menghentikan darah yang terus mengalir keluar.
Setelah itu dia membuka mata nya, kembali menatap langit langit yang akan segera menjadi malam.
Setelah itu dia menatap ke bawah nya dimana terdapat Torano yang sedang sekarat.
(Keinginan hidup yang luar biasa, aku kagum dia masih hidup)
Chelsea menundukkan tubuh nya kebawah dengan meletakkan lutut kiri nya ketanah.
Mengarahkan tangan kiri nya untuk menekan leher, dan tangan kanan yang dengan perlahan mengenggam gagang pedang nya itu.
"Ada kata kata terakhir?"
".... a---h .... d---e.....wa"
"Sungguh ambisi yang konyol"
Tanpa mendengar kelanjutan, Chelsea menarik pedang nya itu dan seketika itu juga, Torano kehilangan nyawa nya.
Dia mulai berdiri dan menghembuskan nafas nya, memasukkan kembali pedang nya kesarung, Lalu mulai berjalan perlahan menuju ke wanita itu.
Disaat dia bejalab, bulu kuduk nya berdiri, terasa suatu haus darah yang luar biasa terasa tepat dibelakang nya.
Dia menatap kearah belakang nya dengan panik dan mendapati seorang wanita yang nenatap mayat Torano dengan wajah yang bahkan tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
Dengan waspada Chelsea mengarahkan tangan nya ke gagang pedang ke itu dalam posisi bertahan sambil menghembuskan nafas untuk menenangkan diri nya.
__ADS_1
(Perasaan haus darah yang luar biasa, siapa dia?)
Dia adalah Roenji, disaat menatap mayat Torano, bahkan perasaan sedih atau bahagia tidak terasa dihati nya.
"Ah ... kau yang membunuh nya?"
Roenji bertanya dan Chelsea merespon sedikit terkejut dan tersenyum masam.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku menjawab iya?"
Roenji mendengus mengejek dengan menutup mata nya disaat itu dan membuka nya kembali.
"Maaf, itu pertanyaan yang konyol, tugas ku hanya satu, membunuh mu ketika pria gila ini gagal dalam tugas nya"
Diposisi Juliy dan Areash saat ini.
Setelah ledakan itu menghancurkan bagian dalam dari bangunan ini sepenuh nya menjadi abu dan hanya menyisakan tanah.
Dimana tepat berdiri ditengah nya adalah Areash, meski akan susah untuk mengenali nya, terdapat luka bakar diseluruh tubuh nya.
Baju nya yang terkoyak koyak bahkan hampir setengah dari rambut nya ikut hangis terbakar, darah keluar dari mata, hidung dan mulut nya tanpa terkecuali dengan telinga nya.
Mendengar suara ledakan yang besar dari dekat adalah hal yang buruk dimana gendang telinga nya hancur, tidak akan aneh jika dia bahkan tidak bisa mendengar saat ini.
"Satu serangan ... untuk mengalahkan musuh, tidak peduli cara apapun itu, selama aku bisa menang, itu tidak masalah"
Areash tersenyum sinis dan terkikik bahagia.
"Sial, itu tadi bahaya sekali kau tau?"
Ucap seseorang dimana setelah mendengar hal itu membuat Areash terkejut, membelalakkan mata nya dan melihat seseorang yang seharus nya dia sudah bunuh, ada dihadapan nya.
Dia adalah Juliy, keluar dari tebasan hitam yang dia buat sebelum nya untuk menghindari ledakan maut itu.
(Sial ... aku terlambat menghindar didetik terakhir, ini sakit sekali, sial)
Pikir Juliy dimana dia melihat tangan kiri nya yang dipenuhi luka bakar dan darah yang keluar dari luka bakar itu.
"Usaha mu telah tamat, terimalah nasib mu disini, mati dan pergilah keneraka"
"Sialaannn!!!"
Areash mulai berjalan maju dengan kesusahan tanpa memperdulikan rasa sakit nya, begitu juga dengan Juliy yang menyiapkan belati besi milik nya dan mulai berjalan ke arah Areash.
Saat ini dia dipenuhi oleh amarah yang tidak terkendali, dia mengerahkan segala nya dan itu masih belum cukup untuk mengalahkan lawan.
Setidak nya, dia ingin membunuh Juliy, dengan cara apapun itu, meski itu akan mengorbankan nyawa nya sendiri.
Disaat dia berkedip dan kembali melihat, Juliy sudah dihadapan nya, terus berjalan sambil menggoreskan belati nya ke leher Areash.
Dimana setelah menyadari leher nya digores oleh Juliy, dia memuntahkan darah dan terjatuh ketanah.
"Ah ... aku ingin hidup"
Gumam kecil Areash dengan kesedihan terdalam nya, meneteskan genangan air mata dimana itu mengalir dan jatuh ketanah.
Mendengar gumanan kecil Areash, membuat Juliy mengerutkan alis nya sambil menggaruk kepala nya, setelah itu dia menghembuskan nafas lelah dan memutar balik tubuh nya.
Berjalan ke arah Areash dan menundukkan tubuh nya dihadapan Areash..
"Aku juga ingin hidup"
Ucap Juliy dengan acuh tidak acuh, mendengar hal itu membuat Areash sedikit tertegun, hingga akhirnya dia membuka mulut untuk berkata.
"Tolong ... akhiri ini"
Mendengar hal itu, Juliy menutup mata nya, mengenggam erat belati nya itu, lalu dia mengarahkan belati nya kembali ke leher Areash.
Meski dia sudah menggores leher Areash sebelum nya tetapi seperti nya itu masih belum cukup untuk membunuh Areash secara instan.
Tanpa menunggu lagi, Juliy menekankan belati nya itu dan merenggut nyawa Areash.
Berdiri dan melemparkan belati nya itu ketanah.
Juliy menetapkan hati nya lalu mulai bergegas untuk menemui Chelsea dan lainnya.
__ADS_1