
8 jam setelah dibentuk nya labirin acak.
-DBOOOMMMMM-
ledakan terjadi dengan sihir cahaya yang menghancurkan tanah, dilakukan oleh seorang penyihir acak dengan tongkat nya yang panjang.
Dia menatap tajam ke arah ledakan itu, memastikan apakah itu benar benar menghabisi musuh atau tidak.
Tetapi, setelah melihat suatu pergerakan didalam api itu, dia melebarkan mata nya, dan seseorang melompat keluar dari api itu.
Penyihir itu merespon dengan panik, mengarahkan tongkat nya kedepan untuk merafalkan mantra dengan bantuan dari batu magis di ujung tongkat itu.
Tetapi ketika dia mencoba untuk merafalkan mantra, pria yang melompat ke arah nya itu sudah tepat dihadapan nya.
Menekan kan belati yang dia genggam erat dan menusukkan itu ke kedua mata penyihir itu.
Ketika dia berada diatas udara, dia sedikit memutar tubuh nya agar tetap sedikit lebih lama diudara, dan setelah menusukkan kedua belati yang dia genggam ditangan masing masing ke kedua kata penyihir itu.
Dia menarik nya dan nendarat ditanah, dimana penyihir itu berteriak dengan kencang karena rasa sakit yang diterima nya.
[Kei] [pemimpin party hornelia]
"Lemah sekali"
Gumam kecewa Kei karena pertarungan dengan penyihie itu, seperti tidak ada perlawanan sekali atau hanya melawan seekor kecoa yang menggunakan sayap nya.
Dengan perlahan Kei berjalan perlahan ke arah penyihir yang sedang mengeliat ditanah itu sambil memegangi kedua mata nya yang tanpa henti mengeluarkan darah.
"Apa kau tidak pernah diajarkan untuk melatih fisik mu sebelum nya?"
Kei menggenggam erat belatinya, berlutut dimana dia berniat untuk menusuk leher penyihir itu, tetapi sebelum dia bisa melakukan itu.
Seorang pria besar datang, mengangkat senjata nya yang besar, terbuat dari besi dan memiliki tusukan dipermukaan nya.
Itu senjata yang menakutkan dan akan fatal jika terkena oleh nya, jadi Kei menghindari hal itu dengan melompat kesamping.
Membiarkan pria besar itu memukul tanah sampai hancur, dan Kei tanpa menunggu lagi langsung melompat ke tubuh pria besar itu.
Menusuk kepala nya beberapa kali dan menendang tubuh pria besar itu untuk melompat menjauh.
Ketika dia mendarat ditanah tubuh nya sudah dipenuhi oleh darah pria itu, dia mengelap sedikit wajah nya hanya untuk tidak mengenai bagian mata nya.
Lalu dia merespon ketika penyihir itu sedang merangkak untuk melarikan diri, dan Kei hanya menatap dengan diam.
"Sungguh semangat hidup yang konyol, setidak nya akan kubuat kau mati ditangan sihir yang kau andalkan itu"
Kei mengarahkan tangan nya kedepan, dan sebuah lingkaran sihir muncul, membentuk sebuah cahaya yang bersinar terang dikegelapan labirin itu.
Langsung saja Kei melepaskan tembakan cahaya itu, mengenai keki Penyihir itu sampai hancur, sekali lagi, Kei menembak, mengenai tangan nya, lagi, lagi, dan lagi sampai giliran kepala penyihir itu yang tersisa.
Membuat cahaya yang lebih besar, menembakkan itu dengan cepat, membuat ledakan yang besar, bahkan itu tidak sampai ke tingkatan menghancurkan kepala.
Tetapi juga area sekitar, membuat labirin ini hancur dan memperlihatkan beberapa rute acak didepan nya ketika dinding itu hancur.
Dan perlahan dinding itu kembali menutup, dan Kei hanya tersenyum mengejek.
(Apa ini juga termasuk kekuatan dewa?)
Lalu suara runtuhan terdengar dibelakang nya, ketika dia memutar balik tubuh nya dia mendapati dinding yang menutupi belakang nya menghilang.
Memperlihatkan suatu area yang sangat besar didalam tanah, itu adalah goa yg sangat besar, air menetes dan udara yang lembap.
Ketika dia menyadari nya, terdapat ratusan pejuang yang berada dibawah sana, semua nya berkumpul sambil mengobrol satu sama lain.
Setidak nya mereka adalah kelompok gabungan dari pejuang acak, hingga akhirnya berjumlah sebanyak ini.
Mereka memulai menjelajahi labirin acak ini, sampai akhirnya titik penyedia makanan disini, dan mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar.
"Oh, berkerumunan ... itu seperti semut"
Gumam kagum Kei ketika dia menatap ratusan pejuang itu, hingga akhirnya pandangan nya tertuju ke pria yang mengobrol dengan akrab ke pejuang lainnya.
Hanya dipenglihatan pertama, Kei langsung mengetahui jika itu adalah pemimpin nya, terlihat bersahabat dan berwibawa.
"Itu pemimpin nya?"
Gumam kecil Kei, mengangkat tangan nya kesamping hingga muncul cahaya emas dan itu membentuk ke suatu pedang.
Jatuh ketangan Kei dan dia mengarahkan pedang itu kebelakang, sampai akhirnya dia berniat untuk melempar pedang itu ke arah pemimpin dari kelompok besar itu.
"Jika aku jadi kau maka aku akan berhenti melakukan nya"
Ucap seseorang, tepat dibelakang Kei dengan belati yang tepat dileher Kei, itu sudah membuat nya sedikit tergores dan darah mengalir keluar.
Sekali gerakan maka goresan itu akan menjadi lebih besar.
"Bisa menyembunyukan hawa keberadaan mu dari ku, bahkan suara langkah kaki mu tidak tdrdengar ... ngh~ bukan kah itu hebat?, hei ... aku memberi tawaran, bergabunglah dengan ku"
Kei memberi suatu saran ketika dirinya disudutkan seperti ini, tidak ada ketakutan, sedikit kegirangan karena pria ini.
Memiliki rambut pirang dengan kain selendang yang menutupi sekitar mulut nya, dia mungkin adalah pembunuh yang terlatih.
Berbeda dengan Chelsea yang membunuh target terang terangan, tetapi pria ini memprioritaskan target mati terlebih dahulu sebelum dia menyadari ada pembunuh yang membunuh nya.
"Bukankah kau tidak memahami situasi mu saat ini?"
"Hmm? Apanya?"
"???"
Kei menggerakkan sedikit kaki nya, dimana itu lebih kecil dari telapak kaki nya, lingkaran sihir yang dibuat seperti rumus.
Menyentuh tanah dan mengaktifkan perintah dari rumus yang disusun, menghubungkan ke tanah dan tanah itu langsung menusuk ke arah pria itu.
Merespon panik, dia tidak sempat untuk menghindari nya, ketika dia menendang tanah untuk melompat, tanah lancip itu menusuk bahu nya lebih dahulu.
Terus menunjang ke atas sampai pria itu juga tertarik ke atas mengikuti bahu kanan nya, tanpa dia sadari, tangan nya terlalu lemah untuk menggenggam belati.
Sampai dia menjatuhkan belati itu ke tanah, dan sebelum itu benar benar jatuh ketanah, Kei mengambil nya dengan sangat cepat.
Sejak lahir, Kei sudah memiliki penglihatan yang bagus, mata yang dapat memahami seluruh keadaan sekitar.
Menyampaikan ke otak dan Kei mengikuti rangsangan dari otak untuk bertindak.
Setelah dia mengambil belati itu, dia menendang tanah dan maju selangkah kedepan.
Tanpa ampun ... dia manusukkan belati itu ke leher pria itu.
Membuat nya kejang kejang karena hal itu, darah keluar dari mulut dengan sangat banyak.
Jatuh ketanah sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir nya, atau setidak nya dia sudah berhenti bernafas ketika Kei menusukkam belati itu ke leher nya.
"Melihat pembunuh sekelas udang seperti mu membuat ku tertawa ... tidak kusangka ada pembunuh yang mengajak bicara target sebelum dia bertindak, kuku ... lelucon yang menjengkelkan"
Kei bergumam dan berjalan kembali ke arah goa yang besar itu, sampai akhirnya dia sedikit tersentak kaget.
Rasa takut menyertai, rasa haus darah menggelitik nya dan dia mulai merasa cemas.
Dalam waktu yang singkat itu, sesuatu muncul ... sesuatu yang melampaui batasan manusia dan monster.
(Itu membuat ku takut)
Dia menyadari, ada sosok yang sedang berdiri di atas batu, menghadap ke arah ratusan pejuang itu.
Di sana, pria yang menjadi pemimpin dari ratusan pejuang itu menatap dengan ragu ragu.
[Alberto]
(Itu ... kalau tidak salah)
"Oi oi oi, bukankah dia adalah orang yang membuat labirin ini?"
"Kalau begitu, apa dia adalah raja?"
"Jika kita mengalahkan nya, antegram akan terselesaikan?"
Mereka menelan ludah mereka, rasa takut dan senang bercampur aduk di hati mereka, rasa takut akan musuh.
__ADS_1
Dan rasa senang dengan bualan tentang akan terselesainya antegram.
Alberto merespon itu dengan kaget, sebagai pemimpin dia harus mengutamakan keselamatan anggota, dan langkah yang akan dipilih.
(Ini gawat ... tidak bisa, mereka tdak harus menjadi lebih percaya diri, ini hanya firasat ku, tetapi melawan musuh ini adalah tindakan yang salah)
"Semua nya! Perhatian! ... ini sulit untuk dikatakan, tetapi kita akan mundur"
(Selama dia masih belum bergerak, maka aku akan mengartikan itu jika dia tidak akan menyerang jika kita tidak menyerang nya terlebih dahulu)
Tetapi, dia mengambil salah langkah ... meski betapa takut nya dia akan musuh, sebagai pemimpin ... dia tidak seharus nya mengatakan ifu.
"Huh? Apa yang kau katakan?! Kau pemimpin nya bukan?"
"Benar benar! Apa jadinya jika seorang pemimpin memilih untuk kabur dari musuh"
"Kami akan bertarung"
Semua orang bersorak untuk setuju akan hal itu, dan Alberto mendecahkan lidah nya.
"Memang benar, jika tugas pemimpin adalah tidak kabur lebih dulu dibanding pasukan ... tetapi disamping itu, ssbagai pemimpin aku memiliki tanggung jawab akan pasukan ku, aku tidak akan membuat mereka mati konyol seperti mengalahkan musuh yang tidak bisa dikalahkan"
Ucap Alberto dengan tegas, membuat semua anggota nya tertegun karena hal itu, dan beberapa orang yang dari awal sudah memihak Alberto hanya tersenyum lega.
"Aku akan mengikuti Alberto, bagaimana pun aku tidak ingin mati kau tau"
Seorang pria maju dan berjalan ke arah Alberto, dan Alberto hanya tersenyum lega karena hal itu.
"Terima kasih, kiza"
"Jangan dipikirkan"
Kiza menepuk bahu Alberto, dan, beberapa orang, merenungkam kembali pilihan mereka, dan memutuskan untuk mengikuti Alberto.
Keputusan untuk menyerang Killia, dibatalkan, Dan Kei duduk sambil menyanyikan suatu lagu dengan nada nya tersendiri..
"Satu, dua, tiga~ ... bunuh semuanya~~ ... empat, lima, enam~ musnakan semua nya"
Killia mulai mengangkat tangan nya ke atas, dengan sebuah pedang yang perlahan berubah menjadi tombak.
Dilapisi listrik yang dapat menghancurkan batu hanya dengan bersentuhan, lalu ... dia melemparkan tombak itu ke satu titik dari formasi pasukan itu.
Ketika mereka menyadari ada tombak yang mengarah ke mereka, disaat itu juga tombak itu menusuk tanah.
Dan dalam kurun waktu 0.9 detik, itu melepaskan energi listrik dan meledak dengan daya ledakan yang besar.
Membunuh beberapa pejuang dengan muda, dan yang berhasil menghindari ledakan itu, berteriak kesakitan.
Beberapa orang kehilangan tangan nya dan bahkan ada yang kehilangan tubuh bagian bawah, menunggu waktu ketika dia akan mati.
Setelah 2 detik ledaka itu, semua pasukan merespon dengan kaget, dan Alberto memutar tubuh nya kebelakang kehadapan Killia.
Yang berdiri di atas batu yang tinggi, menatap mereka seperti semut yang berkeliaran ketika sarang mereka dihancurkan.
Alberto menarik nafas nya beberapa kali, dan saat ini dia memutuskan, ditekan oleh tekanan yang tidak pernah dia rasakan.
"Aku akan membunuh mu"
Kiza yang mendengar hal itu hanya menatap dengan canggung, sampai akhirnya dia mengangguk setuju.
Mengangkat pedang nya ke atas untuk diperlihatkan keseluruh pasukan.
"Sekarang bukanlah waktu untuk kabur, teman kita dibunuh, maka selanjutnya adalah kita, yang ingin hidup maka kabur lah, dan yang ingin berjuang matilah dengan bangga dan terhormat ... kita ... akan mengalahkan raja!!!"
Menggantikam Alberto yang berada di puncak amarah, membuat jantung pasukan menjadi bsrapi api.
Yang ingin hidup maka kaburlah, itu adalah yang dikatakan nya, ini adalah pertarungan yang mustahil untuk dimenangkan.
Maka, mereka yang memiliki mental yang lemah, memutar tubuh mereka dan berjalan untuk menyelamatkan diri.
89 pejuang memilih untuk melarikan diri, dan 77 pejuang lainnya memilih untuk mati dengan terhormat.
"Maaf, Kiza, kau membantu ku"
"Hah, pastkan kau memilih dengan benar .. neraka dan surga, menurutmu apa yang lebih baik dari mereka?"
SUDUT PANDANG ALBERTO
Tanah itu, dipenuhi oleh bunga merah yang sangat indah, tetapi ... juga menakutkan.
Dan aku berdiri ditengah tengah nya, ketika aku letih aku menjatuhkan diri ketanah, tetapi tanah itu lembut dan membuat tubuh ku tidak sakit.
Lalu ... aku menatap langit, awan putih, langit merah dan matahari hitam.
Berkali kali aku berpikir ... apakah ini akhir dari dunia?
Tetapi ... itu salah, tentu salah.
Dunia tidak akan berakhir, bagaimana pun hanya akulah yang akan berakhir.
"BDUNMRDDD!!!!"
Ledakan terjadi dan aku mendapat kesadaran ku, tidak berbeda, aku terbaring ditanah .. dengan pandangan ku yang hitam semua.
Tidak ... bukan mata ku yang aneh, tetapi mata ku dipenuhi oleh darah saat ini, merah darah merubah pandangan ku menjadi merah
Ketika aku mencoba untuk mengangkat tangan ku, itu terasa berat dan sakit.
Ah ... begitu, ternyata itu yang membuat nya sakit.
Tangan kanan ku, telah hancur, darah mengalir deras dan membasahi tubuh ku berkat itu.
Orang berteriak, ledakan, orang mati, tusukan, terbelah, hancur.
Dan mati, dan ledakan dan ledakan.
Jauh disana, ratusan pejuang berlari, mencoba untuk membentuk formasi konyol yang telah hancur, aku menatap nya.
Sosok itu, dengan tombak nya, dia melaju dengan cepat.
Membunuh pejuang satu persatu tanpa memberi mereka kesempatan untuk menangkis serangan tombak nya.
"Sialan!!"
Seorang wanita berlari dan menarik busur milik nya, ah bodoh ... mau apa jika seorang pemanah malah maju ke barisan terdepan.
Dan tentu, sang raja menarik tombak nya dan menusukkan itu ke perut wanita itu.
Mata nya terbelalak seperti dia bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.
Dia batuk dan memuntahkan darah sampai dia jatuh ketanah setelah sang raja menarik tombak nya dari perut gadis itu.
Membuang buang nyawa itu ... adalah hal yang konyol.
Gadis itu mati seketika karena itu menusuk ke organ vital dan kehabisan darah, masa depan nya telah berakhir.
Lalu beberapa pejuang yang berteriak karena amarah, bergegas maju kedepan dengan mengunuskan senjata mereka ke sang raja.
Itu tindakan bodoh dan konyol, tetapi penuh dengan kehormatan.
Mereka tetap menyerang meski tau akan kalah dan mati, aku telah mengatakan itu kepada mereka, jadi pasti nya mereka mengingat hal itu.
Atau mungkin tidak, mungkin mereka dikendalikan oleh emosi mereka dan maju kedepan tanpa pemikiran apapun.
Dan ... sang raja memtar tombak nya ke atas, lalu menurunkan nya kedepan, membelah tubuh pejuang didepan menjadi beberapa bagian.
Lalu sang raja memutar kembali tombak milik nya 360 derajat, membunuh setiap pejuang yang bergerak ke arah nya dengan instan.
Tubuh mereka terbelah, darah mengalir keluar dan membasahi bunga putih ditanah.
Ayolah, aku juga ingin bergerak dan menyerang nya, meski aku akan mati.
Meski, aku akan masuk neraka ... aku akan maju!
"Urk urg!"
Aku batuk dan memuntahkan darah, itu menyakitkan ternggorokkan sampai membuat air mata mengalir keluar dari mata ku.
__ADS_1
Ah ini sakit, sakit sakit sakit sakit mati ... aku akan mati.
Bagaimanapun aku akan mati, jadi ... apa aku harus kabur?
Heh ... mungkin itu tidak buruk.
Disisi lain, kiza memimpin pasukan lainnya, hebat ... bahkan dia belum terluka disini.
Tidak, dia hanya memberi perintah, jadi karena itulah dia tidak terluka sedikitpun.
"Heh, hehe"
Itu pengecut, sialan kau kiza ... yah meski aku akan melakukan tindakan yang lebih pengecut darinya.
Jadi mari anggap itu impas.
Tetapi ... aku salah.
Sang raja berada dihadapan kiza, dan kiza membelalakkan mata nya karena hal itu, sebelum dia terbunuh.
Dia langsung melompat kebelakang dan menghindari serangan sang raja.
Ketika dia menyentuh tanah, dia mulai mendang dengan pedang nya dia mulai menyerang sang raja.
Sang raja menghindari hal itu menyamping, memberi gerakan mudah seakan serangan Kiza sangat lah lambat.
Kiza mendecahkan lidah nya karena kesal, lalu memutar tubuh nya dan mulai menyerang sang raja kembali.
Tidak seperti sebelum nya, sang raja mengangkat pedang nya dan menangkis serangan Kiza.
Dan kiza terus mengayunkan pedang nya dengan cepat, dan sang raja selalu menangkis nya.
Sampai disaat sang raja menendang perut kiza ketika dia lengah dengan pertahanan nya, membuat nya terhempas jauh.
Menabrak tanah dan berguling beberapa kali, tetapi dia langsung bangkit ketika waktu nya, dan sang raja telah berada dihadapan nya.
Mengangkat tombak nya lalu mengayunkan, kiza menendang tanah untuk menghindar tetapi ia sedikit terlambat dan tangan kiri nya dibelah oleh sang raja.
Ah ... itu menyakitkan, sekarang dia memiliki luka yang sama dengan ku.
Dia mengerang kesakitan, menjatuhkan pedang nya ketanah san menahan tangan nya itu, air mata nya bercucuran keluar dengan ingus nya.
Wajah nya terlihat kacau dengan mata nya yang memerah, itu karena darah akibat benturan kepala mangalir dan memasuki area mata nya.
Meski dia tidak memiliki waktu untuk berteriak kesakitan.
Ah benar ... sekarang bukan waktu nya untuk melihat orang lain.
Aku harus pergi, pergi, pergi dan pergi ... ketempat yang aman.
Tugas seorang kapten? Ah ... aku melupakan nya, atau aku memang sengaja melupakan nya, sekarang bukan waktu nya untuk itu.
Aku ingin hidup ... meski jauh disana aku akan dihantui oleh rasa hina ini.
"Heh ... hehehe"
Ledakan, meledak, hancur, mati ... semua nya mati.
Aku merangkak, terus merangkak ... orang orang terlalu takut dengan musuh disana sampai tidak menyadari jika aku kabur.
Setidak nya itu membantu ku ... aku tidak keberatan jika ada yang melihat ku dalam kondisi hina seperti ini.
Toh pada akhirnya mati juga ...
Nafas ku terengah engah, aku berhenti untuk kembali mengatur pernafasan ku ... ledakan terjadi, tanpa henti.
Seolah olah itu adalah hal yang wajar disini.
Teriakan, orang berteriak ... teriakan kematian dan keputus asaan.
Wanita dan lelaki, sosok dengan tombak itu terus membunuh mereka, tanpa ampun.
Ketika aku menoleh kebelakang, aku mendapati sosok itu sedang berdiri, dengan agung ... bahkan aku hampir berhalusinasi jika ada sinar yang menerangi dirinya.
Itu ... indah.
Bahkan aku mengakui hal itu, tetapi ... ketika aku menyadari nya, dia memegangi tombak nya dengan kuat.
Menahan ujung tonbak ditanah dan di atas nya ... terdapat seseorang pria ... dengan rambut panjang dan terurai.
Tertusuk, ke perut nya ... dalam kondisi dimana dia seperti sedang tiarap disini, tiarap diudara ... setidak nya dia masih hidup.
Ketika dia menyadari nya, dia memuntahkan darah.
Dia sedang berusaha, menggenggam pedang ditangan kanan nya dengan erat, berteriak histeris ... dan aku mengenali pria itu.
Dia adalah kiza ... seorang yang bersemangat ketika melawan sosok itu sebelum nya..
Tetapi berakhir dalam kondisi yang menyedihkan.
Dia konyol ... hanya mati konyol, menantang sesuatu sosok yang berdiri di atas puncak tertinggi, dan dia berani menantang nya.
Kenapa dia melakukan itu? Bukan kah itu hanya sia sia?
Ah ... dia melepaskan pedang nya dengan lemas, mata nya menutup dengan mulut yang sedikit terbuka.
Dia mati, tentu saja.
Setelah ditusuk oleh tombak seperti itu, mana mungkin dia bisa bertahan hidup..
Setelah menyadari jiia Kiza telah mati, sosok itu mengangkat tombak nya ke atas lalu menebaskan nya kesamping dengan kuat.
Membuat mayat Kiza yang berada ditombak itu termundur dan terhempas jauh, menabrak dinding dan sebagian tubuh nya menjadi hancur karena itu.
Semua orang menelan nafas mereka.
Dihadapan sosok yang begitu ... kuat dan angkuh itu, tidak ada yang berani menyerang kembali.
Sosok itu mulai mengangkat tombak nya keatas kembali.
Segumpal cahaya, terbentuk diujung tombak itu, cahaya putih dengan dikemasi kebiruan terang..
Orang orang spontan memundurkan langkah mereka, bahkan aku ingin kabur disini.
Itu berbahaya ... sangat berbahaya, tidak mungkin seorang akan selamat ketika terkena oleh serangan itu.
Semua nya akan berakhir, dalam satu serangan terakhir itu.
Lalu seorang pria acak berteriak histeris, untuk memantapkan hati nya, dan mulai berlari kedepan untuk menyerang sosok nan agung itu.
Meski tau dia tidak akan menang, tetapi setidak nya dia sudah berjuang.
Dan ketika waktu nya, semua mengikuti pria itu, berteriak dan mulai berlari dengan cepat.
Perjuangan terakhir, lakukan atau tidak sama sekali dan mati.
Sosok itu menekan genggaman nya dengan erat, lalu memukulkan itu ketanah, membuat tanah bergetar dan cahaya di ujung tombak itu bergerak, mengeluarkan suatu sengatan kebiruan..
Sengatan yang dapat menghancurkan batu sekaligus, dan selanjut nya, cahaya yang berevolusi menjadi petie itu menyebar.
Menghancurkan area sekitar termasuk pejuang yang lain nya, tubuh mereka hancur dan mati seketika.
Tidak ada lagi, aku bahkan penasaran kenapa aku tidak terkena oleh sambaran petir yang luar biasa kuat itu.
Dan ketika aku menyadari nya, hanya tersisa aku seorang disini.
Semua nya telah mati, dibunuh oleh sosok itu, seorang diri ... mengalahkan pasukan kami yang berjumlah 200 pejuang.
Bahkan aku bersumpah jika dia pasti sama sekali tidak berkeringat ketika melawan kami.
Apa memang sekuat itu? Musuh yang harus kami lawan.
Manusia kecil seperti kami ... apa bisa menang melawan sosok yang berdiri dipuncak kekuatan?.
Heh .. jawaban nya sudah jelas.
Tidak mungkin bisa.
__ADS_1
Sosok itu mengangkat tombak nya ke atas, lalu mengarahkan itu ke diriku.
Ketika aku menyadari nya, semua terlambat dan aku mati