
Menantang Theo atau lebih tepat nya, Theo dilibatkan secara sepihak oleh masalah yang disebabkan oleh Tamara.
"Aku akan membunuh mu"
"Tunggu ... aku tidak pernah mengatakan setu---
Sebelum dia menyelesaikan perkataan nya, pria hitam itu mengayunkan pedang nya dengan cepat, membuat Theo secara reflek menghindari hal itu.
Dan mundur kebelakang sambil sedikit kesal dimana Tamara terus menyoraki nya seperti "berjuang berjuang, Theo~~ berjuang berjuang Theo" dan mengulangi hal itu sampai dia menginginkan nya.
"Serius? Ayolah, semua nya, tolong bantu aku---
Theo memalingkan pandangan nya kebelakang, tetapi dia tersentak karena menghadapi apa yang sedang teman nya lakukan.
"Oke, aku akan bertaruh dengan Theo dikalahkan dalam 1 menit"
"Oi oi, kau serius Williard? Itu terlalu kejam, setidak nya aku bertaruh jika Theo akan dikalahkan dalam 30 detik"
"Aku bertaruh Theo dikalahkan dengan memalukan"
Melihat hal itu membuat Theo sangat kecewa, daripada membantu, teman teman nya malah melalukan perjudian disini.
Bahkan semua taruhan mengatakan jika Theo akan kalah, tidak ada satupun yang bertaruh "menang" kepada nya.
"Hah ... aku baru ingat jika mereka hanya sampah, aku tidak akan memasak untuk kalian lagi"
Ucap Theo dengan kesal, lalu Da vinci dan Sheila menyelinap masuk ke antara teman teman penjudi itu, menatap dengan heran sampai akhirnya Salazar menyadari mereka.
"Ah! Da vinci, Sheilla ... kalian kembali"
"Umm? Apa yang terjadi?"
"Nah, hanya pertarungan masa muda, merebutkan satu wanita yang sedang bahagia disana"
Williard membalas dengan mengejek halus, membuat Da vinci dan Sheilla terdiam sampai akhirnya mereka tersentak kaget.
"Eh eh?? Senior Theo dan senior Tamara berada dihubungan begitu? Hei, aku baru mendengar hal ini"
Sheilla mengangguk untuk menyetujui pernyataan Da vinci, selama 3 tahun hidup bersama, tentang hal Theo dan Tamara berada dihubungan sepasang kekasih adalah berita baru dan terbesar bagi mereka.
Setidak nya sampai terakhir kali mereka bertemu sebelum nya, Theo dan Tamara bersikap seperti biasa, tidak ada perubahan khusus diantara mereka.
"Wajar kalian baru tau ....yah, kalian bisa menyebut mereka sebagai teman masa kecil? Seperti itulah, mereka mengaku sebagai sepasang kekasih sebelum mereka terseret kedalam Antegram"
"Heee~~"
"Aku bertaruh Theo akan terpeleset dan jatuh"
Abi menambahkan taruhan dan Menyadari hal itu, Da vinci mengambil uang disaku nya dan memukulkan itu kemeja.
"Aku bertaruh Senior Theo akan menang"
Melihat hal itu membuat Sheilla menatap dengan senyum masam.
Di sisi yang lain, Theo meladeni pria itu dengan malas, menghindari serangan mereka sambil mendengar keluhan williard dan Nezuon dimana mereka telah kalah ditaruhan mereka.
Itu karena mereka bertaruh jika Theo akan dikalahkan dalam kurun waktu 1 menit, itu jujur membuat dia sedih meski tau jika mereka hanya bercanda.
(Oooh!~~ Da vinci bertaruh jika aku akan memang ya? Fufu ... aku jadi terharu sialan, apa boleh buat, demi Junior ku yang imut, akan kubuat dia kaya)
Theo menghindari serangan pria itu terus menerus sampai membuat nya kesal dan mendecahkan lidah nya.
Memanfaatkan hal itu, Theo menendang lengan pria itu ke atas dan membuat nya patah.
Pria itu tersentak kesakitan, tetapi dia memaksakan diri pada lengan nya itu, memutar tubuh nya dan menyerang Theo dari samping.
Theo melompat ke atas ketika pedang pria itu tepat lewat dibawah nya, setelah itu dia melepaskan genggaman pada pedang nya karena sakit.
Membuarkan pedang itu terlempar dan menusuk ketanah, diudara, Theo memutar tubuh nya dan menendang pria itu.
Meski itu berhasil ditahan oleh pria itu, menarik kaki Theo dan memutar kan tubuh nya kebelakang.
Dan ketika dia berniat untuk melempar Theo, dia melepaskan tangan nya dari Theo, dan Theo menarik tangan pria itu agar diri nya tidak terlempar.
Menekukkan kaki nya lalu dia mendang wajah pria itu menggunakan lutut kaki nya.
__ADS_1
Membuat hidung pria itu berdarah dan beberapa gigi nya yang patah setengah kesadaran nya menghilang dan dia terhuyung huyung hingga jatuh terduduk ditanah.
Disisi lain Theo mendarat ketanah dengan baik sambil tersenyum sombong, dan ketika dia menyadari nya, banyak penonton yang berpusat ke arah mereka untuk menonton pertarungan itu.
Bergemuruh dengan meriah karena kemenangan Theo dan beberapa rekan pria itu berlari dan mengangkat tubuh pria itu menjauh sambil menutup rasa malu mereka.
"Kerja bagus"
Ucap seorang dan ketika dia menyadari nya, Tamara berdiri disamping nya dengan segelas air dingin ditangan nya.
Theo tertegun lalu tersenyum lembut, sampai akhirnya dia menjewer kedua pipi Tamara dengan kuat dan membuat nya cemberut.
"Eeh-- Apa yang kau lakukan?? He-hentikan!"
"Hmm? Semua ini salah nya siapa ya??"
"Maaf, maafkan aku, hentikan ini"
Ucap tamara memohon dan Theo menghentikan hal itu dengan menghela nafas lelah dimana Tamara menyentuh kedua pipi nya itu sambil bergumam "itu menyakitkan"
-pok pok pok-
Suara tepukan tangan datang didekat nya, dan setelah menyadari hal itu, dia memutar tubuh nya kesamping dan mendapati seorang yang mungkin dia kenal?
Atau seorang yang tidak ingin dia hadapi, seorang yang memimpin dari party terkuat di Antegram.
"Luar biasa ... seperti yang diharapkan dari anggota nya val"
"Geh ... rumia"
Menyadari kedatangan Rumia, Nezuon langsung mengangkat tangan nya ke atas sambil tersenyum lembut.
Rumia tersenyum girang lalu berlari ke arah Nezuon setelah itu, tetapi sebelum dia sampai ke Nezuon, suatu pedang tertembak ke depan nya dan menusuk ke tanah.
Itu adalah pedang Chelsea.
"Alama ... maaf ya, sepertinya tangan ku kepeleset"
"Itu bukan tingkatan kepeleset lagi kau tau?"
Dan mereka saling melotot satu sama lain dengan aura permusuhan yang luar biasa, dan semua itu hanya tertuju ke satu pria.
"Dasar kapten yang licik, kau mengetahui perasaan mereka bukan? Kenapa kau bersikap polos seperti tidak tau akan hal itu?"
Tamara mendekat dengan berbisik ke Nezuon, dimana Nezuon terdiam dan tersenyum lembut karena hal itu.
"Yah ... seseorang memiliki sisi yang ingin mereka sembunyikan"
"Huh? Aku tidak paham"
"Didunia ini ada satu hal yang lebih baik tidak diketahui oleh seseorang kau tau"
Nezuon berdiri dan berjalan ke arah Chelsea dan Rumia, disana Tamara tertegun lalu tersenyum masam.
"Kapten"
Merespon panggilan Tamara, Nezuon berbalik dengan bingung.
"Aku tidak tau apa yang kau sembunyikan, tetapi percayalah pada anggota mu, kami tidak serendah yang kau pikirkan"
Mengatakan itu dan tersenyum lebar, membuat Nezuon terkekeh dan menggaruk kepala nya.
"Benar juga ... suatu saat akan kuberi tau"
Mengatakan hal itu dan dia langsung kembali berjalan ke arah mereka, menghentikan pertikaian kecil di antara mereka.
"Hee~~ kau bisa mengatakan sesuatu yang bagus juga"
Ucap Theo yang berdiri dibelakang Tamara, tersenyum lembut, setelah mendengar hal itu, Tamara tersenyum lebar.
"Xixixixi~~"
-6 jam setelah itu- -malam hari-
Meski diumumkan jika acara akan dilaksanakan pada hari ini, tetapi masih belum memperlihatkan tanda tanda jika pertempuran akan dimulai.
__ADS_1
Hanya ada satu aturan, yaitu bunuh raja dan ratu, maka permainan akan terselesaikan.
Itu artinya mereka harus mencari raja dan ratu itu terlebih dahulu, tetapi seberapa lama mereka akan mencari nya?
Beberapa orang mulai cemas karena tidak ada tanda tanda pertempuran akan dimulai.
"Nah ... Rumia, kau tidak masalah karena tidak berada di tempat party mu?"
Nezuon bertanya ke Rumia yang asik menempel di lengan kiri nya itu, dia merespon dengan senyuman bangga.
"Tidak masalah ... tidak seperti biasa nya, seluruh cabang di party ku berkumpul disini"
"Ah ... cabang, aku mengerti"
"Mereka kuat lho~ dan kami pasti akan mengalahkan musuh"
Nezuon tersenyum karena hal itu dan mengatakan "kalau begitu aku mengandalkan kalian"
Ssjujurnya dia tidak memperdulikan siapa yang mengalahkan musuh, mereka hanya akan mendapatkan kebanggan tersendiri karena telah mengalahkan musuh.
Dia tidak membutuhkan kebanggaan itu, hanya dengan memastikan anggota party nya bertahan hidup sampai akhir, dia tidak peduli siapa yang mengalahkan musuh.
Dan disisi lain, kebanyakam anggota memulai kesenangan mereka masing masing, dimana Chelsea secara terpaksa harus membuat makanan untuk makan malam disini bersama dengan Larisa.
Bagaimanapun mengisi perut sebelum berperang adalah suatu kewajiban.
Lalu disisi lain Sheilla dan Da vinci yang duduk ditanah, sambil saling menyandarkan bahu mereka dengan selimut yang menutupi pundak mereka.
Membaca satu buku yang dipegang oleh Sheilla, hubungan mereka sudah seperti itu meski belum resmi, jadi mereka sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi.
Seperti Da vinci yang tidak tertarik dengan buku novel, sekarang dia mencoba untuk memahami dari apa yang disukai oleh Sheillla.
Membaca bersama didunia mereka sendiri tanpa memperdulikan sekitar, dan disisi lain, terdapat Tamara dan Theo yang duduk menatap Da vinci dan Sheilla.
"Mereka berdua ... sejak kapan sudah sejauh itu?"
Theo bertanya tanya dengan kebingungan, dan Tamara mengangguk.
"Dan kita ... kapan akan menjadi lebih jauh lagi?"
"Kau ingin menikah?"
"Setiap wanita memimpikan hal itu kau tau"
"Hmm ... " Theo berpikir sampai akhirnya dia tersenyum "cincin seperti apa yang kau inginkan?"
Mendengar hal itu membuat Tamara terdiam, mengalihkan pandangan nya kesamping dengan wajah memerah.
(Ya ampun ... tidak kusangkah dia akan serius)
Tamara hanya bercanda tetapi Theo menanggapi dengan serius, itu membuat nya tersipu bahagia.
"Mereka tampak bahagia"
Ucap Shopia ketika melihat Sheilla dan Da vinci, bagi nya, Sheilla sudah seperti adik, dan melihat sosok yang dia anggap sebagai adik itu sudah menemukan pasangan nya sendiri membuat nya sedikit sedih dan merasa kesepian.
"Untuk apa kau hidup?"
Ucap seseorang dimana ketika mendengar hal itu, Shopia sedikit tersentak kaget dan menemukan Cynthia disamping nya.
Dudik dengan anggun dengan ekspresi lelah nya yang seperti biasa.
Dia selalu tersenyum sewakti waktu, tetapi dia hanya bersikap formal, asli nya dia bahkan tidak memiliki ekspresi lebih diwajah nya.
Anggota di party (tanpa nama) yang memiliki keberadaan yang paling tipis sampai dia tidak terlalu menonjol disini.
"Umm ... cynthia? Apa?"
Shopia bertanya dengan bingung dan Cynthia berkedip beberapa kali dan langsung duduk di samping Shopia.
"Tidak, aku bertanya siapa yang bahagia?"
"Nah, kau tau, tentang Da vinci dan Sheilla, lalu Theo dan Tamara, bukankah menurutmu mereka pasangan yang serasi"
Menanggapi hal itu, Cynthia mulai melirik ke arah dua pasangan itu, dengan mata yang menyipit, dan dengan enggan untuk menjawab, tetapi dia memaksakan diri untuk menjawab.
__ADS_1
Sampai itu membuat nya ingin muntah.
"Ya ... kau benar"